Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 154 Ingatan


__ADS_3

"Kapan kamu mau pindah lagi kembali kerumah? Aku dan ayah mengkhawatirkan keselamatanmu dan anak-anak." Niko membuka percakapan setelah agak lama kami diam dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Aku dan ayah sangat mengkhawatirkan keadaanmu dan anak-anak, karena aku tau orang seperti Alena mampu berbuat apa saja."


Aku kembali memikirkan apa yang diucapkan Niko. Ada benarnya apa yang dia katakan barusan. Alena itu orangnya nekad, aku tak memikirkan keselamatan diriku sendiri tapi juga kelima anak-anakku.


"Kapan kamu ada waktu untuk membantuku boyong-boyong kembali?" Kataku.


"Aku akan selalu ada waktu jika itu untukmu dan anak-anak, Nia!!" Kata Niko sambil tersenyum.


Aku manggut-manggut saja mendengar ucapannya.


"Jangan cuma manggut-manggut, seperti ayam ketelan karet saja!" Aku mencubit pinggangnya, sementara Niko hanya meringis saja.


"Eh, tampaknya ada yang mau membeli bunga Niko!!" Aku menunjuk dua orang gadis yang masuk ke kios bunga kami.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Niko dengan ramah.


"Bos kami sedang berulang tahun, kami ingin rangkaian bunga dan ucapan selamat ulang tahun untuk beliau."


"Oke, tunggu sebentar ya!" Jawab Niko.


Sementara dia sibuk merangkai bunga, kedua gadis itu berbisik-bisik sambil melirik Niko tapi sempat didengar oleh Sania.


"Kalau penjual bunganya mirip opa-opa Korea gini, aku mah mau setiap hari beli bunga di sini."


"Mau apa kamu setiap hari beli bunga? Mau ngepet?" Kata teman satunya lagi.


"Ngga usah bicara aneh-aneh...kamu liat wanita cantik yang ada di pojok itu? Itu pasti istrinya!" Temannya menyikut pinggang temannya.


Mereka melirik pada Sania yang pura-pura sibuk merapikan tanaman bunga di kios itu.


"Ini mba pesanannya sudah jadi..." Niko memberikan buket bunga pada kedua gadis itu.


Kedua gadis itu tersipu-sipu saat Niko tersenyum manis pada mereka.


Sania masih sempat mendengar ucapan mereka saat keluar dari kios.


"Senyumnya abang itu buat adek meleleh..." Teman satunya menoyor kepala temannya.


"Kamu membuat anak gadis orang klepek-klepek, Niko?" Aku menegurnya sambil tersenyum.


"Aku mah biasa aja, karena hanya ada satu orang yang mampu membuatku klepekan seperti ikan kehabisan air."


"Wih...hebat dong orang itu sampai mampu membuatmu kehabisan oksigen!!" Kataku sambil asyik dengan kesibukanku.


"kalau memang sudah nemu yang tepat, menikahlah Niko...ingat usiamu sudah tidak muda lagi!!" Aku meliriknya yang wajahnya mendadak kecut.

__ADS_1


"Kalau aku menikah, siapa yang akan menjagamu dan anak-anak?" Jawabnya.


"Akukan bukan anak kecil lagi, Niko!! Masa menjaga diri dan anak-anak aja ngga bisa?" Jawabku.


"Bagaimana kalau aku saja yang menikah denganmu dan menjadi ayah sambung untuk mereka?" Ucapan Niko pelan tapi masih sempat terdengar oleh Sania yang menyebabkannya seketika tersedak.


Uhuk...uhuk..


"Sepertinya cuaca beberapa hari ini sedang tidak baik ya!! Tuh kamu lagi terserang radang tenggorokan." Niko tersenyum sambil membuang pandangannya kelain.


Aku diam saja mendengar celotehan Niko, sebenarnya aku sudah sering mendengar dia berkata begitu walau hanya terselip dalam candaannya saja.


*


*


"Papah sudah pulang?" Anggita berdiri di depan pintu menyambut kedatanganku dari kantor.


"Tumben nih mamah, biasanya wajahnya tak pernah ada ramah-ramahnya...memandangku seperti memandang musuh." Aku bergumam sendiri.


"Iya!!" Jawabku singkat lalu masuk meninggalkannya.


"Pah!!"


Aku berhenti di tengah ruang tamu tapi tak menoleh, hanya sekedar menunggu dia melanjutkan kalimatnya.


