
Ibu Intan sama sekali tak bereaksi mendengar panggilan anaknya itu.
Riko duduk bersimpuh di depan kaki ibunya sambil memandangi wajah ibunya yang sepertinya baru saja menangis.
"Maafkan Riko bu...maafkan Riko!!" Riko memeluk wanita yang hanya duduk dan diam membisu itu.
"Riko janji akan merawat ibu sampai ibu sembuh seperti sedia kala...Riko akan tetap di sini di samping ibu!!"
Riko kembali memeluk ibunya tercinta.
"Maafkan papah ya mah, untuk saat ini papah belum bisa memenuhi janji papah untuk pulang, semoga kita masih berjodoh dan suatu hari nanti kita bisa bertemu dan bersama lagi."
Hancur hati Riko. Keinginannya yang menggebu-gebu untuk pulang harus dia batalkan, harus dia tahan entah sampai kapan melihat kondisi ibunya yang seperti itu.
Riko memutuskan untuk menemui kakek Sanusi di luar dan berbicara padanya.
"Kakek...terima kasih banyak atas bantuan kakek selama hampir 7 bulan ini padaku, yang setia merawatku dan menyembuhkan luka bakar di wajah dan tubuhku."
"Tanpa bantuan dari kakek dan nenek serta Ahmed, mungkin Riko sekarang sudah jadi bangkai yang tak berguna dan sudah dimakan oleh ikan."
"Riko memutuskan untuk merawat ibu Riko dulu hingga sembuh kek, soal keluarga Riko di indonesia...jika Allah masih memanjangkan tali perjodohan di antara kami semoga kami masih bisa dipersatukan lagi, Riko sudah pasrah dengan jalan hidup Riko kek!!"
Riko memeluk kakek Sanusi dengan erat. Bertemu dan tinggal dengan keluarga baik hati itu merupakan anugerah terindah buat Riko.
"Salam sayang untuk nenek dan Ahmed ya kek, sering-seringlah berkunjung jika kakek lewat daerah sini."
"Terima kasih ya pak atas tumpangan tempat tinggal dan kesembuhan untuk putra saya Riko selama ini."
Pak Baskoropun menyalami kakek Sanusi dan mencium tangan orang tua itu.
Setelah itu kakek Sanusi pamit dsn berlalu untuk pulang kembali ke rumahnya.
Riko masuk ke dalam kamarnya yang mirip istana kecil di lantai 3 itu.
Dengan cepat dia berganti pakaian lalu kembali ke bawah untuk menemani sang ibu.
*****
Sebulan telah berlalu semenjak kepergian Sultan. Sania sekarang telah di sibukan dengan pengelolaan kafe dan juga urusan rumah dan anak-anaknya.
Sofwan juga sudah kembali ke rumahnya yang dulu bersama Aisyah putrinya hasil pernikahannya dengan Anggita.
Sofwan menepati janjinya untuk menjaga Sania. Sofwan menitipkan Aisyah untuk bermain dengan adik-adiknya jika papa nya bekerja lalu sore harinya Sofwan akan menjemputnya setelah terlebih dahulu dia menjemput Sania dari kafe.
__ADS_1
Dia menghormati apapun keputusan mantan istrinya itu. Dia tetap menunggu dengan segenap rasa cinta di hatinya untuk Sania dan anak-anaknya.
"Mas, kalau mas Sofwan capek langsung pulang aja duluan ke rumah...ngga usah menungguku, aku bisa pulang ke rumah naik ojek online kok!!" kata Sania pada Sofwan.
"Mana mas tega membiarkanmu pulang sendirian dek!!" kata Sofwan.
Sstttt...
"Yang suka menjemput bu Sania itu siapa sih?" tanya salah seorang karyawan di kafe itu.
"Kalau tidak salah namanya Sofwan Prayoga...pacarnya ibu Sania, kali!! kenapa? jangan bilang kamu naksir temannya bos kita itu ya!!" kata karyawan yang lain.
"Ah...ngga mungkinlah!!" jawabnya sambil tersipu-sipu.
"Pak Sofwan lho kalau jemput ya jemput aja...ngga pernah tolah toleh kiri kanan, fokus matanya hanya ke arah bu bos aja sih kayaknya."
"Memang kok bos kita itu, wajahnya masih nampak cantik dan mempesona walaupun dia sudah berumur." Kata teman satunya.
"Iya, bukan seperti kamu...makin tua malah makin meleot kayak karet!!" lalu mereka tertawa melihat teman yang dijadikan bahan bercandaan tampak cemberut kesal.
"Ana...Nisa...Tiwi...ibu pulang duluan ya!! kasihan Raftar juga Miko dan Miki ditinggal terlalu lama..." lalu Sania melambaikan tangannya pada karyawan yang kena shift sore melanjutkan pekerjaan yang pagi!!"
