Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 236 Harus Pergi


__ADS_3

Dia sangat kecewa mendengar Riko sudah menikah, lalu kembali bersemangat lagi saat tau ayah Riko tak merestui pernikahan dengan wanita yang katanya jauh lebih tua dari Riko itu.


Afifah sampai rela mengikuti Riko sampai ke Indonesia untuk memata-matai langsung kegiatan Riko di Indonesia.


Riko tampak memejamkan matanya saat Johan membawa mobil perlahan menuju penginapan.


Malam ini Riko benar-benar galau berat, bagaimana dia tidak galau, berkali-kali dia mengirim pesan buat sang istri tetapi jawaban yg dia terima hanya y atau tdk...singkat bukan jawaban Sania.


Dia mau menelpon agar dia tidak suudzon menuduh istrinya yang tidak-tidak tetapi dia takut nanti keberadaan Sania dan keluargamya akan tercium oleh Afifah dan orang-orang ayahnya.


Baru setelah tengah malam dia mendapat laporan dari Johan bahwa hari ini Sania sekeluarga sedang berkabung, karena Sofwan telah berpulang kepada Yang Maha Kuasa.


Riko terduduk lemas di pembaringan sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Suami macam apa aku ini?? di saat istriku membutuhkan aku di sampingnya, aku malah tak ada dan sekarang malah memilih tak pulang untuk bersama dengannya." Riko meringis sendiri.


Teringat apa yang dikatakan Johan tadi sore di mobil agar dia menceritakan saja apa sebenarnya yang telah terjadi dengannya pada Sania, tapi dia tidak sanggup pasti Sania langsung ingin meminta bercerai dengannya, itu yang membuatnya tak sanggup.


"Papah masih sangat mencintai mamah, papah ngga bisa menceritakan semua, bagaimana nanti dengan sakit mamah?? pasti akan mempercepat perkembang biakan kanker itu...papah belum siap untuk kehilangan mamah!!"


Riko menangis sesunggukan seperti anak kecil. Biasanya di saat seperti ini sang istri selalu menenangkannya dengan pelukan yang membuat Riko merasa sangat nyaman tetapi semenjak jarang bersama Sania, pelukan sayang itu tak ada lagi dia terima.


Seandainya dia tidak khawatir dengan keselamatan keluarganya, ingin sekali dia pergi kerumah istrinya itu malam ini.


Tapi dia tau, berkat laporan dari mulut beracun Afifah maka orang-orang ayahnya menjaganya dengan ketat.


****


"Tante, kenapa demamnya bunda tidak turun-turun juga? sepertinya kita harus membawa bunda kerumah sakit, tan!!" ucap Dina panik melihat kondisi bundanya sekarang.


"Siapa yang harus kita hubungi Dina?? kita punya mobil tapi tak ada yang bisa membawa mobil, tante Tini dan suaminya pulang kampung sejak kemarin, papamu juga ngga pulang, ngga mungkin menelpon om Niko apalagi di sana ada istrinya..." sahut tante Dela juga mulai panik apalagi di lihatnya Sania mulai kesulitan bernapas.


"Brengsek semua..."


Bugghh...


Dinding kamar tak bersalah retak menjadi sasaΕ•an tinju gadis muda itu.


"Kak, stop...bukan dengan amarah untuk menyelesaikan masalah ini, coba kita telepon om Hans, siapa tau om Hans bisa membantu!!" jawab Syifa memberi jalan tengahnya.


Tanpa menunggu persetujuan yang lainnya, bocah cilik yang sekarang bertranformasi menjadi remaja yang cantik dan imut itu mengambil ponsel dan menelpon Hans.


Syifa memang lebih berkepala dingin dibandingkan Dina yang sekarang jadi sedikit arogan apalagi jika berkaitan dengan keluarganya, dan Juned yang juga sering panik jika melihat keadaan bundanya mulai memprihatinkan.


Terkadang tak segan dia menangis memeluk bundanya. Bukannya memberi solusi malah dia sering menambah masalah dengan tangisannya.


πŸ“±"Assalamualaikum...om Hans, ini Syifa, Syifa boleh minta tolong jika om ngga sibuk??"


πŸ“±"Waalaikum Salam, ngga kok om ngga sibuk, ada yang bisa om Hans bantu, Syifa??"


πŸ“±"Syifa mau minta tolong antarkan bunda kerumah sakit, sebab demam bunda ngga turun-turun dan bunda sepertinya bukan tidur tapi pingsan om!!"


