Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 211 Galau Bersama


__ADS_3

Riko hanya termenung. Dielusnya cincin pernikahan di jari manisnya dengan perasaan sedih.


"Maafkan papah ya mah, papah ngga bisa tepati janji papah untuk menjaga mamah selamanya."


Hari-hari Riko jalani dengan belajar jenis ramuan obat-obatan dari kakrk sanusi, wajah dan sebagian tubuhnya yang terkena luka bakar berangsur-ansur pulih seperti sedia kala.


Kabar hilangnya Riko sudah tak lagi terdengar, mungkin mereka semua memang menganggap Riko telah meninggal Dunia dengan jasadnya yang hancur masuk ke dalam jurang. Riko sendiripun tak peduli.


Hari ini menurut perhitungannya Sania akan melahirkan buah hati mereka. Riko gelisah semenjak pagi.


"Nak, mengapa tampaknya kamu gelisah sekali?" tanya istri kakek Sanusi pada Riko.


"Entahlah nek, perut Riko sakit sekali mulai tadi pagi." Kata Riko meringis sambil menahan sakit di perutnya.


"Mungkin istrimu akan melahirkan hari ini?" tanya nenek lagi.


"Kalau menurut perhitungan Riko memang begitu nek...istri Riko akan melahirkan hari ini!!" jawab Riko.


Riko sangat gelisah, pikirannya galau...ingin rasanya dia terbang pulang ke Indonesia, tapi semua paspor, visa, handphone dan barang berharga lainnya ikut terbakar saat dia jatuh waktu itu.


"Kamu tenanglah, berdoa saja istrimu melahirkan dengan selamat!!" kata nenek memberi semangat pada Riko.


Sementara di Indonesia...


"Nia, kata dokter kondisimu tak memungkinkan untuk melahirkan secara normal!!" kata kak.Della yang mendengar Sania bersikeras untuk melakukan persalinan secara normal.


Setelah dibujuk oleh Sultan dan kak Della, akhirnya Sania mau melahirkan dengan cara operasi.


"Sultan, tak bisakah kamu tenang sedikit tidak berjalan mondar mandir kayak gosokan rusak?" tanya kak Della sedikit gusar.


"Aku sudah cukup pusing dengan sifat keras kepala Sania, jangan lagi kamu menambah rasa pusing di kepalaku!!" sungut kak Della.


"Aku panik kak, aku khawatir dengan keadaan Sania yang terus menerus menurun kesehatannya semenjak ditinggal Riko pergi." ucap Sultan cemas.


"Kita berdoa sajalah, semoga Sania dan bayinya baik-baik saja!!" ucap kak Della.


Tak lama dokter keluar dari ruang operasi dan langsung diserbu pertanyaan oleh Sultan dan kak Della.


"Anda suami dari ibu Sania? silakan anda mengadzani bayi anda...bayi anda laki-laki pak, dia sangat sehat dan tampan!!" kata dokter itu sambil tersenyum pada Sultan dan Della.


"Lalu bagaimana keadaan ibunya, dokter?" tanya Sultan dan kak Della berbarengan.

__ADS_1


"Ibunya masih belum sadarkan diri, tetapi sejauh ini keadaan ibunya cukup baik!!" kata dokter.


"Syukurlah!!" kata mereka berdua kompak.


Kembali Sultan mengadzani bayi mungil yang tampan itu seperti dia mengadzani si kembar dulu.


"Walaupun kamu lahir bukan dari benihku, begitu pula dengan si kembar Miko dan Miki, tetapi ayah sangat menyayangi kalian semua." Air mata Sultan menetes bahagia.


Jika Sania walaupun melahirkan tanpa Riko tetapi banyak orang-orang yang sayang yang selalu membantunya, berbeda dengan Alena, semenjak kabar Riko meninggal Dunia, rumah dan seluruh isinya juga diambil alih oleh orang tua Riko yang datang jauh-jauh dari Malaysia.


Mereka mengusir Alena karena mereka pikir Alenalah wanita yang dimaksud sebagai istri Riko, itu karena kebodohan Alena sendiri yang membuat pengakuan demikian.


Dia berpikir jika dia mengakui hamil anak Riko maka kedua orang tua Riko akan memberinya seluruh kekayaan Riko, tetapi malah sebaliknya pak Baskoro yang telah menganggap karena kehadiran istrinya lah maka Riko jadi pembangkang seperti sekarang.


