
"Mantra apa yang diucapkan wanita itu sehingga laki-laki menyayanginya? Betul-betul kamu Sania!!" Alena mengepallan tinjunya keudara.
Dia begitu geram melihat Riko memperlakukan Sania seperti istri tercinta. Dari menggandengnya keparkiran, membukakan pintu mobil sampai membantu menaikan kedalam mobil.
"Ada hubungan apa sebenarnya antara Riko dan Sania ya? Mereka kenal di mana coba?" Alena masih menggerutu.
"Tante tadi sudah makan?" Riko menoleh kepada Sania yang duduk di sampingnya.
"Tante ngga selera makan Riko, rasanya semua makanan yang kutelan terasa pahit." Jawab Sania singkat.
"Temani Riko makan bakso yuk tante, Riko laper nih!!" Riko mulai merengek seperti anak kecil.
"Kamu ini...macam masih kecil saja kelakuanmu!! Sudah pinter tidur sama perempuan tapi masih merengek seperti bayi!!" Kataku.
"Asyik...aku tau tante ngga mungkin bisa nolak rengekanku...berhasil!! Maafkan Riko tante, ini semua Riko lakukan agar Riko bisa lebih lama dengan tante Sania!!" Batin Riko.
Karena Riko terus memaksa, akhirnya Sania mau makan juga. Riko tampak bahagia sekali, tak pernah sedikitpun dia melepaskan pegangan tangannya dari lengan Sania, persis seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya.
Sambil makanpun Riko yang duduk bersebelahan dengan Sania tak henti memeluknya persis seperti saat dia masih kecil dulu.
"Riko...makan yang betul kalau meluk tante terus kapan selesai makannya!!" Ucapku memperingatkannya.
"Biarin...biar tante ngga usah pulang, nemeni Riko aja!!" Dia memonyongkan bibirnya.
"Riko, habis ini antar tante pulang ya!! Kepala tante mulai pusing, tante pengen rebahan dan tidur!!" Jawabku sambil sesekali memijit keningku.
"Baiklah tanteku sayang...nanti akan Riko antar pulang bila perlu Riko antar sampai ketempat tidur." Canda Riko.
"Riko, tante mau tanya sama kamu jawab jujur ya?" Aku mulai serius.
"Ko, kapan terakhir kamu dan Alena tidur bersama?" Aku menatapnya.
"Tan, bisakah tidak membahas tentang itu? Riko nyesel telah melakukannya!!" Riko tampak gusar.
"Ko, tante tidak melarangmu tidur dengan wanita manapun karena itu adalah hakmu...tapi tidak dengan Alena, karena jika dia hamil anakmu maka dia akan mengikatmu selamanya."
"Tante tidak melarang Riko? Tante kenapa tidak marah mendengar Riko berhubungan dengan wanita lain?" Riko mulai memperlihatkan wajah seriusnya.
"Ya nggalah Ko, tante ngga ada hak untuk marah apalagi sampai melarangmu...asalkan satu, tidak dengan Alena.
Wajah Riko mendadak kucel dan cemberut. Dia mengharapkan Sania memarahinya, bahkan menamparnya jika itu memang bisa membuatnya puas.
__ADS_1
"Tante, tak adakah sedikit saja tante Sania menyimpan rasa untuk Riko?" Desahnya pelan.
"Tentu Riko, Riko tau kan sejak Riko kecil tante sangat sayang padamu!!" Ucap Sania sambil memeluk Riko dan mengacak rambut ikalnya.
Hati Riko mencelos...sedih rasanya mendengar Sania masih tetap menganggapnya bocah dan bukan sebagai pria dewasa.
Padahal dia ingin Sania menganggapnya lebih seperti yang pernah dia katakan dulu, jika dia dewasa kelak dia ingin melamar Sania.
"Kenapa kamu cemberut? Tidak terima tante larang untuk dekat-dekat Alena?" Tanyaku lagi.
"Bukan tante, Riko tak peduli sedikitpun tentang Alena...Riko hanya kesal karena tante masih menganggap Riko sebagai bocah kecil." Riko semakin cemberut.
"Lho, Riko memang bocah kecilnya tante Nia yang sangat tante sayangi." Sania memeluk Riko.
Sayangnya...ada perbedaan persepsi sayang antara keduanya. Sayang bagi Sania ke Riko adalah murni kasih sayang seperti kakak pada adiknya, seperti tante pada ponakannya.
