Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 132 Semoga Kau Bahagia


__ADS_3

"Oke...papi kasih waktu sampai anak kalian berumur setahun. Setelah itu kalian harus bercerai, jika tidak maka suamimu lah yang akan menanggung semua akibatnya.


Mira membantuku berdiri. Tuan Napoleon dan para pengawalnya sudah pergi.


"Maafkan adek ya mas...semua ini salah adek sehingga mas Jona ikut terseret ke dalam masalah adek.


"Sudahlah ngga apa-apa...bagaimana dengan kandunganmu? Baik-baik sajakan?"


"Alhamdulillah baik mas...semoga anak kita sehat-sehat saja.


*


*


Mira berkali-kali pingsan mendapati suami dan anaknya tercinta telah pergi meninggalkannya.


Saat dia terbangun, dia terbaring di kamar lamanya. Kesadarannya belum pulih benar saat dia setengah mengigau memanggil nama anak dan suaminya.


"Mas Jona, Niko, Miko...di mana kalian?"


Satu sosok lelaki berkemeja biru datang dan berdiri di sampingnya.


"Rupanya kamu sudah sadar?" Sapa lelaki itu ramah.


"Kamu siapa? Mana anak-anak dan suamiku?"


"Perkenalkan nama saya dokter Alvino Sarendra...anakmu sedang bermain di depan dengan kakek dan neneknya.


"Terus mana suami dan anakku , Niko?" Tanya Mira lagi.


Dokter Alvino Sarendra menarik napas dalam. "Sebaiknya kamu beristirahat saja dulu agar kamu cepat sehat...kamu sudah pingsan selama dua hari."


Mira mencoba bangun dari tempat tidur, tapi kemudian dia ambruk kembali ke tempat tidur. Kepalanya terasa pusing sekali.


"Kan saya sudah bilang kamu istirahat saja dulu, kondisimu belum stabil.


"Alvino Sarendra? Apakah dokter yang telah di jodohkan papi padaku?"


Alvino menarik napas lagi. "Iya setahun yang lalu, kemudian kamu pergi dan memilih hidup bersama dia."


"Tahukah kamu? Akibat perbuatanmu itu, keluargamu dan keluargaku mendapat malu."


"Maafkan aku!!!" Mira menunduk putus asa.


Hidupnya kini sudah benar-benar hancur. Perpisahan membuatnya benar-benar terpuruk.

__ADS_1


"Untuk apa kamu meminta maaf atas sesuatu yang telah lama terjadi? Aku sudah melupakannya." Alvino lalu duduk di sebelah pembaringan Mira.


Mira memandangi cincin pernikahannya dengan Jonathan.


"Adek tak menyalahkan perpisahan kita mas, mungkin jodoh kita habis sampai di sini."


"Di manapun mas Jona berada sekarang, adek hanya meminta...jagalah dirimu dan Niko anak kita baik-baik."


"Ceritakanlah tentang aku kelak jika dia sudah mengerti, katakan bahwa aku sangat mencintainya...dan aku juga akan selalu mencintaimu mas Jona!!!" Air mata Mira turun semakin deras.


Semua itu tak luput dari perhatian Alvino. Dia merasa sangat iba pada wanita cantik yang tengah menangis di hadapannya.


"Papi..." Tiba-tiba seorang gadis cilik berusia kurang lebih tiga tahun masuk ke dalam kamar.


"Kemarilah Stevia...kenalkan ini aunty Mira...aunty Mira ini mami dari adik laki-laki yang tadi bermain dengan Stevia."


"Halo Stevia..." Aku mengelus kepalanya.


"Dia putrimu?" Kataku.


Alvino mengangguk. "Maminya meninggal sewaktu melahirkannya."


"Mami?? Maukah menjadi mami Stevi? Stevi janji ngga akan nakal lagi."


"Stevia ngga boleh memaksa aunty Mira untuk menjadi mami Stevia, papi tak pernah mengajarkan Stevia untuk memaksakan kehendak pada orang lain."


Stevia yang baru berusia tiga tahun tapi bicaranya sudah lancar itu menangis sesunggukan.


Mira jadi tak tega melihatnya, dia membayangkan Niko yang sedang menangis di sana karena mencarinya untuk meminta asi.


"Sini sama mami nak..." Aku menjulurkan ke dua tanganku padanya.


