Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 262 Takdir Cintaku 1


__ADS_3

Balita itu seolah tau keadaan sudah aman segera memeluk kakaknya dan tak mau melepaskannya.


Sementara di luar Juma dan Nathan berkelahi dengan si botak dan ketiga temannya sementara dua orang yang dipanggil nenek itu menyemangati keempatnya untuk menghajar Juma dan Nathan.


Saat Riko akan pergi bersama Johan dan beberapa orang anak buahnya ke lokasi yang telah di share lock oleh Dina tiba-tiba Sania mengejar tanpa bisa dicegah lagi oleh ibu Intan dan kak Della.


"Mamah....mau kemana??" kata Riko cemas melihat keadaan istrinya yang baru sadar dari pingsannya berlari sempoyongan mengejarnya.


"Mamah ngga mau tau pokoknya mamah ikut pah...anak-anak mamah ada di luar sana semua berjuang untuk hidup, dan mamah disuruh tidur-tiduran di sini menunggu hasil?? tidak pah...mamah tidak bisa!!" kata Sania setengah meratap memohon pada suaminya.


"Sudah Riko, bawa saja istŕimu!! Sania benar, tak ada seorang ibupun yang bisa tinggal diam di tempat sementara anak-anaknya berjuang menantang maut di luar sana!!" kata ibu Intan.


"Jaga istrimu baik-baik ya Riko!! Kembalilah kalian semua dengan selamat." Kata kak Della dan ibu Intan.


Mereka menuju lokasi penyekapan tersebut.


Wanita yang ditendang oleh Syifa tadi perlahan bangun lalu meraba pistol di kantong jubahnya.


Di depannya Dina dan Juned masih bertarung satu lawan satu dengan kaki tangan si penculik, begitu juga di luar gudang. Perkelahian empat lawan dua berlangsung sengit.


Syifa masih bersembunyi sambil memeluk Raftar yang masih ketakutan.


Wanita berjubah itu perlahan jalan mendekati Syifa dan mulai mengarahkan pistolnya pada gadis cilik yang berhasil membuatnya terkapar dengan tendangan putarnya tadi.


Tadi dia sangat meremehkan gadis cilik itu tetapi setelah dia merasakan kerasnya tendangan Syifa, dia jadi lebih berhati-hati.


"Syifa awas.....!!!"


DOR...


Tembakan pertama meleset karena teriakan peringatan Sania pada Syifa dan Raftar.


DOR...


AARRGGGHHH...


"Bunda...!!!!"


Teriakan Syifa spontan membuat Riko dan Johan lari mendekati mereka sementara anak buah Riko yang lain membantu perkelahian di dalam dan di luar gudang.


Tembakan pertama meleset dari sasaran. Tembakan kedua yang diarahkan oleh wanita misterius itu langsung menembus bahu Sania yang memasang badan untuk melindungi Syifa dan Raftar.


"Mamah....!!" teriak Riko histeris melihat istrinya jatuh terkapar bersimbah darah di atas badan Syifa dan Raftar.

__ADS_1


"Johan...tangkap keparat yang telah menembak istriku itu...jika dia melawan, bunuh saja...luka harus dibayar dengan luka, nyawa harus dibayar dengan nyawa!!" teriak Riko yang tak bisa lagi menahan amarahnya melihat istrinya tercinta sudah jatuh bersimbah darah.


****Flashback on****


Begitu mobil mereka berhenti Sania langsung membuka pintu dan berlari lebih dulu.


Semenjak di mobil tadi perasaannya tidak enak.


Di luar gudang dia melihat Juned dan Dina berkelahi serta ada dua orang wanita yang berhodie hitam di sana.


Sania mengerenyitkan dahinya berusaha mengenali sosok yang memakai tutup kepala dan mengenakan masker itu, tetapi setelah dia melihat salah satu dari mereka memakai tongkat, pikirannya langsung menebak...tapi mungkinkah??


Sania tidak bisa berpikir terlalu lama saat dia tidak melihat ada Syifa dan Raftar di sana.


Dengan setengah memaksakan diri Sania berlari lewat samping gudang.


Dan benar saja perasaannya di mobil tadi melihat seseorang mengarahkan pistolnya pada Syifa dan Raftar.


Si penembak kaget membuat tembakannya meleset, lalu tembakan kedua kembali di arahkan nya pada kedua anak Sania itu.


Tanpa memikirkan keselamatannya lagi, nalurinya sebagai seorang ibu mendorongnya untuk menyelamatkan kedua buah hatinya walaupun nyawanya sebagai taruhannya.


****Flashback off****


Ambulan datang membawa Sania yang sudah ditangisi oleh anak-anaknya dan membawa wanita yang sudah habis babak belur dihajar oleh Syifa.


