Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 209 Siapa Aku


__ADS_3

"Sania stres karena sudah 3 hari dari keberangkatannya hingga kini, Riko tak menghubungi dan juga tak bisa dihubungi mereka berdua seperti lost kontak.


"Lalu tiba-tiba tadi ada sebuah berita di televisi tentang kecelakaan maut dan menyebutkan salah satunya dari Indonesia dan menyebutkan nama lengkap Riko."


"Kak Della pikir Sania tidak ikut menyaksikan berita itu karena saat kak Della menonton Sania sedang menidurkan si kembar di kamarnya, kok tiba-tiba dia sudah jatuh pingsan di belakang kak Della."


"Kak, apa ada sesuatu yang terjadi pada Riko di sana? karena yang Sultan tau bahwa Riko itu tipe lelaki yang sayang sama keluarganya walaupun usianya masih tergolong muda tetapi rasa tanggung jawabnya pada anak dan istrinya begitu besar." Sultan tampak seperti memikirkan sesuatu.


"Jangan kata sampai berhari-hari...di kantor aja setiap satu jam sekali dia pasti akan menelpon istrinya...sampai bosen aku denger kemesraan mereka lewat telepon, nah ini tiga hari ngga ada kabar beritanya!!" kata kak Della.


"Kok tiba-tiba ada kabar dia kecelakaan begini, Sania juga sudah berkali-kali menghubunginya tetapi selalu di luar jangkauan."


"Keluarga pasien atas nama ibu Sania???"


"Ya suster, kami keluarganya!!" kak Della bangun dari duduknya menuju kearah suster itu.


"Ibu ini siapanya? apakah bapak ini suami ibu Sania?" tanya dokter yang menangani Sania.


"Saya kakaknya dokter dan ini sahabatnya, suaminya sedang mengunjungi orang tuanya di Kuala Lumpur." kata kak Della.


"Bu, adik anda ini mengalami depresi berat...ada masalah apa sebenarnya? Jika hal ini terus berlanjut, apalagi ibu Sania ini sedang dalam kondisi hamil, maka akan sangat membahayakan keadaan ibu dan janinnya." kata dokter itu.


"Suaminya sejak meninggalkan kota ini 3 hari lalu hingga kini tak ada kabarnya, dokter!! padahal dia adalah tipe suami yang sangat sayang dan memcintai istrinya."


"Lalu tadi ada berita di televisi jika suaminya mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal, itu yang membuatnya sangat shock mendengarnya." terang kak Dellla pada dokter itu.


"Sejak tadi ibu Sania mengigau memanggil nama Riko, apakah itu nama suami dari ibu Sania?" tanya dokter itu.


"Iya dokter, itu nama suaminya!!"jawab kak Della.


"Tadi ibu Sania sempat sadar tetapi beliau berteriak-teriak histeris sehingga kami memberikannya suntik penenang, agar beliau juga bisa beristirahat, kasihan bayi di dalam kandungannya."


"Sebentar ibu Sania akan dipindahkan ke ruangan, agar bisa lebih tenang dan beristirahat." kata dokter lalu meninggalkan Sultan dan kak Della.


"Ya Allah...cobaan apa lagi yang tengah menimpa adikku? mengapa kebahagiaan seolah enggan bersamanya?" kak Della juga sangat terpukul melihat keadaan Sania seperti sekarang ini.


*


*


"Riko...Riko..."


Suara ibu Intan meraung menyayat hati. Begitu dia sadar dari pingsannya, nama pertama yang langsung dia sebut adalah nama Riko.


"Ayah jahat...seandainya ayah tidak terlalu memaksakan kehendak kepada Riko, tentu anak ibu sampai sekarang masih hidup...ibu tidak mau tau ibu ingin Riko kembali ke sini dalam keadaan hidup!!"

__ADS_1


Wajah ibu Intan yang masih berurai air mata mendadak berubah menjadi dingin.


"Jika sampai sore Riko tidak juga kembali maka lebih baik ibu juga akan ikut Riko selamanya."


"Brakkk...


Pintu kamar dibanting dengan keras dan dikunci dari dalam oleh ibu Intan.


Pak Baskoro, polisi, tim sar terus mencari hilangnya jasad Riko, tetapi Riko seolah hilang di telan bumi


*****


"Atuk...jauh sangat kita mencari daun obat-obatan, nih!!"


Seorang laki-laki tua bersama dengan cucu lelakinya sedang berjalan menyisiri sungai untuk mencari daun obat-obatan.


"Kau ini mengeluh saja kerjamu, Ahmed?? begaduh saja kerjamu, tau tadi atuk sorangan saja yang mencari tak payahlah kau ikut."


