
"Kelamaan ceramahnya mah...sudah di ubun-ubun nih...atas nyesek bawah lebih nyesek lagi..."
Sania hanya bisa meringis membayangkan apa kelanjutan nasibnya di tangan suami berondongnya itu.
Ditambah lagi cuaca di luar mulai mendung menggantung tebal di angkasa. Angin bertiup menjadi bertambah dingin.
"Mah, sudah siapkan?" tanya Riko sambil senyum-senyum.
Tanpa menunggu aba-aba persetujuan, dia mendorong pintu dan menguncinya dan mendorong tubuh istrinya itu ketempat tidur.
*
*
"Mengapa kamu tidak masuk tadi Niko? mengapa hanya melihat dari kejauhan saja?" Jonathan duduk di teras di sampìng Niko.
"Niko tidak punya keberanian, yah!! Niko takut Sania akan mengusir Niko.."
Niko menyesap rokoknya dalam dan menghembuskan asapnya. Jonathan tau putranya tak pernah merokok seumur hidupnya, sekarang mungkin hatinya sedang risau dan galau hingga dia mengalihkan dirinya pada rokok itu.
"Kamu masih mencintainya?" tanya Jonathan hati-hati.
"Sangat ayah...Niko hampir gila rasanya jika membayangkan dia bersama baji*ngan kecil itu."
"Sania tak pernah memberi Niko kesempatan untuk menjelaskan semua, seandainya dia mau mendengarkan penjelasan Niko, akan Niko jelaskan akar dari permasalahan ini, yah!!"
"Sekarang dia sudah menikah dengan bocah itu, apakah itu memang pilihannya atau dia hanya melarikan semua permasalahannya dengan melangsungkan pernikahan gila ini?" Niko menghembuskan lagi asap rokok dari mulut dan kedua lubang hidungnya.
"Lalu apa bedanya denganmu, Niko? karena demi sebuah tanggung jawab maka kamu menikahi Maya walaupun kamu tidak mencintai dia, begitukan?" tanya Jonathan.
"Niko masih tak rela, ayah!! Juma sudah menceritakan semua kelakuan ibunya sehingga Samsuri meninggalkannya dulu."
"Makanya saat Maya bersikeras mau menjual penginapan itu dan mau pindah kemari, Niko tidak mengijinkannya."
"Tunggu saja sampai Niko mendapatkan bukti perselingkuhannya dengan laki-laki itu dan menangkap basah mereka berdua, maka Niko akan segera menceraikan Maya."
"Toh Juma anak kandung Niko sudah ada bersama Niko, sudah Niko usahakan untuk memberikannya kasih sayang dan kebahagiaan yang selama belasan tahun tidak dia dapatkan, yah!!"
"Kamu benar, nak!! sekarang Juma lah prioritas utamamu, sayangi dia...limpahkan dia seluruh kasih sayangmu yang tak pernah dia dapatkan semenjak dia dalam kandungan sampai dia menjelma menjadi remaja seperti sekarang." Jonathan menepuk bahu Niko untuk memberikan kekuatan padanya.
__ADS_1
Dari balik pintu, Juma mendengarkan percakapan ayah dan kakeknya itu. Dia sangat terharu mendengarnya. Dia sangat bahagia bisa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, dulu dia merasa sendirian dan kesepian tetapi sekarang tidak lagi.
"Terima kasih ya Allah, Engkau telah mempertemukanku dengan ayah kandungku, sehingga aku tidak merasa hidup sendirian lagi di dunia ini."
Juma tersenyum bahagia lalu masuk kembali ke kamarnya.
*
*
Sampai larut malam kedua insan berbeda generasi itu menyatukan diri. Seolah tak ada lelahnya Riko meminta lagi dan lagi.
"Sayang...apakah kamu lelah?" bisiknya ke telinga Sania yang sudah terbadai di tempat tidur.
"Iya, mamah lelah banget...maklum usia kita jauh berbeda, mamahkan sudah uzur..." jawab Sania terengah-engah sambil mengatur napasnya.
"Siapa bilang mamah sudah uzur? wajah cantik dan body yang masih bagus begini!! siapapun tak ada yang menyangka kalau mamah sudah punya anak 5!!" jawab Riko jujur sontak membuat wajah Sania merah merona.
