Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 224 Bukanlah Mimpi


__ADS_3

Setelah itu tak lama sosok itu pergi kearah pintu, membuka pintu lalu pergi entah kemana.


Aku mengerjapkan mataku di tempat tidur berulang kali mencoba mengumpulkan ingatanku pada mimpiku barusan.


"Mimpiku kok seperti kenyataan ya???" pikirku.


Sementara di tempat lain...


Riko duduk di bangku taman rumah sakit. Dia duduk termenung di sana. Apa yang dilihat oleh Sania itu sebenarnya bukan mimpi, Riko benar-benar datang dan menjenguk istrinya itu.


"Maafkan papah ya mah...papah hanya bisa pulang sebentar untuk menjenguk mamah...bagaimana kabar anak kita sekarang, mah?? pasti sekarang sudah bisa tengkurap ya!!"


"Ingin sekali papah memeluk kalian berdua tapi papah takut akan ancaman ayah waktu itu..."


***Flashback***


"Dengar Riko...ayah sampai kapanpun tak akan pernah merestui hubungan kalian berdua, jika kamu masih ngotot silakan saja tapi jangan harap keluargamu itu akan bisa melihat matahari esok pagi, kamu pahamkan!!"


"Ayah bisa melakukan apapun tanpa tersentuh oleh hukum, jadi jangankan hanya menyingkirkan istrimu yang tak berguna itu, melakukan hal lain yang lebih ekstrempun ayah bisa..."


"Turuti kemauan ayah tanpa melibatkan ibumu dan ayah janji sesekali kamu boleh menengok keluargamu di Indonesia tanpa mereka harus tau kamu siapa!!"


"Ayah tidak lagi mau memaksakan keinginan ayah untuk menikahkan kamu dengan Afifah karena ayah menghargai ibumu."


Riko tak peduli dengan dirinya sendiri, tapi Riko peduli dengan keselamatan keluarganya di Indonesia.


Malam itu secara tak sengaja dia melihat kak Della keluar dari rumah dengan menggunakan taxi online.


Sesaat Riko bimbang mau mengikuti kak Della atau msu mengintip ke dalam rumah, entah mengapa perasaannya membawa dia mengikuti Della sampai ke rumah sakit.


Hatinya semakin tak menentu saat mengetahui istrinya tergeletak tak berdaya di kamar rumah sakit.


Silih berganti tamu yang datang dengan sabar ditunggu oleh Riko hingga pukul 2 dini hari di saat semua terlelap dia menyelinap masuk ke kamar dan mendapati istrinya sedang tertidur dan kak Della tertidur di sofa.


"Sayang...aku sangat merindukanmu dan anak-anak!!" hanya air matanya saja yang jatuh berderai bahkan ada yang menetes ke pipi Sania.


Dia cepat-cepat keluar dari kamar saat istrinya bereaksi merasakan tetesan air yang jatuh di pipinya.


Ternyata yang dilihat Sania bukanlah mimpi tapi memang Riko yang datang menjenguknya.


***Flashback on***


Dengan setengah menyeret langkahnya Sania keluar dari kamar sambil membawa tiang infusan di tangan kirinya.

__ADS_1


Dia mencari-cari keberadaan Riko tersebut.


Riko bukannya pergi, dia bersembunyi dulu di balik tembok dengan jantungnya yang berdegup kencang antara kerinduan dan takut ketauan.


Sania celingukan memandang kearah kegelapan dan temaram lampu di sepanjang koridor rumah sakit itu.


"Mungkin tadi memang hanya perasaanku saja!! " batin Sania dengan perasaan sedih.


"Lagi pula Riko sekarang sudah meninggal, mana mungkin dia datang lagi ke sini!!"


Lama Sania berdiri termenung di dekat jendela kamarnya sampai seseorang menyapanya.


"Kok di sini? ayo masuk!!" kak Della yang terbangun dan tak mendapati Sania di mana-mana mencoba mencari Sania di luar ruangan dan benar saja dia ada di sana tengah berdiri mematung memandang kegelapan.


Saat Sania masuk kembali, Riko menarik napas lega. Dia tadi takut kepergok oleh Sania.


Seandainya 5 menit saja lagi Sania masih berdiri di sana mungkin Riko akan keluar dari tempat persembunyiannya dan memeluk wanita yang dikasihinya yang sudah hampir setahun tidak lagi dijumpainya itu.


"Maafkan papah ya mah...ini semua papah lakukan demi keselamatan mamah dan anak-anak, karena papah tau ayah papah tidak pernah main-main saat berbicara."


"Papah akan selalu memantau mamah lewat orang kepercayaan papah tanpa ada seorangpun yang tau termasuk ayah!!" tekad Riko.


