
"Kenapa juga ponsel sialan itu bisa tertinggal sih? Pantas aja tadi kucari-cari ngga ada!! Bikin malu saja lho tuh ponsel!! Batin Sultan kesal.
"Sana setelah makan pergi ambil ponselmu yang tertinggal, siapa tau ada pesan penting yang masuk di ponselmu itu."Mas nya buka suara.
"Bikin malu...bikin malu!!" Sultan terus menggerutu karena kelalaiannya.
*
*
"Rumah jadi teramat sepi ya, yah? Biasanya ramai dengan suara anak-anak. Niko duduk bersama Jonathan di teras depan.
"Assalamualaikum!!"
"Waalaikum salam!!" Jawab Niko dan Jonathan bersamaan.
"Maaf, apakah ini dengan saudara Niko dan bapak Jonathan?" Ucap si tamu.
"Iya benar sekali, jika boleh tau kalian siapa ya?" Tanya Jonathan.
"Oh...pak Jonathan mungkin lupa dengan kami, saya Theo asisten almarhum pak Miko...dan ini dengan pengacaranya pak Miko, bapak Gilang Ramadhan!! Tadi kami ketoko bunga kalian, tapi kata toko sebelah, kalian sudah pindah kemari." Theo memberi penjelasan.
"Iya kami memang diminta istri almarhum untuk tinggal di sini, karena dia takut selalu teringat kenangan bersama suaminya." Kata Jonathan.
"Mari...mari silakan duduk dulu!! Sampai lupa untuk mempersilahkan duduk, bapak-bapak sekalian mau minum apa?" Tawar Jonathan.
"Tidak usah repot-repot pak, kami hanya sebentar kok!!" Ucap pengacara Miko.
"Iya saya mengerti pak, memang berat bagi ibu Sania...apalagi mereka sudah setahun berpisah, lalu berkumpul lagi tapi Allah berkehendak lain, akhirnya mereka kembali berpisah." Jelas Theo.
"Mereka sempat setahun berpisah?" Tanya Niko sambil mengerutkan dahinya.
"Benar pak Niko, bahkan mereka nyaris bercerai...itu terjadi pada saat ibu Sania tengah mengandung sikembar." Theo menerawang kembali pada kejadian itu.
"Karena apa?" Tanya Jonathan lagi.
"Biasa pak, masalah orang ketiga...dan ibu tidak sanggup menerimanya lalu membawa anak-anaknya pergi dari rumah ini." Kata Theo.
"Dan semenjak ibu pergi, pak Miko sering stres dan akhirnya sakit-sakitan." Lanjut Theo.
__ADS_1
"Ya sudahlah pak, itu sudah berlalu...sekarang kami kemari ingin menyampaikan wasiat dari.almarhum." Pengacara Gilang buka suara.
"Begini pak, sebelum meninggal pak Miko sudah membagi warisannya!! 50 persen tentu untuk istri dan anak-anaknya, 40 persen untuk ayah dan saudara kembarnya yaitu anda dan pak Jonathan...lalu yang 10 persen untuk bibi yang telah setia selama belasan tahun menemani almarhum." Jelas Pengacara Gilang.
Akhirnya setelah kesepakatan di tanda tangani, mereka pamit untuk pulang.
"Yah, jika Niko bisa memilih...Niko tak ingin harta ini, Niko hanya ingin kita semua bisa bersama lagi."
"Ya sudahlah Niko, mungkin Allah sudah menggariskan ini jalan yang harus kita lalui." Kata Jonathan.
"Kita bisa pakai uang tersebut untuk memperluas usaha kita Niko, kita akan ajak Sania untuk terlibat di dalam usaha kita!! Dari pada dia harus bekerja di kafe milik Sultan, mending dia bersama kita mengembangkan usaha kita yang mulai ramai ini."
"Ayah juga sudah mulai kewalahan dengan banyaknya pesanan yang datang, alhamdulillah kamu sudah bisa melihat lagi jadi bisa membantu ayah...apalagi jika Sania mau membantu." Ucap Jonathan.
"Sebaiknya besok ayah segera membujuknya, Niko rasanya tak tega melihat mereka tinggal jauh dari pengawasan kita." Jawab Niko.
Jonathan menatap lekat-lekat wajah putranya.
"Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dan ayah tak tau, Niko? Tampaknya kamu sangat khawatir sekali dengan iparmu itu?" Jonathan menatap intens putranya.
"Kekhawatiran Niko kan beralasan, yah!! Kasihan mereka jika tinggal jauh dari kita." Jawab Niko.
"Lagian nampaknya Sultan itu menaruh hati pada iparmu itu, Niko!!" Ucap Jonathan.
"Ah, ayah...Sania kan baru saja di tinggal oleh Miko, belum ada seribu hari Miko meninggal masa dia sudah tertarik dengan laki-laki lain lagi?" Sungut Niko.
"Kan ngga masalah Niko, dari pada dia hidup sendiri mengurus lima orang anaknya...lebih baik dia menikah lagi!! Lagian ayah lihat Sultan itu sangat sayang padanya dan anak-anak."
"Ngga...ngga boleh, kalau hanya untuk membiayai istri dan para keponakanku...Niko yang akan berusaha membiayai mereka, Niko kan ipar dan paman mereka jadi Nikolah yang harus bertanggung jawab pada mereka!! Mengapa juga harus melibatkan Sultan yang orang luar?"
"Semangat dan berapi-api sekali ucapanmu, Niko?" Kata Jonathan sambil tersenyum penuh arti pada putranya itu.
"Semoga ucapanmu tulus dari hati, bukan karena ada embel-embel lainnya." Jonathan masih tersenyum sambil bicara.
"Ayah mau masak makan malam buat kita dulu, Niko...bibikan sekarang hanya pagi sampai sore aja di sini selebihnya bibi pulang ke rumahnya."
"Tadikan bibi sudah meninggalkan makan malam untuk kita, yah? Memang ayah mau makan apa sampai harus memasak lagi?" Tanya Niko yang melihat ayahnya berdiri dan beranjak ke dapur.
"Ayah kepengen makan nasi goreng dingin-dingin begini, kamu di sini saja biar ayah yang buatkan." Lalu Jonathan meninggalkan Niko yang duduk termenung sendiri.
__ADS_1
"Memang salah ya jika aku khawatir pada ipar dan para keponakanku? Apa kekhawatiranku pada mereka berlebihan ya?" Niko bergumam sendiri.
"Sedang apa kalian di sana? Rumah sepi tanpa kalian!!" Niko menatap langit malam yang di selimuti mendung.
"Waduh...." Niko hampir terjengkang dari duduknya saat memandang ke langit gelap!!
"Kok tiba-tiba ada senyum Sania di sana ya? Wah...error kayaknya otakku ini? Jangan-jangan ada yang geser dari tempatnya." Gumam Niko.
Huaaaaa....Niko kembali terpekik saat Jonathan tiba-tiba menepuk pundaknya. Sekarang tanpa ampun dia benar-benar terjengkang dari kursi yang didudukinya.
"Apaan sih yah? Bikin Niko kaget aja?" Niko bangun dari jatuhnya sambil meringis memegang pinggangnya.
"Kamu yang apaan? Ayah lho cuma menepuk pelan aja, mau mengajak kamu makan? Kok kaget sampai segitunya? Seperti habis liat setan aja!!" Jonathan menggerutu sambil membantu Niko berdiri.
"Lagian kamu melamunkan apa? Kagetmu itu lebay tau?" Jonathan menarik telinga putranya.
"Ya sudah, kita makan aja dulu...ayah malah jadi lapar melihatmu begini!!"
Sementara itu....
Uhuk...uhuk....
Sania batuk-batuk saat menelan makanannya.
"Hati-hati bun!! Awas keselek sendok, repot kita nanti jadinya." Tegur Dina
"Aduh...ngga tau nih, kok tiba-tiba ngga ada angin ngga ada hujan kok keselek begini?" Gerutu Sania.
"Kayaknya bunda lagi diingat sama seseorang deh!! Bisa jadi malah dirindukan." Kata Dina tersenyum menggoda bundanya
Setelah meneguk air yang disodorkan Juned sampai setengahnya, barulah dia berhenti batuk.
"Kamu dapat mitos darimana lagi kalau pas makan terus keselek itu sedang dirindukan seseorang?" Tanya Nia.
*****
***Bersambung....
*****
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak ya!! Like, komen, vote, favorit, dan rate nya....terima kasih😊😊🙏🙏🙏