
"Kenapa sih kak Dina marah-marah terus sehabis pulang dari rumah sakit tadi?" kata Juned heran.
"Kakak ketemu orang cacat yang sombong!!" kata Dina.
"Sudah cacat, sombong, hidup lagi...begitukan kakak ingin bilang??? Kata Juned sambil menertawakan kakaknya.
"Nah itu kamu tau!!" kata Dina menimpali perkataan Juned.
"Sudahlah kak, jangan suka marah-marah terus nanti cepat tua lho...coba contohlah bunda kita, mau masalah seberat apapun bunda selalu melewatinya dengan senyum, coba kak Dina ingat kapan bunda pernah marah-marah? ngga pernahkan? makanya bunda selalu tampil cantik mempesona walaupun anaknya sudah 6..." kata Juned menahan tawa.
Dina yang awalnya terbawa emosi juga jadi tertawa mendengar perkataan Juned barusan.
"Pada ngomongin bunda ya!!" kata Sania yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka.
"Eh...ngga kok bun, Juned cuma membandingkan kak Dina dengan bunda agar jangan marah-marah terus nanti cepat tua mengalahkan tuanya bunda!!" kata Juned.
"Bun, Dina mau tanya boleh ngga?" kata Dina.
"Iya, Dina mau tanya apa?" kata Sania sambil menggendong Raftar yang baru tertidur.
"Bun, Dina ingin sekali seperti bunda...punya kesabaran yang tak terbatas!! dicaci maki, dicampakan, dikhianati tapi bunda masih bisa tersenyum, menerima dan menjalaninya dengan ikhlas."
"Seandainya Dina yang ada di posisi bunda, tentu sudah Dina hajar orang-orang yang telah nenyakiti Dina!!"
"Kan kak Dina, bundakan lain!!" celetuk Juned.
Sania hanya tersenyum mendengar curhatan putrinya yang sudah beranjak remaja itu.
"Bunda hanya serahkan semuanya kepada yang Maha Kuasa, Dina!!" karena yang bunda tau setiap perbuatan kita di dunia, baik itu yang buruk ataupun sebaliknya pasti akan dapat balasannya sesuai dengan apa yang kita lakukan."
"Jadi kita tinggal menunggu waktu saja, untuk apa bunda bersusah payah untuk menuntut keadilan, tak selamanya perbuatan jahat itu harus dibalas dengan kejahatan."
Dina dan Juned tampak manggut-manggut tanda mengerti.
"Bunda...ada papah Riko di ruang tamu!!" kata Syifa dari luar pintu kamar.
"Apa??? papah Riko??" teriak Juned.
"Asyikkkk pasti papah mau diajak nonton bola lagi malam ini!!" lalu tanpa dikomando Juned lari menuju ruang tamu.
Sania dan Dina pun bergegas untuk keluar.
"Sayang...kapan datang??" kata Sania sambil sebelah tangan menggendong Raftar dan sebelah tangan mencium tangan Riko.
Riko duduk kembali di samping Juned yang sedang sibuk menonton siaran bola.
__ADS_1
"Dina, jaga adikmu...bunda dan tante Della mau menyiapkan makan malam dulu, ya!!" lalu Sania beranjak ke dapur ikut membantu kak Della.
"Sania, apa Riko itu sering-sering kemari tidak akan membahayakan kita semua?" tanya kak Della sambil mengulek sambal terasi.
"Kan kamu tau bagaimana ayahnya menentang pernikahan kalian dan mengancam akan membuat perhitungan jika dia tau Riko sering ke Indonesia menemui anak dan istrinya?"
Sania hanya terdiam mendengar perkataan kakaknya itu. Dalam hati sebenarnya dia juga was-was dan khawatir.
"Nia juga sebenarnya khawatir kak, tapi Nia tak tau harus bagaimana, tak mungkin juga Nia melarang Riko untuk menjenguk Nia dan Raftar karena dia papahnya."
"Sebaiknya kalian berdua perlu membicarakan ini baik-baik untuk kebaikan kita semua juga." Kata kak Della.
Nia masuk keruang tengah untuk memanggil suami dan anak-anaknya untuk makan.
Dilihatnya Juned dan Riko sedang serius menonton bola, Raftar sedang bermain dengan Syifa, Miko dan Miki sesekali Riko tertawa melihat tingkah bocil-bocilnya sementara Dina sibuk dengan laptopnya.
"Ya Allah...bagaimana caranya aku bicara pada Riko tentang hal ini ya!! aku merasakan sangat bahagia mempunyai keluarga yang lengkap...sebenarnya aku tak ingin Riko selalu meninggalkanku dan anak-anak tetapi bagaimana dengan ancaman pak Baskoro??"