"Iya bu, pak...hati-hati di jalan..." jawab mereka serempak dan kompak.
Sofwan menyetir mobilnya dengan santai dan tak terlalu tergesa-gesa. Dia selalu tak mau melewatkan momen kebersamaan dengan Sania seperti ini.
"Lumayanlah mas, namanya juga orang bekerja mencari uang ya capeklah, semua kerjaan halal itu capek...tapi nikmat terasa walaupun hanya sedikit."
Sofwan hanya manggut-manggut saja tak berniat menanggapi perkataan mantannya itu.
"Dek, mas kepengen makan nasi mawut di tempat biasa dulu kita suka makan, kita makan di sana yuk...entah mengapa mas sore ini jadi kepingin makan nasi mawut di sana!!" ajak Sofwan.
"Tapi anak-anak kasihan jika terlalu lama ditinggal mas!!" kataku.
"Kita cuma sebentar aja kok dek, habis makan kita langsung pulang!!" ajaknya sambil memasang muka memelasnya.
"Ya...ya ayolah...ngga usah pasang tampang muka memelas gitu...ngga cocok!!" kataku.
Akhirnya mobil mas Sofwan melaju ke arah tujuan. Kurang dari 20 menit kami sudah tiba di sana dan masih disambut oleh pemilik warung yang sama pula.
"Eh, mas sama mbaknya...sudah lama sekali tidak pernah mampir kemari?" kata bapak pemilik warung itu.
"Pasti si cewek kecil yang ngidam nasi mawut dulu sekarang sudah besar ya mas!!" tanyanya sambil meletakan es teh pesanan kami.
__ADS_1
"Iya pak, sekarang dia sudah kelas satu SMA!!" jawab Sofwan sambil tersenyum.
"Masih tinggal di tempat dulu ya mas sama mbaknya?" katanya.
"Kami berdua sudah pindah ke kota pak!!" jawab mas Sofwan.
"Wah...pasti istrinya mas ini ngidam pengen nasi mawut lagi ya!!" katanya sambil tertawa. Karena dia ingat betul bagaimana perjuangan Sofwan dulu, warung sudah tutup masih digedor oleh Sofwan karena secara kurang ajar Dina mengamuk di dalam perut Sania, minta makan nasi mawut.
Sania dan Sofwan saling berpandangan sesaat. Sofwan memberi kode dengan gelengan kepala agar Sania tak mengatakan apapun tentang pernikahan mereka.
Akhirnya pesanan kamipun datang. Nasi mawut spesial dengan telor ceplok kesukaanku dan mas Sofwan.
"Rasanya masih sama ya mas seperti bertahun-tahun yang lalu!!" kata Sania.
Mendadak wajahnya menjadi muram. Dan Sofwan tau itu kenapa. Karena dia pun selalu mengingat tempat ini sebagai tempat kenangan mereka berdua dulu.
Sofwan menggenggam tangan Sania untuk memberinya kekuatan.
"Tempat hanyalah sebuah formalitas belaka, masih bersama ataupun tidak, mas akan tetap selalu ada untukmu!!" katanya memberi semangat pada Sania.
"Sekarang kamu makanlah sebentar mas mau numpang ke toilet dulu sekalian mau pesankan buat anak-anak di rumah!!" kata Sofwan.
Sofwan masuk ke dalam toilet. Di sana dia membasuh matanya yang sejak tadi dia tahan agar tidak tumpah di depan Sania.
Dia bisa bilang tempat hanyalah sebuah formalitas tapi nyatanya hatinya pun terasa sakit teringat akan semua kenangan masa lalu dengan sang mantan.
Sang mantan yang tak pernah mendendam padanya walau sejuta kalipun dia menyakiti. Dia masih diperbolehkan datang dan bersama dengan anak-anak, masih bisa jalan bersama walaupun dia menolak untuk rujuk kembali dan Sofwan tak ingin memaksakan kehendaknya pada Sania.
Kok lama ke kamar mandinya mas? nasimu keburu dingin lho..." Sofwan duduk kembali sambil melirik piring Sania yang isinya masih utuh.
"Kamu sendiri kok juga ikutan belum makan, dek??" tanyanya.
"Aku nunggu mas Sofwan, ngga enak kalau makan duluan!!"
Spontan jawaban Sania membuat Sofwan merasa nelangsa. Karena sejak mereka masih bersama, Sania selalu menunggu dia untuk makan, tak pernah dia mendahului Sofwan untuk makan.
*
*
***Bersambung...
Akankah Riko bisa kembali lagi dan berkumpul dengan keluarganya...atau kisahnya akan berakhir cukup sampai di sini saja?
__ADS_1
Selalu mohon dukungan ya guys😊😊🙏🙏🙏