Bocah lelaki itu tampak cemberut mendengar omelan kakeknya.


"Atuk...kelihatan seperti ada batang tersangkut di akar pokok!!" tunjuk Ahmed tiba-tiba.


"Itu bukan batang, Ahmed...itu nampak macam tubuh manusia." teriak kakeknya lalu menghampiri tubuh yang tersangkut di akar pohon itu.


"Muka dan badannya melecur teruk hampir tak dapat dikenali." Kakek itu segera mengangkat tubuh orang itu.


"Alhamdulillah...luka melecur sangat teruk tetapi nyawanya masih boleh diselamatkan."


"Tolong atuk angkat orang ni...kita bawa pulang ke rumah."


Lalu dengan di bantu oleh cucunya, kakek dan Ahmed mengangkat tubuh malang yang penuh luka bakar itu ke atas kereta di mana kuda mereka sedang merumput.


"Kesian sekali orang ni...apa yang sudah berlaku kepadanya?" tanya Ahmed hanya bisa menduga-duga.


Mereka mempercepat laju kereta itu agar bisa segera sampai di rumah.


Sanusi nama kakek itu. Dulu dia adalah seorang tabib yang bekerja di istana kesultanan. Setelah pensiun, dia membawa istri dan cucunya tinggal di luar lingkungan istana. Dia masih terus mengembangkan keahliannya dalam bidang obat-obatan, dia meracik sendiri dedaunan obatnya dan menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongannya.


Anak dan menantunya yang seorang angkatan udara, gugur saat sedang menjalankan tugasnya. Sehingga Ahmed menjadi seorang yatim piatu dan dirawat oleh kakek dan neneknya.


( Pakai bahasa Indonesia ajalah ya...๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ™๐Ÿ™ capek author cari terjemahannya ).


"Siapa itu kek?" tanya istrinya menyambut di depan pintu.


"Nenek tolong kosongkan ruang tengah...taruh tikar sebab orang ini akan kakek taruh dan kakek ganti dulu pakaian basahnya dengan pakaian kering.

__ADS_1


"Tampaknya sudah 3 hari dia mengapung dan tersangkut di akar pohon...Alhamdulillah, jika ajal belum tiba saatnya datang, ada saja pertolongannya!!" kata kakek.


"Entah apa yang membuatnya bertahan sedemikian kuat dan tak menyerah walau arus menyeret tubuhnya sampai beratus meter jauhnya."


"Tampaknya dia terjatuh dari atas tebing sebelah barat sana...terjatuh ke sungai dan terbawa arus lalu mรจnyangkut di atas akar pohon tadi."


Kakek Sanusi di bantu Ahmed mengganti baju pria misterius. Tampak wajah dan sebagian dadanya mengalami luka bakar.


"Laki-laki ini sangat kuat, jika orang lain yang mengalami ini tentu akan meninggal dunia." Kakek berbicara sambil terus mengamati pria tersebut.


Kakek, nenek dan Ahmed dengan telaten merawat luka orang itu. Membalur luka bakarnya dengan ramuan obat kakek Sanusi agar cepat kering. Juga memasukan cairan obat herbal kedalam mulutnya. Jadi bukan hanya obat luar tetapi juga obat di dalam, jadi jika di dalam tubuhnya mengalami cedera, tentu sedikit demi sedikit akan berangsur pulih.


Hari ketiga sejak ditemukan oleh kakek Sanusi dan Ahmed berarti enam hari sudah sejak dia dibawa dari sungai itu.


Aarrgghhh...


Lelaki itu mengerang perlahan.


"Atuk...lihat orang itu sudah sadar!!" tunjuk Ahmed dan segera kakek Sanusi datang mengecek kondisinya.


"Nek, tolong buatkan minuman hangat dan jangan lupa ramuan obat yang rutin di minum olehnya!!" perintah kakek.


"Kamu sudah sadar? minumlah dulu untuk menghangatkan tubuhmu!!" kakek membantu pria itu untuk minum.


"Aku di mana?" rintihnya perlahan sambil memijit kepalanya yang masih terasa sangat sakit.


"Kamu ada di rumah kakek!!" jawab kakek Sanusi.


"Siapa namamu anak muda?" tanya kakek lagi!!


"Sania!!"


"Hah....masa laki-laki namanya Sania, kek?" jawab istrinya perlahan tak yakin.


"Siapa?"


Ulang kakek Sanusi lagi, siapa tau tadi telinganya salah mendengar!!


"Sania!!"


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya guys...untuk sesuatu hal akhirnya novel Kutukan Cinta ini dilanjutkan dulu...semoga jangan bosan membacanya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2