Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 95 Sultan


__ADS_3

"Boleh kok kak, silahkan saja kalo mba Sania mau jadi kasir di kafe, bergantian dengan mba Endang."


"Kalau memang Dina punya suara bagus dan pinter juga main gitar, nyanyi aja di kafe pas sabtu sama minggu...jadi ngga ganggu sekolahnya."


"Sebaiknya kamu deh yang kasih tau kabar baik ini sama Sania...masa kak Tini?"


:Aduh...kenapa mesti aku sih?" Sultan membatin.


"Aku lho akhir-akhir ini selalu deg-degan kalau dekat mba Sania...tapi alasan apa ya, aku sama kak Tini?"


"Hei, Sultan!!! Kok malah bengong kayak ayam ketelan karet sih?"


"Anu...mba...saya...."


"Anumu kenapa Sultan...yang jelas kalau ngomong!!! Anumu kejepit?"


"Ishh...kak Tini ini lho..."


"Habis kamu kayak salah tingkah gitu!!! Kamu suka sama mba Nia?"


Sultan bungkam seribu bahasa. Wajah manisnya semakin merona kemerahan.


"Bukan gitu kak...dari kemarin masang stop kontak, angkat kulkas sama televisi, masang tabung gasnya kompor, semua Sultan...masa sekarang Sultan lagi?"


"Lha masa mas mu yang kakak suruh? Ntar kumat encoknya, kamu mau tanggung jawab?"


"Aishhh...ya, sudahlah...."


"Wong tinggal jalan kaki aja lho, dek...dek...jangan-jangan beneran Sultan suka lagi sama Nia."


"Kakak mendukungmu 100 persen adik iparku...tunggulah Nia bercerai dari Miko."


"Iya Sultan, ada apa?" Wanita berparas ayu itu muncul dari balik pintu dalam.


"Saya cuma mau kasih tau kalau mba mau mulai besok bisa kok bekerja di kafe saya...dan dengar-dengar juga Dina punya suara yang bagus ya...nyanyi aja setiap sabtu minggu di kafe."


"Betulkah? Terima kasih banyak ya, Sultan!!!" Matanya yang sebening kaca tampak berbinar indah sekali."


"I..iya mba, sama-sama...aduh kok lemes semua sedengkul-dengkulku sih...noraknya aku ini."


"Kafenya jauh ngga dari sini, Sultan?"


"Ngga mba...di ujung jalan besar itu sebelah kiri...jalan aja nyampe kok...tapi kalau mba Sania mau saya gendong ke sana juga ngga apa-apa..."


"Yang bener mau gendong saya?" Si paras ayu itu tersenyum..."Aduh meleleh rasa hatiku."


"Kalo mba Sania mau sih..." Wajah Sultan kembali memerah.


"Belum gendong aja wajahmu sudah merah semua, apa lagi kalau benar-benar gendong saya..."


"Saya jalan kaki aja, Sultan...saya masih kuat kok..."


"Eh, ngomong-ngomong kulkas, televisi dan kompornya bisa aja, kan?"


"Bisa kok, terima kasih ya...besok deh kalau tidak mengajar, mampir aja kemari nanti saya masakkan untukmu sebagai ucapan terima kasih."

__ADS_1


"Beneran mba???"


"Ya bener lah...kamu sudah baik sama saya dan menolong saya."


"Iya mba besok saya mampir...terima kasih ya mba..."


"Saya yang mengucapkan banyak terima kasih sama kamu...." Dia tersenyum lagi.


"Senyam...senyum...kesambet apa ni anak?" Suami Tini keluar dari kamar sambil memandangi tingkah adiknya.


"Jangan kaget mas...orang lagi jatuh cinta itu ya, begitu!!!"


"Jatuh cinta sama siapa, bu?" Suami Tini bingung mendengar perkataan istrinya.


"Sama janda...."


"Rondo e..sopo bu? Kok ayah ngga tau Sultan jatuh cinta karo rondo?"


"Ish...jangan percaya mas, kak Tini itu ngawur..." Sultan berusaha menyangkal.


"Sania...."


"Oalah....karo rondo ayu itu tho...."


"Ayah....mau burung perkututnya ibu sembelih?" Tini melototkan matanya.


"Ojo...bu, burung perkutut kesayangan kok di sembelih!!! Makanya ati-ati kalau ngomong, ibu cemburu, tau..."


"Tapi kan bu, Sania itu belum bercerai dari Miko tho...baru dia lagi hamil pula."


"Bukan begitu, bu...tapi kenapa menunggu habis melahirkan baru bercerai? Kalau memang Miko sudah melakukan kesalahan yang fatal, apalagi sudah terucap kata cerai dari mulutnya secara sadar."


