
Aku duduk disamping ibu dan mas Sofwan duduk didepan kami.
"Bu, sebelum ibu dan bapak Sofwan datang bersilaturahmi kemari, terlebih dahulu Sofwan ingin menyampaikan dan mengutarakan apa yang ada didalam hati dan pikiran Sofwan, Bu."
Kulihat dia diam sejenak dan menarik napas. Kentara sekali ada kegugupan dimatanya.
"Tenang mas Sofwan...Kataku, Ibu tidak akan menggigit apalagi memakan dan mengunyahmu."
"Nia...Jangan membuatnya semakin tegang dong? Ibu mendelik padaku."
Aku berusaha menyimpan senyumku tak tega juga melihat mas Sofwan gugup tak karuan begitu.
"Begini bu...Sebenarnya Sofwan bingung harus memulai darimana."
"Hanya intinya...Sofwan ingin melamar Nia menjadi pendamping hidup Sofwan bu."
Bukan main, tanpa basa-basi dia to the point pada inti masalahnya.
"Apa yang membuatmu berpikir untuk melamar anak ibu, nak Sofwan?"
"Nak Sofwan kan tahu, Nia itu orangnya jutek jika bicara suka ceplas ceplos."
"Takutnya nanti, ada perkataan Nia yang bisa membuatmu sakit hati."
"Ah...Tidak bu...Sofwan sudah terbiasa dengan sikap dan sifat Nia."
"Tapi yang Sofwan tahu, Nia wanita yang baik, pengertian, jujur dan tak neko-neko."
"Nak Sofwan, menikah itu bukan hanya untuk menyatukan dua hati, tapi juga menyatukan dua keluarga."
"Dan juga nak Sofwan harus siap lahir dan batin."
"Kenapa ibu mengatakan demikian? Karena kelak kamulah yang akan membimbing keluargamu, kamu yang akan menjadi imamnya."
"Jika istrimu membuat kesalahan, arahkanlah dia untuk memperbaikinya."
"Jangan sampai terlontar kata-kata kasar untuk anak dan istrimu, karena mereka adalah tanggung jawabmu."
"Kalian berdua harus bisa saling memiliki dan saling melengkapi. Hargailah pasanganmu, agar kalian bisa langgeng dalam berumah tangga."
"Insyaallah akan Sofwan ingat semua nasihat ibu."
"Sayangi dia nak Sofwan, karena selain ibu, Nia tidak mempunyai siapapun lagi."
"Saudara perempuan satu-satunya yang dia punya, yaitu kakak Sania sudah melupakan kami sejak dia menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya. Dan mengganggap Ibu dan Sania bukan lagi keluarganya."
"Tentu saja Sofwan akan menyayangi Nia, menjaga dan melindunginya bu."
"Terimakasih nak Sofwan, ibu lega mendengarnya."
"Ibu tahu, kamu menyayangi Nia dengan caramu sendiri begitu pula sebaliknya dengan Nia "
"Ibu mengizinkanmu melamar putri ibu, nak Sofwan."
"Tinggal nanti bagaimana tanggapan keluargamu nak."
"Terima kasih bu, jika ibu sudah berkenan menerima Sofwan sebagai calon menantu ibu."
Mas Sofwan bangkit dan beringsut duduk disamping ibu.
"Minggir...Sempit tahu...Bikin penuh tempat saja."
__ADS_1
"Astaghfirullah...Orang ini bener-bener ya..Tidak ada insaf-insafnya ya...Baru saja sadar sebentar, sekarang sudah mulai lagi usilnya."
Aku bergeser tempat duduk, membiarkannya duduk disamping ibu.
Jika bukan calon suami saja sudah kugetok kepalanya pakai ini sandal.
Tangan ibu diraihnya lalu disalaminya dan diciumnya.
Kulihat mata ibu berkaca-kaca, antara terharu dan bahagia.
"Ingatlah Nia, Sofwan...Menikah adalah menyatukan dua hati."
"Salinglah melengkapi bukan hanya disaat senang, tapi juga disaat susah."
"Apapun yang menjadi aib keluargamu, jangan sekali-sekali kamu ceritakan kepada orang lain."
"Karena terkadang pihak ketiga itu masuk dalam kehidupan kita, lebih banyak memperburuk suasana ketimbang memperbaiki keadaan."
"Jika kalian berdua mempunyai masalah, selesaikanlah tanpa melibatkan pihak manapun terlebih dulu."
"Kamu juga Nia. Sebagai seorang istri patuhlah pada suamimu."
"Selalulah ada disampingnya, mendukungnya bagaimanapun terpuruknya dia."
"Karena itulah kewajibanmu, dan tugasmu sebagai seorang istri yaitu berbakti pada suaminya."
Lega rasanya setelah mendapat restu dari ibu. Dan sekarang kami hanya menunggu restu dari orang tua Sofwan.
Semoga saja mereka berpandangan jauh kedepan dan bersikap sebijaksana ibu.
"Nia...Duduk disini nak, dekat ibu."
Setelah sore tadi mas Sofwan pulang, aku kembali berdua dengan ibu dirumah.
"Nak, dengar nasihat ibu, mulai sekarang kamu harus belajar mengendalikan diri.
