
"Sampai kapanpun perasaanku padamu tak akan pernah berubah, dek...cukup sekali aku mengkhianatimu dalam hidupku dan tak akan kuulangi lagi semua kesalahan itu, aku janji!!" Air mata Sofwan tak terasa menetes di pipinya.
"Inginnya aku kembali kemasa lalu yang indah kala bersamamu." Dia terus mengecupi tangan Sania yang ada dalam genggamannya.
Perlahan tangan yang ada dalam genggamannya itu bergerak pelan menandakan sipemilik telah sadar.
"Mas...aku ada di mana?" Sania melihat sekelilingnya.
"Di rumah sakit dek, kamu pingsan tadi di mobil dalam perjalanan menuju kemari." Kata Sofwan.
"Maafkan Nia yang banyak merepotkan ya mas!!" Ucap Sania sambil menatap Sofwan.
"Kak Della mana mas, kok ngga kelihatan?" Tanya Sania sambil mengedarkan pandangan matanya.
"Pulang sebentar, mau ambil baju ganti untukmu. Sebab jika kondisimu sudah membaik maka akan dicek kesehatanmu dan kak Della."
"Semoga kamu bisa segera sembuh dan melanjutkan hidupmu kembali." Ucapan tulus Sofwan membuat Sania merasa sangat sedih.
"Tidurlah kembali, mas akan menjagamu di sini atau kamu makan dahulu?" Sofwan mengecup punggung tangan Sania lembut.
"Boleh, tapi mas suapi Nia ya!!" Suara manja mantan istrinya itu membuat Sofwan tersenyum miris.
"Iya nanti mas Sofwan suapi." Jawab Sofwan sambil mengacak rambut Sania gemas.
"Bagaimana kabarnya Aisyah mas? Kok lama ngga main kerumah? Sikembar menanyakan Aisyah terus." Sania mengunyah makanannya sambil menatap Sofwan.
"Mas melarangnya dek, kasihan kamu sedang sakit begini masih direpotkan oleh Aisyah...padahal Aisyah sering meminta mas untuk bertemu denganmu." Sofwan mengelap sudut bibir Sania yang ketempelan nasi.
"Seperti bayi aja makannya..." Sofwan dengan cepat mengecup pipinya.
"Ih mas ini!!" Sania mencubit pinggang Sofwan kesal.
Sofwan hanya tertawa sambil meringis saat cubitan Sania bertubi-tubi mendarat di pinggangnya.
"Dek, kita menikah lagi aja yuk...mas pengen kita bisa rujuk kembali dan bersama lagi membesarkan anak-anak." Sofwan mengusap lembut rambut Sania sambil berbicara.
"Tapi kakak-kakakmu tak pernah menganggap aku ada mas, mereka selalu memusuhiku seperti aku ini seorang penjahat dan pendosa yang siap terpidana." Sania merasa sangat sedih.
__ADS_1
"Maafkan mas yang tak bisa membelamu dek, tapi mas janji jika kali ini mas akan melindungimu...cukup bertahun-tahun ini mas di hukum atas perbuatan mas yang tak mampu melindungi orang yang mas Sofwan cintai.'
"Tolonglah beri mas Sofwan kesempatan kedua untuk menebus semua kesalahan mas padamu dan anak-anak...lagi pula Aisyah juga sangat menyayangimu." Sofwan menatap netra Sania yang juga tengah menatapnya lekat.
"Lagi pula ekonomi mas Sofwan sudah membaik dek, kamu dan anak-anak tak akan mas biarkan kelaparan seperti dulu lagi." Sania masih diam belum bisa mengiyakan ajakan Sofwan untuk menikahinya kembali.
*
*
Di sebuah ruang tamu yang tak begitu luas duduklah sepasang pengantin dadakan di hadapan seorang penghulu.
Ya, dialah Niko yang akan menikahi Maya...ibu dari anak kandungnya yang tak pernah dia lihat sejak kelahirannya 15 tahun yang lalu.
Niko duduk dengan wajah tegang. Semalaman dia sangat tidak tenang hingga pagi ini kepalanya terasa sakit.
Ada Jonathan ayahnya, Juma putranya juga ada Diva dan Dian anak hasil pernikahan Maya dan Samsuri...juga beberapa kerabat dekat Maya yang menghadiri pernikahan mereka.
"Saya nikahkan Juan Niko Saputra bin Jonathan Saputra dengan Maya Puspitasari binti Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai..."
