Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 218 Batal


__ADS_3

Mungkin sekarang dalam dunianya yang berbeda, Sultan hanya mampu mendengarkan curhatan dan keluhan serta isak tangis Sania tanpa mampu menyentuhnya lagi seperti dulu.


*****


"Kenapa kamu berlari-lari seperti orang ketakutan gitu, Riko? ada apa? terus mana air mineral yang mau kamu beli tadi?" kakek Sanusi heran melihat Riko yang lari tunggang langgang padahal tadi seturunnya dari motor kakek, dia pamit mau beli air mineral.


"Orang-orang ayahku berkeliaran di mana-mana kek...padahal enam bulan sudah berlalu, rupanya mereka belum menyerah juga."


"Itu karena mereka belum menemukan jenazahmu yang membuat mereka yakin jika kamu masih hidup." kata kakek Sanusi


"Bahkan mereka juga berkeliaran di kantor imigrasi, jadi bagaimana caranya ini kek? Riko tak mau tertangkap lagi, dikembalikan pada ayah dan ibu serta dinikahkan dengan wanita lain, Riko sungguh ingin pulang bertemu anak dan istri Riko di Indonesia." Wajah Riko sudah memerah menahan sedih, kesal, marah yang bercampur aduk menjadi satu.


"Begini saja, untuk amannya lebih baik kita pulang dulu...kakek punya kenalan di kantor imigrasi mungkin dia bisa membantumu tapi tidak sekarang, takutnya nanti salah satu dari mereka melihatmu dan menangkapmu kembali."


Akhirnya dengan perasaan gundah Riko menuruti nasehat kakek Sanusi demi keselamatannya sendiri.


"Apa benar mata-mata yang kita sebar pernah melihat perawakan seseorang yang mirip tuan muda kita, Tamsir?" seorang lelaki yang bermata kecil sebelah bernama Timung bertanya pada temannya yang memelihara jenggot panjang seperti kambing gunung yang dipanggilnya Tamsir tadi.


"Orang-orangku adalah orang-orang yang terlatih dengan baik...mereka tidak mungkin salah melihat dan salah mengenali orang, yang mereka lihat beberapa hari yang lalu memang tuan muda kita dan bukan hantunya.


Memang beberapa hari yang lalu Riko pergi mengajak Ahmed ke kota untuk berbelanja keperluan sekolahnya. Kemungkinan di situlah Riko terlihat oleh para mata-mata ayahnya.


Tetapi mereka kehilangan jejak Riko sehingga mereka terus melakukan pencarian ke setiap sudut kota.


Riko menaikan hodie nya merapatkan masker dan juga merapatkan kaca mata hitam yang dipakainya.


Kakek Sanusi menjalankan motornya setenang mungkin supaya tidak nampak gugup agar tak mengundang kecurigaan sama sekali.


"Kita singgah sebentar ke rumah anak sahabat kakek, ya!!" ucap kakek Sanusi.


"Kita akan minta tolong padanya untuk membuatkan surat-suratmu agar bisa pulang kembali ke Indoñesia."


"Apakah anak sahabat kakek itu bisa di percaya?" tanya Riko merasa was-was.


"Insya Allah...Rivai itu sudah kakek anggap seperti anak kakek sendiri jadi kamu tak usah khawatir."


Mereka singgah ke sebuah rumah sederhana di pinggiran kota untuk menemui Rivai.


Tok...tok...tok


Ceklek...


Tampak seorang anak muda yang usianya kurang lebih dengan Riko tampak menongolkan kepalanya saja dari celah pintu untuk mengintip keluar.

__ADS_1


"Assalamualaikum...Rivai!!"


"Waalaikum Salam..."


"Atuk...atuk Sanusi??? senangnya bisa bertemu atuk lagi...maafkan Rivai belum bisa menyambangi atuk sekeluarga." kata Rivai sambil memeluk dan mencium tangan kakek Sanusi.


Lalu matanya beralih pada Riko.


"Siapa dia atuk?" tanya Rivai sambil memindai wajah Riko seperti berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu.


"Ini namanya Riko...panjang pokoknya ceritanya...kakek kemari bersama Riko mau minta tolong padamu, vai!!"


"Mau minta tolong apa, atuk?" tanya Rivai.


"Kamukan bekerja di kantor imigrasi, bisakah minta tolong untuk dibuatkan paspor dan visanya?"


Rivai hanya manggut-manggut mendengar penjelasan singkat kakek Sanusi tentang Riko tetapi matanya tak pernah lepas menatap Riko.


"Aku seperti pernah melihat laki-laki ini tapi di mana ya?? dan kapan?" pikir Rivai.


"Bolehkah aku melihat tanda pengenalnya?" kata Rivai lagi.


Riko memberikan kartu tanda penduduk miliknya dan dilihat dengan seksama oleh Rivai.