Aku hanya menghela napas panjang. Lalu aku berbalik menghadapnya.


"Mah, mintalah maaf dengan perbuatan...bukan hanya dengan kata-kata, buatlah papah dan Aisyah percaya jika mamah tidak akan membentak-bentak kami lagi." Lalu aku berbalik meninggalkannya dan masuk ke dalam kamar Aisyah.


Anggita kembali termangu di tempat dia berdiri. Dia mencoba mendekat ke dalam kamar saat di dengarnya Sofwan suaminya sedang bercanda dengan putri mereka.


Tok...tok...tok


"Permisi?"


Anggita membuka pintu kamar, sontak Aisyah yang tadi tertawa riang bersama papanya jadi beringsut ketakutan.


"Boleh mamah masuk dan bergabung dengan kalian?" Anggita masih berdiri di depan pintu kamar.


"Ngga...ngga...Aisyah takut pah...Aisyah pengen sama papah aja!" Aisyah memeluk papahnya dengan erat, begitu nampak ekspresi ketakutan di wajahnya.


"Maaf mah, sebaiknya mamah dekati Aisyah secara perlahan-lahan...buat dia mempercayai mamah lagi seperti dulu, karena sudah cukup lama dia memang tidak dekat dengan mamah lagi kan?" Aku berusaha menenangkan Aisyah yang nampak ketakutan.


Akhirnya Anggita mengalah dan keluar lagi dari dalam kamar.


"Aisyah ngga boleh gitu, tuh liat mamah jadi sedihkan?" Kataku sambil mengusap lembut kepalanya.

__ADS_1


Mungkin memang tak mudah untuk menghilangkan trauma bocah seumur Aisyah, karena seringnya perlakuan Anggita yang buruk membuat dia selalu ingat setiap detil dari bentakan-bentakan Anggita dulu."


"Ais...malam ini kita makan di luar yuk? Rasanya sudah lama papah tidak mengajak Ais makan di luar, habis itu baru kita ke time zone...oke?" Aku mengacungkan jempolku padanya.


"Asyik...Aisyah mau pah...Aisyah mandi dulu ya!! Baru kita berangkat." Aisyah nampak bersemangat sekali.


Sofwan sangat senang melihat kebahagiaan putrinya. Kebahagiaan yang hampir tak pernah diberikannya pada istri dan ketiga anaknya dulu. Dulu jangankan untuk jalan-jalan...untuk makan saja sudah susah.


Sofwan menelan salivanya dengan penuh kegetiran.


"Dek...mas kangen sama kamu dan anak-anak!! Apa kabar kalian sekarang? Apakah kamu masih berduka atas kepergian Miko?"


Sambil menunggu Aisyah, Sofwan membuka whatsapp Sania. Tampak gambar wanita cantik yang dari dulu hingga kini bahkan mungkin sampai kapanpun akan tetap selalu ada di hatinya.


Tak terduga tangannya menekan gambar telepon di whatsapp Sania.


"Waduh...apa yang aku lakukan sih?" Tapi dia tak berniat untuk mematikan teleponnya.


"Assalamualaikum..."


Sofwan mengerenyitkan dahinya. Dia mendengar suara asing di balik telepon itu.


"Itu bukan suara Sultan, tapi suara laki-laki...siapa yang memegang ponsel Sania? Tak mungkinlah dia secepat itu beralih hati kepada orang lain!!"


"Kok mendadak hatiku hampa ya?"


"Waalaikum salam...maaf salah sambung..." Lalu Sofwan memutuskan sambungan teleponnya.


"Siapa yang telepon Ko?" Aku yang baru saja selesai memandikan si kembar dan meninggalkan ponsel di meja bertanya pada Niko.


"Entahlah...katanya sih salah sambung!!" Niko menaikan bahunya.


"Eh...anak ayah sudah mandi sudah ganteng sudah wangi ya!!" Dia merentangkan tangannya dan memeluk Miko dan Miki.


"Kalian mampir dulu ke rumah atau langsung pulang saja?" Tanyanya sambil menciumi si kembar yang tampak nyaman dalam pelukan Niko.


"Langsung pulang aja Ko...kasihan Dina sama juned dan Syifa kalau aku mampir ke rumah lagi."


"Oo ya sudah...ntar aku tutup kios dulu ya!! Baru kita pulang."


*


*


***Bersambung...


Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih😊😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2