
"Mas...aku kepingin makan nasi mawut yang ada di depan toko utama itu."
"Ya sudah ntar habis sholat maghrib akan mas belikan."
"Aku pengen ikut kesana mas..."
"Tapi di situ lumayan jauh dek...motor mas kan masih di bengkel."
"Masa kamu mau jalan kaki kesana? sudah mending di rumah aja nanti mas yang belikan."
"Pokoknya aku mau ikut...aku mau makan di sana aja...ngga enak kalau sudah di bawa pulang ke rumah." Aku tetap ngotot.
"Iya...iya...tapi awas nanti kalau mengeluh kecapean yah..."
Akhirnya mas Sofwan luluh juga dan membiarkanku jalan kaki dengan nya ke warung nasi mawut.
"Memang kamu ngga bosankah dek? setiap hari kamu titip nasi mawut terus."
"Baru harus dari warung itu, ngga mau dari warung yang lain."
Iya sih pernah waktu itu dibelikan mas Sofwan dari warung yang lain karena warungnya lagi libur ngga jualan.
Aku langsung tau itu bukan nasi mawut kesukaanku. Aku sama sekali tidak mau menyentuhnya, membuat mas Sofwan jadi mengelus dada melihat kelakuanku.
Aku senang banget walau harus berjalan kaki pulang pergi.
"Bagaimana perasaanmu setelah kita makan di sana tadi dek?"
"Aku senang banget mas walaupun capek tapi tak terasa capeknya."
*
*
"Mas...perutku mulas sekali, ya? rasanya pengen b.a.b terus."
"Kali kamu kecapean jalan tadi, sudah istirahat sana dulu."
Aku membolak-balikkan posisi badanku agar rasa mulas di perutku berkurang.
"Aduh...kenapa perutku sakitnya kadang hilang kadang muncul ya?"
"Apa aku sudah mau melahirkan ya?"
Sampai malam aku tak bisa tidur nyenyak. Rasa sakit lalu cuaca terasa panas padahal kipas angin sudah menyala nonstop.
Aku bangun mau kekamar mandi. Tapi..."Mas...mas Sofwan...." aku berteriak dari kamar mandi dengan panik."
"Ada apa dek..." suamiku langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi.
"Mas ada darah merembes di pangkal pahaku..."
"Aduh...kamu kayaknya pendarahan dek...kan sudah mas bilang jangan jalan kaki terlalu jauh, bolak-balik lagi."
"Ya sudah kamu bersihkan diri dulu, mas mau ke tempat pak rt pinjam motornya dulu." Aduh...mana motor mas masih di bengkel lagi besok baru diambil.
Mas Sofwan kulihat menelpon seseorang, mungkin pak rt lalu dia berganti baju dan bergegas keluar rumah.
__ADS_1
Aku membersihkan rembesan darah di pahaku setelah itu aku berganti baju dan bersiap-siap.
Tak lama mas Sofwan datang dengan meminjam motor pak rt, membawa tas baju ganti punyaku dan punya bayi serta keperluan yang sudah lama di persiapkannya.
"Bisakah kamu naik dek? bonceng perempuan aja ya."
Dengan susah payah aku naik sambil menahan sakit di perutku.
"Sabar ya dek, kliniknya agak jauh kamu tahan sebentar ya..."
Diatas motor jika rasa sakitnya hilang aku tenang, tapi jika rasa sakitnya datang kembali aku meremas bahu suamiku sekuat-kuatnya.
Kami tiba di depan klinik bersalin jam 2 dini hari. Untung klinik ini buka 24 jam dan aku langsung disambut dengan kursi roda.
"Mas aku mau jalan kaki saja..." bisikku..."ngga enak dilihat orang."
"Mbok ya jika di kasih tahu itu jangan ngotot dek..." gumam mas Sofwan.
"Ini baru pembukaan 7 bu...untuk memperlancar persalinannya ibu bisa jalan pelan di sekitar ruangan ini dan jika sakitnya datang lagi ibu bisa berhenti dulu."
Tapi karena aku pendarahan, sakit yang kurasakan jadi berlipat-lipat rasanya.
"Nanti jika ibu merasakan sakit yang terus menerus, itu artinya ibu sudah mau melahirkan...sekarang ibu makan saja dulu untuk menambah tenaga."
Tapi rasa lapar itu sudah hampir tak ada yang kupikirkan hanya rasa mulas di perutku. Berkali-kali aku menarik dan membuang napas untuk mengurangi rasa sakitnya.