"Dinara!!!" teriak salah satu dari wanita berhodie itu memanggil nama wanita yang terkapar tersebut.


(Hayo siapa yang masih ingat Dinara?? di episode-episode awal sudah diceritakan bahwa Dinara adalah pacar pertama Sofwan sebelum dia mengenal Vivi dan Sania).


****Flashback on again ya****


Jenazah Sofwan dibawa pulang oleh ketiga kakak perempuannya yang akan dimakamkan di kampung halamannya.


Prosesi pemakaman berjalan penuh haru apalagi seorang wanita yang usianya sebaya dengan Sofwan menangis memeluk jenazah Sofwan.


"Wan, kamu akhirnya pulang menemui aku...tetapi mengapa kamu diam membisu seperti ini?? kamu tidak senang bertemu denganku?? kamu tidak merindukan aku?? katakan siapa yang telah membuatmu meninggal seperti ini?? apakah perawan tua yang bernama Sania itu??"


Sejak saat itu dendamnya semakin hari semakin membara pada Sania. Walaupun Juwita sudah menjelaskan pada Dinara bahwa bukan Sania yang menyebabkan Sofwan meninggal, tetapi karena sering mendapatkan kusukan dari Anya dan Nuri maka suara Juwita sudah tak mempan lagi di telinganya.


Bukankah suara dua orang lebih unggul ketimbang hanya suara satu orang??


Begitu pula dengan Dinara yang sudah tertutup dendam dan cinta dengah mudah ditarik oleh Anya dan Nuri menjadi sekutunya.

__ADS_1


Mulailah mereka menyebar mata-mata mencari tau di mana keberadaan Sania dan keluarganya.


Mereka selalu tak punya kesempatan untuk balas dendam, pas saat itu saat momen di mana hanya ada Raftar dan Sania di rumah, saat itu sangat di manfaatkan oleh para penculik untuk menculik Raftar dan membuat hidup Sania menderita sama seperti mereka yang telah kehilangan sosok Sofwan Prayoga yang mereka cintai.


Mereka menjadikan sebuah gudang tak terpakai dipinggiran kota sebagai markas sementara mereka.


Mereka berniat memisahkan Raftar dari Sania dengan maksud membawa dan membuang Raftar jauh keluar kota, tetapi aksi mereka keburu diketahui oleh Dina, Nathan dan Juma.


**** Flashback off****


Yang menjadi dalang penculikan itu adalah Nuri, Anya dan Dinara.


Entah salah apa Sania pada keluarga itu sampai mereka mendendam yang teramat sangat pada Sania.


Anya dan Nuri serta kaki tangannya kini mendekam di dalam penjara sementara Dinara dan Sania di tempatkan di ruangan rawat yang berbeda dan sama-sama dalam keadaan kritis.


Kalau Sania kritis karena posisinya sekarang sedang mengandung 8 bulan, terkena tembakan di bahunya dan juga penyakit kanker darah yang dideritanya sudah mencapai stadium akhir.


Sementara Dinara, ada pembuluh darahnya yang ke otak pecah terkena tendangan Syifa di mana gadis cilik itu tak dapat lagi mengontrol dirinya saat dilihatnya wanita yang sangat dia cintai terkapar bersimbah darah di atas tubuhnya dan Raftar karena tembakan dari Dinara.


Riko terus dengan setia menanti istrinya sadar. Kembali berbagai macam alat bantu melekat di tubih Sania.


Sania beruntung, peluru itu hanya menyerempet di bagian bahunya, tetapi karena lukanya cukup dalam sehingga dia mendapatkan dua belas jahitan dilukanya.


Tadi dokter menyarankan agar bayi yang ada di dalam kandungan istrinya harus segera dikeluarkan dengan bantuan operasi cesar agar tidak membahayakan janin di dalam kandungan Sania mengingat kondisinya yang kritis sekarang ini.


Riko mendongak saat ibunya masuk ke dalam ruangan itu.


"Riko, sebaiknya kamu mandi, ganti bajumu, makanlah dahulu lalu beristirahatlah, sejak kemarin kamu tidak beranjak dari dudukmu, jangan sampai kamu sakit juga!!"


"Tapi bu...!!" kata Riko pelan.


"Sudahlah kamu beristirahat saja biar ibu yang menunggu istrimu."


Dengan langkah gontai Riko meninggalkan ruangan ICU itu menuju mobilnya untuk pulang ke rumah.


*


*


****Bersambung.....


Bagaimanakah takdir cinta Riko dan Sania selanjutnya???

__ADS_1


Detik-detik menjelang tamatnya kutukan cinta ya guys...jangan dilewatkan😁😁🙏🙏


__ADS_2