
"Faisal, kamu sudah tau kalau wanita yang kamu setubuhi ini istri siri saya?"
Faisal mengangguk lalu menundukan kepalanya. Entah kenapa justru tatapan Miko yang tanpa kemarahan dan suaranya yang tenang, malah membuatnya menjadi takut dan ketar-ketir.
"Faisal, Alena ini bukan saja sebagai istri saya...tetapi sudah saya anggap seperti adik saya sendiri."
"Karena itulah saya tak bisa lagi melanjutkan pernikahan saya ini."
"Jujur awal saya menikahinya karena saya melaksanakan amanat dari paman saya yang adalah ayah Alena."
"Sementara posisi saya sendiri sudah mempunyai istri dan istri saya saat itu sedang dalam keadaan mengandung."
"Dengan saya menikahinya saja adalah sebuah kesalahan, dan dalam keadaan marah pada saat itu saya juga menidurinya."
"Tapi saya sadar, bagaimanapun saya mencobanya, saya tak akan pernah bisa mencintainya."
"Karena di hati saya hanya akan ada satu nama dan sampai matipun nama itu akan tetap terukir indah di dalam hati saya, yaitu istri saya sendiri."
"Alena, mulai detik ini abang menjatuhkan kata, abang telah menceraikanmu!! Pernikahan kita hanya sebatas pernikahan siri, kamu sekarang bebas menentukan hidupmu sendiri."
"Kamu tak usah khawatir, walaupun kita hanya menikah secara siri...abang bukanlah tipe laki-laki yang tak bertanggung jawab."
"Abang sudah membelikan sebuah rumah atas namamu sendiri dan sejumlah uang untuk modal masa depanmu."
Alena menangis tersedu-sedu dan bersimpuh di kaki Miko.
"Tolong jangan ceraikan Alena bang, Alena tau Alena salah!! Alena telah khilaf."
"Tapi apa yang telah Alena lakukan semuanya berawal dari sikap dingin abang pada Alena."
"Alena tak butuh semua harta itu, Alena hanya butuh abang."
Miko memegang pundak Alena dan mendudukannya di sofa.
"Justru itulah Alena, abang tak bisa mencintaimu seperti yang kamu inginkan!! Abang berdosa jika terus menerus mengabaikanmu seperti sekarang ini."
"Kamu bisa memulai hidup barumu, pilihlah laki-laki yang benar-benar tulus mencintaimu...mengertikah kau Alena?"
"Pergilah sekarang, ini kunci dan sertifikat rumahmu...bawalah mobil abang yang sering kamu gunakan untuk trasportasimu."
Alena tak bisa berkata apa-apa lagi. Justru perkataan Miko yang lemah lembut telah meluluhkan kekerasan hatinya.
Setelah kepergian Alena dan Faisal. Miko bersandar di sofa.
"Anda baik-baik saja bos?" Sapa Theo yang melihat Miko jadi terdiam dengan kepergian Alena dan Faisal.
"Saya baik-baik saja Theo, saya hanya berharap Alena bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini."
"Bi..bibi..."
Dengan tergopoh-gopoh bibi datang menghampiri majikannya.
"Mungkin dalam beberapa hari ini ibu dan anak-anak akan kembali kemari lagi, rumah dibersihkan ya, bi!!"
__ADS_1
"Siap pak, akan bibi laksanakan!!" Bibi tersenyum sumringah mendengar Sania dan anak-anak akan kembali ke rumah lagi.
Sementara itu...
"Aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku...aku akan menikahimu, Alena."
Alena masih diam tak merespon ucapan Faisal. Sungguh yang dia alami hari ini bagaikan mimpi. Dia telah diceraikan oleh Miko yang sangat dicintainya.
Sungguh tragis nasib kehidupannya. Dari Singapura dia ikut Miko karena kewajibannya sebagai seorang istri dan juga rasa cintanya yang begitu besar, tapi pada akhirnya dia harus berpisah dengan Miko di negara asing ini.
"Alena? Apakah kamu mendengarkanku?" Faisal mengulangi lagi perkataannya.
"Aku tau, kamu sangat mencintai Miko!! Tapi izinkan aku menggantikan posisinya di hatimu."
*
*
Miko pulang dengan diantar Theo. Aku menyambut kedatangannya.
"Ayah, apakah ayah baik-baik saja?"
"Ayah baik-baik saja bun, ayah lega sudah menyelesaikan masalah dengan Alena."
"Syukurlah ayah bisa menuruti saran bunda untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin."
"Bun, maukah bunda dan anak-anak balik ke rumah kita lagi?"
