Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 93 Penyesalan


__ADS_3

"Bi...bibi...dengan panik Miko berlari ke dapur..."


"Mengapa bibi tidak menahan mereka? Kenapa, bi?


"Untuk apa pak? Untuk terus menyiksa hati dan perasaan ibu? Bapak mau membunuh ibu dan bayi yang dikandungnya secara perlahan?"


"Semestinya bapak senang ibu pergi, artinya tak akan ada lagi yang menghalangi kebersamaan bapak dan non Alena."


"Sekarang tentu bapak sangat bahagia dengan kepergian mereka, bukan?"


"Saya sangat senang istri saya pergi, bi...sangking bahagianya sampai-sampai saya jadi pengen menangis!!!"


"Permisi pak...bibi mau melanjutkan pekerjaan bibi lagi."


Miko terduduk lemas di kursi ruang makan. "Benar kata bibi, mestinya aku bahagia dia sudah pergi...untuk apa aku memelihara seorang wanita pengkhianat?"


"Abang..."Alena datang dan duduk dipangkuan Miko. "Antarin hari ini Alena belanja dong??"


"Ya sudah...kamu siap-siap sana..."


"Terima kasih ya abang..." Alena mengecupi bibir Miko penuh nafsu.


"Sudahlah Alena...abang sedang tidak mood hari ini....ayolah abang antar kamu belanja."


Dia berusaha menepis semua rasa di hatinya. "Syukurlah kamu pergi..." Dia tersenyum, tapi tersenyum penuh kesedihan.


*


*


Bunda, Dina senang bisa tinggal di rumah milik kita sendiri...walaupun sederhana tapi kita bahagia.


"Tapi di sini lumahnya kecil, bun!!!Tadi aja Juned nemu kecoa di kamal mandi."


"Besok kita mulai bersih-bersih ya, Juned...terus juga malam ini kita lalui tanpa televisi dulu ya, nak...kan televisinya kita tinggal di rumah ayah Miko."


Aku masih belum bisa memejamkan mataku. Padahal jam sudah menunjukan pukul 12 tengah malam.


"Apa aku terlalu lelah siang tadi ya?" Besok aku minta surat pindah untuk Dina dan sekalian mencarikan sekolah untuk Dina dan Juned.


Aku mengelus perutku tanpa sadar. "Kasihan anak yang tak berdosa ini..." Air mataku tak terasa menetes.


Drrrtttt...drrttt...


"Siapa lagi menelpon tengah malam gini?"


Dengan malas kumelihat layar ponselku. "Hah...untuk apa Miko menelponku? Mau pamer kemesraan lagi?"


Aku malas mengangkatnya dan kubiarkan saja sampai panggilan berakhir sendiri.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba ada pesan whatsapp masuk. "Angkat bun, ini ayah..."


"Ngga urus....aku sudah tidak peduli lagi..." Bisikku.


Aku akan pergi menjauh sejauh-jauhnya dari dua laki-laki yang pernah kusayangi, tapi kjni sudah berbalik jadi kubenci.


"Ayah bilang...angkat bun...ayah mau bicara."


Aku tetap tak menjawab, aku hanya membalas dengan pesan singkat saja. "Tak ada yang harus dibicarakan...tunggu anak ini lahir, lalu kita bercerai."


Lalu kumatikan data selularnya. Aku mulai berusaha memejamkan mata untuk menghilangkan semua bebanku.


"Dia benar-benar tak mau mengangkat teleponku...bahkan sekarang sudah ofline kembali.


"Kenapa juga aku harus menelponnya sih? Mestinya aku senang dia tak ada lagi di sini."


"Bun...seandainya bunda tak mengkhianati ayah, tentu semua tak akan terjadi." Miko hanya berbaring bolak balik tak menentu.


"Dia sekarang pasti sudah sangat membenciku, karena yang diingatnya hanya soal perceraian saja."


"Lalu setelah aku tidur dengan Alena, apakah aku puas? Tidak...sebenarnya hati kecilku sangat menolaknya."


"Di mana kamu dan anak-anak, bun? Ayah khawatir dengan kalian...Suami macam apa aku ini? Dari sejak kemarin istri dan anak ngga ada di rumah aku bahkan tak tau?"


*


*


"Eh...Sultan...tumben pagi-pagi sudah kemari?"


"Iya mba...Kak Tini titip minta bawakan nasi, sayur dan ikan goreng buat mba dan anak-anak..."


