
Miko kulihat begitu bahagia. Wajah pucatnya sedikit merona kemerahan. "I love you bundaku sayang....Miko mengecup keningku dan ke dua pipiku. Dia juga menciumi anak-anak persis seperti dulu.
"Selamat ya ayah...bunda...semoga tidak ada lagi yang bisa memisahkan kalian berdua..." Dina memelukku dan Miko.
"Berarti ngga ada larangan dong kita bulan madu lagi, bun? Kan sudah sah!!" Miko tersenyum sambil menggodaku.
"Kan ayah masih sakit, kita menikah bukan hanya untuk menyatukan hasrat semata yah...tapi juga menyatukan hati kita yang telah lama terpisah."
"Bun!!"
"Apa yah?"
"Bunda masih cinta kan sama ayah? Bunda tak lagi membenci ayahkan?"
"Dulu bunda memang pernah dalam posisi sangat membenci ayah, tapi akhirnya bunda menyadari bahwa tak mungkin selamanya kita akan hidup dalam dendam dan kebencian itu sendiri."
"Tak ada satu wanitapun yang rela di madu yah, makanya bunda pergi dari kehidupan ayah."
"Bunda memberikan kesempatan pada ayah untuk bisa mencintai dia dan melupakan bunda."
"Tapi ternyata ayah tidak bisa melupakan bunda...begitu kan bun?" Miko tersenyum sedih mengingat semua masa yang telah lalu.
"Ayah pernah juga sangat membenci bunda, apalagi mengingat perselingkuhan yang bunda lakukan."
"Tapi pada akhirnya ayah sadar, bunda begitu juga karena ayah...intinya kita berdua itu sama-sama salah, oleh karena itu marilah kita membuka lembaran baru untuk memulai kehidupan rumah tangga kita dari awal."
"Maafkan ayah juga pernah meragukan Miko dan Miki adalah anak-anak ayah."
"Ayah pernah melakukan tes DNA dan ternyata mereka berdua adalah darah daging ayah."
Aku terdiam. "Kapan ayah melakukan tes DNA? "
"Waktu bunda masih dalam keadaan koma di ruang ICU...Waktu itu ayah menggendong si kembar, ayah sempat menggunting sedikit rambut mereka berdua dan meminta theo asisten ayah untuk membawa sampel itu ke laboratorium."
"Maafkan ayah juga karena sempat meragukan bunda."
Aku hanya menarik napas panjang dan berat. Tapi aku juga bersyukur ternyata si kembar bukan anak dari mas Sofwan.
Flashback***
"Theo, bisakah saya minta tolong?"
"Tolong apa bos? Kalau mau pinjam uang saya ngga punya, bos!!"
"Saya juga ngga tega kali mau pinjam duit sama kamu!"
__ADS_1
"Habis mau minta tolong apa, bos?"
"Begini Theo, saya mau minta tolong tes DNA rambut ini...saya hanya ingin tau, benarkah itu anak kandung saya atau bukan."
"Anda meragukan istri anda pak bos?"
Miko menghela napas. "Entahlah Theo, saya juga bingung."
"Baiklah bos...tapi maaf ni ye...maaf banget, seandainya ini hanya seandainya, jika si kembar itu bukan anak bos gimana? Apa bos akan tetap bersama dengan ibu Sania atau meninggalkannya?"
"Saya akan tetap berbesar hati untuk bersamanya, Theo...karena saya sangat mencintai ibu Sania." Theo hanya manggut-manggut saja mendengarnya.
*
*
"Sekali lagi maafkan ayah ya, bunda...ayah sudah meragukan bunda!!"
"Maafkan ayah juga ya nak, kalian memang adalah bayi-bayi tampan ayah." Miko menciumi ke dua anak kembarnya.
"Ayah ngga ngantorkah hari ini?" Aku mengambil alih menggendong si kembar yang mulai aktif dari gendongannya.
"Ayah sekarang kerjanya dari rumah aja bun, jadi ayah bisa selalu dekat dengan kalian."
"Bun, ayah mau ke kamar dulu ya!! kepala ayah rada pusing."
Bruk...Miko oleng lalu ambruk ke lantai. Untung aku sudah meletakan ke dua anak kembarku di lantai karena mereka sudah mau belajar untuk tengkurap.