Dia merasakan sesak dan tak terasa air mata menggenang di sudut kedua mata indahnya.
"Sayang...mengapa menangis?? adakah sesuatu yang mengganjal perasaanmu?" kata Riko sudah ada di samping Sania.
Karena terlalu fokus pada perkataan kak Della sehingga dia sampai tak menyadari kehadiran Riko di sampingnya.
"Papah mengerti ketakutan mamah, jangan mamah kira papah tak melakukan apapun...papah menyebar orang-orang papah untuk menjaga kalian semua tanpa sepengetahuan siapapun!!" jawab Riko sambil mengecup pucuk kepala istrinya.
"Papah ngga lama lho di indonesia, sebaiknya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya ya!!" senyum genit Riko merekah membuat bulu badan Nia meremang.
"Pah, apakah wanita di Malaysia itu cantik-cantik?" tanya Sania yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Ngga ada yang cantik kok, karena mata papah sedari dulu sudah tertutup dengan kecantikan mamah!!" ucap Riko sambil mengacak rambut Sania.
"Gombal!!" kata Sania sambil cemberut.
"Kok gombal sih!! kalau cintanya papah bukan untuk mamah, untuk apa papah bela-belain melarikan diri, jatuh kejurang sampai berbulan-bulan mengalami amnesia, bahkan di saat papah amnesia, hanya nama mamah yang selalu ada di dalam memori ingatan papah.
Mata Riko berkaca-kaca mengenang semua penderitaannya saat itu.
"Papah bukan seperti Sofwan, bukan seperti Miko yang gampang tergoda oleh wanita, usia papah boleh muda tapi bukan berarti papah bisa mengobral cinta kemanapun papah mau."
"Cukup dulu sekali kesalahan yang papah buat, yaitu tidur dengan Alena...itu membuat papah menyesal sampai keliang lahat."
"Justru papah cemburu setengah mati jika papah meninggalkan mamah terlalu lama di sini!! rasanya papah seperti mau gila karena kangen sama mamah dan anak-anak."
"Papah sudah janji pada diri papah sendiri, papah akan hadapi siapapun yang akan menghalangi dan menyakitimu dan anak-anak papah walaupun papah harus melawan keluarga papah sendiri."
__ADS_1
Sania tak tau harus percaya atau kah tidak, tetapi dia begitu bahagia bisa berada di dekat Riko seperti ini.
"Tuhan tolong jangan pisahkan kami lagi ya!! " bisik hati Sania.
Sementara itu jauh di Kuala Lumpur...
📱"Halo bagaimana menurut mata-mata kita di Indonesia?"
📱"Tuan Baskoro tenang saja, sehabis meeting dengan beberapa pemegang saham sampai sore tadi, tuan muda kembali ke hotel dan tak keluar kamar lagi."
📱"Bagus...jaga terus dan awasi terus anak itu!!"
📱"Baik tuan, saya akan terus memantau perkembangan tuan muda di sana."
Klik...
Lalu telepon terputus dan tampak tuan Baskoro sangat senang dengan kabar yang dibawa anak buahnya.
"Teruslah seperti itu Riko maka keluarga bodohmu itu akan selamat." Ucap tuan Baskoro.
Tanpa tuan Baskoro ketahui, orang yang menjadi mata-matanya di Indonesia adalah orang-orangnya Riko. Tentu saja mereka tak akan pernah membocorkan rahasia tuan mudanya itu.
Apapun akan Riko lakukan agar bisa bersama dengan keluarganya.
***
"Kak!! Sofwan belum ada menunjukan tanda-tanda yang berarti." Juwita menghampiri Nuri di kantin sementara Anya ada di ruangan depan ICU.
"Juwita, mengapa kamu tadi siang harus meminta maaf pada orang-orang ngga penting itu??" tanya Nuri.
"Kak, suster Ayu itu benar...jika tidak ada Sania dan keluarganya yang bergantian menjaga Sofwan, mau jadi apa adik kita itu sementara kita jauh darinya??"
"Lalu ancaman Dina untuk menendang tongkat besi penyangga kakimu."
"Kulihat dari wajahnya tadi, dia benar-benar memang ingin menendang kakimu jika tidak dicegah oleh ibunya."
Nuri terdiam mendengar ucapan adiknya itu...tetapi entah mengapa dia selalu saja membenci sania, padahal Sania tak penah membenci mereka semua.
*
*
***Bersambung...
Jangan lupa mampir dan juga membaca, beri like dan komen, jika suka jangan lupa vote dan favoritnya dan juga ratenya ya!!
__ADS_1