Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 106 Jangan Tinggalkan Kami Bunda


__ADS_3

"Tapi bunda baik-baik aja kan om Sultan? Sebab perasaan Dina tuh ngga enak sejak dari sekolah tadi."


Sultan menarik napas panjang. "Sebaiknya kita langsung ke rumah sakit yuk...tidak ada orang di rumah."


"Syifa tadi dijemput tante Tini ke rumah sakit."


Mereka diantar Sultan berangkat ke rumah sakit. Dina tampak berbisik-bisik pada Juned.


"Kok perasaan kakak tambah ngga enak ya, dek? Tampaknya om Sultan menyembunyikan sesuatu dari kita."


Juned cuma mengangkat bahu, karena sejujurnya dia pun merasa tak enak hati. Biasanya Sultan orang yang suka bercanda, sekarang malah jadi diam seribu bahasa.


"Kok kita ke ruangan icu om?" Tanya Dina.


Di kursi ruang tunggu tampak Tini, Tuti dan Wati sedang meredakan tangisnya Syifa.


"Tante...keadaan bunda dan adik kami gimana?" Dina langsung menyerobot.


"Terus bunda di rawat di mana tante? Terus ini Syifa kok nangis-nangis, dek?"


Mereka tak ada yang kuasa menjawabnya.


"Bunda kak!!! Bunda ada di dalam...Syifa panggil-panggil, bunda diam aja...matanya bunda itu melem kayak olang mati!!"


"Tenang dulu ya nak, bunda kalian lagi di rawat di dalam." Wati memeluk Dina dan Juned.


Mereka mengantar Dina dan Juned ke dalam. Tapi mereka tidak boleh masuk hanya bisa melihat dari luar ruangan yang dibatasi kaca.


Juned sudah menangis tanpa suara melihat keadaan bundanya yang terbaring tak bergerak di tempat tidur dengan selang infus di tangannya dan selang oksigen di hidungnya.


Juned dan Dina memeluk Tuti dan Wati. "Bunda kami baik-baik saja kan tante? Bunda ngga akan ninggalin Dina dan adik-adik pergi kan? Kalau bunda pergi terus bagaimana nasib kami? Kami tidak punya siapapun lagi selain bunda!!"


Hati siapa yang tak akan menangis mendengar perkataan Dina.


"Kita doakan saja bunda kalian cepat sadar dan pulih kembali, ya..."


"Sebaiknya kita keluar dulu yuk...kalian pasti lapar dan belum makan kan? Kita ke kantin aja dulu."


Tuti dan Wati menggandeng lengan ke duanya.


"Kami memang lapal tante, tapi kami tidak punya uang untuk beli makanan, "jawab Juned dengan polosnya.


"Membelikan kalian makan, tidak akan membuat tante jatuh miskin, Juned!! Wati membelai rambut Juned.


*


*


Saat jam istirahat siang, Miko pulang dengan tergesa-gesa. Entah mengapa sejak pagi perasaannya tidak enak terus.


"Seingatku aku menaruh ponselku di ruangan kerjaku tapi sekarang kok ngga ada ya?"

__ADS_1


Miko membongkar meja kerjanya. "Bi...bi..."


Bibi tergopoh-gopoh mendatangi tuannya. Karena Miko sekarang berbeda dengan Miko yang dulu semasa masih ada Sania. Miko yang sekarang adalah Miko yang sering uring-uringan.


"Ada apa pak?"


"Bi...bibi liat ponsel saya ngga? Tadi pagi saya lupa, entah saya tinggalkan di ruangan kerja saya atau di ruang tamu!!"


Tiba-tiba Alena keluar dari kamarnya. "Abang nyari ponselnya abang ya..." Dia memberikan ponsel milik Miko.


"Lho kok bisa ada sama kamu, Alena?"


Dia cuma mengangkat bahu dan berlalu ke dapur.


Dengan cepat Miko mengecek ponselnya. "Ada banyak panggilan tak terjawab...dari Sania?"


Terus dia mengecek panggilan dari Sania diterima.


"Alena...dia menjawab panggilan Sania."


Bergegas Miko menyusul Alena ke ruang makan.


"Alena...katakan apa yang dibicarakan Nia padamu tadi pagi?"


Alena mengangkat bahu sambil mengunyah makanannya. "Dia hanya bertanya soal abang, kujawab aja ngga tau, kan memang aku ngga tau."


Miko bergegas ke kamar meninggalkan Alena yang tersenyum penuh arti.


"Ada apa ini? Apa sudah terjadi sesuatu pada bunda? Sebaiknya sekarang aku pergi ke sana saja untuk mengeceknya."


