
"Terima kasih bu, Riki harap bisa berperan sebagai Riko sebaik-baiknya."
"Terus bagaimana awalnya ibu bisa tau bahwa aku bukan Riko yang asli?" tanya Asdar.
"Matamu yang lebih mirip ibu kalau Riko matanya lebih mirip ke ayahmu."Jawab ibu Intan.
*
*
π±"Assalamualaikum....ya kak Abdul di mana sekarang ini?"
Seorang wanita yang tengah hamil tua berjalan sedikit tergesa-gesa di sepanjang lorong rumah sakit.
π±"Waalaikum Salam...kakak ada ruang operasi...lurus saja dari tempat kamu berada ada tangga dekat sekuriti maka naiklah ke lantai dua sebelah kiri."
Titttt....
Suara ponsel terputus begitu saja membuat wanita hamil itu sedikit menggerutu.
"Kebiasaan kak Abdul main putus sambungan telepon saja."
Lalu dia perlahan menaiki tangga karena langkahnya terasa berat. Hasil USG memang mengatakan bahwa dia sedang mengandung anak kembar.
Dia melihat di depan pintu ruang operasi kakaknya itu tengah gelisah sambil berjalan mondar mandir.
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi pada kak Rani??? lalu bagaimana dengan anak yang dikandungnya?" tanya Intan.
"Kakak juga tidak tau bagaimana Rani sampai bisa jatuh!!" kata Abdullah.
"Suami dari ibu Maharani??" kata dokter.
"Iya saya sendiri, dokter!!" Abdullah langsung berdiri.
"Maafkan kami pak, kami sudah berusaha tetapi Allah juga yang menentukan!!" kata dokter itu membuat Abdullah semakin cemas.
"Istri anda selamat tetapi tidak dengan bayi yang dikandungnya dan satu lagi, kemungkinan bagi kalian untuk mempunyai keturunan lagi agak sulit."
Abdullah yang ditemani oleh Intan adiknya terhenyak di bangku ruang tunggu.
"Apa yang harus aku sampaikan pada Rani istriku, Intan??? sepuluh tahun kami berumah tangga dan setelah diberi kepercayaan untuk hamil tetapi akhirnya gagal lagi!!" Abdullah menutup wajahnya dengan perasaan sedih.
Intan Anggraini pun tak tau harus mengatakan apa mendengar semua penjelasan kakaknya itu.
Hingga tibalah di mana Intan akan bersalin. Seperti biasa Baskoro suaminya sedang sibuk mengurus bisnisnya dan hanya Abdullah saja yang menemani proses persalinan adiknya itu.
"Selamat bu...anak ibu terlahir kembar!!" begitu dokter menjelaskan dan dengan diiringi Abdullah mengazani kedua bayi kembar tersebut.
"Adikku...aku tau mungkin kedengarannya ini gila tetapi maukah kamu mengabulkan permohonan kakakmu ini?" tanya Abdullah.
"Maharani seperti orang kurang waras semenjak bayinya meninggal dalam kandungan tempo hari, kamu sendiri sudah menyaksikan bagaimana keadaan kakak iparmu itu!!"
Intan masih diam menunggu kelanjutan ucapan kakaknya itu.
"Aku mohon padamu, biarkan salah satu dari anak kembarmu aku dan Rani yang mengasuhnya...kumohon Intan!!" Abdullah sampai bersujud di depan kaki adiknya itu.
__ADS_1
Intan terdiam. Di satu sisi dia merasa sangat keberatan tetapi di sisi yang lain dia juga merasa kasihan.
Pengorbanan Abdullah dan Rani juga tidak sedikit, sampai dia bisa menjadi gadis yang mapan seperti sekarang ini. Karena semenjak ditinggalkan oleh kedua orang tua mereka, Abdullah yang mati-matian mengasuhnya. Bahkan Rani istrinya sangat menyayangi dirinya seperti adiknya sendiri, sekarang saat mereka membutuhkan uluran tangannya, tegakah dia menolaknya??"
"Tapi bagaimana jika mas Baskoro tau tentang hal ini kak??" tanya Intan.
"Suamimu hanya tau jika kamu sudah melahirkan tetapi dia tidak tau jika bayi kalian itu kembar...kakak janji akan merawat anakmu seperti merawat anak kami sendiri." Kata Abdullah.
Akhirnya Intan harus melepaskan salah satu dari bayi kembarnya untuk diasuh oleh kakaknya itu.
Lagian Intan juga masih bisa datang menjenguk putranya.
Hingga suatu hari saat Riki dan Riko sudah berusia tiga bulan...
Intan datang menemui Abdullah dan Maharani memberitahukan mungkin mereka bertiga akan ikut ke Kuala Lumpur dalam waktu yang cukup lama.
Dengan perasaan sedih Intan meninggalkan Riki di Indonesia bersama paman dan bibinya yang juga merupakan orang tua angkatnya.
Hingga sebulan setelah kepergian Intan dan Baskoro, kampung tempat mereka tinggal terjadi musibah banjir dan tanah longsor.
Sejak itulah Intan kehilangan kontak dengan kakaknya hingga baru dia temui lagi Riki setelah 27 tahun kemudian.
Allah memang Maha mendengar...doa Intan siang dan malam untuk bisa bertemu dengan buah hatinya lagi menjadi kenyataan.
Mereka bertemu dengan cara yang tak terduga seperti sekarang ini, Riki sendirilah yang datang dan masuk dalam keluarganya kembali.
Rahasia ini hanya Intan, Abdullah dan Rani yang tau bahwa Baskoro masih mempunyai putra yang lain selain Riko.
