Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 64 Terima Kasih Masih Mencintaiku


__ADS_3

"Ko...aku kok jadi deg-degan ya...padahal aku sudah dua kali menghadapi penghulu."


"Kamu sudah dua kali, apalagi aku yang baru pertama kali ini? Aduh...semalaman aku sudah menghapal...mudahan lancar aja ya..."


"Amin..." Aku jadi geli melihat kelakuan Miko.


"Anak-anak sudah siap kah, beb?"


"Terus penghulunya datang tepat waktu, ngga ya..."


"Kamu tuh yang sabar sayang...jangan grogi begitu."


"Aku benar-benar gugup, beb..."


"Anak-anak sudah siap...penghulunya juga sudah dalam perjalanan menuju kemari...kan akad nikahnya jam 10, Miko sayang..."


"Tamu-tamu sudah pada datang, beb...aduh banyak orang yang ngeliati gini...apa bisa lancar ya... bacanya?"


"Pokoknya kalo ngga lancar...nanti malam ngga ku kasih jatah..."


"Ya jangan gitu lah, beb...aku ini sudah karatan rasanya menunggu."


Aku tersenyum...ku rapikan songko dan jas hitamnya..."Sudah kamu tenangin diri dulu ya..."


Dina, Juned dan Syifa sudah tampil cantik dan ganteng...diapit oleh bibi dan ketiga sahabatku, Tuti.Tini dan Wati.


"Beb..."


"Hmmmm...Apa...."


"Bibirmu..."


"Hah???Kenapa dengan bibirku?"


"Rasanya pengen kucipok..."


"Miko...ngga usah ngomong yang aneh-aneh dulu..." Aku melotot padanya.


Dia tersenyum-senyum sambil menggaruk pipinya.


"Nah, Ko...itu penghulunya sudah datang!!"


Kami semua yang ada di ruang tamu rumah Miko yang besar itu jadi lega.


Tadi mbak Fina mewakili teman-teman kantor sempat nanya...apa akan diadakan acara juga di rumahku?


"Aku ngga punya rumah mbak...keluarga aja ngga ada...aku hanya punya anak-anak...jadi acaranya langsung di rumah Miko aja."


"Alhamdulillah...kedatangan saya tepat waktu." Kata penghulu yang usianya sudah menginjak kepala 6 itu.


"Ayo kedua calon mempelai bersiap-siap."


Aku menggenggam tangan Miko yang berkeringat dingin, mencoba memberinya semangat lewat genggaman tanganku.


"Bismillahirrahmanirrahom...acara akan kita mulai ya..."


"Saya nikahkan Jatmiko Sarendra bin Sarendra Wiguna dengan Sania Marfiah binti Kasmadi dengan mas kawinnya seperangkat alat sholat dibayar tunai..."


"Saya terima nikahnya Sania Marfiah binti Kasmadi dengan mas kawin tersebut...Tunai."


"Sah..."Teriakan para tamu membahana dituangan besar itu.


"Alhamdulillah..."

__ADS_1


Miko mencium keningku. "Sini anak- anak mendekat ke ayah...." Dia melambai ke arah ke tiga anakku. Mereka bertiga berhamburan memeluk Miko. Apalagi Juned dan Syifa memang sangat manja pada Miko.


Ketiga sahabatku memelukku sambil menangis terharu. "Semoga pernikahanmu kali ini akan langgeng ya, friend..."Kata Wati!!


"Ngga usah sok inggris, Wat...ntar diajak ngomong bahasa inggris sama Miko, nyonyor kamu...wong tau nya cuma yes...No doang." Kata Tini.


"Ngga usah bahasa inggris...kalo di sini berlaku bahasa tarzan...akan aku bahasakan...untuk mengungkapkan perasaanku."


"Janganlah, Wat...nanti semua jenis hewan di luar situ masuk semua kemari..." Tuti menambahkan.


"Ya bagus...jadi tenaganya bisa kita manfaatkan buat cuci piring dan bersih-bersih..."


"Saraf loe Wat...lha pas ular yang datang, gimana..."


"Ya suruh ngepel lantai...apa gunanya punya badan melata di lantai, kalau tidak digunakan buat ngepel...lumayan hemat tenaga."


"Tambah saraf, ni anak..." Kami geleng-geleng kepala semua.


"Teman-temanmu itu kocak habis ya, beb..."


"Itu belum seberapa, Ko...Di luar sana mereka bisa lebih gila lagi," kataku.


Pesta berpindah ke taman belakang...para anggota catering yang disewa Miko tampak sibuk menata makanan di meja.


"Cantiknya kursi pengantinnya, Ko..." Aku juga memandang kagum pada dekorasi tamannya.


Beberapa hari ini aku memang dilarang Miko untuk ke taman belakang..."Munyak katanya...komentar terus."


Tak pernah kulihat senyum terlepas di wajah tampan suamiku ini...dia tampak bahagia sekali.


