
"Sultan...makan dulu...kamu ini mau diet atau menyiksa diri?"
"Nanti aja, kak...Sultan belum lapar."
"Kok belum lapar...mulai kemarin kamu tuh, ngga ada makan sama sekali."
Terdengar langkah dari dalam kamar membukakan pintu.
"Sultan belum lapar kak..." Dia menongolkan kepalanya dari dalam.
"Masya Allah, leh....kalau mas mu tau disangka mbakyu kamu ini yang ngga memberimu makan."
"Ayo makan sana, kakak masak lebih...sekalian bawakan nanti buat Sania, ya!!"
"Tolong jangan Sultan kak...Sultan ngga mau menginjakkan kaki ke sana."
"Miko itu pulang ke rumah istri mudanya...kan kamu sendiri liat dan bilang tadi pagi."
"Leh...kakak tau, kamu suka bahkan mungkin awalnya kamu kasihan sekarang malah tumbuh perasaan cinta dan sayang pada Sania."
"Sultan, ingat...tak selamanya mencintai harus memiliki...terkadang kita mesti berdamai dengan hati, untuk mengikhlaskan sesuatu."
"Jika dia memang di takdirkan sebagai jodohmu...bagai manapun kalian saling menjauh, akhirnya akan didekatkan juga oleh Gusti Allah."
"Tetapi jika kalian tidak berjodoh...mau dekat bagai manapun ataupun kamu paksakan, tak akan pernah bersatu."
"Sekarang kamu makan dulu, lekas antarkan makanan ini buat Sania dan anak-anaknya."
Akhirnya dengan terpaksa dia makan juga. Tini hanya menarik napas sedih melihat keadaan adik iparnya itu.
"Kasihan kamu, leh...terkadang cinta itu datang tidak pada tempatnya....tak kenal waktu dan usia, sekarang kamu diuji dengan diberikannya cinta yang tak bisa kamu miliki."
"Ini rantang nasi, sayur dan lauknya ya, Sultan."
"Nggeh kak...Sultan pergi dulu ya, Assalamualaikum."
Aku membatin. "Beberapa hari kemarin, dia sangat bersemangat jika disuruh mengantar sesuatu ke sana, sekarang malah seperti ngga punya gairah hidup sama sekali."
*
*
"Assalamualaikum...."
"Waalaikum salam....eh om Sultan, masuk yuk...bunda lagi buat gorengan bakwan dan tahu isi di dalam."
Dina langsung menarik tangan Sultan untuk masuk tanpa sempat dia cegah lagi.
"Eh, Sultan...duduklah...saya lagi buat gorengan, kamu makanlah dulu."
"Dina ambilkan om Sultan gorengan yang di piring itu sekalian sambalnya, ya!!"
__ADS_1
"Mbak...saya ngga enak, nanti tiba-tiba muncul suaminya mba Sania, disangka saya mau berbuat yang tidak-tidak lagi."
"Mau berbuat apa? Kamu loh, bos ku di kafe... terus di sini juga ada anak-anak...gila aja kalau Miko menuduhmu begitu."
"Sudah...ayo makan rame-rame mumpung masih panas...Dina ambilkan sekalian air putih dinginnya, ya!!"
Kami berempat makan sambil bersenda gurau. Aku mengambil bakwan yang juga akan diambil oleh Sultan.
"Ehem...ehem..." Dina berdehem kecil. "Bakwannya masih banyak lho...kok satu bakwan direbutin berdua, sih?"
Aku dan Sultan sama-sama melepaskannya. Kulihat wajah Sultan memerah.
"Hayo bunda tanggung jawab...wajah om Sultan melepuh, tuh!!!" Dina kembali menggoda.
"Melepuh dali mananya kak Dina? Wajah om Sultan bukan melepuh tapi melah kalena kepedesan." Juned nyeletuk.
"Hei...om Sultannya jangan digangguin, ntar ditinggal om Sultan pulang lho..." Aku berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba kaku.
"Yah...om Sultan jangan pulang, dong!! Kita di sini kesepian om...bapak Sofwan ada di Yogya sama istli balunya...ayah Miko sudah sama istli balunya juga...jadi bunda dan kami di sini kesepian." Syifa yang diam tiba-tiba merengek.
"Syifa..." Kataku!!
"Tapi Syifa betulkan bun...Syifa seling liat bunda nangis sendilian kalau malam kami sudah tidul semua."
Sultan tercekat mendengar penuturan Syifa yang menyayat hati. Seorang anak kecil seperti Syifa aja tau, bagaimana kepedihan yang selalu dipendam oleh ibunya. Tapi mengapa para lelaki jahanam itu seolah buta mata dan hatinya?"
