Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 16 Mencari Kebenaran


__ADS_3

Akhirnya acara selesai juga. Memang acara kami hanya digelar sampai pukul 17.00 dan selebihnya jika masih ada tamu yang datang langsung makan di dalam saja.


Maklumlah tempat tinggal keluarga mas Sofwan ada di sebelah komplek perumahan perusahaan dan letaknya juga jauh dari kota. Namanya tinggal di kampung, walaupun acara sudah selesai tapi masih ada beberapa tamu yang datang.


Aku menemani suamiku yang sedang ngobrol-ngobrol dengan para tamu, yang kebanyakan teman sekolahnya dulu.


Tidak enak rasanya aku meninggalkan dia untuk beristirahat walaupun aku sangat lelah.


Kami hanya memakai baju batik couple dan sudah tidak memakai baju pengantin lagi.


"Apa kabarmu sekarang bro???" Kerja di mana sekarang? Kok tau-tau sudah menyebar undangan pernikahan, temannya yang kuketahui namanya Toni bertanya."


"Aku kerja di komplek perumahan orang bule bro...jadi maintenance."


"Kok jauh banget cari kerjanya Wan...kata Samsul...di sini lho juga ada..."


"Apalagi bapakmu dan ipar-iparmu rata-rata punya kedudukan penting semua...rasanya tak sulit bagimu untuk mencari pekerjaan."


"Aku ingin hidup mandiri Sul tanpa bergantung dengan bantuan siapapun."


"Atau ada hal lain yang membuatmu pergi jauh?"


Samsul dan Toni bertanya sambil tersenyum tapi mata mereka melirik padaku.


Bukan nya aku tidak tau tapi aku pura-pura sibuk dengan ponsel di tanganku.


"Karena Dinarakah? kata Toni dengan perlahan dan hati-hati."


Sofwan hanya mengangguk. "Kalian tau kan masalahku dengannya?"


"Masalah perjodohan kalian itukan?" Mas Sofwan mengangguk lagi.


"Tadi siang dia datang ke pernikahan kami."


Toni berhenti mengunyah sejenak. "Dia buat masalah lagi kah?"


"Pastilah...kata Samsul...secara kan dari dulu Dinara itu memang sok cantik, sok kaya dan doyan cari ribut."


"Itulah yang membuat aku tidak suka padanya, belum lagi sombongnya..."


Suamiku hanya mengangguk. "Lalu istrimu tau tentang Dinara?"


"Justru itu Ton...sekitar seminggu yang lalu sebelum acara lamaran waktu aku menjemput bapak dan ibuku di sini, istriku ini diserempet motor di jalan dekat kampungnya."


"Kalian tau siapa yang menyerempetnya? Yah Dinara..."


"Istriku baru cerita tentang penyerempetan itu tadi siang waktu Dinara datang ke acara kami."


"Awalnya aku meragukan perkataannya, mungkinlah dia salah."


"Lagian tak mungkinlah Dinara sampai kesana."


"Baru dia juga bilang memar lebam di lengannya itu karena jatuh dan bukan terserempet motor."


"Tapi setelah melihat keduanya seperti saling kenal dan tatapan kebencian Dinara pada istriku, barulah aku percaya."


"Apalagi lontaran sindiran dan gunjingan sinis nya dan teman-teman satu gengnya pada kami selama acara tadi siang."


"Oh iya...ada yang mau kutanyakan padamu bro? rumah istrimu itu di mana?"

__ADS_1


"Memang kenapa kamu tanya-tanya rumah istriku, Sul?"


"Jangan berprasangka buruk dulu bro..." Samsul tersenyum simpul.


"Di kampung Prona yang berdekatan dengan komplek perumahan Rengganis."


"Jauhkah itu?"


"Ya lumayan Ton...kampung tempat tinggal istriku tergolong ramai karena hanya perjalanan 15 menit dengan kendaraan sudah sampai ke kota."


"Sebentar Wan, kamu tadi bilang apa? Perumahan Rengganis?"


"Iya, kenapa memangnya Ton? kok kamu kayak kaget gitu?" kata Samsul.


"Kamu ingatkan Ton...waktu reunian SMA sebulan lalu?"


"Ngga...kata Toni polos..."


"Dasar telmi...waktu itukan Dinara pernah mengumumkan bahwa dia mau membeli rumah yang kalau ngga salah namanya di komplek perumahan Rengganis."


"Oh iya...iya...katanya dia mau mengembangkan usaha olshopnya di sana."


"Apa mungkin yang di maksud Dinara itu adalah perumahan Rengganis dekat kampung istrinya Sofwan itu ya?"


"Bisa jadi Ton, karena istriku sangat yakin bahwa pengendara motor yang telah menyerempetnya itu adalah Dinara."


"Wah gawat kamu Wan...jangan sampai dia tau kamu tinggal di sekitar situ."