Mas Sofwan dengan setia menemaniku di sini. Tak lama ketiga sahabatku juga datang kemari menjengukku.
Rupanya tadi selain menelpon keluarganya mas Sofwan juga menelpon ketiga sahabatku.
"Sudah sikat gigi belum?" kata mas Sofwan tersenyum.
"Belum sih...ngga kepikiran lagi...tau kalau Tini sama Tuti."
"Dasar jorok kamu Wati...biar kami hanya cuci muka saja tapi kami sikat gigi tau..." Tini mengomel.
Kedatangan 3 temanku, mendengar banyolan mereka setidaknya mengurangi rasa sakitku.
"Mas...rasanya sakit sekali..." aku sampai terbungkuk memegang erat kedua lututku.
"Ayolah berbaring sana mas panggilkan perawatnya dulu ya..."
"Sudah dekat bu...tenangkan diri dan atur napas ya...sudah pernah diajarkan kalau setiap periksa kemarikan?"
"Yang tidak berkepentingan di luar dulu supaya calon ibu tidak terlalu stres."
"Tapi saya boleh mendampingi istri saya kan sus..."
"Memang harus pak, untuk tetap menyemangati istrinya."
Tak lama bidan yang menangani persalinan tiba. Aku sudah tak bisa bicara lagi...mas Sofwan terus menyemangatiku.
"Aduh...rasanya aku ingin masuk membantu Nia di dalam..."
Wati mondar-mandir di depan pintu seperti setrikaan, sesekali menjulurkan kepalanya lewat pintu kaca yang tertutup.
"Coba tenang napa...Wati...aku malah pusing melihatmu mondar-mandir begini." Tuti melototkan matanya.
__ADS_1
"Aku ngga bisa tenang tau...rasanya aku ingin masuk dan membantu."
"Membantu apa Wat...membantu membuat keributan dan kekacauan..." sergah Tini.
"Sudahlah kamu tenang dan duduk...kita berdoa semoga sahabat kita bisa melewati semua ini."
Suara tangisan bayi terdengar nyaring dari balik pintu...
"Alhamdulillah," kompak mereka mengucap syukur.
Sofwan keluar tersenyum lega. "Bayinya perempuan, anak pertamaku perempuan."
"Keadaan Nia bagaimana bang?"
"Alhamdulillah Tin, ibunya sehat hanya sedikit lemah saja."
"Bolehkah kami masuk melihat keadaannya, bang?"
"Masuklah."
"Bagaimana keadaanmu, Nia?"
"Aku baik-baik saja teman-teman, kataku... "hanya badanku rasanya lemas sekali."
Setelah dibersihkan oleh bidannya, bayi mungil itu diletakan di sampingku.
"Lucunya," akan diberi nama siapa si imut ini?"
"Kami berdua sepakat memberinya nama Andina Salzabila."
"Dia adalah anugerah terindah yang diberikan Allah untuk kami."
"Terus kakek dan neneknya tidak datang menjenguk kemari?" Kata Tuti.
"Mungkin sebentar lagi, kan perjalanannya lumayan jauh."
"Pak, karena istri anda melahirkan normal dan keduanya sehat, jadi nanti sore sudah bisa pulang."
"Syukurlah mas, jadi kita tidak perlu menginap di sini."
"Rasanya aku tak sabar lagi untuk pulang membawa Andina ke rumah."
"Iya dek, ibu sama bapak mas minta untuk menunggu di rumah saja."
"Ibu sama bapak sudah mas beri tahu di mana kunci rumahnya?"
"Kan kasihan jika harus menunggu kita sampai sore, hanya duduk di teras."
Terima kasih ya Allah...puji dan syukur aku panjatkan. Setelah ibu diambil dariku, telah Engkau berikan lagi penggantinya yaitu berupa bayi mungil yang cantik.
Jika sudah begini, rasanya perjuangan selama 9 bulan 10 hari membawanya kemana-mana di dalam rahimku dan perjuangan rasa sakit yang kurasakan selama kurang lebih 10 jam tadi, seolah tak lagi terasa.
Aku tersenyum memandangnya yang tertidur pulas di sampingku. " Semoga kelak engkau akan menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, negara dan agamamu nak..."
***Bersambung....
Jangan lupa memberi like dan komennya dan jika berkenan memberi votenya🙏🙏***
__ADS_1