Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 222 Perasaan Niko


__ADS_3

"Saya bu, saya tadi masuk ke ruangan bos mau minta tanda tangan kok saya ketuk pintunya ngga ada jawaban, saya langsung masuk dan menemukan ibu sudah pingsan di kursinya dengan darah yang mengalir cukup banyak dari lubang hidungnya dan sudah membasahi jilbab yang ibu Sania kenakan.


"Sebenarnya ibu Sania sakit apa bu?" tanya Hans pada Della.


Della tak langsung menjawab dia menatap Hans sesaat lalu dia menghela napasnya.


"Sania itu sakit kanker darah sudah stadium 3...selama ini kami mencari pendonor sum-sum untuknya tapi belum.ada yang cocok!!" jelas Della.


"Lalu, siapa laki-laki yang suka mengantar jemput ibu Sania itu? wajahnya mirip sekali dengan Dina!!" tanya Hans lagi.


"Dia itu Sofwan Prayoga suami adik saya!!" jawab Della.


Oooo...jawab Hans seperti menyimpan kekecewaan.


"Tapi itu dulu, sekarang mereka sudah lama bercerai!!" jawab Della lagi.


"Bu, sejak kapan ibu Sania mengidap penyakit kanker itu?" tanya Hans.


"Kita semua ngga ada yang tau jelasnya kapan karena Sania selalu tertutup apapun yang menyangkut tentang hidupnya."


"Mungkin dia kambuh karena sekarang Sania sering pulang malam, tidak cukup istirahat sehingga kelelahan selalu menderanya." Jawab kak Della.


"Mengapa ibu tidak menikah lagi aja? toh ibu masih sangat cantik, Tiwi aja iri sama kecantikan dan kelembutan ibu!!" jawab Tiwi.


"Kamu ini, sapi di kasih kalung loncengpun kamu iri!!" jawab Hans padanya.


"Adikku itu masih punya suami, tetapi entah sekarang masih hidup atau sudah meninggal kami tak tau lagi."


"Maksudnya suami ibu Sania meninggalkannya?" tanya Tiwi.


"Waktu Raftar berumur 4 bulan di dalam perut, suaminya pergi menjenguk orang tuanya di Kuala Lumpur, tapi hingga detik ini tak pernah kembali lagi!!"


"Kabar yang kami dengar dia mengalami kecelakaan...motor dan tubuhnya masuk ke dalam jurang."


"Kasihan ya ibu!! lalu hubungan ibu dengan almarhum pak Sultan itu apa?" tanya Hans, hati-hati.


"Mereka bersahabat baik sejak Sania masih hamil si kembar Miko dan Miki." Kata kak Della.


"Oh iya sebaiknya Hans dan Tiwi balik lagi aja ke kafe, kan sudah ada ibu yang jagain ibu Sania di sini." Kak Della menyarankan pada Hans dan Tiwi.


Sebenarnya Hans enggan untuk kembali ke kafe...dia ingin sekali melihat bos nya itu sadar dulu baru dia kembali, tapi nanti di kafe bisa kacau balau tak ada yang memasak. Padahal hari ini ada acara ulang tahun kantor yang akan di mulai saat makan siang nanti sedang sekarang sudah pukul setengah sepuluh pagi.


Dengan berat hati Hans mengajak Tiwi kembali ke kafe dengan menggunakan mobil kafe.


Sepanjang perjalanan Hans hanya diam tak banyak bicara. Berkali-kali Tiwi melirik pada koki andalan di kafe mereka itu tetapi Hans tetap menyetir dengan pandangannya mengarah ke depan.


"Apa kamu memikirkan apa yang dikatakan bu Della tadi tentang bos kita itu?" tanya Tiwi pelan.


Hans hanya diam setelah dia melirik pada Tiwi lalu dia fokus menyetir kembali.


"Jangan bilang kamu suka sama bos kita itu ya?? Shinta bisa mengamuk nanti!!" kata Tiwi lagi memberi peringatan pada Hans.


"Ada hak apa Shinta mengamuk? aku dan Shinta tak ada hubungan khusus apapun." Jawabnya.


"Hubungan khusus ngga ada, tapi hubungan spesial ada!!" jawab Tiwi.


