
"Assalamualaikum...Tini ini Nia..."
"Aku cuma mau tanya Tin, sudah adakah lowongan pekerjaan yang kamu katakan padaku tempo hari itu?"
"Oh iya Nia, aku lupa menanyakan pada suamiku."
"Ntar dulu ya kutanyakan, mumpung orangnya belum berangkat kerja."
Tini memutuskan sambungan teleponnya dulu. Aku menunggu dengan harap-harap cemas. Kerja apa sajalah yang penting halal dan punya gaji yang tetap, tidak serabutan seperti sekarang.
Tak lama kemudian, "halo Nia, kata suamiku masih ada cuma hanya tinggal lowongan untuk office girl saja."
"Itupun kemarin hampir di masukin pelamar lain, tapi belum diterima sama suamiku, gimana Nia...kamu maukah mengisi lowongan itu?"
"Mau...aku mau Tin, yang penting itu halal dan aku bisa membiayai anak-anakku sekarang dan kedepannya."
"Oh ya sudah, bisakah hari ini kamu antar kemari surat lamarannya, ntar kita sama-sama keperusahaan tempat suamiku bekerja."
"Tapi agak siangan ya Tin, aku kan harus menyiapkan berkas-berkasku dulu."
"Terserah kamulah, jam berapapun kamu bisa nanti kuantar kamu sekalian."
"Terima kasih banyak ya Tin atas bantuanmu dan suamimu, sampaikan juga ucapan terima kasihku kepadanya."
Aku membuka lemari mencari berkas-berkas ijazahku. Untungnya kelengkapan berkas yang lain masih kusimpan, hanya tinggal menulis surat lamarannya saja.
"Mamak mau pergi kemana? Dina melongok dari depan pintu."
"Dina hari ini liburkan? Mamak mau pergi antar surat lamaran ke tempat tante Tini, jaga Juned sama Syifa dulu ya."
"Mamak mau cari kerjakah mak? Dina duduk beringsut di sampingku yang sedang menulis."
"Iya nak, doakan mamak ya...semoga cepat dapat kerja."
"Adikmu pada kemana, Din? masih bobo semuanya kah?"
"Iya mak...naik apa mamak kerumah tante Tini? naik gojekkah?"
"Iya...kan ngga ada angkot yang masuk sampai sana kalau hanya mengantar satu orang saja."
"Mamak siap-siap dulu ya..." Dina hanya mengangguk saja.
Dengan cepat aku bersiap, tak lupa berkas-berkas kubawa, sambil menunggu gojeknya datang.
"Semoga aku bisa keterima ya Allah...aku bukan hanya berjuang untuk diriku sendiri, tapi juga untuk ketiga anak-anakku."
Aku mencium anak-anakku sebelum pergi dan berpesan pada Dina untuk menjaga adik-adiknya.
*
*
"Assalamualaikum...."
__ADS_1
"Waalaikum salam...masuk Nia..."
"Kemari tadi lewat mana, Nia? lrwat bekas rumahmu dulukah?"
"Ngga...aku lewat gang sebelah...aku tidak sanggup jika harus lewat situ dan mengingat semua kenangan masa kecil bersama ibu dan bapakku."
"Ya sudah...tidak usah dibahas lagi, tunggu ya aku mau siap-siap dulu, kamu ngeteh dulu noh didapur atau ngopi kah, anggap aja rumah sendiri."
"Kira sama Tara kemana Tin? kok ngga kelihatan?"
"Oh...mereka dijemput eyangnya kemarin...kan anak kelas 1 sampai 5 libur karena kelas 6 lagi ujian.
"Kita naik motor aja ya Nia, sebab habis pulang dari kantor kita mau singgah kepasar dulu."
"Wess...orang kaya aja mainannya pasar Tin..." kataku sambil tersenyum.
"Belanja di pasar itu lebih enak tau...semua masih segar dan masih bisa ditawar, kan dari dulu aku tuh doyannya nawar-nawar."
"Kata suamiku tadi kita langsung menemui pak Jodi saja, tadi pagi suamiku langsung telpon dan kamu langsung diminta datang untuk interview."
"Aduh...aku kok jadi gugup ya Tin..."
"Sudah, tenang aja...berdoa sajalah semoga interviewnya sukses."
Aku dan Tini naik motor. Karena perjalanan cukup jauh memakan waktu hampir setengah jam.
