
Dengan semangat aku memilih ikan dan sayuran yang akan diolah ibu nanti. Mas Sofwan pernah bilang bahwa ibu dan bapaknya sangat suka ikan lele yang digoreng. Oleh karena itu bapak buat tambak lele kecil-kecilan di kebun belakang, begitu katanya.
Rencananya aku dan ibu akan membuat pepes lele, lele goreng, lalapan dan sambal terasi.
"Waduh...harus cepat nih ntar ngga nutup." Aku cepat-cepat pulang kerumah.
Syukurlah ibu sudah masak nasi dan sudah menyiapkan bumbu-bumbunya hanya tinggal menunggu bahan yang kubawa dari pasar untuk diolah.
Ibu tidak suka masak nasi pakai magicom. Ibu lebih suka menggunakan dandang untuk menanak nasi. Kata ibu rasanya jauh lebih nikmat.
"Ah ibu, " pikirku dulu...ya nasi mau dimasak dimanapun tetap aja rasa nasi tidak mungkin berubah rasa.
"Sudah hampir selesai Nia...orang tua Sofwan datang jam berapa?"
"Jika tak ada halangan, jam 10 sudah sampai disini bu."
Aku menata kue-kue yang kubeli di pasar tadi di piring. Pokoknya harus kelihatan rapi.
Tak lama masakan ibu sudah jadi dan aku membantu menatanya dimeja.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam...silakan masuk..."
Mas Sofwan masuk diikuti orang tuanya. Mendadak aku jadi tegang.
Kedua orang tuanya bersalaman dengan ibuku. Lalu aku yang menyalami sambil mencium punggung tangan mereka.
"Rumahnya sejuk bu, banyak pepohonan." Ibu Sofwan membuka pembicaraan.
Dan aku tanpa dikomando oleh ibu lagi segera berlalu ke dapur untuk membawakan minum serta kue yang kubeli tadi.
"Silakan diminum pak, bu, mas Sofwan," aku mempersilahkan.
"Terimakasih nak Nia..." ibu mas Sofwan tersenyum ramah padaku.
Para orang tua berbincang-bincang sementara aku dan mas Sofwan hanya jadi pendengar saja.
Sampai akhirnya tibalah di inti persoalannya.
"Begini bu...Sofwan sudah banyak cerita tentang Sania."
"Pada dasarnya kami sebagai orang tua Sofwan tidak keberatan jika memang anak kami berniat melamar Sania untuk menjadi istrinya."
"Apapun yang terbaik menurutnya juga terbaik menurut kami."
"Lalu apakah Sania sendiri bersedia jika Sofwan melamarmu, nak?"
Semua mata tertuju padaku setelah mendengar pertanyaan ibu Sofwan tadi.
"Jawab Nia jangan diam saja..." ibuku menyenggol pinggangku.
"Saya bersedia bu...jawabku gugup."
"Alhamdulillah..." kata para orang tua lega begitu pula mas Sofwan.
"O iya bu mari diminum dan dimakan kuenya, seadanya bu." Ibuku mempersilahkan.
"Nia siapkan dulu makan siangnya ya bu." Aku lalu beranjak keruang makan.
Lalu para orang tua membahas tentang rencana pernikahan kami sambil bersantap.
"Ibu dan bapak....kami hanya tinggal berdua di sini, tidak ada keluarga ataupun sanak saudara."
__ADS_1
"Bisakah saya mengusulkan acara pernikahan mereka ditempat mempelai pria saja?"
"Selain menghemat biaya, kan bisa mereka pergunakan untuk kehidupan mereka selanjutnya setelah menikah bu."
"Janganlah bu, setidaknya kita mengundang tetangga dekat untuk menyaksikan pernikahan kami bu." Sofwan mengusulkan.
"Kalau begitu, akad nikahnya di sini ditempat orang tua mempelai wanita, nanti resepsinya di rumah kami saja...bagaimana bu?"
"Saya sih gimana baiknya bu..." kata ibu.
"Jadi Sofwan, kalian berdua harus mengurus surat-surat yang akan digunakan nanti."
"Bagusnya kalau bisa berdua, jadi tau apa dan yang mana saja yang harus diurus."
"Iya bu, Sofwan mau mengajukan cuti mulai senin besok jadi bisa segera mengurus surat-suratnya."
Tak lama kesepakatanpun selesai. Aku bahagia karena kedua orang tua mas Sofwan sangat baik dan ramah.
Akhirnya mereka berdua pulang dulu dan akan segera mempersiapkan segala keperluan.
"Nia, nanti malam bisa keluar sama mas? jadi kita bisa memilih cincin pernikahan kita."
"Aku menurut saja mas, terserah mas Sofwan."
"Kok tumben jinak?" biasanya mengaum seperti singa...
"Mulai deh mas...jangan membangunkan singa tidur...nanti ngamuk."
"Nia, mulai senin besok kita berdua akan sibuk, bisakah kamu minta izin tiga hari kedepan sama bosmu?"
"Aku ngga tau mas...karena aku kan bukan kerja di perusahaan tapi hanya di pabrik."
"Takutnya bosku ngga akan mengizinkannya."
"Jangan dulu mas, Nia masih butuh pekerjaan ini setidaknya sampai akhir bulan ini."
