Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 235 Kenyataan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Dina, Juned dan Syifa bergantian mencium tangan Sofwan untuk yang terakhir kali sebelum dimandikan, diazankan dan siap dibawa dengan mobil ambulan pulang kekampung halaman Sofwan. Sementara Nia yang sudah siuman juga tampak lebih tegar untuk melepaskan sang mantan itu.


"Selamat jalan mas, tunggu Nia ya...suatu hari jemput Nia kembali jika semua urusan Nia sudah selesai!!"


Sore itu juga jenazah almarhum dibawa pulang karena takut kemalaman di jalan.


Dengan jahatnya Nuri menyentak Sania yang ingin melihat Sofwan untuk yang terakhir kali.


"Pergi sana jauh-jauh perempuan sial!! nanti kami ketularan juga oleh kesialanmu!!" jawab Nuri.


Betapa hancur dan sakitnya perasaan Sania saat itu, tuduhan perempuan sial sampai tak boleh mendekati jenazah mantan suaminya, merupakan pukulan terberat bagi Sania.


"Sudah...anggap saja ocehan orang gila!!" kata kak Della sambil memeluk adiknya yang menangis.


****


"Mah, papah ngga singgah lagi kerumah ya!! papah tidur di hotel tempat papa menginap malam ini karena besok pagi papah harus terbang kembali ke Kuala Lumpur!!"


Begitulah pesan whatsapp dari Riko.


Aku tak menggubrisnya sama sekali. Hanya kujawab dengan singkat, "Ya."


Hari ini aku benar-benar pusing, benarkah apa yang dikatakan kak Nuri itu bahwa aku perempuan pembawa sial?


Lalu Riko mengirim pesan kembali yang membuat kepalaku bertambah pusing.


"Kok jawabnya singkat amat, mah?? mamah bukan lagi ngumpul di kafe kan?" tanyanya lagi.


Aku yang sudah gedeg jadi bertambah kesal pada Riko, yang akhirnya tak kubalas sama sekali.


Aku lihat Riko tak berani telepon mungkin orang-orang dari ayahnya memata-matai kegiatannya hari ini.


Aku lelah...bahkan Raftar, Miko dan Miki tidur lebih awal hari ini sehingga akupun bisa istirahat lebih awal pula.


Tidurku terasa gelisah, seolah rentetan peristiwa saat awal perkenalanku dengan mas Sofwan, kedekatan kami sampai kami akhirnya menikah dan punya anak, kejadian pahit dan manis silih berganti berseliweran di dalam memori ingatanku seperti kaset yang di rewind kembali kemasa lalu.


Ahhhhh....


Ngos...ngos...


"Bunda ada apa? badan bunda panas sekali pasti karena sejak siang tadi bunda ngga ada istirahat, ngga ada makan juga!!" kata Syifa yang tadi membangunkanku.


"Tante...tante Della...bunda demam tante, badannya bunda panasnya tinggi banget!!" teriak Syifa.


Dina dan Juned yang sedang mengerjakan tugas mereka dari sekolah juga langsung berlari menuju kamar bundanya.


"Bunda mengigau, tante...bunda selalu memanggil nama almarhum bapak!! Kata Dina dengan perasaan sedih.


Hati Della pun mendenyut sakit melihat keadaan adiknya itu.


Walaupun dia dan Sania bukan terlahir sebagai saudara kandung, tetapi dia sangat menyayangi adiknya itu.


"Cepat ambilkan baskom dan isi dengan air hangat, lalu sediakan handuk kecil biar tante yang akan mengompres bunda kalian." Kata kak Della memberi perintah.

__ADS_1


"Riko...Riko...kamu pergi lagi!! di saat istrimu butuh kamu di sini, kamu malah tidak pulang dan memutuskan untuk pulang kembali ke Kuala Lumpur."


"Sebenarnya sayang ngga sih kamu dengan istri dan anakmu? apa benar yang dikatakan olehmu bahwa ayahmu tidak boleh sampai tau jika kamu sering menjenguk anak dan istrimu?"


"Sebenarnya dari pada begini, aku lebih rela kamu melepaskan adikku, ceraikan saja dia dari pada keberadaannya kamu gantung seperti sekarang ini!!"


Della terus bergumam pelan sambil terus mengompres dahi Sania yang masih tertidur dengan gelisah.