Sifat malu-malu itulah yang membuat Riko gemas ingin melakukannya lagi dan lagi. Juniornya selalu tegak berdiri walaupun hanya mendengar suara desa*han istri nya itu.
"Kita istirahat dulu ya mah, ntar subuh sebelum sholat subuh lanjut olahraga dulu." jawab Riko disambut dengan bibir Sania yang mengerucut dan itu adalah sebuah kesalahan yang membuat junior sang suami bocilnya itu tegak kembali dan lagi-lagi menghunjamkan ke tubuhnya.
Riko sudah tertidur pulas sambil memeluknya dan diapun hampir tertidur saat ponselnya di atas nakas yang sudah dia silent itu bergetar.
Mata Sania yang mulai meredup jadi terang kembali.
Dia segera mengambil ponselnya dan mengecek siapa pengirim pesan.
Mata Sania membulat saat pesan masuk dari Niko dan Sofwan secara bersamaan.
Niko:
Assalamualaikum mantan terindah yang masih menetap di hati...selamat malam!!
Jika kamu sedang berdua dengannya jangan lupakan aku yang masih mengharap sedikit cinta darimu, ya💗💗
I still love you, Saniaku!!
Sofwan:
__ADS_1
Sayang...kamu sudah tidur? apakah kamu bahagia dengannya? aku tak rela rasanya melepaskanmu karena sejak dulu hingga kini aku merasa kamu masih menjadi milikku.
Sayang, jangan lupakan mantan suamimu yang sungguh tak berguna ini ya?? suami yang tak tau bagaimana menjaga permata yang telah dititipkan Allah padanya.
Selamat malam dan selamat tidur ya dekl!! semoga masih ada aku yang masuk kealam mimpimu.
Sania menghela napas kasar. Dia rasanya ingin marah pada dua pecundang ini, tapi apakah dengan meluapkan kemarahan semua permasalahan bisa terselesaikan?
Yang ada malah dua cecurut yang keras kepala ini menghiba-hiba memohon maaf panjang kali lebar kali tinggi yang membuatnya semakin jengah. Dia tak mau membuat Riko marah dan bertengkar dengan Niko dan Sofwan karena dia paham bagaimana sifat keras suaminya itu.
Dengan cepat dihapusnya pesan dari Niko dan Sofwan agar tak terbaca oleh Riko tanpa membalas chat dari mereka karena bagi Sania itu semua tak ada yang menguntungkan baginya malah membuat runyam suasana nantiya.
Akhirnya Sania memutuskan untuk tidur, apalagi dia merasa sangat lelah dengan aktivitasnya beberapa jam ini dengan suami tengilnya itu.
Sofwan dan Niko sama-sama tersenyum miris saat melihat whatsaap Sania yang sempat online menjadi offline kembali. Dia membaca pesan dari mereka tapi sama sekali tak berniat untuk membalasnya.
Dua pria yang berbeda tempat tinggal itu tapi sedang merasakan kegalauan yang sama. Sama-sama terpuruk dalam kesedihan dan kekecewaan.
Berbeda dengan Sultan yang jauh bisa lebih tabah, ikhlas dan bersifat menerima. Walaupun hatinya terluka sangat tetapi dia tetap mendoakan kebahagiaan untuk wanita tercintanya itu.
"Selamat berbahagia ya, Nia!! aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu."
Dia tersenyum walaupun terluka, berusaha ikhlas walau tak rela...
*
*
Pagi itu semua heboh. Mereka bersiap-siap pergi untuk menonton dan memberi semangat pertandingan final antara sekolah Dina yang diwakili oleh Dina dan SMA Parikesit yang di wakili oleh Angel yang tempo hari berniat mencelakai Dina.
"Kakak...kalau nanti menang, jangan lupa traktir Syifa dan Juned juga Miko dan Miki es krim ya!!" Syifa sudah mewanti-wanti kakaknya itu.
"Tenang adik-adikku sayang, kakak pasti ingat sama janji kok...kalian bantu doakan kakak aja ya biar berhasil dan pulang membawa kemenangan."
"Amiin!!!" jawab kami serempak.
*
*
__ADS_1
***Bersambung...
Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan ratenya ya!! terima kasih🙏🙏