"Semoga bosku akan mengizinkanku."
*
*
Sore ini aku dan teman-teman rempongku sedang berkumpul disumur sambil mencuci pakaian dan mandi.
Selamat ya friend...akhirnya mau menikah juga, kirain ngga laku-laku." Tawa kami berkumandang.
"Semoga langgeng hingga kakek nenek ya..." Amin...Kami serentak mengaminkan.
"Nia...kudengar resepsinya hanya di rumah mempelai pria sedangkan di sini hanya akad nikah saja..."
"Benar Tini...kamu kan tau kondisi rumah kami bagaimana dan tak memungkinkan untuk mengadakan acara di sini."
"Lagian kami tak ada sanak saudara di sini."
"Kami para tetanggamu sangat siap membantu Nia."
"Tapi ibu tak ingin merepotkan siapapun Tuti, Makanya ibu menyerahkan sepenuhnya kepada orang tua mas Sofwan."
"Mereka keluarga besar dengan kediaman yang layak pula."
"Tapi kami jadi tidak bisa melihatmu menikah dong...padahal aku, Tini dan Tuti ingin melihat sahabat kami duduk di pelaminan."
"Wati sayang....kan kalian bisa datang pada saat akad nikah nanti."
__ADS_1
"Jadi bang Sofwan setelah tiga hari ini pergi lagi ke rumah orang tuanya dan nanti kembali lagi kemari bersama keluarga besarnya pas akad nikah nanti."
"Iya sekalian aku dan ibu dijemput kesana untuk resepsi."
"Nia...apa kak Della sudah dikabari bahwa adiknya akan menikah? Wati bertanya dengan hati-hati karena dia tau, aku sangat sensitif jika menyangkut soal keluargaku."
"Mau diberi tau gimana? bahkan nomor teleponnya kami tak punya, kak Della sudah memutuskan semua hubungan dengan aku dan ibu."
Kami semua diam tak ada lagi yang melanjutkan pembicaraan.
"Aku sudah selesai teman-teman...aku duluan ya..."
"Oh iya Nia, duluanlah kami tinggal sedikit lagi..." Tini mempersilahkanku.
"Kulihat Nia dan bu Kamsiah ini kasihan juga ya...mereka orang baik...apalagi ketika alharhum bapaknya Nia masih hidup."
"Mereka bertiga orang baik, hanya kak Della yang judes banget."
"Kenapa kamu Wati, kok kayaknya punya dendam pribadi dengan kak Della?"
"Iya Tin...dulu waktu aku masih kecil, sering aku dibuat menangis olehnya."
"Kamu ingatkan Tuti, waktu aku menangis ditarik telingaku sama bapak karena aku dituduh mencuri mangga?"
"Iya...aku ingat...memang kamu kan pelakunya? terus telur ayam bapakku juga sering hilang, pas kamu juga yang lagi kedapatan nongkrong disamping sangkar ayam.
"Sembarangan...kamu Tuti...itu yang mengambil mangganya kak Della, aku hanya disuruh naik pohonnya."
"Begitu ketahuan sama yang punya, malah aku yang diteriaki maling mangga sama dia."
"Aku lagi yang dijewer telingaku sama bapak."
"Terus kalau telur ayam...dia juga yang membujukku."
"Waktu kecil kan aku banyak kutu...sampai mamak aku bilang...bukannya ikut beternak bebek, malah jadi peternak kutu yang tidak ada faedahnya."
"Nah, bodohnya aku mau saja duduk disebelah sangkar ayam."
"Katanya supaya semua kutu di kepalaku pindah ke bulunya ayam...tapi telur ayamnya harus dikurangi dulu alias diambil sama kak Della."
"Itu sudah Tin jadi aku yang kepergok duduk disitu...aku lah menjadi yang tertuduh...bencinya aku."
"Lagian kamu bodoh sih...sudah tau kak Della sering ngerjain kamu masih juga mau temenan sama dia."
"Ya terpaksa mau Tin, karena dia bilang ngga ada yang mau temenan sama aku karena aku kutuan dan korengan."
"Ish...menderita betul sih masa kecilmu Ti...iya sih dulu aku juga dilarang main sama kamu oleh ibuku karena kepalamu banyak kutunya."
"Habis seharian main denganmu, pulang-pulang kepalaku gatal semua dan dua hari kemudian kepalaku jadi tempat peternakan kutu."
"Marahnya ibuku waktu itu gara-gara aku menularkannya pada Tito adikku waktu dia masih umur 2 tahun."
"Itulah Tin rasanya aku itu masih jengkel jika mengingat kak Della."
"Baru celakanya ngga ada yang percaya sama omonganku."
"Kamu sih tukang bohong jadi mamak sama bapakmu bingung harus percaya atau tidak...Tuti menimpali."
"Kan aku bohong tipis-tipis Tut....gundulmu itu Ti bohong kok bangga, Tuti menoyor kepalaku."
"Sudah ah...aku sudah selesai kita pulang yuk...habis air sumur kita pakai buat bertiga aja...ntar ngamuk yang mau ambil air belakangan liat airnya habis."
*Bersambung....
__ADS_1
ditunggu like dan komennya ya...Dan jika betkenan berikan votenya juga 😊😊🙏🙏*