Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 113 Akhirnya Pulang Juga


__ADS_3

"Alhamdulillah...kamu sudah bisa pulang hari ini, Nia!!! Tuti dan Tini menggendong si kembar, Wati berjalan di sampingku perlahan.


"Kok kayaknya kamu ngga semangat mau pulang, Nia?" Wati melirikku yang berjalan dengan gontai.


"Wati, aku senang bisa segera sembuh dari komaku dan pulang bersama si kembar...tapi aku sedih karena tak ada suami yang mendampingiku untuk pulang."


"Bukannya kamu yang melarang Miko untuk menjengukmu lagi? Asal kamu tau Nia, Miko itu selalu menjenguk dan melihat keadaanmu walaupun dia harus sembunyi-sembunyi."


"Dan kamipun tak tega untuk melarang dia menjengukmu, Nia."


"Entahlah Wati, hatiku teramat sakit...jika dekat dengannya malah membuatku semakin terluka."


"Kejadian terakhir kali sebelum koma itu, tak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku."


"Teganya dia berbohong mengatakan akan pergi ke kantor, padahal dia pulang lagi ke rumah untuk menyalurkan hasratnya pada Alena."


"Di saat aku tidak tau harus meminta tolong kepada siapa lagi... dia yang kuharapkan untuk menolongku malah pura-pura tak mau tau dan tutup telinga saat aku membutuhkan pertolongannya."


Aku berjalan sambil menunduk memyisiri sepanjang lapangan berumput untuk menuju keparkiran mobil.


Aku dan si kembar memang dijemput oleh mobilnya Wati. Sultan tak bisa ikut menjemput karena dia sedang sibuk dengan murid-muridnya. Mas Sofwan sibuk dengan meetingnya. Dan suamiku? Tentu dia sibuk dengan pekerjaannya dan istri mudanya yang cantiklah...begitu pikirku dengan rasa sedih.


"Sudah...tak usah kamu memikirkan itu, toh kami para sahabatmu selalu setia menemanimu di saat kamu senang maupun susah."


Aku tersenyum menanggapi ucapan Wati. Mereka bertiga memang sahabat terbaikku.


Aku memandang berkeliling, banyak pasien pulang bersamaan dengan kepulanganku hari ini. Ada yang dijemput istrinya dan banyak yang dijemput suaminya. Mereka tertawa bahagia menyambut kepulangan orang-orang tercinta, sementara aku?


"Nia!!! Ayo naik!! Apa yang kamu tunggu lagi? Nunggu matahari terbenam, baru mau pulang?" Suara Wati mengejutkanku.


Akhirnya aku naik juga ke mobil. Ke dua anak kembar sedang tidur dengan nyenyaknya. Ke dua anak ini seolah tau masalah yang menimpa orang tuanya. Mereka tak pernah rewel...sehabis dimandikan, diberi asi dan kalau basah diganti popoknya, mereka akan kembali tertidur lagi.


Aku memegang perutku yang jahitannya masih agak nyeri. "Pelan-pelan saja naik ke mobilnya Nia, kalau perutmu masih sakit!!!" Seru Tini dari jok belakang.


"Kalau bawa mobil jangan ugal-ugalan ya, Wati...kamu membawa banyak nyawa di sini, kami tidak mau mati konyol karena ke rossianmu." Tuti memperingatkan dari jok belakang.


Wati mengacungkan jempolnya. "Tenang saja...paling kubawa dengan kecepatan 120 km/jam lah!!"

__ADS_1


"Oohh kuhajar kamu Wati, kalau mau mati jangan ngajak-ngajak!!"


"Kamu mau lakimu nikah lagi kalau kamu meninggoy...kalau aku sih ogah...Nia yang baik, cantik dan pengertian aja masih ditinggal nikah lagi...apalagi tampang kaya kita gini??? Jangan-jangan tanah kuburanku masih basah, lakiku sudah mau nikah lagi!! Kamu mau begitu??" Seru Tini dari belakang.


"Ya, nggalah...bisa bangun aku dari kuburku menghantui mereka..." Seru Wati!!


"Enak betul mereka mau tertawa bahagia, mau mantap-mantap sementara aku kedinginan di dalam tanah sana hanya ditemani oleh cacing-cacing tanah."


"Sudah ah...Wati pagi-pagi sudah cerita horor mau bangkit dari dalam kubur segala..." Kataku menengahi.


Tanpa kami sadari, seorang laki-laki berjas hitam dan memakai kaca mata hitam juga, tengah memperhatikan kami dari dalam mobilnya.