***
"Suatu hari kita akan temui ayahmu, Riki...ibu juga ingin tau mengapa kita tinggal di satu kota tapi tak bisa bertemu sama sekali!!" kata Intan masih terisak dalam pelukan putranya itu.
"Sekarang kamu tetaplah berpura-pura sebagai Asdar, kasihan saudaramu...biarkan dia mengejar cintanya tanpa diganggu oleh orang-orang yang tak menginginkan keberadaan keluarganya!!" ucap ibu Intan sambil mengusap pipi Asdar yang juga penuh dengan linangan air mata setelah ibu Intan menceritakan tentang kisah hidupnya selama ini.
*
*
"Hari ini kita mulai membuka usaha warung makan kita, semoga laris ya bunda..." kata Dina sambil membantu menata masakan yang telah dibuat oleh tante Della dan bundanya.
"Amin...jangan lupa papah Riko juga turut berpartisipasi lho..." ujar Riko menimpali sambil tersenyum.
"Iya pah...kita mengakui kok masakan papah memang enak...belajar dari mana??" kata Sania menggoda suaminya.
"Dulu sewaktu papah kuliah, papah belajar masak dari teman-teman yang merantau jauh dari keluarga." Kata Riko.
"Papah pinter masak tapi ngga pernah masak buat mamah!!" kata Sania sambil cemberut.
"Duhhh istri papah cantik...bawaannya manyun melulu mulai tadi...masih kurangkah jatah yang papah kasih dari malam sampai subuh??" kata Riko menggoda balik.
"Om...om Riko kasih jatah bunda apa?? Miko sama Miki kok tidak diberi?" tanya Miko.
Whuahahaha....kak Della tak dapat lagi menahan tawanya.
"Papah..." Sania mencubit pinggang suaminya sambil melotot.
__ADS_1
"Jatah Miko sama Miki nanti ya hari minggu, sekarang jatahnya bunda dulu!!" kata Riko sambil membelai kepala dua bocah kembar itu.
"Ya Allah...semoga kami sekeluarga tidak akan berpisah lagi...aku ingin disisa usiaku yang tak seberapa lama lagi aku ingin bahagia!!" doa Sania tanpa seorangpun tau betapa sakit yang dia rasakan.
Kemarin diam-diam dia menemui dokter Alvin untuk berkonsultasi tentang penyakitnya.
Dokter hanya menyarankan agar dia tidak terlalu memikirkan masalah yang bisa memicu kankernya berkembang lebih cepat, nikmati saja hidup ini karena kita tidak tau kapan Allah akan memanggil kita, jangankan memang orang yang sudah terdeteksi terkena kanker yang sudah stadium 4, yang sehat aja bisa tiba-tiba meninggal!!" begitu kata dokter Alvin menasehatinya.
Tak ada seorangpun yang tau saat malam yang sunyi di atas sajadahnya dia bermohon agar sempat melihat anak-anaknya tumbuh dewasa paling tidak sampai Miko, Miki dan Raftar bisa mengurus diri mereka sendiri seperti ketiga kakak-kakaknya.
Sesungguhnya dia tak rela pergi untuk meninggalkan keenam buah hatinya tetapi siapa yang tau kapan malaikat maut akan datang menjemput?
"Mah...kok melamun?? apa ada kata-kata papah yang menyinggung perasaan mamah?" tanya Riko hati-hati.
Sania menggeleng pelan sambil menatap mata bulat yang teduh itu.
Mata yang bisa membuat siapa saja saat memandangnya pertama kali akan langsung jatuh hati.
"Kok papah malah diliati seperti itu?? kan papah jadi grogi dan gugup!!" candanya sambil merangkul tubuh istrinya.
"Pah, apakah dengan Afifah papah juga semesra ini?" tanya Sania sedikit cemburu.
"Idih...jangankan merangkul begini, deket aja papah ogah!!" kata Riko sambil mencibir membuat Sania jadi tersenyum geli melihat tingkah suaminya.
"Ayo...ayo...jangan pacaran melulu...kita sarapan aja dulu yuk...mumpung belum ada yang beli..." ajak kak Della.
Papapapah....papapapah
Raftar berceloteh riang sambil belajar berjalan.
"Dih...pinternya anak papah..." kata Riko sambil menggendong Raftar dan menciumi pipi gembul bocah itu.
Papah melulu yang disebut oleh Raftar...mamah ngga mau disebut lagi mentang-mentang ada papahnya!!" kata Sania sambil mencubit pipi Raftar gemas.
"Sekarang giliran papah yang menyebut nama mamah terus sampai mamah bosan...inget sekarangkan papah kerjanya dari rumah aja, supaya tidak meninggalkan mamah lagi...together till forever!!" kata Riko.
"Iya...iya...ngerti yang pinter bahasa inggris!!" kata Sania jadi gemas.
"Papah kalau keluar rumah sepertinya harus pakai masker, topi kacamata hitam, hodie..." kata Riko sambil mengangakan mulutnya ikut minta disuapi oleh sang istri.
"Papah om lho...sudah gede masih minta disuapi sama bunda, coba seperti kita sudah pinter maem sendiri..." celoteh Miki dan Miko merasa iriππ
"Papah mau balik jadi anak kecil lagi biar bisa disuapi sama bundanya Miko dan Miki terus!!" kata Riko senang menggoda kedua anak tirinya yang bawel ngga ketulungan itu.
Kak Della merasa sangat bahagia dengan kebahagiaan adiknya. Dia berharap kebahagiaan ini akan terus berlanjut bukan hanya sementara saja!!
*
*
***Bersambung...
Semoga mereka akan terus begitu selama penyamaran Riki Asdar tidak terbongkar...
Mohon selalu dukungannya ya reader...like, komen, vote, favorit dan rate nya.πππ
__ADS_1