πŸ“±"Apa??? ibu Sania pingsan?? oke om Hans akan meluncur kesana.


Telepon terputus. Hans segera mengambil jaket dan kunci motornya. Dia sengaja naik motor agar cepat sampai kerumah bos nya itu.


Sesampai di sana dia segera memanaskan mesin mobil Sania peninggalan almarhum Miko dulu sambil memanaskan mesin dia masuk ke dalam dan menggendong tubuh Sania dan mengangkatnya masuk ke dalam mobil.


"Tante ikut om Hans kerumah sakit, kalian bertiga jaga rumah dan tiga adik kalian ya!!" pesan tante Della sebelum masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Hans melajukan mobil dengan cepat melihat kondisi Sania yang sudah kepayahan.


Dia mendengar kak Della menangis di belakang sambil memeluk Sania.


"Nasib cintamu dan kehidupanmu begini amat, dek??? punya suami seperti ngga punya suami saja!! terkapar sendirian dan kesepian begini!!"


Tak terasa air mata Hans hampir menetes mendengar ucapan kak Della barusan.


Kurang baik apa coba bosnya itu, cantik, baik...tetapi nasib baik tak pernah berpihak kepadanya.


Hans berusaha menahan mulutnya agar tidak angkat bicara untuk menanyakan keberadaan suami ibu Sania.


Sesampainya di rumah sakit kebetulan dokter Alvin sebagai dokter jaganya sehingga penanganan Sania jauh lebih cepat.


"Kenapa mba Sania jadi kritis begini lagi mba??" tanya dokter Alvin pada kak Della.


Della menceritakan semua kejadian yang terjadi hari ini. Dokter Alvin tampak menganggukan kepalanya.


Saya turut berduka cinta mba..." ucapnya.


"Ya Allah...masuk ruang ICU lagi adikku ini, sampai kapan dia bisa bertahan dalam keadaan seperti ini??" kak Della menangis mengingat nasib buruk adiknya itu.


Hans juga bingung tak tau harus bagaimana. Dia menatap sosok cantik, ramah dan lemah lembut yang terbaring dengan wajah pucat pasi dan mata terpejam dibantu dengan selang oksigen dihidungnya tentu tak ketinggalan infusan di tangan kirinya dan monitor di meja kanan bed nya.


"Dengan ibu Della, ya!!" seorang suster menghampiri Della dan Hans yang sedang duduk di ruang tunggu.


"Iya sus, ada apa ya??" tanya kak Della dengan perasaan tidak enak.


"Dokter Alvin memanggil ibu ke ruangan beliau!!" kata suster itu.


"Hans, aku minta tolong jaga adikku sebentar ya...aku mau ke ruangan dokter dulu!!" kata kak Della.


"Silahkan bu, saya akan menunggu di sini!!" jawab Hans.


Puluhan panggilan tak terjawab, notifikasi pesan yang masuk baru dia buka. Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon balik Arman.


πŸ“±"Assalamualaikum...maaf Man, saya ada di rumah sakit nih, ibu Sania dirawat di ruang ICU."


πŸ“±"Waalaikum Salam, iya Hans? sakit apa?" ini kita terpaksa ninggalin kamu habis kamu yang ditungguin lama banget, ditelepon ngga diangkat, di WA ngga dibalas!!"


πŸ“±" Iya maaf ya...ini saya lagi menunggu di depan ruang ICU, ibu Della sedang dipanggil dokter mungkin terkait soal kesehatan ibu Sania.


πŸ“±"Oh ya sudah kalau begitu, Hans ngga apa-apa...hanya saja bibir Tiwi manyun sejak tadi seperti corong minyak tanah!!"


πŸ“±"Iya maaf ya...sampaikan permohonan maafku untuk teman-teman semua.


Telepon terputus. Hans kembali duduk menunggu di ruang tunggu.


"Kenapa sih selalu Hans aja...Hans aja...kenapa Arman atau Gito aja yang dipanggil sih??" Tiwi menggerutu.


"Hei, ngga boleh gitu!! mereka hanya dekat dengan Hans, bukan denganku apalagi dengan Gito??" ujar Arman.


"Kamu cemburu ya, Wi..." kata Shinta sambil menggoda sahabatnya itu.


"Kita harus maklum, Wi...bu Sania baru saja kehilangan mantan suaminya, ayah dari Dina, Juned dan Syifa, mungkin sekarang beliau lagi shock berat sampai dibawa kerumah sakit." Kata Shinta lagi.


