Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 203 Drama


__ADS_3

"Seharusnya aku yang saat ini duduk kembali di depan penghulu menikahi Sania dan berkumpul bersama lagi dengan anak-anak, bukannya bocah kemarin sore itu!!" Sofwan terus merutuki kebodohannya sendiri.


"Persetan dengan Vivi, yah...mungkin lebih baik aku menyendiri seorang diri di Batam ini!! aku ingin melupakan semua masa laluku, semoga aku bisa bangkit kembali dari keterpurukanku."


Sementara itu di kediaman Sania...


"Mah, kenapa ngga mau tinggal di rumah papah aja?" tanya Riko.


"Apa karena di sana ada Alena? mamah ngga usah khawatir, begitu bayinya lahir dia memang harus segera pergi karena itu memang bukan anakku.!!" kata Riko.


"Bukan begitu pah, mamah lebih nyaman tinggal di sini, suasananya sejuk dan adem!!" kata Sania.


"Senang ya dalam keadaan begini...pulang dari kerja disambut oleh istri tercinta, diramaikan oleh hiruk pikuk suara anak-anak..." kata Riko.


"Nanti papah bosan hari-hari denger suara berisik anak-anak terus!!" kataku.


"Ya nggalah mah, kayak papah ngga pernah jadi anak kecil aja dulu selalu merepotkan mamah!!" Riko jadi mesem...mesem mengingat kenangan masa kecilnya.


"Mah..."


Hmmmm...


"Mah..."


"Apa sih pah!! seperti mau mimik aja!!"


"Emang boleh mah?? Ini kan belum malam??" tanya Riko cengengesan.


"Dasar mesum!!" kataku."


"Apa...papah mau tanya apa?" kataku lagi.


"Dulu waktu papah masih kecilkan waktu di mandikan keliatan kecil banget tuh..."


"Apanya yang kecil? kalau bicara yang jelas tho!!" jawabku.


"Anu mah...anunya papah!!!" wajah Riko sudah merah padam karena menahan malu.


"Gitu aja malu, waktu telanjang bulat berduaan dengan Alena ngga ada malu-malunya!!" sindirku.


"Iihhh...mah, please jangan mengingatkan soal itu lagi...papah jijik mengingatnya!!" Riko tampak bergidik.


"Terus kalau dulu waktu masih kecil anunya juga kecil maksudnya sekarang tetap aja kecil, begitu?" godaku.


"Ya ngga lah mah, sekarang sudah berubah jadi gede...panjang...mamah mau liatkah sekalian kita coba mumpung anak-anak pada main di kamar??"


"Iishhh apaan sih?? mesum amat!!" aku melemparkan bantal ke wajahnya dengan kesal.

__ADS_1


Sementara Riko hanya tertawa mengekeh saja.


Tok...tok...tok


Pengantin baru keluar dulu jsngan mengurung diri di kamar aja, hari belum malam...kalian makan malam lah dulu biar kuat menghadapi agenda nanti malam!!"


Kak Della sudah berteriak dari luar pintu kamar.


Ceklek...Riko membuka pintu kamar.


"Iya kak, ini kita baru mau keluar...ayo sayang!!" ajak Riko.


Acara pernikahan sederhana sudah selesai mau menjelang maghrib tadi. Kini rumah kembali tenang tapi ambal masih digelar di ruang tamu.


"Wihhh kita makan lesehan di ruang tamu gini?? senangnya...seperti di sawah aja!! Kata Riko.


Kak Della memang menggelar makan malam di ruang tamu karena kursi di meja makan tidak cukup, kalau di ruang tamu gini semua bisa ikut makan bersama.


Riko memandang satu persatu wajah anak tirinya. Dia tersenyum melihat si kembar selalu rebutan minta di suapi.


"Mah...cepat punya anak ya!! biar tambah ramai kayak kesebelasan." bisiknya ketelingaku dan spontan membuatku merinding!!"


"Bocah ini!! bikin keki aja!!" gumamku.


"Bun, pah, tan...Dina memecah kebisuan setelah sekian lamanya diam.


"Tan...emang tante setan??" jawabnya lagi.


Spontan kami semua yang ada di ruangan itu tertawa geli mendengarnya!!"