Kulihat suamiku terdiam. Mungkin bapak dan ibu mertuaku bisa menjaga rahasia untuk tidak mengatakan kami tinggal di mana.


Tapi ketiga kakak iparku? Secara, mereka menyukai Dinara dan yang mereka inginkan untuk menjadi adik ipar mereka adalah Dinara dan bukan aku.


"Tapi mengapa kok bisa pas sekali ya Ton?" Kata mas Sofwan.


"Gigi mu itu Ton...bukannya cari silusi malah bikin panik aja..." kata Samsul sambil melempar kacang goreng kekepala Toni.


"Silusi siapa? solusi kali...ah kamu ini, sejak dulu kalau bicara suka terbolak balik."


"Eh iya, itu maksudku!!" Samsul nyengir...


"Dinara ini seperti kutukan buatmu Wan...di mana saja kamu berada dia pasti selalu ada."


"Sepertinya dia tau aja kamu ada di mana."


"Sepertinya dia masih terobsesi dengan perjodohan kalian, Wan!"


"Entahlah bro...aku juga lagi bingung ini...Mas Sofwan memijit keningnya."


"Jangan bingung-bingung nanti lupa cara buat anak Wan..."


"Dasar otakmu mesum terus Ton...sekarang giliran suamiku yang melemparnya kacang.


*


*


"Mas...aku ngga enak mau ikut gabung makan di luar..." kataku.


"Ngga apa-apa ada mas yang akan menjagamu."

__ADS_1


"Toh besok pagi-pagi sekali kita harus pulang."


Dengan malas aku mengikuti langkah suamiku kemeja makan. Karena aku tau keluarga besarnya yang rempong kumpul semua di sana.


"Duduk Sofwan...Nia... " ibu mertuaku mempersilahkan kami duduk.


Di rumah ini yang bersikap baik padaku hanya kedua mertuaku saja.


"Ambilkan suamimu makan Nia..." kata ibu.


"Mas mau makan apa? Kataku."


"Tolong ambilkan mas, nasi sama rendang daging dan acar aja, dek!"


"Jadi juga kalian berdua pulang besok, Wan?" kata kak Juwita sambil menyuapi anaknya.


Walaupun kakak kedua Suamiku inj tergolong orang yang jutek tapi dia jauh masih lebih baik dari dua saudarinya yang lain.


Kak Juwita bukan tergolong wanita yang suka nyinyir. Dia memang tidak banyak bicara tapi dia juga tidak pernah mencampuri urusan kami.


"Iya kak...sebab lusa Sofwan sudah mulai bekerja kembali."


"Cukup aja kah gajimu itu untuk menafkahi istri dan ibu mertuamu?" Kak Nuri ikut angkat bicara.


"Sofwan...kenapa kamu tidak bekerja di perusahaan tempat kak Anton bekerja saja?" Suami kak Nuri juga ikut bicara.


"Ngga usah kak...Sofwan ingin mandiri apalagi sekarang Sofwan sudah punya keluarga."


"Dasar keras kepala..." kak Anya menimpali.


"Apa kamu yang mempengaruhi suamimu ini, Nia?"


"Hah..." aku tergagap tidak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu.


"Mah..." kak Deni menyikut perut istrinya.


"Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita mah...jika Sofwan tak mau ya jangan dipaksakan."


"Kamu benar Deni..." bapak mertua yang sedari tadi diam ikut angkat bicara.


"Tapi pah? pah, kita melakukan ini supaya hidup Sofwan tidak menderita nantinya, ini juga untuk kebaikan."


"Baik untuk kita tapi belum tentu baik untuk adikmu Anya..." ibupun angkat bicara.


"Dia sekarang sudah punya kehidupan sendiri, yah...kita doakan saja semoga keluarga kecil mereka bahagia."


Kak Anya dan kak Nuri cemberut mendengar perkataan ibu dan bapak.


"Sudahlah kita makan saja, tak usah membahas hal yang tak penting..." kata ibu.


Kami melanjutkan makan dalam diam. Rasanya aku ingin sekali malam cepat berlalu menjadi pagi agar kami bisa segera pulang ke rumah.


Aku sudah menemukan kebenaran dari cinta masa lalu suamiku. Entah benar ataupun tidak yang dia katakan bahwa dia tidak mempunyai perasaan apapun pada Dinara.


Hanya Allah dan dia yang tahu tentang perasaannya yang sebenarnya.


Tentang kakak-kakaknya yang hingga kini masih mengharap bahwa Dinaralah yang akan menjadi adik ipar mereka.


Aku memang tak mau bersuudzon kepada laki-laki yang telah resmi menjadi suamiku. Walaupun kebersamaan kami tak lama tapi semoga cinta yang dia berikan adalah cinta yang tulus untukku.

__ADS_1


***Bersambung....


Jangan lupa like dan komennya ya vote dan favoritnya jika berkenan๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ™๐Ÿ™***


__ADS_2