"Lho...bapak ngga makan siang dulu? Sudah ditunggu sama non Alena!!"


"Nanti aja, bi...kalau Alena mau, suruh dia makan duluan... saya mau pergi ke rumah ibu dulu."


Bibi hanya geleng-geleng kepala melihat tuannya. "Akibat nila setitik rusak susu sebelanga."


"Lho, bang Miko ngga makan siang bi?" Alena sudah menunggu di meja makan.


"Bapak mau mencari ibu, kalau non mau makan pesan bapak makan aja duluan."


Brak...Alena menggebrak meja makan. "Selalu saja wanita itu yang di dahulukan oleh bang Miko...kupikir setelah dia dan anak-anaknya tak ada di sini, aku bisa memiliki bang Miko sepenuhnya...ternyata tidak!!"


Dia berdiri meninggalkan meja makan dengan kesal.


"Ngga jadi makan non?"


"Ngga!!!"


"Ya iyalah bapak lebih peduli kepada ibu, secara bapak sangat mencintai ibu, non...bapak menikahimu hanya karena sebuah amanat...jika tidak ada kamu di sini, rumah tangga majikanku akan tetap adem ayem aja!!" Bibi mencibir ke arah Alena.


"Awas kamu kak Sania....Jika aku tidak bisa memiliki bang Miko, maka jangan bermimpi kamu juga bisa memilikinya...:" Alena menggeram marah.

__ADS_1


"Kok rumah bunda sepi banget ya!!! Lho...kok pintu rumah di gembok? Mereka sebenarnya pada pergi kemana? Aduh perasaanku makin ngga enak aja."


"Siang pak? Bapak mencari siapa ya?" Seorang ibu menyapaku.


"Bu, ibu Sania sama anak-anaknys pergi ke mana, ya? Kok rumahnya di gembok?"


"Oh...mba Sania masuk rumah sakit, pak!!! Saya tadi pagi yang menolongnya tergeletak pingsan di lantai."


"Mba Sania mengalami pendarahan hebat, dengar-dengar sampai sekarang mba Sania belum siuman setelah dioperasi."


"Astagfirullah...di rumah sakit mana istri saya di rawat bu?" Miko mulai panik.


"istri? Jadi bapak ini suaminya mba Sania, kami pikir suaminya itu pak Sultan, karena hanya pak Sultan yang sering kami lihat."


Deg....ada nyeri dalam hati Miko mendengar penuturan ibu tadi.


"Kok kami tak pernah melihat bapak?"


"Saya dan istri saya sedang ada masalah kecil, bu!!!"


"Sebagai manapun masalah yang kalian hadapi, tapi mba Sania itu lagi hamil pak...kasihan...Hanya pak Sultan yang sering kami lihat di sini."


"Mba Nia di rawat di rumah sakit harapan bunda."


"Terima kasih banyak ya, bu...saya akan segera ke sana."


"Semoga bunda tidak apa-apa bun...jangan-jangan tadi bunda menelpon ayah untuk meminta pertolongan...tapi selalu saja di saat bunda butuh ayah, ayah tak pernah ada di samping bunda."


"Suami macam apa aku ini...bodoh...bodoh..."Miko memukul-mukul pahanya sendiri.


"Jika terjadi sesuatu pada bunda, ayah tak akan pernah memaafkan diri ayah sendiri."


Miko segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang di maksud.


Setelah bertanya pada perawat yang berjaga di depan, akhirnya dia tiba di ruang icu. Di sana masih duduk Sultan dan ke tiga sahabat Sania juga anak-anak.


Melihat ke datanganya mereka semua langsung berdiri dengan wajah-wajah yang sangat tidak enak.


"Keparat kamu Miko..." Sultan mencengkeram leher baju Miko.


"Kamu tau? Di dalam sana Sania berjuang antara hidup dan mati untuk menyelamatkan nyawanya dan nyawa bayi kembarnya...sementara kamu? Ke mana kamu saat dia butuhkan?"


Tinju Sultan hampir saja melayang ke wajah Miko jika tidak cepat dicegah oleh Tini.


"Jangan Sultan, jangan kamu mengotori tanganmu memukul suami tak berguna seperti dia."


Dengan muka merah padam dan tangan bergetar menahan gejolak amarahnya, Sultan ditarik oleh Tini duduk kembali.


***Bersambung...


Jangan lupa dukungannya ya guys...like, komen, vote, favorit dan ratenya. Dukungan kalian menjadi semangat author untuk selalu up lagi...terima kasih😊😊🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2