Sultan menatap wanita yang duduk di depannya. Wajah itu kembali diselimuti mendung.
"Syifa ngga usah takut, om akan tetap di sini kok!!! Sultan menghibur Syifa.
"Janji..." Jawab Sultan sambil balas mengacungkan kelingkingnya pula.
Sultan mengalihkan pembicaraannya. "Jangan lupa nanti jam 16.00 sudah ada di kafe ya, mba!!"
"Terus Dina selama libur ini mau menyanyi setiap harikah?"
"Mau om...lumayan uangnya untuk beli buku pelajaran nanti, hitung-hitung meringankan bebannya bunda."
Sultan menggeram dalam hati, "Jika kamu lepaskan dia, akan kuterima dia dengan senang hati, Miko."
"Kau pungut tembaga tapi kau buang permata...suatu hari kelak, penyesalanlah yang akan kamu dapatkan."
"Oh iya lupa, sebentar ku pindahkan dulu makanan yang di dalam rantang, ya!!!" Aku lalu bergegas ke dapur.
"Sampaikan terima kasih saya ke Tini ya, Sultan!!"
"Tentu mba...ya sudah saya permisi dulu ya, kita ketemu lagi di kafe ntar sore."
Setelah Sultan berlalu, kembali lagi rumah
terasa sepi. Dina asyik latihan bernyanyi dengan gitarnya, sementara Syifa dan Juned nonton televisi.
__ADS_1
Aku masih duduk dibale-bale bambu di teras rumah. Bale-bale yang tempo hari dibuatkan Sultan untuk duduk santai di teras.
Entah kenapa memasuki bulan kelima kehamilanku ini, tubuhku terasa cepat sekali lelah. Mungkin karena usia sudah tidak muda lagi.
Dua minggu lalu Sultanlah yang mengantarku untuk mengecek kondisi kandunganku.
Aku masih duduk termenung. Sebelum kedatangan Miko kemarin ke rumah ini, rumah terasa lebih tenang, tapi sekarang? Kembali aku merasa tertekan lagi.
Di satu sisi aku merasa senang dia masih mengingatku. Tapi di sisi lain ada semacam kebencian yang menyeruak masuk di hatiku. Mengingat semua yang telah terjadi.
Mungkin seandainya kami masih di takdirkan untuk bersama, keadaanlah yang tidak lagi sama seperti dulu. Ibarat tali yang sudah terputus...walaupun disambung, tak akan bisa utuh kembali.
Sekarang ini aku hanya mencoba berdamai dengan hatiku. Aku berusaha meredam kemarahan, kebencian dan dendam di hatiku.
Aku sudah tak peduli, ada atau pun tidak ada Miko di kehidupanku, waktu akan tetap terus berjalan.
Hanya kenangan masa lalu sajalah yang akan tertinggal dan selanjutnya akan terkubur bersama waktu.
Terus terang aku merasa sangat lelah. Lelah dengan semua yang terjadi dalam hidupku.
"Bun..." Suara Dina mengagetkan lamunanku.
"Jangan terlalu sering melamun, bun...kasihan adik bayi, jika bunda terus menerus sedih dan tertekan seperti ini."
"Kita sholat dzuhur aja dulu yuk...setelah itu bunda istirahat, ntar sore sampai malam kerja lagi."
*
*
"Sultan, kamu ke kafe jam berapa?" Tini menegur Sultan yang sedang melamun di teras.
"Koe ini leh...melamun aja kerjamu, kakak jadi kasihan melihatmu begini."
"Nanti jam setengah 4 kak, sekalian mau ngecek stok barang di dapur."
"Sudah...kamu fokus aja ngurus kafemu...apalagi kakak liat semenjak beberapa hari ini ramai terus.'
"Iya kak, apalagi semenjak Dina nyanyi di sana."
"Coba sesekali kamu minta Nia menyanyi, dia punya suara yang bagus!!"
"Dari mana Dina mempunyai bakat menyanyi kalau bukan diturunkan dari orang tuanya?"
"Supaya Sania merasa terhibur, mungkin dengan menyanyi dia bisa menumpahkan semua rasa gundah di hatinya."
"Iyo Sultan...jangan koyok mbakyu kamu iku...iso ne cuma nyanyi cicak-cicak di dinding...sudah itu sumbang lagi suaranya."
Tini mendelik ke arah suaminya yang baru selesai mandi.
"Nah...nah...matanya sudah mendelik ke mas, awas aja sebentar lagi pasti kakak akan mengamuk....Sultan ngga ikut-ikutan ah..." Sultan langsung lari masuk meninggalkan mereka.
__ADS_1
***Bersambung....
Happy reading💖💖 selalu minta dukungannya ya...like, komen, vote dan favoritnya....terima kasih🙏🙏