"Ko..."


"Bagus ya...begitu panggilan untuk suami?"


"Maaf...."Aku nyengir duluan...


Dia menoleh lalu menatapku dalam. "Aku juga berterima kasih...akhirnya kamu mau menerima lamaranku dan menikah denganku...bunda sayang..."


"Bun..."


"Hmmmm....Apa yah..."


"Bisakah panggilan mamak dari anak-anak untukmu itu diganti bunda aja?"


"Jujur aku tidak suka mendengarnya...itu panggilan pada saat bunda bersama Sofwan dulu."


"Nanti akan bunda coba pelan-pelan mengajari anak-anak ya, yah..."


"Selamat ya Miko...akhirnya predikatmu sebagai jomblo sejati, berakhir juga..."


"Terima kasih pak direktur...terima kasih juga sudah mau datang ke pernikahan saya."


"Pastilah saya akan datang...masa anak buah saya menikah, kok saya tidak datang."


"Bapak tadi ke sini dengan siapa?"


"Oalah saya lupa, Ko...tadi saya ke sini dengan Sofwan, menantunya pak Irawan."


"Kan mulai minggu depan, dia yang akan menggantikan posisimu sebagai manajer personalia."


"Deg...hatiku berdetak..."


Aku dan Miko saling berpandangan sesaat.

__ADS_1


"Pak Irawan juga titip salam dan ucapan selamat untuk kalian..."


Tak lama muncullah Sofwan dan beberapa staff penting kantor lainnya.


"Selamat ya pak Miko...kita kembali bertemu lagi..." Sofwan menyalami Miko.


"Terima kasih pak Sofwan...apakah anda tidak datang dengan istri?"


"Tidak pak Miko, istri saya sedang tidak enak badan."


Lalu dia beralih menyalamiku. "Selamat juga bu Nia...semoga kalian berdua menjadi keluarga yang samawa."


Aku tercekat mendengar perkataan Sofwan. "Iya...Amin...sama-sama pak."


"Saya mau bergabung dengan pak direktur dan teman- teman lain dulu ya, pak Miko!"


"Oh silakan pak...silakan mencicipi hidangan ala kadarnya ya..."


"Bun...kamu ngga apa-apa kan?"


"Insya Allah, bunda akan baik-baik saja yah..."


"Bun, coba telepon bibi dulu...minta tolong bibi untuk membawa anak-anak masuk ke dalam, dari pada nanti mereka bertemu dengan Sofwan, dan membuat geger para tamu."


Aku menelpon bibi dan meminta tolong padanya sesuai yang dipesankan Miko tadi.


Sementara dari tempatnya berdiri...tanpa ada yang menyadari, Sofwan sering mencuri pandang ke arah Miko dan Sania.


"Kenapa hatiku seolah tak terima melihat mereka bersatu ya...!"


"Sewaktu akad nikah berlangsung tadipun, hatiku terasa sakit melihat mereka berdua."


Rupanya Sofwan sudah datang sedari tadi, hanya saja kami tak menyadarinya.


"Tapi mengapa aku seperti tak rela melihat mereka bersama?"


"Ngga mungkinlah aku cemburu...secara aku baru 4 kali bertemu dengan Sania."


"Lagi pula apa hak aku cemburu? Kami tak begitu saling mengenal satu dengan yang lain."


Tapi akhirnya aku menyadari juga kalau ada seseorang yang sedang mengawasiku.


"Ya Tuhan...mau apa mas Sofwan menatapku seperti itu? Tidak mungkinkan dia sudah pulih dari amnesianya?"


Aku jadi salah tingkah dipandanginya seperti itu, sementara Miko juga sibuk menyalami para tamu.


"Aku seperti pernah bermimpi...aku pernah mengucapkan ijab kabul yang sama dan duduk di pelaminan yang sama...tapi bukan bersama Anggita, tapi dengan wanita lain."


"Hanya saja aku melihat wajahnya secara samar-samar..."


"Cantiknya Sania di balut oleh baju pengantin berwarna putih tulang begitu."


"Dia tampak semakin cantik dan anggun...matanya tampak semakin teduh saja."


"Dan bibir yang indah itu...ingin sekali aku mengecupnya!!"


"Aghh...benar-benar gila aku ini...sadar Wan...Sania itu istri atasanmu...istrimu di rumah sedang hamil besar...hamil anakmu."


"Tapi mengapa aku seperti mau gila setiap kali aku menatapnya?"


Aku mulai menyadari sepenuhnya bahwa mata Sofwan tak pernah lepas menatapku...aku mulai gelisah...aku merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan ini...


***Bersambung....

__ADS_1


Nah loh...karma mulai bekerja secara perlahan tapi pasti...akankah Sofwan pun merasakan sakit hati seperti Sania rasakan selama ini?


Tetap ditunggu like dan komennya ya...Vote dan favoritenya jika berkenan...Terima kasih***..


__ADS_2