****


Riko memukul bantal yang tak bersalah di dalam kamar hotelnya.


Telepon sore tadi benar-benar membuatnya resah.


Rasa kesal, marah dan kecewa bergumpal menjadi satu kesatuan dan membuat darah Riko hampir naik sampai ke ubun-ubun.


***Flashback on****


Riko begitu bahagia sore itu karena dia dan Johan asistennya berhasil memenangkan tender hari ini. Tak sia-sia dia mengadakan perjalanan dari Kuala Lumpur ke Indonesia.


"Jhon..."


Dia selalu memanggil nama Johan dengan sebutan Jhon saja.


"Kita kembali ke Balikpapan, yuk!! aku sudah kangen dengan istri dan anak-anakku, tadi pagi aku berjanji dengan Nia akan pulang untuk makan malam bersama sebelum besok kita pulang ke Kuala Lumpur."


"Tuan muda..." kata Johan dengan agak ragu untuk menyampaikan isi kepalanya.


"Iya?? ada apa Jhon??" tanya Riko menoleh sehingga dia tak jadi masuk ke dalam mobil.


Riko terdiam. Semangatnya yang tadi ingin cepat pulang untuk bertemu dengan Sania dan anak-anak perlahan meredup.


"Aku juga tidak tau, Jhon!!" jawabnya sedih.


"Semenjak aku kepergok jalan dengan mesra bersama Sania dan anak-anak tempo hari, Afifah mengancamku akan memberi tahukan keberadaan Sania dan keluarganya kepada ayah." jawabnya lagi.


"Entah bagaimana iblis wanita itu bisa tau dan menyusul ke Indonesia, apa mungkin orang-orang ayah yang memberi tahukannya." Riko terlihat sangat resah.


"Aku terpaksa menuruti kemauannya, Jhon...jika sampai ayah tau tentang hubunganku dengan Sania yang masih berlanjut dan kami punya seorang putra dari hasil pernikahan kami, maka ayah akan dengan kejam memisahkan kami dan mungkin aku sudah tidak bisa dengan bebas pergi ke Indonesia lagi, bukan hanya itu bisa jadi istri dan anak-anakku dipertaruhkan keselamatannya di sini!!"


"Kamu tau Jhon, aku sangat mencintai keluargaku sehingga demi keselamatan mereka semua aku rela mengorbankan hidup dan hatiku dimiliki oleh wanita lain selain istriku!!"


Johan hanya bisa menatap iba pada tuan mudanya itu. Dia ikut keluarga Baskoro dan menjadi asisten pak Baskoro lalu beralih menjadi asisten putranya itu semenjak Riko menjadi seorang lawyer di Indonesia.


Dialah yang menghandle semua pekerjaan Riko hampir setahun belakangan ini semenjak Riko pergi ke Kuala Lumpur dan dinyatakan menghilang di sana.


Dia juga yang mengerahkan orang-orangnya di Indonesia untuk mengawasi sekaligus menjaga keluarga tuan mudanya itu.


"Tuan, tapi anda tidak bisa terus menerus hidup seperti ini!!"


"Jika saya boleh memberi saran, lebih baik tuan muda jujur kepada nyonya tentang keadaan anda, terserah nanti bagaimana nyonya memutuskan tentang kelanjutan pernikahan kalian!!" saran Johan.


"Gila...apa maksudmu, Jhon?? memberi tahukan istriku tentang semua berarti kamu memintaku secara tak langsung untuk berpisah dengan Sania dan Raftar?? begitu!!" teriak Riko dengan lantang.

__ADS_1


Suara Riko melemah kembali dan duduk menyandarkan kepalanya ke kaca.


"Kamu tau aku sangat mencintainya, Jhon!! dialah semangat hidupku sewaktu aku kehilangan arah dan kehilangan ingatan hampir setahun hidup terlunta-lunta dipinggiran kota perbatasan Tawau, Jhon??"


"Saya mengerti tuan muda, sangat mengerti...karena saya sudah menganggap tuan muda seperti adik saya sendiri, adik yang harus saya lindungi!!"


"Tetapi apakah tuan muda juga tidak berpikir bagaimana perasaan nyonya jika terus menerus berada di dalam ketidak pastian seperti ini??"


