Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 57 Pertemuan Yang Tak Disengaja


__ADS_3

"Beb, lama amat sih ganti bajunya...lumutan tau aku nunggu di mobil."


"Coba berdiri, aku mau lihat bagian mana yang lumutan?"


"Yang mana dulu yang kamu suruh berdiri? Nanti berdirinya yang lain."


"Dasar...masih sore pikirannya sudah jorok aja."


"Kok jorok sih...kamu nih yang pikirannya ngeres...maksudku yang berdiri itu...tangan kuangkat namanya berdiri juga."


"Tau ah...gelap..."


"Ngga tuh perasaan hari masih terang, kok di bilang gelap sih?"


"Mikoooo....garing tau..."


"Ya sudah, ayo cepat naik..."


"Aku sudah pesan dari 3 hari lalu beb...mudahan pesananku sesuai dengan keinginanmu."


"Kalau aku terserah kamu saja, Ko...apapun yang kamu pesankan pasti aku suka."


"Beb, kita mau makan dulu, atau ke toko perhiasannya dulu ya?"


"Ketoko aja dulu...nanti kalau urusan sudah selesai baru kita makan."


"Ooo ya sudah kalau begitu..."


Tak lama kami berdua sampai ke toko perhiasan yang menurutku mewah banget.


Miko menggandeng tanganku masuk ke dalam.


"Om Armannya ada mbak?" Sapa Miko pada salah satu karyawan tokonya.


"Ada mas...sudah di tunggu dari tadi."


Kami masuk ke salah satu ruangan yang paling besar.


"Assalamualaikum, Om..."


"Eh Miko...masuklah nak..."


"Kenalin beb...om Arman ini teman papi aku, waktu aku masih kecil, sering sekali digendong sama om Arman ini."


"Gimana kabarmu, Miko?"


"Baik Om, tante sama mbak Mitha gimana kabarnya?"


"Mitha ikut suaminya ke Australia...tantemu ke sana juga sebab Mitha punya bayi lagi.:"


"Jadi rumah peninggalan kakek dan nenekmu gimana, Miko? Kamu jualkah?"


"Ngga om...Itu rumah kenang-kenangan mami waktu masih kecil."


"Aku bayar orang aja untuk merawatnya, jadi aku menempati rumah papi yang di Indonesia."


"Wanita berparas ayu ini siapa. Miko? Inikah calon istrimu?"


"Iya om...Ini calon istrinya Miko."


"Oh iya hampir lupa...bisakah liat cincinnya om?"

__ADS_1


"Oalah...sangking asyiknya ngobrol sampai lupa tujuan semula."


"Mari ikut sama om..."


Aku dan Sania mengikuti om Arman ke dalam."


"Ini ada tiga pilihan buat kalian...silakan kalian pilih saja."


"Kamu mau pilih yang mana, beb?"


"Aku sudah bilang...yang manapun pilihanmu aku pasti suka, Ko!"


"Miko memilihkan cincin yang ada berlian di tengahnya...."


"Ko...apa ini ngga terlalu mewah dan kemahalan? Rasanya aku tak pantas menerimanya?"


"Buat bidadariku, tak ada kata yang tak bagus dan tak pantas...wanita sepertimu pantas menerima yang terbaik."


Aku terharu mendengar ucapan Miko. Bersama dengannya aku merasa dihargai, aku merasa tersanjung bukan merasa selalu dihina dan tersakiti.


"Besok kita ke butik ya...kita mau lihat-lihat baju pengantin dulu.


"Katanya kita mau melangsungkan pernikahan yang sederhana aja, Ko?"


"Memang pernikahan yang sederhana sayang...habis akad nikah, aku hanya mengundang teman kantor dan sahabat terdekat saja...paling kita akan mengadakan acaranya di taman belakang rumah."


"Tapi kita tetap harus memakai baju pengantin...masa pakai kaos oblong?"


"Lagian aku ingin, walaupun ini pernikahan yang sederhana tapi akan menjadi kenangan terindah sepanjang hidupku."


"Aku harap ini yang pertama, sekaligus menjadi yang terakhir untukku."


"Pengantin wanitaku harus tampil cantik di acara nanti, biar mereka tak lagi merendahkanmu."


"Besok aku juga akan bawa anak-anak untuk ukur baju."


"Merekalah yang akan mendampingi kita nanti, jadi aku mau baju mereka bertiga sama."