"Terima kasih ya, Sultan jadi ngerepotin kamu...kan bisa telepon aja nanti mba yang datang ke sana mengambilnya."


"Ngga apa-apa mba...lagian saya lagi ngga ada jam mengajar pagi ini."


Lalu kami diam sama-sama saling bertatapan lalu masing-masing membuang pandangan ke arah lain dengan muka jengah.


"Aduh...kok aku jadi deg-degan gini sih? Kacau nih...kayaknya otak dan hatiku ngga sinkron hari ini." Sultan mengeluh dalam hati.


"Tapi sumpah...mata itu begitu teduh...walau banyak menyimpan penderitaan, tapi tak memudarkan keindahannya."


"Ah...apa-apaan sih...lebih baik aku cepat pulang aja ah...tambah kacau pikiranku lama-lama berdiri di sini."


"Aduh...ni Sultan ngapain ngeliatin aku dengan muka merah merona gitu, ya..."


"Apa ada yang aneh dari penampilanku, kah?" Aku mulai melihat ke arah baju dan ke kakiku...lalu kuraba wajah dan mataku.


"Ngga ada belek kok di mataku? Tadi pagi aku juga sudah mandi dan gosok gigi....terus napa ya, ni bocah?"

__ADS_1


"Mba....Sultan...." Kami bicara berbarengan..."Ladies first, katanya."


"Bilang ke Tini terima kasih ya, Sultan...saya sudah terlalu banyak merepotkan."


"Nanti saya sampaikan, saya permisi dulu ya mba...kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan meminta bantuan saya... Insya Allah kalau saya mampu saya akan bantu."


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam, terima kasih ya, Sultan!!"


Rumahku kecil yang kubeli ini letaknya memang tak terlalu jauh dari tempat tinggal Tini. Letak rumahnya juga di ujung jalan. Diseberangnya aku bisa melihat tanaman jagung dan singkong yang membentang.


Walaupun rumahnya masih semi permanen, bahkan dapurnya masih dari kayu, dan kamar mandi masih lantai semen dan bata yang baru di plester sebagian.


Lantai rumah juga masih dari semen...tapi ada teras di depan untuk bersantai.


Tapi di sini aku menemukan ketenangan...jauh dari orang-orang munafik. Anak-anak juga tenang tidurnya...mungkin hati mereka juga senang melihatku tenang, tidak menangis terus.


"Bun...bunda bawa apa?" Juned mengucek-ngucek matanya. Tambah besar tambah mirip aja ni Juned dengan mas Sofwan.


"Om Sultan tadi membawakan nasi, sayur dan ikan dari tante Tini untuk kita, nak!!"


"Juned mau ya, bun...Juned lapal nih...semalam kita belempat cuma makan nasi goleng saja."


"Mandi sana dulu, Juned...habis itu baru makan."


"Tapi di kamal mandi ada kecoanya bun...Juned kan ngeli..."


"Sudah ngga ada Juned, kecoanya sudah bunda usir."


"Ada apa ribut banget pagi-pagi sih, bun? Juned ini kebiasaan kalau pagi selalu berisik...jauh rejeki tau?" Dina menegur adiknya dengan suara yang masih serak.


"Kakak juga kalo sualanya masih selak ngga usah nyanyi...jelek tau!!"


"Sudah...jangan ribut...Dina mandikan dulu adiknya terus kamu juga mandi...pagi ini kita mau minta surat pindah ke sekolahmu sekalian kita melihat-lihat sekolah dasar yang baru di sini."


"Kenapa tidak menunggu sampai Dina lulus aja, bun? Kan kelas 6 ini ngga lama juga."


"Terlalu jauh jarak sekolah ke rumah kita ini, Dina...kasian dedek bayi di dalam perut bunda ini, kalau bunda setiap hari antar jemput Dina dengan menempuh jarak yang jauh."


"Iya...Dina lupa kalau bunda sedang hamil, berapa bulan sudah bun?" Dina mendekatkan telinganya ke perutku.


"Sudah tiga bulan, Dina...kehamilan bunda ini masih rentan keguguran, jadi bunda tidak boleh kelewat capek dulu."


"Tumbuhlah menjadi kuat ya adik-adiku...jangan kayak bang Juned si tukang ngeluh...sama kecoa aja takut...apalagi sama ular?"


"Kakak....."


***Bersambung...

__ADS_1


Happy reading all readers...selalu minta dukungan like, komen, vote dan favoritnya, ya!!! Terima kasih...love you all***...


__ADS_2