Dengan cepat kutahan tubuhnya. "Ayah....ayah kenapa?"
Aku panik melihat Miko tiba-tiba pingsan. "Din...Dina....aku berteriak memanggil Dina yang ada di kamar.
"Iya bun ada a....lhoh...ayah kenapa bun?"
"Din, cepat ambilkan ponsel bunda...bunda harus segera menelpon Dr. Evan."
"Ambilkan juga bantal ya, untuk menyangga kepala ayah!!"
Tidak sampai setengah jam Evan datang ke lokasi yang ku share lock.
Dengan cekatan dia memeriksa Miko. "Mba apa Miko telat minum obatnya, ya!!"
"Obat apa dokter? Saya ngga tau kalau suami saya ada obat rutin yang harus di minum!!"
"Jadi mba Sania ngga tau, Miko itu sakit apa?" Aku cuma menggeleng karena aku memang tidak tau."
__ADS_1
Dr. Evan menghela napas dulu sebelum bicara. "Maafkan saya Miko, tapi istri kamu harus tau apa penyakit yang kamu derita ini."
"Begini mba Sania, Miko ini sudah tiga bulan terakhir ini terdeteksi bahwa ada kanker di dalam otaknya....intinya Miko terkena kanker otak stadium akhir."
Aku tersentak mendengar penjelasan Dr. Evan.
"Apalagi Miko sering stres dan dilanda kecemasan yang luar biasa, maka semakin cepatlah kanker tadi menyebar."
Aku hanya bisa menangis mendengar penjelasan dokter Evan. Karena aku tau, kemungkinan Miko untuk hidup sangatlah kecil.
Tapi tidak, aku tidak boleh terlihat lemah di matanya, agar semangat hidup Miko tetap ada...jika dilihatnya aku juga semangat dan bahagia.
Tak lama Miko sadar. Aku menggenggam tangannya.
"Kenapa ayah menyembunyikan semua tentang penyakit ayah kepada bunda? Apa bunda sudah tidak berarti lagi untuk ayah?"
Aku memeluknya sambil menangis. "Setidaknya ijinkan bunda merawat ayah dan selalu memberikan dukungan moril pada ayah."
"Maafkan ayah ya bun, tapi bunda tau dari mana jika ayah sedang sakit?"
"Waktu ayah pingsan tadi, bunda menelpon Dr. Evan...dari dialah bunda tau semuanya tentang penyakit ayah."
"Ayah takut jika bunda tau, bunda akan pergi semakin jauh meninggalkan ayah."
"Tapi justru dengan diamnya ayah, nantinya akan membuat penyesalan untuk bunda."
"Makanya setiap hari ayah selalu bertanya pada bunda, masihkah bunda mencintai ayah?"
"Yah, bunda akan selalu mencintai ayah...apalagi sekarang kondisi ayah seperti ini, bunda malah jadi semakin cinta dan semakin takut kehilangan ayah."
Kami berpelukan erat. "Janji jangan lagi pergi meninggalkan ayah ya, bun!! Kalaupun ayah sudah tak sanggup lagi melawan penyakit ini dan yang Maha Kuasa akhirnya akan memanggil ayah untuk menghadapnya, ayah ingin meninggal dalam dekapan bunda."
"Ayah harus kuat, ayah harus punya semangat hidup dan semangat untuk sembuh, bunda akan selalu mendukung ayah."
"Terima kasih istriku sayang, bunda dan anak-anaklah penyemangat hidup ayah."
Aku memberikan dukungan moril sebisaku walaupun hatiku hancur berkeping-keping. Aku tak mau terlihat lemah di depan Miko agar dia tidak semakin tertekan.
"Ayah minum obat dulu ya, jangan telat minum obat lagi..." Aku membantunya untuk duduk dan dia duduk bersender di dinding.
Aku mengambilkan segelas air putih untuknya. "Semangat ya sayang, jangan pernah menyerah...bunda selalu ada di samping ayah."
Miko mengangguk dan tersenyum bahagia. Kini dia tak takut apapun lagi, karena Sania akan selalu ada di sampingnya.
****Bersambung...
__ADS_1
Tetap semangat juga ya readers...semangat untuk selalu mendukung author dalam bentuk like, komen, vote, favorit dan rate nya. Terima kasih sudah mau mampir🙏🙏🙏