Tetapi berbeda dari sudut pandang Riko sendiri. Riko menyayangi Sania bahkan lebih parahnya Riko jatuh cinta pada wanita yang sejak dia kecil sudah ditaksirnya itu.
Apalagi duduk sedekat ini dengan Sania, dia bisa mencium wangi tubuh dan rambut wanita pujaannya itu semakin membuat Riko mabuk kepayang.
Cinta monyet yang mampu dia pertahankan sampai sekarang menjadi cinta yang sesungguhnya.
"Ayo kalau sudah selesai kita pulang Ko!!" Ujarku.
Di depan rumah Niko sudah menunggu dengan wajah masamnya.
"Dari mana bun? Jam segini baru pulang...terus ini siapa?" Dia menunjuk Riko.
"Aku...oh iya ini Riko tetangga kecilku dulu kami tak sengaja bertemu, Niko!!" Aku berusaha menjelaskan.
"Bun, bunda itu sedang sakit jangan sering keluyuran sendiri keluar, calon suami kok sering ditinggal." Niko menarik tanganku yang digenggam Riko.
"Oh iya anak muda, terima kasih ya sudah menemani calon istri saya lain kali tidak usah karena saya yang akan menemaninya." Niko tersenyum pada Riko sambil memelukku.
Dahi Riko mengerenyit dan wajahnya memerah ketika hendak menyahuti perkataan Niko, aku memberinya isyarat kedipan mata. Akhirnya dengan berat hati dia pulang juga.
"Apa-apaan sih Ko??" Aku melotot menatap kesal padanya.
"Riko itu lho sudah kuanggap sebagai adik kecilku sendiri." Aku masih tak terima dia bicara begitu pada Riko.
"Adik kecil kamu bilang? Tak bisakah kamu mengartikan sinar matanya saat menatapmu dengan mesra?" Niko menatapku juga tak kalah kesal.
__ADS_1
"Apa sih maksud perkataanmu? Aku ngga ngerti sama sekali!!" Jawabku bingung.
"Bun, anak laki-laki kecil yang kamu panggil Riko itu sudah dewasa sekarang, aku ini seorang laki-laki...aku bisa mengerti mana tatapan cinta sebagai adik dan mana tatapan cinta sebagai kekasih!!"
"Dan Riko kini mengharapkan bunda untuk menjadi kekasihnya, paham?" Tekan Niko.
"Ngga, jawabku!!"
"Lagian ngga mungkinlah, usia kami terpaut sangat jauh...jadi mana mungkinlah!!" Kataku ngeyel.
"Bun, usia yang lebih tua atau lebih muda tak menjamin kita suka dan mencintai seseorang."
"Bisa jadi Riko mencintaimu karena sudah terlanjur nyaman denganmu sejak dulu." Niko kembali menjelaskan.
Aku termangu mendengar penjelasan Niko barusan.
"Masa iya, ya? Tapi memang sih pelukannya, kecupannya di pipi dan keningku bukan seperti adik pada kakaknya, tetapi lebih tepatnya seperti untuk kekasihnya."
Tapi aku tak mau mengatakannya pada Niko takut dia bertambah sewot nanti mendengarnya.
"Apa yang kamu pegang itu bun?" Niko tiba-tiba mengambil kresek obat dari tanganku.
Aku tadi lupa menyimpan obat yang kutebus dari apotik.
"Kamu sakit apa bun? Kenapa ngga pernah cerita padaku?" Cecar Niko.
"Aku...aku hanya sedikit kelelahan saja Niko!" Jawabku. Aku tak mau menceritakan tentang penyakitku padanya.
Niko memandangku tajam seolah mencari kebenaran di antara kedua bola mataku.
"Aku tau kamu menyimpan sesuatu dariku bun, mataku bisa kamu bohongi tapi tidak dengan mata hatiku...ingat, aku melihat dengan mata hatiku selama belasan tahun saat aku buta dulu jadi mata hatiku lebih peka dari mataku sendiri." Batin Niko.
"Aku akan mencari tau sendiri jawabnya bun dengan atau tanpa persetujuanmu." Gumamnya.
Sebelum dia kembalikan obat-obatan itu pada Sania, terlebih dahulu ditelitinya obat itu dan semua nama dan data tentang obat yang dia pegang langsung tersave di memori otak Niko yang memang encer dan punya kemampuan untuk bisa mengingat sesuatu hanya dengan sekali melihat dan membacanya.
*
*
Sepertinya ada yang cemburu nih...selain Alenaππππ
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasihππ