Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 196 Nasehat Teman


__ADS_3

"Kan sudah ibu duga, kalau melancarkan rayuan maut begini pasti ujung-ujungnya minta jatah!!" Tini langsung cemberut memandang suaminya.


"Di situlah letak keharmonisan rumah tangga kak, dari pada mas jajan di luar hayo!!" Sultan ganti menggoda kakak iparnya.


"Oohhh coba saja mau jajan di luar kalau mau putus burungnya ibu tebas pakai parang." ucap Tini berapi-api.


"Waduh..."


Otomatis Sultan dan kakaknya memegang otong masing-masing mendengar kata mau di tebas pakai parang.


"Aduh serem banget bu, disisakan ngga??" kata suaminya pelan.


"Ngga...akan ibu tebas sampai biji-bijinya."


"Ngga bu, ayah ngga akan jajan di luar kok...cukup sama ibu aja!!" ujarnya sambil mengkeret.


Sultan hanya tertawa melihat kelakuan kakak dan iparnya itu.


"Kak sudah azan Isya, Sultan sholat dulu terus mau pergi ke kafe ya!!"


"Iya, nanti kalau berangkat hati- hati ya..." kata kakaknya.


Sultan celingukan diparkiran mencari Sofwan yang katanya tadi di telepon sudah menunggu dia.


"Sultan!!"


Sofwan melambaikan tangannya pada Sultan.


"Ayo kita keruangan private room aja!!" ajak Sultan.


Beberapa pelayan kafe mengangguk hormat pada si pemilik kafe itu. Lalu mereka berdua masuk setelah sebelumnya Sultan memesankan makanan dan minuman ringan karena dia dan Sofwan sama-sama sudah makan malam.


"Duduk Sofwan...!"


Sultan mempersilakan temannya itu untuk duduk.


Sambil menunggu minuman dan makanan ringan datang, Sultan dan Sofwan masih berbincang seputar kabar aja!!


"Bagaimana selama dua minggu di Jakarta, Sofwan??" tanya Sultan membuka pembicaraan.


"Awalnya baik-baik saja lalu kemudian memburuk, Sultan!!" kata Sofwan.


"Oh iya, bagaimana kabarnya Sania dan anak-anakku, Sultan?" tanyanya.


"Sebab aku sudah menelpon berkali-kali tapi tak diangkat baik Sania, kak Della ataupun Dina.


"Memangnya kamu ngga tau? Sania baru keluar dari rumah sakit, Sofwan!! terlalu banyak kejadian pahit yang menimpanya."

__ADS_1


"Oh ya? dia kenapa Sultan?" tanya Sofwan dengan wajah khawatir.


"Dia tidak bisa mendapatkan pendonor sum-sum tulang belakang untuknya, Sofwan."


"Lho, katanya kak Della bisa mendonorkan sum-sumnya? kok tidak jadi?" tanyanya.


"Kak Della itu bukan saudara kandung Sania, Sofwan!! Sania itu hanya anak angkat ibu dan bapak kak Della...orang tua Sania meninggal saat Sania masih berumur tiga tahun."


"Waktu itu keadaannya sudah sangat kritis, Sofwan!! aku sangat takut waktu itu, aku takut kehilangan dia!!" ucap Sultan.


Sofwan terdiam mendengar ucapan temannya itu. Ada rasa cemburu terselip di hatinya saat mendengar ucapan Sultan itu.


Pintu private room diketuk, lalu masuk seorang pelayan membawa makanan ringan dan minumannya.


"Silakan sambil cerita sambil dicicipi makanan dan minumannya, Sofwan..." Sultan mempersilakannya pada Sofwan.


"Apa yang mau kamu ceritakan padaku, Sofwan?" tanya Sultan


Sofwan menatap wajah Sultan dulu sebelum memulai ceritanya.


"Sultan, kamu tau kan aku berniat untuk melamar Nia kembali untuk menikah lagi...toh kami sudah sama-sama berpisah dan sama-sama sudah sendiri lagi."


Sultan masih diam. Dia tak mau menyampaikan kepada Sultan bahwa Riko memaksa untuk menikahi Sania. Dia tak mau masalahnya semakin runyam.


"Aku sangat bahagia Sultan, sampai-sampai aku ingin pelatihan yang berlangsung selama dua minggu di Jakarta itu ingin cepat-cepat kuakhiri."


Sofwan berhenti sebentar, dia menyesap minumannya untuk menenangkan hatinya. Lalu dia melanjutkan ceritanya lagi.


"Dulu semasa kuliah jauh sebelum aku menikahi Sania, aku mempunyai seorang kekasih yang namanya Vivi."


"Walaupun kami sudah lama berpacaran tetapi karena tak jodoh akhirnya kami berpisah."


"Kami tak pernah bertemu lagi, terakhir aku bertemu dengannya saat Dina masih berumur belum genap setahun lalu kami terpisah lagi."


"Tetapi entah karena apa pada saat training di Jakarta tempo hari kami dipertemukan lagi secara tak sengaja.