"Sakit tuan...apalagi yang saya tau nyonya itu mengidap penyakit kanker darah yang hampir mendekati stadium akhir."


"Nyonya membutuhkan ketenangan dan bukan perasaan tertekan seperti sekarang ini!!" Ucap Johan lagi.


"Tidak Jhon, tidak...jangan katakan itu lagi...kalau kamu tidak mau melihat peluru ini bersarang di otakku sendiri!!" Riko menjawab dengan nada putus asa.


"Tidak Jhon, aku akan mempertahankan hubungan pernikahanku dengan Sania, aku akan mengakhiri pernikahan kami kecuali salah satu dari kami dipisahkan dengan sebuah kata, MATI...!!"


Ucapan terakhir Riko merupakan sebuah keputusan mutlak yang tidak bisa diubah lagi.


Pria yang dulu cengeng dan suka bersikap ugal-ugalan tetapi semenjak dia menikah dan punya anak, mampu mengubahnya menjadi seorang pria dewasa yang matang baik dari segi perbuatan dan cara berpikirnya.


Itu juga diakui oleh Johan. Seandainya tuan besarnya tau tentang bagaimana perubahan putranya semenjak dia menikahi janda cantik yang usia mereka terpaut jauh tetapi bukan merupakan penghalang bagi Riko dan Sania untuk saling mencintai satu dengan yang lain.


Seandainya dia memberikan restu untuk anak dan menantunya itu bersatu, akan dia lihat bagaimana hangat dan ramahnya seorang Sania, betapa keibuan dan lemah lembutnya dia, bukan hanya dikaruniai wajah yang cantik tetapi juga hati yang cantik dan baik.


Nyonya besarnya saja dibuat menyerah dengan sikap keras Riko saat mempertahankan pernikahannya padahal baru 2 hari dia bertemu dan berkumpul dengan menantu dan cucunya itu.


Keluarga Sania adalah keluarga yang sangat hangat. Terutama saat Johan sering memperhatikan wanita cantik yang selalu mendampingi Sania walaupun dia tidak secantik Sania, tetapi Johan tau wanita itu mempunyai hati yang baik pula.


Tetapi sayang, tuan besarnya sudah tertutup mata dan hatinya pada keberadaan sahabatnya dan putrinya yang bernama Afifah itu.


Tuan Baskoro masih memberikan kebebasan kepada Riko untuk pulang pergi ke Indonesia, itupun karena ancaman nyonya besarnya untuk bunuh diri jika dia menyakiti hati putranya, Riko.


Tetapi tentu dengan pengawasan dari Johan. Dan Johan sendiri bukanlah orang bodoh. Kesetiaannya pada tuan muda dan nyonya Intan Anggraini ibu majikannya itu memang tak bisa diragukan lagi.


Dia memang memberikan laporan kepada pak Baskoro tetapi jika menyangkut tentang pertemuan Riko dan Sania, dia tutup mulut dan tak memberikan laporan apapun.


Entah mungkin Riko yang sedang apes di hari itu dan Johan juga luput mengawasi keadaan atau memang tak menyangka sama sekali jika Afifah akan datang ke Indonesia karena dia juga memiliki keluarga di kota Balikpapan ini.


Kota ini tak terlalu luas, sehingga dia melihat Riko dan Sania bergandengan mesra sambil menggendong Raftar di pusat perbelanjaan sedang berbelanja banyak keperluan istri dan anak-anaknya.


Otomatis Afifah yang semenjak kecil menyukai teman kecilnya itu dan meminta bantuan ayahnya untuk melanjutkan kebersamaan mereka sampai ke jenjang pernikahan, menjadi sangat murka.


Dia sangat kecewa mendengar Riko sudah menikah, lalu kembali bersemangat lagi saat tau ayah Riko tak merestui pernikahan dengan wanita yang katanya jauh lebih tua dari Riko itu.


Afifah sampai rela mengikuti Riko sampai ke Indonesia untuk memata-matai langsung kegiatan Riko di Indonesia.


*


*


***Bersambung...


Ada hubungan apa sebenarnya antara Riko dan Afifah?? lalu bagaimana kelanjutan hubungan pernikahan Riko dan Sania??

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya guys...dukungan kalian untuk author receh iniπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™


__ADS_2