"Asal kamu tau ya Wi, aku dan Shinta itu sepupuan cuma Shinta ngga mau hubungan kami sebagai sepupu ketauan karena dia takut di berhentikan dari kafe ini karena setauku ibunya sakit-sakitan dan membutuhkan banyak biaya."


Tiwi hanya diam tetapi di dalam hatinya diam senang bukan main.


Semenjak kafe ini berdiri 6 tahun yang lalu, karyawan pertama yang melamar di kafe itu ya, Hans.


Hans paling lama ikut dengan Sultan hingga Sultan meninggal dunia dan Hans bertekad untuk ikut membantu memajukan kafe itu mengingat terlalu banyak hutang budinya pada pemilik kafe yang baik hati itu.

__ADS_1


Sekarang kafe Sultan ini sudah membuka cabang di kota...sehingga Sania yang sekarang sebagai owner dari kafe itu harus bolak balik di dua kafe tersebut. Itu juga lah yang menyebabkan dropnya fisik Sania.


***


Dina terburu-buru keluar dari kelas. Tubuh mungilnya dengan leluasa menyelinap sana sini di antara banyaknya siswa sehingga Juma maupun Nathan kehilangan jejaknya.


Mengapa juga aku begitu tertarik untuk mengikuti gadis jutek itu ya??? sifatnya mengingatkan aku pada seseorang tetapi siapa?"


Mata bulat dan bibir seksi itupun juga mengingatkanku pada seseorang, tapi otakku ini seolah berhenti untuk berpikir dan mengingat.


Akhirnya Nathan memutuskan kembali ke parkiran mobilnya. Semua yang dilakukan Nathan tak lepas dari perhatian Juma.


"Mengapa Nathan selalu mengikuti Dina ya? apa Nathan juga suka pada Dina?" batin Juma.


"Tapi mengapa Dina seperti !terburu-buru sekali...ada apa ya?' gumam Juma .


"Dina segera melajukan motor maticnya. Terbayangnya olehnya betapa repotnya ketiga adiknya itu saat tau bundanya tak ada.


Dia langsung menuju ke rumah Tini untuk menjemput adiknya biar Syifa dibonceng oleh Juned pulang ke rumah.


Ditengah perjalanan dia bertemu dengan kakek Jonathan dan Niko yang baru pulang habis mengantar perlengkapan pernikahan.


Awalnya Dina pura-pura ingin tidak melihat tetapi kakek Jonathan telah lebih dulu menyapanya.


"Din...Dina..."


Mau tak mau dia berhenti dan menunggu kakek si kembar itu turun dari pick up dan menghampirinya.


"Din, ntar malam ada syukuran di rumah ayahmu, katakan pada bunda datang ke rumah ya, sebab sedari tadi baik bunda maupun tante Dellamu kakek telepon semuanya ngga ada yang aktif.


"Tante di rumah sakit kek!!" sahut Dina.


"Tante Dellamu sakit apa?" tanya Jonathan.


"Bukan tante yang sakit tapi bunda!!" kata Dina.


Niko yang baru sampai di tempat ayahnya dan Dina berbicara langsung terkejut.


"Bundamu sakit apa, Dina?" tanya Niko.


"Emang om Niko peduli?" ketus Dina lalu menghidupkan motornya dan berlalu dari sana.


Niko tertegun mendengar ucapan Dina yang pedas barusan.


Jonathan menepuk pundak Niko agar dia bisa lebih sabar dan memahami karena gadis seusia Dina jiwanya dan cara berpikirnya masih labil dan masih suka ceplas ceplos kalau bicara.


"Niko tau bahwa Niko salah, yah!! tapi seandainya Dina tau bahwa Niko mencintai bundanya, sangat..." ucapan Niko di barengi dengan wajahnya yang murung.


Jonathan hanya sedih melihat putranya itu. Semasa masih bersama Sania, bibirnya selalu tersenyum...persis seperti saat dia masih buta dulu, semua tanpa beban tapi sekarang? menikahi Maya dan harus berpisah dengan Sania malah membuat Niko jadi pemurung.


"Sania pasti sangat kelelahan ya yah, secara sekarang dia harus mencari nafkah sendiri untuk menghidupi keluarganya semenjak Riko suaminya hilang dan dikabarkan meninggal dunia."


"Sania tak pernah mau menerima uang yang Niko transfer kerekeningnya yah...dia selalu mengembalikannya lagi pada Niko."