"Besok urusan bisnis di Indonesia sudah selesai, aku harus segera kembali ke Malaysia!!"


"Berat rasanya meninggalkan tempat ini, walau sesekali aku masih bisa menjenguk anak dan istriku!!" gumam Riko.


Riko memandang dari kejauhan, dilihatnya si kembar Miko dan Miki sedang bermain kejar-kejaran dengan Juned dan Syifa. Lalu sosok mungil yang digendong oleh Dina? bayi itukah putranya?"


Bayi laki-laki yang berusia kurang lebih 4 bulan itu begitu gembul, lucu dan menggemaskan dengan rambut ikalnya yang mirip dengannya.


"Siapa itu? itukan Sofwan? mau apa dia di sana? apa mereka sudah kembali bersama? tidak...mamah tidak semudah itu melupakan aku suaminya sendiri, Sofwan hanya mantan suami yang telah menyakitinya." Gumam Riko dengan geram.


Jika tidak mengingat perjanjian dengan ayahnya, sudah disamperinya Sofwan dan tentu saja sudah di hadiahinya bogem mentah, tapi sekarang dia harus bisa menahan diri terlebih dahulu.


"Papah memang akan kembali ke Malaysia, mah...tapi mata-mata papah akan di sini untuk mengawasimu dan sekalian juga akan menjaga kalian semua."


"Awas kamu Sofwan, jangan kamu sentuh istriku!!" tangan Riko terkepal dengan erat menahan kecemburuannya.


"Kak Dina, kakak liat orang yang berjaket hodie dan bermasker yang berdiri di bawah pohon angkasia itu?" tanya Juned sambil menunjuk dengan bibirnya.


"Tingkahnya mencurigakan sekali ya??? seolah-olah dia sedang memata-matai rumah ini!!" kata Juned lagi.


"Aishhh Juned...kamu tuh keseringan nonton film detektif Conan sih...bisa aja dia lagi nunggu temannya atau siapanya!!" kata Dina.

__ADS_1


"Tapi Juned seperti pernah melihat bentuk tubuh tinggi tegap seperti itu tapi siapa ya??" tanya Juned lagi.


"Ayah Miko, om Niko, kalau bapak dan om Sultan almarhum tidak setinggi itu, atau???"


"Atau papah Riko? tapi lebih tidak mungkin lagi, papah Riko kan juga sudah meninggal!!"


Saat Dina dan Juned asyik berdebat, Riko menyelinap pergi dari tempat itu.


"Kak Dina sih...lihat, orang yang mencurigakan itu sudah lenyap ngga tau kemana!!" kata Juned sambil menatap kesal pada kakaknya.


"Sudahlah...ajak si kembar masuk, tampaknya hari akan turun hujan....kakak mau menidurkan Raftar terlebih dahulu


"Kak, kapan cih...unda puyang ke lumah!!" kata Miko, sebab dialah yang paling dekat dengan Sania .


"Miko sabal ya... "unda pasti puyang kok!!" kata Miki.


"Miko kangen unda...huwa...huwa..." Miko mulai menangis keras.


"Lho anaknya ayah Niko kenapa menangis??"


Niko yang baru datang berboncengan dengan Juma turun dari motor dengan tergesa-gesa menghampiri dua ponakan yang sudah dia anggap sebagai putranya sendiri itu.


"Cup...cup...sayang Miko kenapa menangis?" kata Niko sambil berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Miko.


""Kata Miko, dia kangen sama unda yah...kapan unda puyang sih yah??" tanya Miki lagi.


"Kalau Miko sama Miki ngga nakal besok unda akan pulang, oke!!"


"Benel yah?? kalau begitu Miko sama Miki janji ngga akan nakal lagi!!" kata mereka kompak.


"Good boys..." Niko memeluk dua ponakan kecilnya itu dan menciumi mereka.


"Ayah bawa apa?" tanya Miki melihat pada bungkusan yang dibawa Niko.


"Ayah bawa nasi goreng, tante Della pasti ngga sempat masak kan?" kata Niko.


"Om Sultan seling bawain kita nasi goleng tapi sekalang om Sultan ngga pelnah datang ke sini lagi, apa om Sultan malah sama Miko kalena Miko cengeng ya!!" kata Miki.


Hati Niko menangis melihat kepolosan dua ponakan kecilnya yang sama sekali tak mengerti bahwa Sultan telah pergi dan tak mungkin akan kembali lagi.


*


*

__ADS_1


*** Bersambung...


Dukungannya selalu ya readers...like, komen, vote, favorit, dan ratenya...terima kasih🙏🙏


__ADS_2