Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 84 Kejujuran 1


__ADS_3

Sudah seminggu ayah di Singapura, sampai sekarang belum juga pulang. Bahkan sudah dua hari ini tidak bisa dihubungi sama sekali.


Aku memegang ponsel sambil duduk di taman belakang.


Drrrtttt....drrrttt


Kulihat panggilan dari mas Sofwan. "Assalamualaikum...ya, halo mas..."


"Waalaikum salam...apa kabarmu dan anak-anak, dek?"


"Alhamdulillah kami di sini baik, mas."


"Dek...bisakah nanti habis maghrib kita jalan keluar bersama anak-anak? mas mau ngajak kalian ke wahana yang baru diresmikan itu."


"Coba nanti mas Sofwan telepon lagi, kutanyakan pada anak-anak dulu, apakah mereka mau pergi malam ini?"


"Dek..."


"Hmmm...iya, kenapa mas?"


"Mas kangen banget sama kamu dan anak-anak..."


"Mas boleh kangen sama anak-anak, tapi jangan denganku...karena di antara kita sudah terlarang ada rindu."


"Mas Sofwan ngga peduli, dek...tak ada yang bisa melarang mas merindukanmu."


"Dasar keras kepala..." kataku!!


"Karena dulu mas menceraikanmu di luar kesadaran, mas...bukan karena kemauan mas sendiri."


"Sampai kapan mas akan sadar kalau kita sudah berpisah? kita tak mungkin bersama lagi."


"Sampai mas bisa mengambil kembali milik mas yang telah terenggut paksa dari sisi mas Sofwan."


"Anak-anak...bapak mengajak kalian ke wahana yang baru saja diresmikan itu, lho...kalian mau ngga?"


Dan mereka dengan kompak menjawab, "mau..."


"Kalian tunggu jam 7 malam ya...nanti mas jemput kalian berempat."


Sontak ketiga anakku seperti cacing kepanasan, bersorak kegirangan. Begitu semangatnya mereka saat mendengar mau diajak pergi keluar oleh bapaknya.


*


*


"Memangnya Anggita pergi kemana mas? kok mas bisa keluar mengajakku dan anak-anak?"


"Anggita dan Aisyah pulang ke Yogya...Angga adiknya Anggita mau tunangan...mungkin hari sabtu nanti kalau ngga ada halangan, mas akan menyusul mereka."

__ADS_1


"Dek, ada hal yang ingin mas tanyakan padamu...tapi kamu jangan tersinggung, ya?"


"Soal apa itu, mas?"


"Begini dek..." Lama mas Sofwan menatapku sebelum dia memulai pembicaraannya.


"Kamu dan Miko ada masalahkah?" tentu saja aku kaget mendengar mas Sofwan berkata seperti itu.


"Ngga...memangnya ada apa, mas?"


"Ngga...syukurlah jika kalian baik-baik saja."


"Tapi aku sedang tidak baik-baik saja mas, sembilan tahun kita bersama...jadi aku tau persis kalau mas Sofwan sedang menyembunyikan sesuatu dariku."


Aku paham betul watak mantan suamiku ini, jika dia mulai menggantungkan perkataannya...pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikannya.


"Ini sudah bukan urusan mas lagi dek, kamu sudah punya keluarga sendiri dan mas juga demikian."


Aku terdiam mendengarnya, bukankh kata-kata itu sering kuucapkan padanya?


"Huffttt...sebenarnya mas mau tanya sesuatu, dek...tapi kamu jangan marah, ya?


"Perasaan dari tadi perkataan mas ini muter-muter melulu kayak komedi putar, ngga nemu ujungnya."


"Mas hanya takut kamu marah dan tersinggung dek, itu aja."


"Tapi kalau mas diam saja, mas kasihan sama kamu dan anak-anak."


Dia menarik napas panjang sebelum memulai pembicaraannya.


"Dek, mas mau ngajak kamu dan anak-anak keluar ini sebenarnya bukan hanya sekedar jalan-jalan, tapi ada hal penting yang mau mas tanyakan padamu."


"Ini terkait dengan Miko, dek!!!"


"Kemarin mas itu pulang dari bandara habis mengantar Anggita dan Aisyah!!! di perjalanan pulang, mas itu melihat Miko dengan seorang wanita masih mudalah kira-kira kurang dari 25 tahun."


"Mereka berdua turun dari taxi bandara, berhenti di sebuah hotel di jalan Sudirman."