"Iya...aku ingat sekarang....dia laki-laki yang ada di televisi, di selebaran yang dinyatakan sebagai orang hilang itukan?" pikir Rivai lagi.


Riko nampak gusar dan gelisah lalu memandang pada kakek Sanusi.


"Tidak apa-apa Riko, ceritakan saja...kakek bisa menjamin kok rahasia aman di tangan Rivai." Kata kakek Sanusi membesarkan hati Riko.


Akhirnya Riko menceritakan semua pada Rivai dari awal sampai akhirnya.


"Maaf ya Riko, tapi menurut berita yang aku dengar lagi mereka tau bahwa kamu belum meninggal, mereka hanya ingin kamu pulang untuk menjenguk ibumu yang sedang sakit."


"Apa??? ibuku sedang sakit??" tanya Riko tertahan.


"Menurut yang aku dengar seperti itu...karena mendengar kamu meninggal dalam kecelakaan maka ibumu shock berat sehingga mengakibatkan mentalnya terganggu oleh sebab itu para pengawal dan bodyquard ayahmu seluruhnya dikerahkan untuk mencarimu."


"Ayahmu ingin kamu pulang kali ini untuk membantu memulihkan kesadaran ibumu dari goncangan jiwanya."


Riko terdiam. Di satu sisi dia ingin mempercayai tentang berita sakitnya sang ibu tetapi di sisi lain Riko takut dia dijebak lagi seperti waktu itu.


Rupanya Rivai dan kakek Sanusi tahu tentang kegalauan Riko, baru di tambah lagi dia juga memikirkan keadaan anak dan istrinya di Indonesia.

__ADS_1


"Kami tidak mau memaksamu, nak tapi ikuti sajalah nalurimu, kata hatimu harus apa dan bagaimana." Kata kakek Sanusi pada Riko.


Akhirnya dengan segala pertimbangan, Riko membatalkan dulu kepulangannya ke Indonesia dia memutuskan untuk kembali ke mansion ayahnya, apapun resikonya akan dia hadapi kali ini, semua demi ibu yang sangat dicintainya.


Besoknya dengan diantar oleh kakek Sanusi, Riko kembali ke tempat yang tak ingin dia datangi lagi.


Dia disambut oleh ayahnya dengan keharuan. Seluruh para pekerja di rumah itu menyambutnya dengan penuh rasa syukur.


"Terima kasih kamu masih mau kembali, nak...maafkan ayah jika selama ini selalu memaksakan kehendak ayah padamu!!" kata pak Baskoro sambil memeluk erat putranya itu.


"Ibu mana, yah???" tanya Riko karena semenjak tadi dia sama sekali tak ada melihat ibunya.


Riko lupa pada kisah yang sudah Rivai ceritakan tentang ibunya yang mengalami gangguan jiwa akibat shock saat mendengar berita tentang kematian dirinya.


Pak Baskoro tak menjawab, dia lalu menggandeng tangan Riko menuju kesebuah kamar yang besar yang perabotannya semua telah di kosongkan.


Saat pintu kamar besar itu dibuka, di atas sebuah kursi roda duduk seorang wanita membelakangi pintu menghadap ke jendela kaca yang besar.


"Ibu...." desis Riko miris.


Dia lah ibu Intan yang dalam segala ketertekanannya karena mendengar kabar kematian putra semata wayangnya mengakibatkan dia kehilangan segala kewarasannya.


Hari-hari yang dia lewati selama 7 bulan ini hanya melamun lalu menangis dan tertawa sendiri sambil memanggil-manggil nama Riko.


Segala upaya telah dilakukan untuk mengobati mentalnya yang tertekan. Banyak yang menganjurkan agar ibu Intan di masukan ke dalam rumah sakit jiwa, tetapi pak Baskoro bersikeras untuk merawat istrinya sendiri.


Ibu intan tidak pernah mengamuk, dia hanya menangis dan menangis memeluk foto Riko dan memanggil-manggil namanya terkadang dia tersenyum dan tertawa sendiri. Pandangan matanya kosong menatap kesatu arah entah di mana.


Riko maju perlahan mendatangi kursi roda ibunya dari belakang dengan perasaan yang campur aduk.


"Ibu???"


Ibu Intan sama sekali tak bereaksi mendengar panggilan anaknya itu.


Riko duduk bersimpuh di depan kaki ibunya sambil memandangi wajah ibunya yang sepertinya baru saja menangis.


"Maafkan Riko bu...maafkan Riko!!" Riko memeluk wanita yang hanya duduk dan diam membisu itu.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Demi kasih sayangnya pada sang ibu, Riko rela mengambil resiko apapun untuk kembali pulang.


Jangan lupa untuk selalu mendukung author receh ini agar bisa terus berkarya. Baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya selalu kunanti😊😊🙏🙏


__ADS_2