"Ya Allah....semoga dilancarkan urusan hari ini...aku ingin bisa bekerja mencari nafkah untuk menghidupi anak-anakku...Amin..."
"Selamat pagi bu, ada yang bisa saya bantu? Seorang wanita berpostur mungil menyapa kami dengan ramah."
"Mba, teman saya ini mau bertemu dengan pak Jodi mau interview hari ini."
"Oh...dengan ibu Sania ya...silakan pak Jodi sudah menunggu bu."
"Nia...aku menunggu di sini aja ya... masuk sana...Bismillah aja Nia..."
"Aku masuk dengan agak gugup...jujur aku sangat berharap bisa mendapatkan pekerjaan ini walaupun hanya sebagai office girl.
"Tok..Tok..permisi pak..."
"Silakan masuk..."
Aku menarik napas panjang lalu kuhempaskan sebelum aku masuk.
"Silakan duduk..."
"Terima kasih pak..." aku duduk dengan tegang.
"Tadi pagi saya sudah diberi tahu oleh pak Riduan, ada office girl baru hari ini."
"Bawa surat lamarannya? aku menyodorkan surat lamaranku."
Dia membaca sebentar isi surat lamaranku. "Besok silakan datang kesini pukul 7, temui supervisornya yang bernama ibu Widi ya...
__ADS_1
"Jadi saya di terima pak?" aku masih tak percaya.
"Iya...mulai besok ibu sudah bisa bekerja di perusahaan ini, untuk tugas selanjutnya temui besok ibu Widi."
"Terima kasih banyak ya pak...aku menjabat tangannya."
"Iya sama-sama bu...selamat bergabung ya..."
Aku keluar dengan berbagai macam perasaan. Akhirnya doaku terkabul. Doa yang baik berlandaskan niat yang baik dan tulus, Insya Allah akan dikabulkan.
Tini menungguku di depan dengan harap-harap cemas juga.
"Gimana Nia? kamu diterimakah?"
"Alhamdulillah Tin...mulai besok aku sudah mulai bekerja."
"Syukurlah...ayo kita pulang, singgah ke pasar dulu."
"Nia...kita makan dulu yuk...sekalian ucapan selamat kamu diterima bekerja...tenang saja, aku yang traktir kok."
Kami singgah di warung lalapan. Sambil menunggu kami ngobrol. Karena sudah tak tahan menyimpan beban seorang diri, akhirnya aku bercerita tentang perceraianku.
"Maksudmu? Kakak-kakak bang Sofwan yang meminta kamu bercerai dengannya?"
Aku mengangguk. "Sungguh keterlaluan mereka Nia."
Kuceritakan juga tentang bang Sofwan yang tidak lagi mengenali kami. Tuti hanya geleng-geleng kepala mendengar ceritaku.
"Yah kalau aku sih memang dari pada mengemis cinta sama dia dan keluarganya, lebih baik berpisah saja."
"Toh dengan ataupun tanpa dia, hidup akan terus berjalan."
"Jika suatu hari nanti ingatan bang Sofwan benar-benar pulih, dia akan menyesal meninggalkan keluarga yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya dalam suka dan duka."
"Yang aku sesalkan adalah sikap keluarganya, Nia! Bukannya mendukung bang Sofwan kembali kepada anak istrinya, malah mengambil kesempatan dalam kesempitan memanfaatkan sakitnya bang Sofwan untuk memisahkan kalian."
"Aku tau sejak awal, mereka menentang keras hubungan kalian, tapi tidakkah mereka lihat sekarang kamu dan bang Sofwan punya anak yang masih kecil-kecil? Mereka butuh keluarga yang lengkap dan utuh?"
"Aku sakit Tini...mas Sofwan sama sekali tidak mengenalku, memandangku dan anak-anak bagai orang asing."
Tini menghela napas panjang."Ya sudah kita makan saja dulu, itu pesanannya sudah datang."
"Dibungkus 3 ya mba...lho Kira sama Tara tidak di rumah Tin, suamimu sore baru pulang..."
"Bukan buatku Nia, tapi buat anak-anakmu, kasihan mereka di rumah."
"Maaf ya Tin, aku selalu merepotkan teman-teman semuanya."
"Aku dan teman-teman tidak pernah merasa direpotkan, Nia!"
***Bersambung....
jangan lupa like dan komennya ya😀😀jika berkenan votenya juga🙏🙏***
__ADS_1