Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 143 Berniat Pindah Rumah


__ADS_3

"Tapi aku sudah belasan tahun ngga pernah bawa motor, nanti kita berdua mampir ke ugd ngga langsung balik ke rumah."


Mau tak mau aku tersenyum memdengar ucapan Niko yang polos itu.


Jadilah sore itu aku menjadi tukang ojek dengan Niko yang jadi penumpangnya.


"Bagaimana keadaanmu dan para ponakanku, Nia...apakah mereka baik-baik saja?" Tanya Niko dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Alhamdulillah mereka baik, Niko!!" Jawabku singkat.


"Dan kamu sendiri bagaimana? Sudah bisa ikhlas melepaskan kepergian Miko?" Tanyanya.


Niko ini orangnya cenderung lebih banyak bertanya dan rada cerewet, berbeda dengan almarhum Miko yang banyak diam dan terkesan tertutup pada orang yang baru di kenalnya.


"Ikhlas ngga ikhlas, terima ngga terima tapi takdir sudah menggariskan demikian Niko, aku mau bagaimana lagi?" Jawabku.


"Iya sih!!! Jawabnya lagi.


Tapi aku merasa hatiku menghangat saat berdekatan dengannya, seolah aku merasa Miko hidup kembali walau dalam bentuk orang yang berbeda.


Sesekali aku melirik dia dari kaca spion. Ku melihat sepanjang perjalanan bibir tipisnya selalu menyenandungkan sholawat sambil matanya tak lepas melihat-lihat pemandangan di sepanjang prrjalanan.


"Mata Miko ku..." Gumamku perlahan.


"Kamu sudah menelpon ayahkah Niko? Tanyaku memecah kecanggunganku.


"Sudah...ayah sedang dalam perjalanan menuju ke rumahmu." Jawabnya lagi.


"Tampaknya kamu sangat senang Niko?" Kataku.


"Pastilah aku senang menikmati alam ciptaan Tuhan, sudah belasan tahun aku hanya hidup dalam duniaku yang di selimuti oleh kegelapan."


Tak terasa kami sudah tiba di depan rumah. Anak-anak menyambutku diikuti ayah Jonathan.


"Wah hebat kamu Niko, sudah berani pergi sendiri ke makam saudara kembarmu tanpa mengajak ayah." Celetuk Jonathan.


"Niko bosan di toko terus yah, baru ayah akhir-akhir ini selalu sibuk dengan banyaknya pesanan dan pembeli yang datang belakangan ini."


"Kenapa om Niko tidak main kemari saja kalau bosan di toko...om kan bisa bermain dengan kita di sini!!" Kata Syifa.


"Kita itu kangen sama ayah, om...dengan melihat wajah om Niko yang mirip sekali dengan ayah tentu bisa mengobati rasa kangen kita sama ayah!!"

__ADS_1


"Ayah...ayah...." Celoteh Miko dan Miki lalu duduk di pangkuan Niko.


Hati Sania terasa pedih, bagaimana tidak...kedua anak kembarnya itu baru berumur setahun setengah tapi sudah di tinggal ayahnya pergi untuk selamanya.


Dia jadi ingat saat Juned dan Syifa masih teramat kecil saat Sofwan meninggalkannya dalam keadaan kurang waras lalu dinikahkan keluarganya pada wanita lain.


Mikolah yang sudah membantu anak-anaknya untuk melupakan kenangan buruk tentang bapak mereka.


Melimpahkan mereka dengan cinta serta kasih sayang yang tulus. Tapi kini si pembawa cinta dan kasih itu telah berpulang...kepada siapa lagi mereka akan menaruh harapan untuk mendapatkan kasih sayang itu?


"Bukan nak...itu paman Niko, bukan ayah ya!!!" Ucapku dengan menahan isak tangisku.


"Ngga apa-apa mereka menganggap begitu, Nia!! Toh wajah kami berdua memang sangat mirip." Niko mengerti akan keadaanku.


"Iya nak, ngga apa-apa...biarlah anak-anakmu tetap menganggap Miko masih ada, biarkan kenangan tentang ayah mereka tetap hidup dalam hati mereka." Jonathan menambahkan lagi.


"Oh iya sampai lupa...kok kita malah ngobrol di teras gini? Masuk yah, Niko...kita ngobrol di dalam aja tampaknya cuaca sangat mendung mungkin sebentar lagi akan turun hujan."