Itulah yang kusuka dari Miko, dia selalu melibatkan anak-anakku dalam hal apapun. Dia juga ingin anak-anak merasakan kebahagiaan orang tuanya.


"Bagaimana Miko....sudah dapat pilihannya?"


"Sudah om...nanti uangnya akan Miko transfer ya..."


"Tenang aja, Ko...om sangat percaya padamu."


Sambil menunggu, aku sempatkan bertanya pada Miko...


"Memangnya berapa harga cincin itu, Ko...?"


"50 juta...." Katanya santai.


"Apa, Ko? Mahal banget...Itu gajiku berapa tahun ya...?"


Dia tertawa gemas melihatku..." Tak ada kata mahal untuk calon istriku tercinta..."


"Sudahlah kamu diam saja...kalau protes terus, kucium nanti di depan umum...mau?"


"Ngga...." Kataku...sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.


Setelah selesai bertransaksi...Itu bahasaku lho ya...maklum aku hanya orang kampung. Miko mengajakku mampir di restaurant langganan maminya semasa hidup dulu.

__ADS_1


"Aku sudah memesan meja untuk kita berdua, itu yang menghadap ke arah pantai."


"Jadi sambil makan, kita bisa menikmati matahari terbenam dan memandang ombak yang bergulung."


"Beb...apa kamu tidak keberatan kalau mantan suamimu dan istri barunya kita undang ke pernikahan kita?"


"Apakah itu tidak berbahaya?"


"Maksudmu bahaya gimana? toh dia juga sudah punya keluarga yang baru?"


Dalam hatikupun ragu antara iya dan tidak untuk mengikuti saran Miko.


"Tapi di mana kita harus mencarinya? Jangan kata alamat rumah, nomor telephonenya aja kita ngga punya..."


"Iya juga sih" Miko nyengir sendiri!!!


"Haduh...gimana sih kamu, Ko?"


"Mah...itu mantan istrinya Sofwan, kan?"


"Mana pah...papah salah liat kali...mana mungkin wanita kampung bisa masuk restaurant mewah seperti ini?"


"Mah...mamah selalu saja memandang orang lain dengan sebelah mata" Anton hanya menarik napas melihat kelakuan istrinya.


"Memandang sebelah mata? Bahkan dengan mata terpejampun aku tak ingin memandangnya" Anton hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Sebenarnya Sania itu salah apa sih, mah? Papah heran aja liat mamah begitu membencinya."


"Salahnya banyak pah...karena menikah dengan dia, Sofwan jadi adik pembangkang, tak mau lagi menurut pada ucapan kami."


"Mamah itu semestinya sadar...Sofwan itu bukan anak kecil lagi yang bisa diatur hingga soal jodohnya."


"Memang papah ngga marah sewaktu Sofwan meninggalkan Dinara untuk mencari jalan hidupnya sendiri?"


"Dinara itukan keponakan papah..."


"Lha...terus kalau Sofwannya ngga mau, harus papah paksa gitu? Hanya karena Dinara adalah ponakan papah?"


"Jodoh itu sudah ada yang mengatur, mah...jadi jangan dipaksakan..."


"Tau ah...ngomong sama papah ini selalu bikin jengkel aja, ngga pernah bikin seneng..."


Mereka berdua lalu melihat lagi kearah kursi Sania dan Miko.


"Papah benar sih...itu memang mantan istri Sofwan yang sialan itu."


"Tapi siapa laki-laki ganteng yang duduk di depannya itu ya...sepertinya dia orang kaya, masa itu pacarnya?"


"Jangan...Jangan semenjak tidak bersama Sofwan, dan hanya mau mendapatkan banyak uang tanpa bekerja...dia lalu menjual dirinya?"


"Mamah...kenapa selalu suudzon....saja kepada orang lain?"


"Ngga bisa dibiarkan ini...aku mau melabraknya...biar laki-laki itu tau siapa Sania sebenarnya..."


"Masya Allah mah..." Anton ikut berdiri menyusul istrinya yang sudah lebih dulu menghampiri meja Miko dan Sania.


"Brakkkk....Nuri menggebrak meja di hadapan Miko dan Sania."


Untung belum ada makanan dan minuman yang tersaji...Kalau ngga, mungkin akan tumpah semua.


Sania dan Miko yang sedang bercanda menjadi kaget.

__ADS_1


***Bersambung....


Happy reading....💜💜Jangan lupa like, komen, vote dan favoritenya jika berkenan***...


__ADS_2