"Jangan mudah terbawa emosi, jangan suka bersikap egois."
"Kamu lihatkan?" Puluhan tahun ibu menikah dengan bapakmu tak pernah kami bertengkar. Hingga akhirnya bapakmu menghembuskan napas terakhirnya."
"Kenapa demikian? Karena kami berdua berusaha saling mengerti dan memahami. Itulah inti ucapan ibu tadi sore yang ibu ucapkan padamu dan Sofwan."
"Jika suamimu sedang terbawa emosi, jangan kamupun tersulut emosi, begitu pula sebaliknya."
"Salah satu harus ada yang mengalah, agar dirumah itu tidak akan pernah ribut melulu."
"Selain tidak enak didengar tetangga, rejeki juga enggan datang kerumah tangga kita."
"Nggeh bu...Semua nasihat Ibu akan Nia turuti."
Memang seingatku, sepanjang pernikahan ibu dan bapak, mulai aku dan kakakku masih kecil hingga kami dewasa, tak pernah sedikitpun kudengar ibu dan bapak bertengkar.
Jika ibu salah maka bapak akan menasihatinya dengan lemah lembut. Tak pernah ada sedikitpun nada bentakan dalam setiap perkataan beliau.
Begitupun sebaliknya, bapak akan berbesar hati untuk meminta maaf pada ibu jika apa yang beliau lakukan salah.
Ibu memang seorang wanita yang bijaksana, lemah lembut dan juga tangguh.
Terbayang kasih sayang ibu merawat bapak saat sedang sakit hingga bapak menghembuskan napas terakhirnya.
Tak sedikitpun kalimat keluhan keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Dengan uang pensiun bapak yang tak seberapa. Walaupun ibu juga harus terpontang panting mencari kerja tambahan untuk menghidupi aku dan kakakku.
Hingga akhirnya setelah bapak meninggal dan kakakku menikah dengan suami yang kaya lalu pergi mengikuti keluarganya bahkan hingga kini kabarnya tak lagi kami dengar.
Ibu juga tak pernah kudengar sedikitpun mengeluh tentang kakakku. Ibu hanya bilang "biarlah saat ini dia mengikuti kata hatinya, semoga suatu hari kelak dia akan sadar jika dia masih mempunyai ibu dan adik."
"Bu, apakah keluarga mas Sofwan akan menerima Nia, bu?"
"Terkadang Nia takut bu."
"Sudah..Jaangan berpikiran yang buruk dulu tentang keluarga calon suamimu."
"Kamu berdoa saja, semoga mereka bisa menerima kehadiranmu ditengah-tengah mereka."
"Tapi ibu bersyukur pada Allah, diusia ibu yang sudah tua ini, ibu masih diberi kesempatan bisa melihat anak ibu menikah."
Aku melihat ibu meneteskan airmata. Karena aku tahu dulu saat kakakku menikah, ibu tak menghadiri pernikahannya.
Karena kakakku memilih kawin lari sebab ibu menentang pernikahan mereka.
Ibu tahu suami kakakku masih memiliki istri yang sah saat mereka memutuskan untuk hidup bersama.
Masih jelas dalam ingatanku sewaktu kak Della terang-terangan menentang ibu.
"Bu...Della mencintai mas Irwan. Dan kami akan menikah."
"Della tak peduli ibu setuju atau tidak dengan pernikahan kami."
"Kami akan tetap menikah, dengan atau tanpa restu dari Ibu."
"Tapi kamu tahu Della, Irwan itu masih berstatus sebagai suami sah dari perempuan lain."
"Jika kamu tetap nekat menikah, itu artinya kamu tega merebut sesuatu yang bukan menjadi milikmu."
"Ingat Della...Setiap perbuatan yang kita lakukan, akan mendapatkan balasan yang setimpal."
"Perbuatan baik akan mendapatkan balasan yang baik, sebaliknya perbuatan jahat akan dibalas setimpal pula."
"Apa yang kamu rebut dengan paksa hari ini, suatu hari kelak akan direbut pula oleh orang lain."
"Jadi ibu menyumpahi Della bu?"
"Ibu tidak suka melihat Della bahagia?"
"Ibu bukan menyumpahimu Della, tidak ada satupun ibu dimuka bumi ini yang tega melihat anaknya tidak bahagia."
'Semua ibu ingin sekali melihat anaknya hidup bahagia, tapi bukan begini caranya, Della!"
"Kebahagiaanmu sekarang adalah hasil merebut kebahagiaan dari orang lain."
"Itu artinya kamu menari diatas penderitaan orang lain."
"Tidakkah kamu punya hati sedikit saja, cobalah kamu bayangkan seandainya kamulah yang sekarang ada diposisi perempuan itu saat ini."
"Bagaimana perasaanmu Della?? Tidak adakah sedikit saja rasa belas kasihan dihatimu?"
"Della tidak peduli apapun yang ibu katakan, Della ingin mencari jalan hidup Della sendiri."
Itu adalah hari terakhir aku melihat kakakku ada dirumah ini, hingga sampai sekarang hubungan kami terputus.
***Bersambung....
__ADS_1
...Jangan lupa like dan komen terimakasih 😊🙏***...