"Dia itu tipe wanita yang sangat mandiri, Niko...dia tidak mau hidup bergantung dengan siapapun." Kata Jonathan.


"Seandainya Niko bisa mendonorkan sum-sum Niko ya yah!! apapun akan Niko lakukan supaya Sania bisa sembuh seperti sedia kala!!"


"Kenapa kamu tidak mencoba memeriksakannya kepada dokter Alvin? siapa tau cocok!!" kata Jonathan memberikan idenya pada Niko.


"Ayah benar...mengapa tidak kepikiran ya yah!!!" ucap Niko dengan mata berbinar.


"Besok akan Niko coba menemui dokter Alvin, tetapi hari ini Niko mau ke rumah sakit dulu untuk menjenguk Sania."

__ADS_1


***


"Ayah mau pergi kemana? nampaknya tergesa-gesa sekali?" tanya Juma pada ayahnya.


"Ayah mau pergi ke rumah sakit mau menjenguk bunda Sania."


"Lagi apa bunda Sania di rumah sakit, yah?" tanya Juma.


"Numpang tidur!!" jawab Niko enteng.


"Ayolah kalau kamu mau ikutan temani ayah!!" akhirnya Niko mengijinkan Juma untuk ikut bersamanya.


Niko dan Juma tiba di depan ruang rawat inap Sania. Sepi... Della sedang pulang untuk mengantar baju-baju yang kotor.


Niko membuka pintu perlahan. Di atas tempat tidur Sania berbaring dengan wajahnya yang sangat pucat.


"Sultan, kamukah yang datang untuk menjengukku? akhirnya kamu datang juga."


Sania membuka matanya perlahan berusaha melihat lebih jelas siapa yang datang.


"Niko...Juma...ternyata kalian, kupikir tadi Sultan!!" ucap Sania yang membuat Niko termangu.


Niko sadar betapa besar arti Sultan untuk Sania bahkan sudah 2 bulan Sultan pergi, Sania tetap menganggapnya ada tidak seperti dirinya yang sama sekali tak berguna seperti ini.


"Iya ini aku dan Juma yang datang menjengukmu, kamu sakit apa ?" tanya Niko untuk mencairkan suasana.


"Yah...sakit biasa Niko!!" jawab Sania sambil tersenyum.


"Duduklah Juma jangan berdiri saja seperti itu!!" kata Sania sambil tersenyum memandang Juma.


Juma terpana melihat senyuman dan kelembutan Sania.


"Pantas banyak orang yang menyayanginya termasuk ayahku...senyumnya begitu tulus, keramahan dan kelembutan terpancar dari mata dan setiap tutur katanya."


"Berbeda sekali dengan ibuku, orangnya kasar, arogan...."


"Bunda kita membawa buah, Juma kupaskan ya buat bunda!!" kata Juma.


"Iya sayang...terima kasih ya!!" katanya dibarengi dengan senyumannya.


Sementara Niko bercakap-cakap dengan Sania, Juma dengan semangat mengupaskan apel dan pir yang tadi mereka bawa.


"Ko...kamu dan Maya mengapa tinggal berjauhan...tak baik lho suami istri itu tinggal berjauhan, apalagi kalian berdua kan punya Juma!!" kata Sania sambil menatap Niko dengan lembut.


Tak ada rasa dendam dan kebencian yang terpancar dari sorot dua bola mata beningnya.


"Kehadiranmu tak akan pernah terganti oleh siapapun!!" ucap Niko pelan tetapi cukup jelas terdengar oleh telinga Sania dan Juma.


Juma termangu, betapa ayahnya begitu mencintai wanita yang terbaring di depannya itu.


"Bun, buahnya sudah Juma kupas dan cuci juga sudah Juma potong-potong dan Juma letakan di piring, Juma suapin ya bun!" kata Juma hendak bersiap menyuapi Sania.


"Ngga usah Juma, biar ayah saja yang menyuapi bunda Sania ya!!! Kamu pergilah ke kantin sana!!"


Juma nampak cemberut tetapi akhirnya pergi juga meninggalkan Sania dan ayahnya.


*


*


***Bersambung...


Niko...penyesalan memang selalu datang terlambat ya!! tapi tak mengapa dari pada terus berbohong pada hati๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

__ADS_1


Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya, terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ™


.


__ADS_2