"Awalnya mas pikir mata mas Sofwan aja yang gesrek dan salah liat."


"Karena penasaran akhirnya mas berhenti untuk memastikan....setelah mereka berdua chek-in dan masuk kamar, mas tanya sama resepsionisnya."


"Namanya Miko itu, Jatmiko Sarendra kan?" aku mengangguk.


"Ternyata mata mas masih normal, yang wanita itu bernama Alena...kata resepsionisnya sih istrinya Miko tadi."


"Karena di hotel itu kayaknya kalau bukan suami istri ngga bisa ngamar deh...mereka ngakunya suami istri dan menunjukan foto pernikahan mereka."


Mendadak lututku terasa lemas mendengar penuturan mas Sofwan. Memang selama dua hari ini, ayah tidak bisa dihubungi sama sekali...selalu di luar jangkauan.

__ADS_1


Aku bersandar pada pohon tempat kami menunggu anak-anak bermain.


Entah kenapa apa yang barusan dikatakan oleh mas Sofwan itu kurasa ada benarnya. Karena yang aku tau mas Sofwan itu orangnya ngga pernah berkata dusta.


"Kamu ngga apa-apa, dek? sudah ngga usah kamu ambil hati perkataannya, mas...mungkin saja orang lain yang kebetulan ada kemiripan nama dengan Miko."


"Yuk kita datangi anak-anak...kasihan dari tadi mereka mainan sendiri."


Mas Sofwan menggandeng tanganku erat-erat, seolah ingin memberikan perlindungannya padaku.


"Mas...kalau besok suamiku belum juga pulang dan belum bisa ditelepon juga, maukah mas mengantarku ke hotel yang mas liat kemarin?"


"Mau apa kamu kesana, dek?"


"Aku hanya ingin memastikan saja mas."


"Oke...besok sore sepulang kerja mas antarkan kamu kesana."


Aku sama sekali tidak fokus pada anak-anak yang sedang bermain. Aku hanya duduk saja memandangi mereka dan mas Sofwan saja yang tertawa gembira bersama anak-anak.


*


*


Apa yang dilihat Sofwan itu memang tidak salah. Itu memang benar Miko dan Alena. Miko sementara memang menginap di situ sambil dia mencarikan kontrakan buat Alena.


"Aduh...betapa bersalahnya aku pada bunda, aku memang sengaja mematikan ponselku supaya tidak bisa dihubungi... karena aku tak tahu harus bilang apa!!!"


"Besok abang mau pulang ke rumah ya Alena, kasihan istri abang di rumah...Kamu tinggal dulu di hotel ini untuk sementara, sampai abang dapat kontrakan rumah untukmu."


"Bang...bukan hanya kak Nia yang istri abang, Alena sekarang juga sudah menjadi istri abang."


Aku tercekat lalu menelan salivaku mendengar perkataan Alena. Iya, aku lupa...Alena juga sudah menjadi istriku sekarang, walaupun dari pernikahan yang tidak kuinginkan sama sekali.


"Bang...kenapa Alena tidak diajak saja tinggal bersama abang? bilang jujur saja kalau Alena adalah anak paman Leon."


"Ini Indonesia bang, Alena takut tinggal di tempat asing seorang diri tanpa abang."


Aku terdiam mendengar perkataan Alena. Sebenarnya apa yang dia katakan ada benarnya juga. Dia sekarang seorang diri, aku telah membawanya kemari berarti aku harus siap untuk menjaganya.


Tapi apa yang harus kukatakan pada istriku di rumah? tak mungkin aku terus menerus untuk menutupi kebohongan ini.


"Apa yang harus hamba lakukan, ya Allah..." aku mengusap mukaku dengan kasar.


Kulihat Alena sudah tertidur pulas di kasur. Sedangkan aku? sudah beberapa malam ini aku tidak bisa tidur nyenyak...aku selalu di hantui mimpi buruk.


Dan juga aku harus masuk untuk bekerja kembali. Tak mungkin aku tinggalkan Alena seorang diri...apa dia kubawa pulang kerumah sajakah?


***Bersambung...

__ADS_1


Kadang author juga kehabisan ide untuk melanjutkan kisah percintaan antara Sania, Sofwan dan Miko...mohon dukungannya selalu ya...like, komen, vote dan favoritnya...happy reading๐Ÿ’œ๐Ÿ’•๐Ÿ’•***


__ADS_2