"Vivi selalu menggodaku hingga akhirnya imanku runtuh juga, Sultan!!" Sofwan menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya...tampak dia begitu sangat tertekan saat ini.


Sultan memang sengaja hanya mendengarkan dulu tanpa mau menjeda cerita Sofwan.


"Lalu terjadilah perselingkuhanku dengannya di malam laknat saat acara penutupan training di bar itu."


"Aku dan Vivi tidur bareng!! bahkan kami melakukannya lebih dari tiga kali malam itu."


"Aku benar-benar terperosok pada surga dunia yang telah ditawarkan oleh Vivi."


"Padahal sore itu aku menelpon Sania dan anak-anak untuk menyampaikan kabar gembira bahwa besok aku akan pulang ke Balikpapan...tapi telepon tak ada satupun yang tersambung.

__ADS_1


"Setelah persetubuhan kami terjadi malam itu, aku sungguh-sungguh menyesalinya...kenikmatan sesaat telah menghancurkan semua impian dan harapanku.


"Vivi menuntutku untuk segera menikahinya sepulangnya kami dari Jakarta, bahkan pagi itu dia berusaha menggodaku lagi untuk mengulang dosa dan perbuatan maksiat itu, tetapi aku tidak mau."


"Akhirnya dia kecewa dan marah padaku. Lalu meninggalkanku sendirian di kamar hotel.


"Sultan, apa yang harus aku lakukan sekarang? haruskah aku menikahi Vivi? haruskah aku membuat hati dan hidup Sania hancur untuk yang kesekian kali??" Sofwan menggigit bibir bawahnya hingga terluka karena tak sanggup menahan gejolak perasaan yang dia simpan sendiri sedari kemarin.


"Sofwan, kamu tidak bisa menghindari pernikahanmu dengan Vivi...jika kamu menghindarinya berarti kamu lelaki pengecut yang hanya mau mengisap madunya Vivi setelah itu kamu lalu mencampakkannya."


"Kamu sudah berbuat, seorang laki-laki sejati harus berani mempertanggung jawabkan perbuatan yang telah dia lakukan."


"Nikahi Vivi, pertanggung jawabkan perbuatanmu, soal Sania kamu jangan sampai mengatakan hal yang sebenarnya jika kamu tak ingin Sania berakhir di rumah sakit lagi."


"Jika sampai hal itu terjadi maka aku sendiri yang akan menghadapimu, menghajarmu habis-habisan..."


"Kamu tau kan aku sangat mencintai Sania sejak dulu, tapi demi kebahagiaannya aku rela memendam semua rasaku."


"Bagiku kebahagiaannya adalah juga kebahagiaanku walaupun aku tak bisa bersamanya."


"Aku tak ingin menyakiti hatinya sedikitpun, karena itulah yang dinamakan cinta sejati, harus siap melihat orang yang kita cintai bahagia walaupun kebahagiaannya bukan bersama dengan kita."


"Bagaimana kamu bisa membahagiakannya kalau dengan godaan perempuan seperti Vivi saja kamu sudah tergoda? jangan sampai Sania meninggal karena menahan sakit hati yang terus ditahannya."


"Sania itu sedang sakit Sofwan, bagaimana kamu bisa kalah dengan Riko yang usianya jauh lebih muda dari pada kita-kita, Riko yang dulu seorang baji*ngan mampu berubah drastis demi mempertahankan cintanya pada Sania?"


"Riko siapa Sultan?" tanya Sofwan sambil mengerutkan dahinya.


"Sebenarnya aku tak mau bercerita tentang hal ini, tapi aku memutuskan lebih baik menceritakannya padamu."


"Riko itu adalah anak kecil yang semenjak bocah memendam perasaan cintanya pada Sania hingga sekarang sampai mereka bertemu lagi."


"Awalnya aku marah saat kulihat Riko memaksakan keinginannya untuk menikahi Sania secepatnya walaupun dengan jalan sedikit mengancam Sania."


"Tapi setelah aku melihat kesungguhannya dan ketulusan hatinya, aku jadi tak ragu lagi untuk melepaskan Sania untuk hidup bersamanya."


"Kamu bilang kamu mencintainya, tetapi mengapa kamu melepaskannya bersama dengan orang lain?" tanya Sofwan.


"Tadi aku sudah bilang, Sofwan!! apapun akan aku lakukan asal Sania bisa meraih kebahagiaannya walau bukan bersamaku."


"Jadi sekarang nasihatku, berhenti mengganggu dan mencari Sania, lebih baik kamu memfokuskan diri pada wanita yang telah kamu nodai itu, Sofwan."


*


*


Nah kan menyesal sekarang memang sudah tak berguna...coba saja, memang bisa kaca yang retak bisa tersambung utuh kembali? pasti masih tampak retakannya walau disembunyikan bagaimanapun...

__ADS_1


Double up hari ini guys😊😊 selamat membaca ya!!


__ADS_2