"Tak ada bunda dan anak-anak rumah terasa sepi. Taman yang kita buat bersama dulu tanamannya layu semua."
"Dasar gombal..." Aku mencubit pinggang Miko.
"Lho memang kenyataannya hati ayah layu semenjak bunda tiada di rumah lagi."
"Ya sudah nanti kita bicarakan lagi, sekarang ayo masuk...bunda buatkan teh hangat dulu buat ayah ya!!"
Sepeninggal Sania ke dapur, Miko duduk di ruang tamu sambil memandang ke dua anak kembarnya yang mulai belajar membolak balikkan badannya.
"Tuhan, berikanlah aku umur yang panjang, agar aku bisa lebih lama berkumpul dengan keluargaku."
"Izinkan aku melanjutkan mimpi Sania dan Sofwan dulu untuk bisa melihat anak-anak tumbuh besar dan dewasa."
"Dulu dia pernah berangan-angan demikian, walaupun angan hanyalah tinggal harapan...semoga aku masih mampu mendampinginya untuk mewujudkan semua mimpi dan harapannya itu."
"Hayo...ayah memikirkan apa? Jangan terlalu serius berpikir, nanti ayah sakit lagi."
"Ayah hanya berpikir untuk bisa hidup lebih lama dan bisa menua bersama bunda."
"Berdoalah minta kepada yang Kuasa, yah...semoga Allah SWT akan mendengar dan mengabulkan setiap doa-doa terbaik dari hambaNya.
"Sepertinya Miko dan Miki kesal yah, dari tadi bolak-balik belum juga bisa tengkurap sendiri."
"Eh lihat, nah...Miki sudah bisa tengkurap sendiri..." Miko berteriak kegirangan.
__ADS_1
"Ayo Miko junior...jangan mau kalah sama saudaramu...nah..nah...kok malah nangis sih!!"
"Cup..cup...nak..." Miko mengangkat anaknya!!"
"Jadi laki-laki itu kudu sabar, leh...lihat ayahmu, dengan kesabaran akhirnya bisa mendapatkan cinta bundamu kembali."
Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan Miko.
*
*
"Bu, coba perhatikan adik iparmu itu!!"
Tini mengikuti saran suaminya untuk memperhatikan Sultan yang sedang termenung di depan laptopnya.
"Apa yang harus ibu perhatikan sih, yah? Perasaan mukanya Sultan ngga berubah deh, ya begitu-begitu aja."
"Ishhh...bukan mukanya Sultan, bu....tapi sikapnya!!"
"Ya ngomong dong sikapnya, jangan hanya suruh ibu perhatikan aja, kan ibu bingung jadinya."
"Semenjak Sania rujuk kembali dengan suaminya, dan tidak bekerja lagi di kafe, Sultan semakin sering melamun." Kata Tini.
"Itulah yang ayah takutkan dulu kalau Sultan ngikutin saran sesatnya ibu...mencintai kok mencintai istrinya orang...sakitkan akhirnya!!"
"Sana...hibur dia yah, ngga tega ibu ngeliatnya murung terus begitu!!"
"Sultan...opo koe rapopo leh?"
Sultan menoleh kepada kakaknya. "Kulo mboten nopo-nopo, mas..."
"Kamu masih memikirkan Sania kan? Sudah tho...ikhlaskan dia bahagia!!"
"Selama ini dia dan anak-anaknya sudah begitu banyak menderita, Sultan...mungkin sekarang saatnya dia bahagia."
"Sakit ya mas, mencintai sesuatu dalam diam!! Lebih sakit lagi mencintainya tapi tak bisa memilikinya."
"Oalah le...le...mencintai itu tak harus memiliki kan?"
Sultan menunduk lesu memainkan pulpen di tangannya.
"Sultan terlanjur suka mas, yang awalnya hanya kasihan lalu jadi suka terus jadi semakin sayang padanya."
"Sultan selalu mendampinginya dari dia hamil sampai dia melahirkan bahkan sampai mengadzani si kembar di rumah sakit."
"Sekarang dia sudah kembali kepada yang semestinya memiliki dia, Sultan."
"Tak ada jalan lain yang dapat kamu lakukan selain mengikhlaskan dia."
***Bersambung....
Aduh...author kok ikut baper sama nasib cintanya Sultan ya...sakit emang rasanya mencintai yang tak semestinya kita cintai.
__ADS_1
Happy weekend guys...happy readingđź’—đź’—jangan lupa tekan like, komen, vote, favorit dan rate nya, ya!!!