Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 61 Pertemuan 2


__ADS_3

Aku berusaha menenangkan debaran jantungku. "Aduh...kok bisa ketemu di sini sih? Apesnya nasibku...mimpi apa aku tadi malam, sih?"


"Kalau dia sebagai pengganti Miko, berarti hari-hari aku akan sering ketemu dia dong!"


"Kalau aku berhenti sebelum habis masa kontrakku yang kurang 4 bulan lagi, nanti aku malah di denda...gimana ini?"


"Kalau ikut Miko di kantor pusat, aku hanya kerja paling lama 4 bulan lagi, Juned kan sudah mau daftar sekolah."


"Tau ah...pusing aku jadinya."


"Kamu kenapa, Nia? Kata Rahmat, tanganmu gemetar dan wajahmu pucat...kamu sakit kah?"


"Tadi agak pusing, mba...sekarang sudah ngga lagi."


"Baguslah...bos besar ingin kita semua berkumpul, agar calon manajer personalia yang baru bisa mengenal kita semua karyawan yang bekerja di sini...terutama office boy dan office girlnya."


"Jadi sewaktu-waktu beliau butuh bantuan, gampang nyariin kita."


Dengan terpaksa aku mengikuti mbak Fina. Ikut berdiri di belakang staff lainnya.


"Gantengnya menantu pak Irawan ya...ngga kalah ganteng dari pak Miko."


"Iyalah...istrinya aja cantik banget..."


Ramai bisik-bisik di depanku bergosip. Aku berharap acara perkenalan ini cepat selesai.


"Mudahan mereka berdua tidak mengenaliku dalam dandanan seragam office girl gini ya..."


Tampaknya Anggita tidak mengenaliku lagi, tapi mas Sofwan, matanya sering melirik kearahku sedari tadi.


"Jadi minggu depan, pak Sofwan Prayoga ini resmi menjabat sebagai manajer personalia di kantor ini."


"Pak Miko akan pindah tugas ke kantor pusat dan menduduki jabatan baru sebagai direktur personalia...jabatannya saya naikan dua tingkat, karena kinerja kerjanya yang sangat bagus dalam beberapa tahun ini."


Satu persatu kami berjalan dan bersalaman dengan mereka bertiga. Begitu giliranku, rasanya jantungku ini seperti berhenti berdetak.


Istri dan mertuanya biasa aja bersalaman denganku, tampaknya memang Anggita tak mengenaliku dalam seragam ini.


Tapi mas Sofwan? Dia terus menatapku...aku tau dia tipe orang yang mempunyai ingatan sangat kuat, mungkin dia sengaja tidak mau menyapaku di depan mereka semua.


Dia menggenggam erat tanganku saat berjabat tangan dengannya.


Sumpah...jantungku seperti mau copot dari peraduannya, sangking gugupnya.


Setelah acara perkenalan selesai, kami kembali kepekerjaan kami masing-masing. Dan mereka juga melanjutkan perjalanan lagi ke kantor pusat.


*


*


"Kenapa itu es teh diaduk terus begitu? Lama-lama pecah gelasnya orang."


"Miko..."


"Hmmm....ada apa beb....dari tadi mukamu di tekuk terus..."


"Kamu tau siapa yang akan menjabat menjadi manajer personalia sebagai penggantimu?"

__ADS_1


"Ngga...tadikan aku ke kantor pusat, beb...


terus waktu aku balik ke sini, mereka ke kantor pusat...jadinya selisihan."


"Kamu benar-benar tidak tau, atau tau tapi kamu sembunyikan sesuatu dariku?"


"Aku benar-benar tidak tau, beb...."


"Dia mas Sofwan, Ko...awalnya aku pikir, aku tuh salah liat...siapa tau mataku katarak gara-gara pengaruh tanggal tua gini...sekalinya memang dia dan istrinya juga mertuanya tadi yang kemari."


Miko tidak jadi menelan makanan yang sudah dikunyahnya. Dia nampak berpikir.


"Sebenarnya aku sudah mendengar bahwa calon penggantiku itu bernama pak Sofwan, tapi aku sama sekali tak menyangka bahwa dialah Sofwan yang di maksud."


"Terus bagaimana beb?"


"Bagaimana apanya, Ko?"


"Ya kamunya...masih mau tetap bertahan di perusahaan ini atau berhenti?"


"Kalau aku berhenti sebelum habis kontrak, aku nanti harus bayar denda...kecuali perusahaan sendiri yang memecatku."


"Mau tak mau aku harus bertahan hingga masa kontrakku berakhir..."


