
"Aku tak punya pacar Alena, karena aku tak suka keterikatan...aku tak suka hidupku selalu diatur-atur layaknya seperti orang yang berpacaran."
"Ouwh...baguslah, jadi tak ada yang terluka jika kita bersama." Sahut Alena.
"Siapa tadi kamu bilang wanita yang telah mengambil suamimu, Alena?" Tanya Riko.
"Sania...!" Jawab Alena.
"Pendek amat namanya, masa Sania aja?" Kata Riko sedikit penasaran.
"Sania? Masa tante Sania? Ngga mungkin tante Sania itulah, mungkin namanya aja yang kebetulan sama!!" Batin Riko.
"Aku ngga peduli namanya Sania siapa, Riko...yang jelas aku begitu membencinya." Tangan Sania terkepal.
"Mendengar nama Sania disebutkan, kok aku jadi keingetan sama tante Sania ya?" Riko jadi senyum-senyum sendiri.
******
***Flashback***
******
"Hei cowok kecil yang ganteng, kenapa kok menangis? Pulang sama tante Sania aja yuk...kamu anaknya ibu Rika dan pak Baskoro kan?" Sania yang waktu itu masih berusia 23 tahun menemukan seorang bocah laki-laki kecil hendak pulang sekolah.
"Kok kamu bisa sendirian di jalan begini?" Tanya Sania lagi.
"Riko mau pulang sekolah, tapi ngga juga dijemput sama mamah...Riko sudah lapar tante!" Riko menangis sesunggukan.
"Terus Riko pulang sendirian, begitu?" Tanyaku.
"Iya, tante!" Jawab Riko kecil.
"Ya sudah pulang sama tante aja, kebetulan rumah tantekan melewati komplek perumahan rumah Riko, kita bareng aja yuk...nanti tante antar." Ujar Sania.
Akhirnya Riko naik kemotor maticku. Dan kami berdua melaju menuju pulang.
Sampai di depan rumahnya ternyata mamanya tidak bisa menjemput karena ban motornya bocor.
"Mamah...kenapa Riko ngga dijemput? Riko sudah lapar!! Riko langsung nyerocos.
"Maafkan mamah ya nak, motor mamah bannya bocor...ini mamah masih pesankan ojek online untuk menjemputmu."
"Untung ada tante cantik ini, kalau ngga Riko pasti sudah sesat ngga tau jalan pulang."
"Terima kasih sudah mengantar anak saya ya mba, mbanya tinggal di mana?" Tanya mamah Riko.
"Di belakang perumahan ini mba, saya tau aja mba ini mba Rika istrinya pak Baskoro...pak Baskoro sering membeli ayam kampung di rumah ibu saya." Kataku.
__ADS_1
"Ohhh ibu Kamsiah itu ibunya mba ya!! Siapa namanya mba? Tanya ibu Rika.
"Sania mba!!" Jawabku.
"Ya sudah mba Rika, saya pulang dulu ya!! Riko tante Sania pulang dulu ya ganteng!" Pamitku pada mereka.
"Iya tante cantik, nanti sore Riko boleh main ketempat tante Saniakah?" Tanya Riko.
"Boleh...di tempat tante banyak pohon buah lho...nanti kita ambil buah sama-sama ya!!" Kataku.
"Mau...mau tante!! Boleh ya mah!!" Riko minta persetujuan mamahnya.
"Boleh...tapi jangan ngerepotin tante sania dan ibunya ya!!" Pesan mamahnya.
"Siap mah!!." Riko nampak sangat senang sekali.
Jadilah mulai hari itu Riko sering main kerumah. Aku dan ibu yang juga senang sama anak kecil tak keberatan Riko main kerumah hingga pada suatu hari pak Baskoro dinas keluar negeri. Otomatis istri dan anaknya harus ikut serta. Riko awalnya ingin tinggal bersamaku dan ibu, tentu saja kedua orang tuanya tidak setuju.
"Mah...pah...Riko ngga mau pisah sama tante dan nenek...Riko di sini aja!!" Riko menangis tidak mau berpisah denganku.
"Riko, walaupun kita jauh tapikan kita bisa video call..." Hiburku menenangkannya.
Setelah melalui drama yang panjang seperti drakor akhirnya Riko mau juga ikut kedua orang tuanya dengan janji setiap hari kami harus video call.