Tok...tok...tok


"Permisi dokter Alvin!!" Della berdiri di depan pintu ruangan dokter Alvin.

__ADS_1


"Masuk, duduklah mba...ada yang mau saya bicarakan dengan mba Della." Kata dokter Alvin.


Perasaan Della sudah kebat-kebit, dia mencoba untuk menguatkan hatinya jika nanti rungunya akan mendengarkan sesuatu yang akan disampaikan oleh dokter Alvin.


Della duduk dengan berusaha merilekskan diri di depan dokter Alvin.


Dokter Alvin menatap kak Della terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraannya.


"Mba Della tau jika kanker darah yang diderita mba Sania sudah hampir mendekati stadium.akhir?"


Deg...


Jantung Della berdetak dengan keras, sendi-sendi di tubuhnya terasa lemas seperti tak bertulang lagi.


Dia sudah menduga akan apa yang disampaikan oleh dokter Alvin, tetapi dia tidak menyangka jika kanker di tubuh adiknya sudah menyebar sedemikian cepatnya.


"Mba Della, saya waktu itukan pernah bilang...tolong mba Nia dihindarkan sebisa mungkin dari segala permasalahan berat yang akan menjadi beban pikirannya."


"Jika dia tenang, maka bisa menghambat laju pertumbuhan sel kanker itu sendiri, tetapi sebaliknya jika dia terus menerus mengalami stres, depresi dan tekanan batin berkepanjangan maka sama saja mau membunuhnya lebih cepat."


"Ini menurut saran saya, jika nanti mba Nia keluar dari rumah sakit, kalau bisa...bawa mba Nia pindah dari rumah yang sekarang kalian tempati, bawa ketempat yang sekiranya bisa membuat hati dan pikirannya tenang.


"Baiklah dokter, saran dokter akan saya rundingkan dengan para ponakan saya dulu!! dan saya mengucapkan terima kasih atas perhatian dan saran dari dokter." ucap kak Della.


Tak lama kak Della melangkah gontai keluar dari ruangan dokter Alvin. Sesekali dia menghapus air matanya.


Hans menyambutnya dengan perasaan was-was di ruang tunggu.


"Bu, apa kata dokter Alvin tentang kesehatan ibu Sania?" tanya Hans terlihat khawatir.


Kak Della terduduk lemas di bangku ruang tunggu. Belum cerita saja air mata sudah membanjiri pipinya.


Hati Hans semakin tak karuan, otaknya sudah traveling berpikir kemana-mana memikirkan hal buruk yang akan terjadi.


"Hans, bisakah aku meminta tolong padamu??" tanya kak Della di sela isakannya.


"Jika saya bisa, akan saya usahakan untuk menolong, bu!!" ucap Hans.


"Hans, dokter Alvin tadi mengatakan bahwa kanker darah di tubuh adikku sudah mendekati stadium akhir, itu di karena kan akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang harus dihadapi oleh adikku.


Sepi sejenak, tampak kak Della menjeda kalimatnya dan mengatur napasnya terlebih dahulu.


Hans pun memilih diam dan bersikap menunggu kelanjutan ucapan kak Della.


"Saran dokter Alvin tadi, aku harus membawa adikku pindah dari rumah yang sekarang agar hati dan pikirannya bisa tenang, mumpung anak-anak juga akan liburan sekolah jadi aku bisa sekalian menguruskan surat pindah mereka, tetapi masalahnya aku tidak tau di mana tempat yang tenang yang bisa membuat Sania adikku senyaman mungkin."


Sekarang ganti Hans yang tampak berpikir.


"Bu, saya itu punya rumah memang jauh letaknya dari sini, kira-kira 3 jam perjalanan dari sini!!"


"Tempatnya tenang dan asri karena ada di perbatasan kota. Di samping rumah itu ada hamparan sawah, hawanya juga masih sejuk sepertinya cocok untuk keadaan ibu Sania sekarang."


"Ada juga sekolah tingkat SD, SMP, sampai tingkat SMA di sana.kalau tidak salah tak jauh dari rumah itu sepertinya PAUD deh!!" kata Hans.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Akankah Sania dan keluarganya pindah membawa sejuta luka dan semua kenangan mereka??


Mampir yuk guys...mohon dukungannya ya...like, komen, vote, favorit dan ratenya ya πŸ™πŸ™


__ADS_2