Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 212 Aku Ingin Pulang


__ADS_3

Kakek Sanusi dan istrinya paham betul keadaan yang dihadapi oleh Riko...tapi mereka tak bisa berbuat banyak untuk membantunya.


"Kakek akan usahakan membuat visa dan paspor baru untuknya agar dia bisa kembali pulang ke Indonesia untuk berkumpul kembali dengan keluarganya!!" sahut kakek.


Sementara itu...


"Gantengnya...anak siapa ini!!" Sultan menggendong Raftar dan menciumi bayi mungil yang masih merah itu.


Sania masih belum pulih kondisinya pasca operasi itu. Dia masih belum boleh terlalu banyak bergerak dulu.


"Raftar anak siapa, leh!!! Raftar ganteng!!" seolah tau, bayi mungil itu diam dan tertidur pulas.


"Jangan terlalu digendong terus, nanti Raftar jadi kebiasaan, Sultan!!" kata kak Della.


Sementara Sania hanya memandang Raftar yang digendong Sultan dengan sedih.


Sudah 5 bulan sejak Riko dinyatakan hilang dan meninggal. Sania sudah pasrah dengan keadaannya, mungkin memang benar Riko sudah pergi untuk selamanya. Jika Riko masih hidup tentu dia akan pulang menjenguk anak dan istrinya.


Dia duduk termenung di teras rumah sementara Sultan dan kak Della sibuk mengganggu Raftar agar tidak tidur melulu. Dina dibantu Juned dan Syifa sibuk menyirami tanaman dan si kembar yang sekarang sudah berumur 3 tahun dijemput oleh kakeknya tadi siang.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam!!"


"Bapak datang..." teriak Syifa lalu berlari menyongsong Sofwan.


Dina dan Juned hanya melirik sebentar lalu mereka melanjutkan pekerjaan mereka lagi.


"Ke sini Sofwan, dekat dengan kita di sini, kamu ngga mau lihat anaknya Nia?" tanya kak Della.


Sania tak menampakan ekspresi apapun, dia masih sibuk dengan lamunannya tentang Riko suaminya.


Sofwan menatap iba pada mantan terindah yang terus menerus dia lukai hatinya itu. Sekarang Dina dan Junedpun bersikap tak acuh padanya, hanya Syifa, Sultan dan kak Della yang masih bersikap ramah padanya.


"Dek, ini mas...apa kabarmu?" tanya Sofwan beringsut duduk di lantai mendekati kursi yang diduduki Sania.


Sania memandang sekilas padanya lalu menatap lurus lagi ke depan.


"Mau apa mas Sofwan datang lagi kesini? mau menertawakan penderitaanku?" lirihnya.


"Demi Allah, dek!! mas Sofwan tidak pernah sedikitpun punya niat demikian!! mas datang kekota ini selain kangen sama anak-anak juga mau melihat keadaanmu tapi siapa sangka kabar buruklah yang mas Sofwan dengar tentang Riko suamimu."


"Riko sudah meninggal...aku menyesal mengapa saat itu aku tidak melarangnya untuk pergi? aku tetap mengijinkannya walaupun hati kecilku terasa berat untuk melepaskan kepergiannya."


Air mata Sania menetes membasahi pipi tirusnya yang pucat. Betapa inginnya dia merengkuh tubuh ringkih yang berulang kali tersakiti hatinya itu...dia mengakui seberapa banyakpun wanita yang ada di dekatnya tetapi hati dan cintanya masih tetap untuk satu orang wanita sampai kapanpun.


Hanya saja jalan hidup memang tak mengijinkan lagi mereka untuk bersama, jadi ada saja halangannya saat mereka ingin menyatukan hubungan.


"Sofwan..."


Sultan mengangsurkan Raftar pada Sofwan agar Sofwan juga tidak larut dalam kesedihan.


"Kamu tidak ingin menggendong Raftar?" tanyanya.


Akhirnya Sofwan mengambil alih menggendong Raftar dan menciumi pipi merah itu dengan penuh kasih sayang.


"Kalian mau minum? sebentar kak Della buatkan dulu ya!!" ujar kak Della lalu beranjak masuk ke dapur.


Kak Della masih sempat mengintip dari balik pintu. Ditatapnya Sofwan yang semenjak datang hingga sekarang, matanya tak pernah lepas menatap Sania.


