
"Beb...pulang nanti singgah sebentar di penjual martabak depan gang ya...aku mau belikan martabak manis dan martabak telur kesukaan anak-anak dulu."
Aku menoleh sebentar padanya. Aku memang sengaja tak berkata apa-apa dulu, nanti sampai di depan penjualnya baru aku minta berhenti.
Ternyata dia lebih dulu mengingat request anak-anak di telepon tadi.
"Ayah Miko...Juned minta dibelikan maltabak manis...Syifa sama kak Dina beliin maltabak telol ya, yah..."
"Jangan lupa, nanti ayah sama mamak lupa beliin kita."
"Iya anak ayah Miko yang bawel..." Aku dan Miko cuma tersenyum mendengar celoteh Syifa di telephone.
"Kamu masih memikirkan perkataan mantan kakak iparmu tadi?"
"Sudah ngga...telingaku sudah kebal mendengarnya...hati dan perasaanku sudah membatu untuk baperan."
"Biarkan saja...doakan saja semoga dia sadar suatu hari nanti."
Miko hanya geleng-geleng kepala. "Aku memang harus banyak belajar darimu tentang arti sebuah kesabaran."
"Selama ini terkadang aku suka terbawa emosi, jika aku tak mampu menyelesaikan suatu masalah."
"Tapi selama 19 tahun ini kamu sabar menunggu untuk kita bisa bersama lagi."
"Tanpa pernah membuka hatimu untuk wanita lain."
"Itu soal perasaan, beb...karena aku hanya menanamkan di hatiku hanya ada satu cinta dan satu wanita sampai mati."
"Tapi aku tidak bisa sepertimu..." Aku bicara agak tercekat.
"Aku sudah pernah bilang...aku tak pernah menyalahkanmu...mungkin garis kehidupan sudah mentakdirkan harus seperti ini."
"Aku sudah sangat bahagia...Allah telah mengabulkan semua doa-doa yang selalu kupanjatkan di sepertiga malamku."
"Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku hanya bersamamu."
Aku hanya bisa meneteskan air mataku. Kesabaran Miko adalah berbentuk kesetiaan dan penantian yang tak berujung. Semestinya aku yang harus banyak belajar darinya tentang arti sebuah kesabaran sekaligus kesetiaan.
Apalagi yang kurang dari Miko. Dia ganteng, mapan, dan tak sedikit wanita mengantri untuk mendapatkan cintanya.
"Kenapa sedari tadi kamu sebentar-sebentar ngeliati aku, beb? Terpesona ya...aku gantengkan?"
"Iya...aku terpesona...aku kagum dengan semua yang ada padamu."
"Kita singgah beli martabak dulu...nanti krucil-krucil itu pada ngamuk lagi kalau lupa dibelikan pesanannya."
"Aku juga mau ya, Ko...martabak telur dan martabak manisnya..."
"Belum kenyang beb..."
"Aku cuma kepingin...dulu kami hanya beli sebungkus martabak yang biasa lalu dibagi berempat."
__ADS_1
"Itupun dua tiga bulan sekali belum tentu...kadang aku hanya makan dari sisa-sisanya anak-anak."
"Dari pada dibelikan martabak...lebih baik uangnya kubelikan lauk untuk anak-anak makan."
"Uang 20 ribu rupiah bisa kami makan untuk dua hari."
Miko menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudah beb...aku jadi tak tahan mendengar ceritamu...sekarang apapun yang kamu dan anak-anak mau makan, selama ada dijual dan aku mampu untuk membelikan...akan kubelikan."
"Aku akan sangat bahagia, jika melihat kalian berempat bahagia."
"Pak...martabak telur yang super empat, martabak manis yang supernya juga empat ya..."
"Ko...tapi ngga harus dibelikan satu-satu juga kali...kami sudah terbiasa kok makan sebungkus dibagi berempat."
"Supaya kalian kenyang...aku tidak mau melihat istri dan anak-anakku kelaparan lagi."
Jawabannya singkat, tapi mampu menyentuh jauh ke dalam hatiku.
"Sayang banget ya bapaknya ini dengan istri dan anak-anaknya?" Timpal bapak sipenjual martabak.
"Iyalah pak...tidak ada yang berarti bagi saya selain keluarga."