Stevia memelukku erat-erat. Kehadiran Stevia bisa menghibur gundah hatiku karena kehilangan Niko.


********


Dua bulan kemudian akhirnya Mira menikah dengan Alvino. Pernikahan mereka sangatlah meriah. Disaksikan oleh Jonathan lewat akun sosial media milik Mira.


Hati siapa yang tak hancur melihat istri yang masih sangat dicintainya menikah dengan laki-laki lain. Sementara Jonathan menggendong Niko yang sedang sakit.


Dua bulan ini Niko terus menerus rewel sambil sesekali memanggil ibunya. Dia juga seperti mencari-cari...mungkin dia sedang mencari Miko saudara kembarnya.


"Akhirnya ibumu sudah menemukan kebahagiaannya, Niko...ayah sudah lega sekarang melihat ibumu sudah bisa melupakan kita."


Mulutnya bisa bicara seperti itu tapi tidak dengan hatinya. Jonathan menangis dalam diamnya meratapi nasib hidupnya sendiri.

__ADS_1


Niko baru saja tertidur dalam gendongannya. Semalaman tubuhnya hangat, mungkin Niko kecapean karena beberapa hari ini diajak Jonathan mengantar barang. Otomatis Niko selalu tertidur di mobil.


Mau tak mau Jonathan mengajaknya bekerja...karena dia mau menitipkan Niko dengan siapa?


Terkadang jika dia belum gajian dan Niko kehabisan susu formula maka air tajin dari beraslah yang dijadikan Jonathan sebagai pengganti susu formula.


"Mas, adek menikah lagi dengan Alvino bukan karena adek sudah tidak mencintai mas Jona...tapi demi memenuhi keinginan papi."


"Semoga mas dan Niko selalu baik-baik saja di manapun kalian berada."


"Adek titip Niko anak kita ya mas, jaga dia...kasihan dia karena sejak Niko bayi, adek kurang memberikan kasih sayang padanya...karena Miko sering sakit-sakitan."


"Niko...ibu kangen sama Niko...baik-baik di sana ya nak!! Jangan rewel dan jangan sering merepotkan ayah...maafkan ibu yang tak bisa lagi menjagamu, Niko!!"


"Semoga suatu hari nanti kita akan bertemu dan bersama lagi...setidaknya walaupun ibu tak sempat melihat kamu dewasa, kamu bisa bertemu dan berkumpul dengan Miko saudara kembarmu."


Mira menangis sambil mendekap sebuah foto. Di foto itu tampak dia sedang menggendong Miko dan Jonathan yang menggendong Niko. Mereka tampak bahagia sekali. Foto itu diambil lima bulan yang lalu.


Sebuah tangan mengusap bahunya dengan lembut.


"Mi...ayo...kita keluar..."


Stevia berada tepat di belakangnya. Mira menghapus jejak air matanya dulu sebelum dia menoleh pada Stevia.


"Mami menangis? Mami kangen sama adik Niko dan om Jona ya..."


"Sudah...ayo kita keluar..."


Mira menggandeng tangan Stevia keluar dari kamar. Sebuah babak baru perjalanan kehidupannya akan di mulai, tapi bukan lagi dengan Jonathan Saputra...laki-laki yang telah memberikannya sepasang anak kembar dan telah mengambil seluruh cinta dan hidupnya.


Tapi dengan dokter Alvino Sarendra yang kelak nama belakangnya di jadikan nama belakang oleh Jatmiko Sarendra.


*


*


Jonathan mengakhiri kisah hidupnya. Dilihatnya Niko duduk sambil tak henti-hentinya meneteskan air mata.


"Lalu mengapa waktu itu ayah mengatakan bahwa ibu telah tiada?" Niko bertanya dengan suara serak.


"Karena ayah tak mau kamu terlalu berharap untuk bisa bertemu lagi dengan ibumu, Niko!!"


"Sekali lagi maafkan ayah, karena hidup ayah yang miskin membuat keluarga ibumu tak bisa menerima ayah menjadi bagian dari keluarga mereka.


"Mengapa kekayaan, nama besar, kedudukan semua menjadi tolak ukur yah...seandainya keluarga ibu tidak egois, tentu keluarga kita tak akan tercerai berai seperti sekarang ini...tentu Niko masih bisa merasakan kasih sayang seorang ibu."

__ADS_1


***Bersambung...


Jangan lupa dukungannya ya...like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏


__ADS_2