Untung dia masih memiliki rumah yang dibelikan oleh Miko dulu dan sedikit uang.


Dia juga melahirkan di rumah sakit seorang diri, semua dia lakukan seorang diri.


"Mau apa kalian kemari?" tanya Dina dengan suara dingin dan ketus saat melihat Jonathan datang bersama Niko dan Juma ke rumah sakit untuk membesuk Sania.


"Belum lagi habis rasa kesalnya, di lihatnya juga bapak yang dulu di sayangi tetapi kini telah meninggalkan mereka juga datang membesuk.


"Kumpulan para pecundang!!" sindir Dina terang-terangan.


"Maafkan bapak, Dina...bapak tidak bisa memenuhi janji kepada bundamu untuk bersama-sama dengan kalian!!" kata Sofwan yang merasa terpukul dengan sindiran sinis dari putrinya yang telah beranjak dewasa.


Dina tidak menggubris mereka lagi lalu dia memasuki ruangan tempat bundanya dirawat.


"Dina sangat membenci kami yah," kata Niko kepada Jonathan.


"Kalian memang harus bisa menerimanya, karena kalian memang penyebab semua ini.


Sania masih belum sadarkan diri tapi dia sudah melewati masa kritisnya dan mereka sangat senang mendengar berita itu.


"Apa kabarmu Sofwan? jam berapa kamu tiba dari Batam?" tanya Jonathan ketika mereka berdua bertemu dan saling ngobrol di lobby.


Saya baru tiba langsung datang kemari setelah mendengar dari Sultan bahwa Nia mau melahirkan dengan cara di operasi!!" sahut Sofwan.


"Hai Niko, apa kabar? Tanya Sofwan saat bertemu dengan Niko.


"Baik, Sofwan...kamu sendiri bagaimana?" tanya Niko balik bertanya.

__ADS_1


"Sebenarnya buruk Niko, karena semenjak berpisah dengan Sania setahun yang lalu, hidupku terasa hampa dan tak berarti lagi!!" tetapi tentu saja suara itu hanya bergaung di hatinya yang paling dalam.


"Aku baik-baik saja Niko!!" jawab Sofwan berusaha menutupi kegelisahannya.


"Kalau aku jujur, aku tidak sedang baik-baik saja. Hidupku hancur, impian yang sudah kubangun berantakan semuanya." jawab Niko.


Dulu Sofwan dan Niko seolah menjadi rival, tetapi sekarang mereka malah menjadi akrab.


"Lalu belum ada satu orangpun kah yang tau keberadaan Riko sekarang??" tanya Sofwan.


Mereka yang mendengar hanya menggeleng kepala.


"Kasihan Sania... " kata Sofwan.


Sultan keluar dari ruangan menghampiri mereka.


"Kalian datang dan berkumpul rupanya...tetapi aku mohon Sania jangan di tengok dulu supaya dia tidak bertambah syok jadinya.


"Kalau aku, bisa melihatnya dari sini saja aku sudah sangat bahagia... "kata Niko, akupun demikian, sahut Sofwan."


Sementara itu...


"Riko..." kakek menepuk bahu Riko dengan iba.


Istrinya sudah menceritakan semuanya secara perlahan tentang kesedihan Riko dan bagaimana inginnya Riko pulang kembali ke Indonesia.


"Sabar ya Riko, kakek tengah berupaya membantumu sebisa kakek." ucap kakek Sanusi.


Riko hanya diam saja mendengar ucapan kakek Sanusi. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan istrinya itu.


"Bagaimana keadaanmu sayang? terus bagaimana kabar anak-anak? dan bagaimana juga kabar bayi kita?" tak terasa butiran air mata menetes dari kelopak matanya.


Kakek Sanusi dan istrinya paham betul keadaan yang dihadapi oleh Riko...tapi mereka tak bisa berbuat banyak untuk membantunya.


"Kakek akan usahakan membuat visa dan paspor baru untuknya agar dia bisa kembali pulang ke Indonesia untuk berkumpul kembali dengan keluarganya!!" sahut kakek.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit fan ratenya ya🙏🙏😊😊


__ADS_2