"Gini lho semuanya...besok kan Dina itu mau tanding, Dina ingin bunda, tante dan papah Riko datang menyaksikan dan menyemangati Dina."


"Besok sudah masuk final ya, Din!!" tanya Sania pada putri tomboynya itu.


"Kita pasti datang kok Din, lagian papah ambil cuti kok untuk beberapa hari ini."


"Kenapa ambil cuti pah?" tanya Syifa nyeletuk.


"Papah sama bunda mau bikin dedek buat kalian!!" kata Riko santuy sementara Sania melotot horor kearahnya.


"Emang dedek bisa dibuat pakai tepung ya, pah??" tanya Syifa polos.


"Pah...kok ngomongnya gitu sih di depan anak-anak?" bisik Sania sambil menjewer telinga Riko.


Kakek Ubud, bisakah malam sehabis sholat Isya kita latihan kembali?" tanya Dina.


"Tentu Dina, perbanyaklah berlatih karena lawan-lawanmu di pertandingan final adalah siswa siswi terbaik dari sekolah lain dan mereka hebat-hebat." kakek Ubud menyemangati Dina.

__ADS_1


"Bun, doakan Dina menang ya...jika Dina menang hadiah pertama sepuluh juta rupiah itu, Dina akan berikan untuk membantu pengobatan bunda."


"Jangan Dina, biar papah Riko yang mencari pendonor tulang sum-sum yang cocok untuk bundamu...uangmu kamu tabung saja untuk biaya pendidikanmu nanti." Riko cepat memberi saran kepada anak tirinya itu.


"Papah Riko benar nak, walaupun uangnya ada tetapi jika pendonornya belum ditemukan, kita tak bisa berbuat apapun juga." Ucap Sania.


"Semoga cepat mendapatkannya ya, bun!! Dina ingin melihat bunda sembuh total seperti dulu, Dina dan adik-adik sayang banget sama bunda...kami ingin bunda segera sembuh."


"Terima kasih atas doa dan dukungannya , sayang....bunda juga sayang banget sama kalian semua!!"


Riko terharu mendengar ucapan istrinya itu yang terdengar pasrah dan menyerahkan seluruh hidupnya pada Yang Kuasa.


"Ya Allah, bantu hamba untuk menemukan pendonor itu untuk istri yang sangat hamba cintai, tetapi jika tidak dapat menemukan juga...ijinkan hamba untuk tetap selalu berada bersamanya di sisa akhir hidupnya!!" Riko membatin pilu dalam hati.


"Syifa sama bang Juned juga mau lihat kak Dina latihan, ya kek?? Rengek Syifa.


Akhirnya setelah membantu membereskan makan malam, kak Della membaws si kembar untuk bobo. Juned dan Syifa ikut kakek Ubud dan Dina latihan, sementara Riko dengan tidak sabar menarik tangan isterinya masuk ke kamar pengantin mereka.


"Sabar kenapa pah!!" ucap Sania.


"Aduhhh...sudah dari sore tadi papah itu sebenarnya kebelet mah!! mamahnya aja yang ngga peka!!"


"Kebelet apa sih?? kebelet pipis atau kebelet mau boker?" tanya Sania.


"Dulu kan selalu mamah yang boboin papah, sekarang papah mau balas budi...giliran papah sekarang yang boboin mamah!!!" kata Riko.


"Itu namanya bukan balas budi, tapi minta hak!!!" Sania mencibirkan bibirnya pada suami bocahnya itu.


"Kita cuci kaki tangan dulu, cuci muka, cuci..."


Riko menyambar tubuh Sania dan menggendongnya masuk ke kamar mandi.


"Kelamaan ceramahnya mah...sudah di ubun-ubun nih...atas nyesek bawah lebih nyesek lagi..."


Sania hanya bisa meringis membayangkan apa kelanjutan nasibnya di tangan suami berondongnya itu.


Ditambah lagi cuaca di luar mulai mendung menggantung tebal di angkasa. Angin bertiup menjadi bertambah dingin.


*


*


***Bersambung...


Riko tidak berkata jujur pada istrinya bahwa kedua orang tuanya sama sekali tak merestui hubungan mereka...jadi bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka???


Ikuti terus ya guys jalan cerita selanjutnya...🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2