Aku masuk ke dapur dan meminta bibi membuatkan minuman hangat dan membawa cemilan.


Bibi juga sampai terperangah melihat Niko.


"Pak Niko mirip sekali, bibi serasa menganggap bahwa bapak hanya dinas keluar kota seperti biasanya sebelum beliau sakit...dan kini bapak sudah datang kembali dan berkumpul lagi dengan kita."


Kulirik sebentar Niko yang malah asyik bermain dengan anak-anakku.


"Begini yah!!" Aku berusaha menenangkan hatiku dulu sebelum berbicara.


"Nia ingin mengajak anak-anak pindah ke rumah yang lama yah...jika di sini terus bawaannya Sania pengen nangis melulu karena selalu terbayang dan teringat almarhum."


"Jika ayah dan Niko tidak keberatan, kalian boleh tinggal di sini...daripada tinggal di rumah toko? Kan lebih baik di sini..."


"Mengapa harus pergi Nia? Kenangan itu harus dihadapi bukan dihindari asalkan kita jangan terlalu larut masuk ke dalamnya."


"Tapi Nia belum siap yah, terlalu banyak kenangan kami yang pernah tercipta di sini dan tak bisa Nia lupakan."


"Satu-satunya cara adalah pergi meninggalkan kenangan itu dan kembali saat Nia sudah bisa mengikis sedikit demi sedikit ingatan tentang Miko."


"Kalau ayah terserah mana yang menurutmu baik Nia, asalkan di sana kamu bisa menjaga diri dan menjaga cucu-cucu ayah."


Sementara itu Niko termangu mendengar kalau Sania akan keluar dari rumah ini bersama dengan anak-anaknya.

__ADS_1


Dia sebenarnya juga sangat keberatan kalau iparnya itu pergi. Dia sudah sangat dekat dengan ponakan-ponakannya itu.


Tapi Nia yang mempunyai keputusan dan harus dia hargai, karena dia juga paham sakitnya arti kehilangan.


Dan rasa sakit itu tentu tak akan mudah hilang jika harus berada di tempat di mana kenangan itu berasal.


Biarlah Nia membawa luka hatinya dan semoga bisa sembuh dengan seiring berjalannya waktu.


Jadi keputusannya adalah Jonathan dan Niko yang akan tinggal di situ dan tetap menjalankan bisnis penjualan bunganya. Sementara Nia dan anak-anak kembali ke rumah lama mereka yang ditinggalkan saat Miko dan Sania rujuk kembali dulu.


*


*


"Hei bro...kenapa wajahmu selalu murung sejak kembali dari Balikpapan?" Tanya Sandro saat Sofwan, dia dan Adit sedang makan siang di kantin perusahaan.


Sofwan tersenyum getir.


"Hatiku separuhnya tertinggal di sana, dan tak mau kubawa kemari."


"Maksudnya apaan sih?" Tanya Adit.


"Jangan bilang ya, perjalanan singkatmu dengan pak Irawan ke Balikpapan yang hanya berlangsung seminggu, kamu lalu kepincut cewek sana!!"


"Aku memang sudah kepincut cewek sana, Dit...bahkan jauh sebelum aku dan pak Irawan pergi bersama."


"Haduh...kami berdua ngga paham deh maksudmu apa, Sofwan!!"


"Aku mempunyai sebutir berlian dan lima butir permata yang sangat mahal harganya, Dit...Dro."


"Wihh...kaya dong kamu wan, sebutir berlian aja sudah berapa harganya...ditambah lagi dengan lima butir permata??? Bisa buat modal kamu menikah lagi, wan!! Kata Sandro Soedibyo.


"Menikah aja yang ada di pikiranmu, Dro!" Adit mencibir pada teman mereka yang sampai kini betah menjomblo itu.


"Dari pada aku jajan sembarangan di luar terus aku kena penyakit, gimana?" Sanggah Sandro.


"Maksudmu kena penyakit itu, sakit diarekah? Tanya Sofwan tersenyum padahal dia mengerti aja arah pembicaraan temannya itu tapi dia sengaja mau menggoda Sandro si perjaka tua...si bujang lapuk!!!"


*


***Bersambung.....

__ADS_1


Happy reading dan happy holiday!!! Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, favorit dan rate nya ya teman-teman😊😊😊


__ADS_2