"Maafkan ayah ya bunda...ingin sekali ayah menjemput bunda dan putra kita pulang dari rumah sakit, tapi bunda pasti mencak-mencak kalau ayah nekat untuk mendekat."


"Ayah takut akan berpengaruh pada kesehatan bunda."


"Sebenarnya ayah salah apa lagi sih bunda? Bunda membenci ayah lagi tapi setiap kali ayah bertanya apa salah ayah, bunda diam saja tak mau memberi tau di mana letak kesalahan ayah."


Miko segera menyetir mobilnya keluar dari parkiran ketika melihat mobil Wati juga bergerak pergi.


Wati memandangku yang sedang melamun memandang kosong keluar jendela, lalu dia melihat ke arah jok belakang pada dua temannya di belakang.


Tini yang menangkap arti pandangan Wati segera menoleh ke belakang. Dia bertemu pandang dengan Miko.


Wati memberi isyarat untuk tidak memberi tahukan aku tentang keberadaan Miko pada teman-temannya.


Mobil kami akhirnya meninggalkan rumah sakit, sementara mobil Miko masih terus mengikuti dari jarak yang agak jauh.


"Siapa nama anak kembarmu ini, Nia...lupa aku?"Tuti bertanya sambil membenarkan posisi gendongannya.


Nia menoleh ke belakang ke arah Tuti. "Yang bola matanya berwarna hazel itu kuberi nama Miko Prayogi dan yang bola matanya coklat kuberi nama Miki Prayoga."


"Memang putra kembarmu ini warna bola matanya berbedakah Nia?? Kok aku ngga pernah perhatikan ya???"


"Makanya Tuti... perhatikan juga yang lainnya, jangan otongnya aja yang kamu perhatikan!!! Wati dan Tini tertawa geli.


Tuti cuma mesem-mesem..."Iyalah yang kuperhatikan otongnya, secara anakku kan dua-duanya cewek semua."

__ADS_1


"Tapi kan bapaknya punya juga...ngapain lagi kamu perhatikan otongnya si kembar? Toh bentuknya sama cuma kalah mulus aja...kalau punya si kembarkan masih mulus, kalau punya laki loe kan sudah burik." Kata Wati dengan muka tanpa dosa dari jok depan.


"Sialan loe Wati...kayak kamu pernah liat aja..." Tuti melempar tisu di tangannya ke arah kepala Wati.


Aku dan Tini hanya tertawa saja mendengar guyonan mereka berdua.


"Nia jangan tertawa kuat-kuat ya...nanti jahitannya terbuka, siapa yang mau tanggung jawab?" Kata Wati.


"Kamu memberinya nama tanpa Miko kamu libatkan, Nia?" Tanya Tuti padaku!!


"Untuk apa? Toh dia juga meragukan kalau itu bukan anaknya?" Aku menghela napas kasar.


Kami semua terdiam. Lalu Tini memecah keheningan. "Denger dari Sultan, bang Sofwan ada di kota ini ya, Nia?"


"Iya...paling dua atau tiga hari lagi dia balik ke Yogya...kalau urusannya di sini sudah selesai, ngapain dia lama-lama di sini? Toh di Yogya dia sudah punya anak istri juga."


Wati memandang iba padaku dari kaca spionnya seolah turut merasakan apa yang aku rasakan.


"Nia, aku juga dengar dari cerita Sultan...sepertinya bang Sofwan itu masih mencintai kamu...terlihat dari cara dia menatapmu, memperlakukanmu..."


"Tini...itu kan kata versi si Sultan...secara kita semua tau kalau Sultan naksir sama Sania." Enteng betul ucapan Wati meluncur kayak ngga ada remnya.


Kami semua melotot pada Wati. "Tapi benarkan ucapanku? Bisa aja dia bilang begitu untuk menutupi cembokur di hatinya?"


"Apa bajigur? Sejak kapan Sultan jualan bajigur?"


"Apaan sih Tuti ini...kok ngga ngerti-ngerti bahasa gaul...wiss tue juga...cembokur itu cemburu!!!" Wati cemberut.


"Oalah...mbok ya kalo ngomong itu yang jelas, Wati...ngga usah pake istilah kayak anak ABG aja..." Tuti terus menggoda Wati sambil cengengesan.


"Hati-hati" Kata Tini..."Jangan terbawa emosi...nanti kecoak kamu tabrak lho..."


"Wes ben...biar sekalian penyet..." Kami semua tertawa melihat Wati.


***Bersambung....


Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan ratenya guys...dukungan kalian sangat berarti bagi author receh ini...happy reading ya💖💖 jangan bosan tuk mampir membaca dan memberi dukungan. Terima kasih🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2