Awalnya lancar saja video call nya sampai suatu hari ponselku hilang. Terakhir kami video call Riko sempat berucap.
"Tante...tunggu Riko dewasa ya, tante ngga boleh nikah sama orang lain, kalau Riko sudah dewasa Riko akan kembali melamar tante Sania."
Saat itu aku dan ibu cuma terkikik geli karena aku dilamar bocil, dan entahlah apa yang sudah terjadi saat kami sudah tidak bisa berkomunikasi lagi.
******
***Flashback on***
******
Riko tersenyum mengenang masa 16 tahun yang lalu saat dia masih berusia 7 tahun.
"Tante Sania, nenek...kemana sekarang? Riko kangen sama kalian!!" Bisiknya sambil memejamkan matanya.
"Riko, kamu kenapa? Kok bengong begitu?" Tanya Alena.
"Ngga...ngga apa-apa...oke kamu boleh tinggal di sini Alena...jadi aku juga punya teman." Katanya sambil berdiri dan pergi meninggalkan Alena untuk beristirahat.
Di teras Riko berdiri memandang kehalaman rumahnya yang besar. Hujan gerimis seolah sedang mendukung suasana hatinya.
"Tante Sania, maafkan Riko!! Riko khilaf telah berhubungan dengan Alena...padahal Riko dulu telah berjanji saat Riko dewasa nanti Riko akan datang dan melamar tante jadi istri Riko."
__ADS_1
"Tapi Riko sekarang sudah kotor...masih maukah tante menerima Riko suatu hari nanti?"
"Tante juga kenapa menghilang tanpa jejak? Nomor ponsel tante sudah tidak aktif lagi, tante marah sama Riko ya sampai tante memutuskan untuk tidak mau menerima telepon Riko lagi?"
"Kenapa aku jadi baper begini ya?" Kenangan masa kecilku dipeluk, disuapi bahkan di nina bobokan olehnya seolah tak pernah bisa hilang dari ingatanku."
Riko meraba kalung perak yang ada liontin di lehernya. Kalung itu dibelikan Sania saat dia mengajak Riko pergi kepasar malam. Liontin itu bisa dibuka. Dan di dalamnya ada foto usang saat Sania memeluk Riko dengan penuh kasih sayang. Lalu dia meraba wajah cantik yang membuat dia jatuh hati.
*
*
Hatsyi....hatsyi...Tiba-tiba saja aku bersin.
"Kamu kenapa bun? Kok tiba-tiba bersin? Sakitkah?" Tanya Niko yang sedang menggunting daun bunga yang sudah tidak beraturan.
"Ngga tau nih, kok tiba-tiba bersin begini!!" Sahutku.
"Ada yang kangen kali..." Sahut Niko sambil tersenyum.
"Bun...adik-adik minta belikan teot...teot di luar bun!!" Dina datang mendekati kami.
"Teot...teot apa sih Dina?" Tanya Niko.
"Itu lho om...orang jualan salome!!" Sahut Dina.
Niko memberikan uang lembaran dua puluh ribu kepada Dina, pergilah beli sana!!" Katanya.
"Makasih ya om!!" Katanya sambil lari keluar membawa adik-adiknya.
"Kok anak-anakku jadi merepotkanmu tho Niko!! Aku jadi ngga enak sama kamu dan ayah...setiap hari mereka minta uang jajan terus."
"Ngga usah dipikirkan bun, mereka para ponakanku sudah kuanggap seperti anakku sendiri juga."
Sania hanya diam mendengar perkataan Niko. Melihat Sania diam, Niko melirik pada wanita berparas ayu tersebut.
"Wajahnya tidak lagi terlihat kuyu dan pucat, dia sudah bisa tersenyum lagi, semenjak kepergian Miko dia selalu murung...tapi sekarang alhamdulillah dia sudah mulai bisa bangkit kembali." Niko tersenyum sambil membatin.
"Kapan kamu mau pindah lagi kembali kerumah? Aku dan ayah mengkhawatirkan keselamatanmu dan anak-anak." Niko membuka percakapan setelah agak lama kami diam dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
*
*
***Bersambung...
Siapa sebenarnya yang menyebabkan kutukan cinta pada kehidupan Sania?"
__ADS_1
ikuti terus ceritanya ya guys...
Ditunggu jejaknya like, komen, vote, favorit dan rate nya...🙂🙂🙏🙏