Karena aku sendiri tak sempat merasakan bagaimana mempunyai keluarga yang utuh.
Papi dan kakak meninggal saat aku berumur 4 tahun dan mami meninggal saat aku berumur 15 tahun.
Bagaimana beratnya hampir di setengah sisa hidupku ada di dalam didikan kakek yang sangat keras.
Dia juga yang mendidikku untuk menjadi laki-laki yang mandiri, tidak menjadi cengeng dan manja.
Sekarang dia yang kudamba sejak dulu, yang sempat hilang lama dari hidupku...akhirnya bisa kumiliki lagi.
"Kenapa kamu menatapku begitu, Ko? Ada yang salah dari penampilankukah?"
"Iya...bidadari hatiku semakin hari semakin ayu..."
"Ah kamu ini...di depan penjual martabakpun kamu masih bisa ngegombal."
"Ngga apa-apalah...Aku ngegombal istri sendiri...dari pada aku ngegombal perempuan lain? Nanti kamu sewot lagi."
Bapak dan ibu penjual martabak sampai senyum-senyum melihat kelakuan Miko.
"Ini mas pesanannya...empat martabak telur istimewa dan empat martabak manis istimewa juga."
"Semuanya 400 ribu mas..."
"Iya pak...Ini uangnya." Miko mengeluarkan uang seratusan 4 lembar dari dalam dompetnya.
"Ko...ngga kemahalankah? Uang 400 ribu hanya untuk beli martabak?"
Aku jadi ingat sewaktu aku masih mencetak bata merah dulu. Uang 400 ribu itu kudapatkan setelah bekerja kurang lebih 12 hari...itupun badan dan tanganku terasa mau copot semua.
__ADS_1
"Kalau kamu masih cerewet, ngga mau diam dan protes terus...nanti bener-bener kucium disini...mau?"
"Ngga..." Kataku.
Dia tersenyum melihat aku akhirnya diam tak bersuara lagi, takut dicium di muka umum.
"Gitu dong, beb...jangan protes terus...yang nurut gitu lho sama suami..." Aku mencibir saja mendengarnya.
"Kamu lihat...anak-anak sudah menunggu semua di depan pintu...."
"Iya...nenunggu pesanannya datang," kataku.
"Ayah...mamak...Pesanan kita mana?"
"Haduh...nih bocah....belum juga ayah turun dari mobil, yang ditanya duluan malah martabaknya."
"Adik-adikmu pada rewel, ngga Din?"
"Ngga mak... yang ditanyakan mereka dari tadi hanya soal martabak aja."
"Dina, ini martabaknya bawa kemeja makan...ajak adik-adikmu sekalian ya..."
Miko menyerahkan 2 bungkusan besar pada Dina.
" Kok banyak banget belinya, yah...dulu mamak kalo belikan buat kita hanya sebungkus dibagi berempat."
"Itupun Juned masih mau...martabaknya sudah habis...kadang mamak hanya makan sisa-sisa tepungnya aja."
"Sudah...bawa aja ke meja sana...makan se kenyangnya, ya...Yang 2 bungkus martabak telur sama martabak manisnya, tinggalkan buat ibu kalian."
"Asyik...." Anak-anak riuh berteriak kegirangan.
Miko hanya membatin, "kasihan anak-anak ini...perceraian memang hanya akan membuat anak-anak menderita, karena kehilangan kasih sayang salah satu dari orang tuanya."
"Ayah tidak mau maltabaknya?" Syifa dan Juned mengunyah dengan lahapnya.
Miko yang awalnya mau ke kamar, tidak jadi. Dia singgah dulu ikut duduk di meja bersama anak-anak.
"Enak martabaknya nak..."
"Enak yah...Syifa udah habis dua yah..."
"Ya sudah...kalian makanlah dulu...ayah mau mandi ya..."
Hatiku terasa pedih melihat anak-anak ini. Tak tega rasa hati melihatnya.
"Akan ayah belikan untuk kalian, makanan apapun yang ingin kalian makan...kalian tidak usah takut kelaparan lagi, nak...itu janji ayah untuk ibumu dan kalian."
***Bersambung....
Happy reading 🧡🧡...Tetap minta like, komen dan jika berkenan...Vote dan favoritenya ya...Terima kasih***...
__ADS_1