"Saya terima nikahnya Sania Marfuah...Niko..." Bisik sang ayah dari belakangnya.
"Aduh, kenapa hati dan pikiranku teringat Sania terus ya?? Maafkan aku Sania, aku seperti seorang pengkhianat bangsat yang harus segera dihukum pancung!!" Niko menangis dalam hati.
Pada akhirnya ucapan ketiga kalinya berhasil diselesaikan Niko dalam satu tarikan napas walau dengan hati tak ikhlas.
"Sah???"
"Sah!!" Jawab para yang hadir lega.
Niko tak berani menatap wajah Maya saat mengecup keningnya, karena rasa berdosa dan bersalahnya pada Sania...dan dengan cepat ditariknya tangannya saat Maya mencium punggung tangannya.
Para tamu yang hadir menikmati hidangan yang ada. Acara pernikahan yang terkesan tertutup itu berjalan cukup meriah. Dan entah ulah siapa hingga acara ijab kabul itu masuk ke status whatsapp Niko.
Sania yang sedang ditinggal sendiri oleh Sofwan yang sedang menerima telepon dari kantor dan bicara di luar ruangan. Della belum datang mungkin masih sibuk mengurus keperluan anak-anak di rumah dulu karena bosan Sania berniat mau menelpon Niko tapi sebelum menelpon biasanya Sania akan mengecek status terlebih dahulu.
"Tumben Niko membuat status? Ngga biasa-biasanya!!" Sania membuka status Niko. Sania memicingkan matanya dan memperbesar gambar foto itu agar lebih jelas kelihatan siapa sepasang pengantin yang ada di status Niko itu.
__ADS_1
Hati Sania membeku melihat kenyataan bahwa yang menikah itu adalah Niko, walaupun hanya dari samping terlihat tapi Sania yakin bahwa itu adalah Niko.
"Mengapa? Mengapa kamu mau melamarku tapi malah menikahi wanita lain? Kamu menyanjungku setinggi-tingginya tetapi kemudian kamu menghempaskanku ke tempat tak berdasar?" Sania menatap keluar jendela dengan perasaan yang campur aduk.
"Apa benar kata-kata mantan iparku waktu itu yang mengatakan bahwa aku memang tak pantas untuk siapapun?"
"Kamu bilang aku wanita pertama yang kamu cintai saat pertama kali melihat kembali dunia dari kebutaanmu, tapi mana buktinya?" Tiba-tiba Sania merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya.
Dia berusaha membuka mulutnya lebar-lebar untuk berteriak mengeluarkan teriakan rasa sakitnya tetapi suara itu tak ada yang keluar lalu dia tak ingat apa-apa lagi.
"Dek...sayang..." Sofwan masuk ke dalam bersama kak Della yang baru saja datang membawa baju ganti.
"Lha orangnya tidur kak, padahal ngga ada 15 menit Sofwan keluar untuk menerima telepon." Ucap Sofwan.
Della mendekati adiknya yang masih menggenggam ponselnya.
"Sofwan, kamu yakin Sania ini tidur? Lihat darah yang mengalir dari hidungnya?" Lalu kak Della meraba hidung adiknya. Lalu meraba denyut nadi di leher Sania.
"Sofwan...cepat panggil dokter...napas Sania hampir tak terasa dan denyut nadi di lehernya sangat lemah!!" Della berteriak dengan panik.
Dengan sigap Sofwan berlari ke nurse station untuk meminta pertolongan perawatnya.
Code blue dikumandangkan dari ruang operator menandakan gawatnya keadaan Sania.
Para perawat dan ada dokter Alvin juga datang untuk memberikan bantuan. Tubuh Sania nyaris tak merespon apapun.
Della menangis dan Sofwan tak henti-hentinya merutuki kebodohannya karena telah meninggalkan Sania sendiri tadi.
"Ya Allah...jangan ambil wanitaku...jika bisa kau tukar, ambillah saja hidupku...karena aku tak sanggup kehilangan dia lagi, aku lebih ikhlas melihatnya bersanding dengan yang lain dari pada aku tak bisa melihat dia lagi selamanya."
*
*
***Bersambung...
Jika begini terus keadaannya, bisakah operasi Sania berjalan lancar??"
__ADS_1
Ikuti terus kelanjutannya ya...jangan lupa dukungannya🙏🙏🙏