"Haduh...aku jadi tak tenang meninggalkanmu sendiri di sini, beb..."


"Kita masing-masing harus profesional, Ko...jalani aja dulu sebagaimana harusnya."


Kami sama-sama melanjutkan makan dalam diam.


Sekali ini aku malah berharap kalau mas Sofwan akan amnesia selamanya, supaya tak lagi mengenaliku.


"Ko..."


"Kamu kenapa kok diam aja? Kamu baik-baik aja kan?"


"Kalau kamu menanyakan apakah keadaan aku baik-baik aja...maka jawabannya adalah tidak..."


"Aku sedang tidak baik-baik aja, jujur aku takut banget, beb!"


"Apa yang kamu takutkan, Ko?"


"Aku takut karena pertemuan yang sering, ingatan Sofwan akan kembali lalu dia akan mengambilmu lagi dariku."


"Aku tidak akan sanggup untuk kehilanganmu lagi, beb..."


"Apa yang kamu khawatirkan itu Insya Allah ngga akan terjadi, Ko."


"Dia akan tetap bersama Anggita dan aku akan tetap bersama denganmu."


"Semoga saja, beb..."


*


*


"Kenapa aku harus bertemu lagi dengan wanita bermata teduh itu?"

__ADS_1


"Rupanya dia bekerja sebagai office girl di sana."


"Katanya, Miko itu suaminya...tampaknya Miko itu bukan orang biasa, tapi mengapa istrinya hanya bekerja sebagai office girl?"


Aku tadi memang sengaja pura-pura tidak mengenalnya. Aku tidak mau istri dan ayah mertuaku heboh di sana...tampaknya mamah juga tidak mengenalnya lagi.


"Ada yang tidak beres nih dengan perasaanku."


"Kenapa jantungku berdetak keras saat bertemu dengannya?"


"Tidak boleh begini...aku sudah menikah...dan istriku sedang mengandung anakku."


"Diapun sudah menikah...tidak boleh ada perasaan apapun seperti ini."


"Entahlah...aku seperti pernah kenal lama dengannya...aku sepertinya tidak asing dengannya...tapi setiap kali aku mencoba mengingat semua, kepalaku terasa sangat sakit."


"Aku juga melihat dari tiga kali bertemu denganku, dia seperti sangat cemas...mungkin dia tak suka bertemu denganku, tapi alasannya apa?"


"Pah...kok malah melamun di sini...ayah tadi mencarimu, lho..."


"Kenapa ayah mencariku, mah? Bukannya tadi ayah sedang istirahat? Besok pagi-pagi sekali kan ayah harus balik ke Yogyakarta."


"Paling ayah hanya ingin berpesan untuk menjaga anaknya dan calon cucu kesayangannya."


Anggita mengelus perutnya yang mulai membuncit.


"Coba sini...papah mau dengar anak papah di dalam sana sedang apa ya...?"


Sofwan menempelkan telinganya keperut istrinya. "Kamu jangan nakal-nakal di dalam sana ya kecil...kasihan nanti mamah sakit lagi kalau kamu rewel."


Anggita tersenyum manja sambil duduk di pangkuan suaminya. Dari dalam ada sepasang mata yang menatap kemesraan


mereka dengan tatapan bahagia.


"Ayah memang tak salah menikahkanmu dengan Sofwan, nak...semoga kalian akan selalu bersama hingga maut memisahkan, seperti hal nya ibu dan ayahmu ini."


"Kok ayah belum tidur? Bukannya besok ayah harus berangkat dengan penerbangan pertama?"


"Ayah...sudah waktunya pensiun...kenapa ke pemimpinan tidak diserahkan seluruhnya saja pada Angga?"


"Ayah bosan jika hanya berdiam diri, Anggit..Angga adikmu juga tak kunjung menikah..."


"Anakmu dan Sofwan akan menjadi cucu kesayangan ayah..."


"Ya sudah...bawa istrimu istirahat, Wan...tak baik wanita hamil tidur terlalu malam."


"Ayah juga harus istirahat...seharian ini ayah keliling perusahaan kita."


"Ayah menyayangkan tadi tidak sempat bertemu dengan Jatmiko Sarendra...ayah sangat kagum dengan cara kerjanya selama ini."


"Iya yah...tadi kita selisihan jalan...kita ke kantor cabang, beliau ke kantor pusat...begitu pula sebaliknya..." Sofwan menerangkan.


"Ya sudah kalian berdua istirahatlah...ayah juga mau istirahat..."


***Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya...Vote dan favoritenya jika berkenan...Terima kasih😊😊🙏🙏🙏***

__ADS_1


__ADS_2