"Kasihan kalian berdua ini...Sofwan...Sofwan...seandainya keluargamu tidak terlalu banyak ikut campur dalam rumah tangga kalian, tentu kalian masih tetap bersama hingga detik ini."


"Sekarang kehidupan pernikahan kalian berdua seperti sebuah kutukan, rumah tangga Sofwan hancur begitupun dengan rumah tangga Sania."

__ADS_1


Kak Della membawa ceret berisi teh hangat juga sebaskom kecil bakwan yang tadi digorengnya.


Ayo sambil dimakan, jangan hanya didiamkan saja!!" katanya.


"Dek, makan ya!! mas suapi ya!! dulu kamu suka banget makan bakwan begini!!" ucap Sofwan sambil tersenyum.


Dilihatnya sekilas Sania nampak tersenyum mengingat masa lalu mereka.


"Iya, aku selalu mengambil bagian mas Sofwan..." kata Sania sambil tersenyum.


"Itu sudah, mas Sofwan hanya sebentar menoleh kekiri begitu mas melihat kembali gorengan bagian mas sudah raib entah kemana!!" Sofwan berusaha mengalihkan supaya Sania tidak melamun terus.


Sedikit demi sedikit obrolan Sofwan tentang masa lalu mereka membuat Sania terpancing untuk tersenyum dan tertawa.


Ada rasa cemburu di hati Sultan melihat keakraban sepasang mantan itu. Tetapi dia sadar bahwa Sofwan berbuat begitu supaya Sania tidak semakin terpuruk akan keadaannya.


Tak terasa hari sudah menjelang malam. Sultan sudah pamit pulang semenjak tadi. Anak-anak sudah pada berpencar. Ada yang mengerjakan tugas sekolah dan ada yang hanya berbaring menonton televisi termasuk Della.


"Mas mau pulang dulu ya dek, besok mas kemari lagi menemanimu di sini." Sofwan beranjak dengan enggan dari tempat duduknya untuk pulang.


"Di kota ini mas Sofwan tinggal di mana?" tiba-tiba Sania bertanya.


"Mas menginap di hotel cemara, dek!!" kata Sofwan.


"Berapa lama mas akan tinggal di kota ini?" tanyanya lagi.


"Mungkin sekitar sepuluh harian dek, sebab ada tugas dari perusahaan yang juga harus mas selesaikan."


"Kenapa? kamu masih kangen sama mas Sofwankah?" canda Sofwan.


Sania hanya tersenyum saja seperti biasanya. Setelah Sofwan pamit pulang, Dina menghampiri tantenya.


"Mau apalagi bapak itu kemari tante??" tanya Dina sedikit kesal.


"Mungkin dulu saat Dina masih kecil, Dina tidak tau apa sebenarnya yang terjadi tetapi sekarang Dina tau bagaimana sakitnya bunda diperlakukan bapak seperti itu, akan Dina ingat dengan baik siapa-siapa saja yang harus bertanggung jawab dengan penderitaan bundaku termasuk keluarga ayah Miko!!" kata Dina dengan tangan terkepal.


"Apakah kamu membenci mereka?" tanya Della pada ponakannya itu.


"Entahlah tante, tapi Dina betul-betul tidak terima melihat bunda sakit seperti waktu itu lagi, sudah banyak penderitaan yang bunda alami karena mereka semua."


Della menatap keponakannya yang manis tetapi sikapnya tegas luar biasa. Jika dia sudah berkata tidak maka tak akan pernah lagi menjadi kata iya.


*


*


"Kamu belum tidur?"


Kakek Sanusi yang tidak bisa tidur malam itu keluar dari kamarnya dan mendapati Riko duduk bersandar di tiang teras rumah memandang jauh ke dalam kegelapan malam.


Riko menoleh pada kakek Sanusi dan tersenyum sedih.


"Riko ingin pulang ke Indonesia, kek!! Riko ingin sekali bertemu dengan istri dan anak-anak Riko!!"


"Riko ingin sekali menimang dan menggendong bayi Riko." dia berkata sambil matanya menerawang ke atap rumah.


"Sabar ya nak, ini sedang kakek usahakan...kamu bersabarlah, jika dia memang jodohmu pasti kalian akan bersama lagi." Kakek Sanusi menepuk-nepuk bahu Riko.