"Terus jika anak Sania nanti lahir, gimana dong yah..."


"Ya, bernasab kepada ibunya atau keluarga nya."


"Atau mungkin kemarahan mereka hanya sesaat bu, setelah kemarahan mereka reda...mereka berniat rujuk kembali."


"Sudah nikah diam-diam ngga ada izin istri pertama, pulang bawa istri baru ke rumah, kalau aku jadi Sania sudah kuinjek-injek tu Miki dan istri mudanya."


"Miki...Miki...enak betul ganti namanya orang, Miko..."


"Iya, apalah itu...bodo amat."


"Kalau dia tidak mau menceraikan istrinya, di pidanakan aja tuh si Miko.


"Ayo...ayo bubar Sultan...ratu kegelapan sudah marah...bakal hancur dunia persilatan..." Mereka berdua bubar meninggalkan Tini yang masih mengomel tiada henti.


*


*


Drrtttt...ddrrtttt


"Mau apalagi sih Miko ini telepon terus? Kurang puaskah untuk menyakiti hati dan perasaanku?"

__ADS_1


"Mau apalagi telepon malam-malam gini? ganggu orang mau tidur saja!!!"


"Kali ini telepon dari dia kuangkat dan langsung ku skak perkataannya."


"Bun...baru kali ini ayah dengar bunda bicara sekasar dan sekeras ini?"


"Itu berarti aku sudah tidak mau di telepon lagi alias tidak mau diganggu."


"Ayah kangen sama bunda dan anak-anak, bun...pulanglah...ayah mohon maafkan kesalahan ayah."


"Miko...kamu selalu benar dan akulah yang salah...aku telah berselingkuh...jadi lebih baik kita saling melupakan, aku akan segera mengurus perceraian kita."


"Miko? Sudah sebegitu bencinya kah bunda pada ayah, sampai harus memanggil nama?"


"Lho..namamu memang Miko kan? Tuan Jatmiko Sarindra yang terhormat? Suami yang sebentar lagi akan melegalkan pernikahannya dengan nyonya Alena?"


"Sementara aku siapa? Aku hanya istri terbuang, yang tercampakan seperti sampah di jalanan."


"Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan, mohon maaf telepon akan kumatikan, aku mau tidur, aku sangat lelah."


"Bun, tolong jangan membahas lagi masalah perceraian...ayah tak akan pernah menceraikan bunda."


"Terserah...tapi aku tetap pada pendirianku untuk mengakhiri hubungan ini...jadi aku tak lagi mempunyai beban dan kamupun begitu."


"Bun...kalian berempat tinggal di mana sekarang? Ayah mengkhawatirkan kalian."


"Banyak tempat di sini, mau di bawah kolong jembatan, mau di bawah pohon pisang...yang penting ada tempat untuk berteduh."


"Jangan bicara begitu bun, malah membuat ayah semakin bersalah pada kalian."


"Sudahlah tuan Jatmiko Sarindra...aku mengantuk...banyak bicara denganmu malah membuatku semakin lelah."


"Kututup dulu ya....Assalamualaikum, selamat malam!!"


"Bun...jangan di...ah..." Miko menjambak rambutnya sendiri.


"Apa yang harus kulakukan kini untuk memintamu kembali? Berpisah denganmu, berada jauh darimu seperti sekarang ini membuat aku seperti mau gila."


"Bodoh...bodoh..." Miko terus merutuki kebodohannya. Tangannya tak henti meninju tembok kamar tanpa dia sadari tangannya telah lecet dan terluka.


"Bunda memang telah berselingkuh, tapi yang kulakukan dengan diam-diam menikah di belakangnya, apa bisa dimaafkan?"


"Semestinya aku bisa berpikir lebih jernih sebelum bertindak. Tidak hanyut dalam kecemburuanku.


"Keparat kau Sofwan...gara-gara mengikuti mulut kaleng rombengmu aku jadi begini."


Mendengar suara ribut-ribut di dalam kamar, Alena masuk.


"Stop bang, tulang-tulang jarimu bisa hancur jika abang terus meninju dinding tembok itu...sadar bang..."


Hati Alena ikut tersayat melihat penderitaan yang dialami suaminya akibat kehilangan istri pertamanya.


"Biar...biar hancur sekalian...karena dengan tangan ini aku telah menyakitinya..." Air mata tak henti meluncur di pipinya.


****Bersambung...

__ADS_1


Happy reading....selalu minta dukungannya. like, komen, vote dan favoritnya....🙏🙏🙏


__ADS_2