Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 27 Digodain


__ADS_3

"Alhamdulillah, hari ini selesai juga semua pekerjaan, bersiap untuk pulang..."


"Wan...ayo kita briefing di Oc..." Bahar dan Anto teriak dari luar.


Aku menyimpan botol minum dan kotak bekalku, lalu bergegas keluar menemui mereka.


"Tadi pagi berangkat kerja naik apa Wan? Tanya Bahar."


"Naik angkot, motorku masih di bengkel," kataku.


Kami bertiga sampai di Oc, di sana sebagian yang dinas pagi dan yang siang berkumpul.


Sudah kudengar suara bisikan-bisikan, bahkan ada siulan menggoda dari mereka.


"Mampus kau Wan, makanya kalau punya muka jangan kelewat ganteng ntar direbuti para laron."


"Seperti kami berdua ini lho...muka pas-pasan, pasaran, jadi ngga ada yang mau godain."


"Anto...Anto...punya muka pasaran kok bangga, kayak kita nih...ngga laku-laku sampai sekarang, padahal kita sudah kerja di sini hampir 5 tahun."


Aku hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Anto dan Bahar.


"Wih...ada cleaning service baru nih...namanya siapa mas...kenalan dong..."


Ramai sudah cuap-cuap mereka.


"Oke teman-teman...baris dulu...suara-suara sumbangnya dihentikan dulu ya..."


Feby kulihat berdiri didepan diapit oleh 2 leader pagi dan 2 leader siang.


"Sofwan, coba maju kedepan sini memperkenalkan diri didepan teman-teman."


Aku maju agak gugup untuk memperkenalkan diri ke depan.


Riuh suara-suara terutama dari kaum hawa bahkan ada suara yang bersiul saat aku berdiri di depan.


"Perkenalkan nama saya Sofwan Prayoga, saya baru masuk tadi pagi...oleh sebab itu mohon kerjasamanya ya, teman-teman."


"Tinggal di mana Sofwan...terus sudah punya istri belum?"


"Saya tinggal di jalan Mulawarman, saya sudah berkeluarga dan punya seorang anak yang baru berumur 7 bulan."


"Yah...seruan kecewa mereka...ganteng-ganteng kok sudah punya istri sih?"


"Kirain masih jomblo tadi...banyak seruan kecewa dari mereka."


Dan ada sepasang mata yang juga menatap kecewa, walaupun dia pandai menutupinya.


Aku kembali kebarisanku setelah perkenalan singkat itu.


Setelah beberapa saran dan wejangan dari leader pagi dan menyampaikan ada atau tidaknya komplinan di area, lalu wejangan ibu Feby sebagai supervisor, akhirnya briefing ditutup dengan doa.


Aku tidak begitu mendengarkan lagi, selain banyak suara bising di telingaku dari para cewek di belakang yang masih menggodaku, fokusku hanya satu ingin cepat pulang bertemu anak istriku.


Aku melangkah tergesa-gesa menuju gerbang rumah sakit. Tujuanku cuma satu, pengen cepat pulang ke rumah.


"Wan...pulang bareng yuk...aku juga kearah jalan Mulawarman."

__ADS_1


Feby menghentikan motornya tepat di sampingku.


"Ngga usah Feb, nanti malah merepotkanmu, saya naik angkot aja."


"Disini angkot agak susah lho Wan, bisa setengah jam belum tentu dapat angkot untuk pulang."


"Aduh...dalam hatiku mengeluh, sebenarnya aku ngga enak pulang bareng Feby, takut menimbulkan fitnah nantinya."


Tapi iya juga sih tak ada satupun angkot yang lewat, padahal siang begini.


"Ayok...kebanyakan mikir, nih saya bawa helm dua."


Mau tak mau aku terima ajakan Feby untuk pulang bareng dengannya, meskipun ada rasa tak enak dalam hatiku.


"Kamu yang bawa motor Wan, masa cewek gonceng cowok? Kan lucu kelihatannya."


Dengan berat hati aku menuruti permintaan Feby, dari pada aku telat juga sampai rumah. Kasihan istri dan anakku.


"Kamu ngga malu ya Feb, supervisor goncengan sama bawahannya?"


"Kenapa harus malu? kita kan searah, lagian kita ini kan teman satu sekolah dulu."


"Wan, ada yang mau kutanyakan sama kamu, ngga apa-apakan?"


"Tanya apa Feb, tanyakan saja."


"Saya akan jawab selagi saya bisa menjawabnya."


"Ehmm...kamu kenal sama ibu Kiki ya..."


"Kenal..ibu Kiki itu dan almarhum suaminya dulu adalah teman satu kampus."


"Iya...aku tadi mau mengecek pekerjaanmu, tapi secara tak sengaja melihatmu ngobrol dengan ibu Kiki dilobby tadi."


"Oh...yang tadi itu tho..."


"Satu lagi yang mau kutanyakan Wan?"


"Betulkah yang kamu katakan ke teman-teman tadi kalau kamu sudah punya istri dan anak?"


"Benarlah Feb...untuk apa juga saya berbohong?"


Wajah Feby berubah mendengar ucapanku, tapi dengan cepat dia menguasai perasaannya.


"Kamu sendiri gimana? sudah menikah atau belum!"


"Belum Wan, belum ada yang cocok buatku..."


"Belum ada yang cocok, atau memang kamu yang terlalu pemilih?"


"Sebenarnya aku jatuh cinta pada seseorang, tapi hingga sekarang dia tak pernah tau perasaanku."


"Kenapa kamu ngga bilang ke dia, bahwa kamu suka sama dia?"


Dalam hatiku mengeluh..."ngga mungkinlah Wan...secara dari dulu aku suka sama kamu."


Tapi mana mungkin kukatakan padamu tentang perasaanku, apalagi sekarang ini. Aku sudah senang sejak pagi tadi bisa bertemu denganmu lagi, tapi sejak kudengar kamu sudah punya anak istri, hatiku terasa sakit.

__ADS_1


Dari dulu aku hanya bisa memandangmu dari jauh, mengagumimu walau hanya dalam diamku. Berharap suatu hari kamu akan mengerti perasaanku.


Tapi kamu tetaplah seorang Sofwan Prayoga yang selalu diam membisu. Alangkah beruntungnya sekeping hati yang mampu mencairkan kebekuanmu.


"Kok kamu malah diam Feb...jangan ngantuk di belakang ya...ntar kamu jatuh."


"Iya aku agak ngantuk sih..." Aku menghapus cepat-cepat air mataku sebelum meleleh ke pipi dan terlihat oleh Sofwan dari kaca spion.


"Ya sudah, kalau kamu tidak malu pegangan pinggangku atau pundakku saja."


"Tapi jangan meluk ya...nanti ada yang salah paham."


Aku menarik napas panjang, dia tak pernah berubah. Tetap dingin seperti dulu, tapi tak apalah biar hanya sekedar memegang bahunya.


"Perasaan kamu dulu tinggal dijalan Sudirman Feb...sudah pindah rumah kah?"


"Dijalan Sudirman itu, rumah kakakku Wan, Kalau di jalan Mulawarman itu rumah orang tuaku."


"kamu di jalan Mulawarman di sebelah mananya Wan?"


"Agak masuk kedalam sih, di gang tentram."


"Nanti saya turun di luar saja, biar jalan kaki kedalam, kasihan kamu kalau sampai ngantar masuk kedalam."


"Ngga apa-apa Wan...atau kamu takut istrimu cemburu kah?"


"Istriku bukan tipe wanita cemburuan Feb, selagi masih didalam batas-batas yang wajar."


"Nah ini jalan mau masuk gang rumah saya Feb, sebentar lagi kita sampai."


"Nah itu gang nya dan itu rumah saya, tepatnya rumah almarhumah mertua sih."


Aku sedang menyapu halaman ketika ada motor berhenti didepan rumah.


Ternyata suamiku berboncengan dengan seorang wanita.


"Feby, terima kasih sudah mengantar sampai di depan rumah ya."


"Oh iya, ini Sania istri saya...dek ini supervisor mas dikerjaan yang juga teman sekolah mas waktu SMK dulu."


Aku menjabat tangannya. "Terima kasih ya mba sudah mengantar suami saya pulang sampai rumah."


"Sama-sama mba Sania, jalan kita kan searah kupikir tak ada salahnya pulang bareng, apalagi motornya Sofwan masih dibengkel."


"Iya sudah, aku pamit dulu ya...Sofwan...mba Nia...Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam...hati-hati di jalan ya Feb."


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini mas? Ada kendalakah?"


"Alhamdulillah lancar dek...O iya...Mas tadi dapat rejeki dek..."


Mas Sofwan merogoh kantong bajunya dan mengambil selembar uang seratus ribuan.


"Kamu hemat saja untuk beberapa hari dek, mas mau kebengkel dulu ambil motor ya..."


***Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa berikan like dan komennya...Jika berkenan berikan votenyaπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™***


__ADS_2