"Iya kek, sesampainya di Indonesia akan Riko ganti semua biayanya!!" ucap Riko.


"Kamu tidak usah memikirkan itu, yang penting kamu bisa balik ke sana itu sudah Alhamdulillah!!" kata kakek Sanusi.


"Sekarang kamu istirahatlah, besok kakek akan mengajakmu untuk bertemu seseorang." Riko hanya mengangguk lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


****


Pagi itu Riko dan Ahmed pergi membawa kail ke sungai tempat Riko di temukan dulu. Mereka sedang mencari tempat yang strategis untuk memancing. Ahmed tampak sibuk dengan pancingannya dan Riko duduk menelusuri sungai itu dengan matanya.


Tiba-tiba dia melihat sesuatu tersangkut di akar pohon, mungkin karena arus air musim kemarau itu tidak lagi sederas biasanya, posisi air agak turun.


Riko bangun lalu melangkah menyeberangi sungai menuju sesuatu yang sejak tadi mengganggu dan menyita perhatiannya.


"Abang mau kemana?" seru Ahmed dari tempat dia duduk.


"Abang mau keseberang situ kamu duduk dan tunggu di situ aja dulu!!" Perintah Riko pada Ahmed.


Tanpa kesulitan Riko menyeberang karena air sungai sekarang hanya setinggi lutut orang dewasa.


Diperhatikannya benda yang tersangkut itu dengan hati berdebar karena dia sepertinya kenal dengan benda itu.


Benar saja. Itu dompet kulit yang dia bawa dari Indonesia mungkin tersangkut pada saat tubuhnya juga tersangkut akar pohon itu.


Diraihnya benda itu dengan tangan gemetar dan di bukanya.


Yang pertama dia temukan adalah foto pernikahannya yang sudah mulai blur karena terendam air sekian lamanya.


Lalu kartu atm, kartu kredit, ada pula ktp dan kartu penting lainnya. Dibagian dalam dompet ada beberapa lembar uang rupiah berwarna merah dan ringgit Malaysia. Riko memang tak pernah menyimpan banyak uang di dalam dompetnya.


Juga cincin pernikahannya masih ada. Cincin yang waktu itu sengaja dia lepaskan saat dia berniat kabur dengan tali tambang dari jendela kamarnya di lantai 3 agar cincin itu tidak rusak.


Riko menatap seakan tak percaya dengan penglihatannya sendiri.


Lalu setelah yakin dengan apa yang dia pegang maka Riko bersorak kegirangan.


Dari seberang sungai Ahmed terkejut melihat Riko melompat-lompat kegirangan, dia berpikir Riko kesambet mahluk halus penunggu pohon itu.


"Abang...abang tidak apa-apakan?" teriak Ahmed dari seberang.


"Abang tidak apa-apa, Ahmed!!" balas Riko berteriak.


Lalu dia menyeberangi sungai kembali ke tempatnya semula dengan wajah riang.


"Apa itu bang? apa yang abang temukan di seberang sana?" tanya Ahmed penasaran.


"Kita pulang Ahmed, ada yang ingin abang bicarakan dengan kakek di rumah nanti!!" lanjutnya.


"Tapi ikan kita baru dapat sedikit, bang!! ini mana cukup buat makan malam?" kata Ahmed lagi.


"Ngga apa-apa nanti kita bisa kembali lagi, ini ada masalah penting yang harus abang bicarakan dengan kakek!!" sambung Riko.


Akhirnya mereka pulang dengan hanya membawa bebetapa ekor ikan ke rumah.


Kakek Sanusi yang baru saja tiba dari kota kaget mendengar Riko berteriak-teriak memanggil namanya. Nenekpun ikut keluar rumah mendengar keributan itu.


"Ada apa Riko? kenapa kamu berteriak-teriak begitu? kamu menemukan harta karun di sungaikah?" tanya kakek Sanusi dan istrinya.


"Kakek lihatlah!!"


Riko mengacungkan sesuatu di tangan kanannya pada kakek Sanusi.


*


*


***Bersambung...


Apakah Riko akhirnya bisa pulang ke indonesia menemui keluarganya??

__ADS_1


Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya ya readesπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


__ADS_2