
Kepalaku terasa pusing sekali. Tapi rasa sakit dan nyeri di perutku sudah hilang. Aku berusaha mengumpulkan kesadaranku kembali.
Dan akhirnya tergambar jelas seperti reka ulang sebuah peristiwa, apa yang sudah kualami tadi sore.
Aku meraba perutku. Masih adakah dia di dalam sana?
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. "Bunda? Bunda sudah bangun?" Muncul kepala Juned dan Syifa dari luar pintu.
"Oh kalian...mana kak Dina?"
"Kak Dina lagi di dapul mau membuatkan teh hangat untuk bunda!!" Jawab Syifa.
"Sayang...bunda sudah sadar?" Miko muncul dan langsung masuk menghampiriku.
"Stop....aku mengangkat tanganku. "Stop di situ aja, aku tidak apa-apa."
Miko terkejut dan langsung berhenti seketika.
"Bun...ayah mau melihat keadaan bunda, ayah sangat khawatir dengan bunda."
"Aku sudah baik-baik saja...tak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Maaf...aku ingin istirahat dan ingin sendiri dulu!!! Bisakah tinggalkan aku sendirian saja?"
"Bunda...."
Akhirnya dengan perasaan sedih bercampur kecewa dan juga rasa bersalah yang besar, Miko keluar dari kamar.
Di ruang tamu sudah duduk menunggu Alena. "Bagaimana keadaan kak Sania, bang?" Aku tak menjawab. Hanya terduduk lemas di sofa sambil menutup wajahku.
Inilah sebenarnya yang aku takutkan...tidak mudah untuk memberi pengertian, apalagi ini soal hati dan perasaan.
"Bang..." Alena menggenggam tanganku.
"Lepas, Alena...abang tidak mau melihat istri abang semakin terluka."
"Apa lagi dia saat ini sedang hamil...tadi aja abang hampir kehilangan bayi yang ada di dalam kandungan istri abang."
Mereka berdua duduk terdiam dan hanyut dalam renungan masing-masing.
"Bun...di minum dulu tehnya ya..." Dina duduk disamping pembaringanku.
"Hampir saja bunda kehilangan dedek bayinya..." Dina memberitahukanku.
"Kenapa tadi bunda mengusir ayah? Tadi ayah mau masuk menjenguk bunda!!!"
"Tidak perlu, Dina...ayah tidak perlu mengkhawatirkan bunda lagi, lebih baik sekarang dia mengurusi urusannya sendiri."
Inikah karma dari pengkhianatanku tempo hari? Mestinya aku tidak boleh membenci Miko, akulah yang telah lebih dulu berbuat, hingga aku juga yang telah menerima akibatnya.
__ADS_1
Aku bangun dari pembaringan. "Bunda mau kemana?" Tanya Dina...
"Bunda mau duduk di taman belakang saja, di kamar malah sumpek rasanya."
Aku berjalan pelan menuju ke belakang, di dapur kulihat Miko dan Alena sedang makan mie rebus di meja makan.
Melihatku yang berjalan pelan, Miko segera berdiri dan menghampiriku.
"Bunda mau ayah buatkan mie rebus juga?" Aku menggeleng sambil menepis pelan tangannya yang hendak membantuku.
"Aku mau duduk di taman belakang, mau lihat Syifa dan Juned bermain."
"Ayah temani, ya!!!"
"Tidak usah...aku pengen sendirian aja di belakang."
Miko termenung mendengar penolakan demi penolakanku. Hatinya sedih sekaligus sakit, tapi dia sadar akan kesalahannya.
Hatiku pun sakit sekali. Aku merindukan suamiku, tapi seperti juga mas Sofwan...mereka tak bisa lagi utuh kumiliki.
Tak lama Dina datang dengan gitarnya. Dina belajar gitar setiap hari karena di acara perpisahan kelas 6 nanti, dia diminta untuk menyanyi.
"Bun, dengerin Dina menyanyi ya...sudah itu kasih tau suara Dina jelek atau ngga."
Dia mulai memetik senar gitarnya...aku dengar dia menyanyikan lagu remaja yang lagi hits sekarang ini.
Aku merindukanmu..
meski kini kau jauh..
hatiku tetap untukmu...
Aku rindu perhatianmu..
ketulusan dalam hatimu..
meski jarak memisahkan..
hatiku tetap untukmu...
Tak terasa air mataku menetes mendengar Dina menyanyi. Suaranya yang merdu ditambah lagi dengan petikan gitarnya yang mendayu-dayu, seolah mengingatkanku tentang nasib rumah tanggaku sekarang ini.
Merindukan tapi dia telah jauh. Aku butuh perhatiannya dan ketulusannya seperti dulu, tapi ada jarak yang sudah memisahkan kami berdua.
Dina berhenti menyanyi mendengar suara isakanku. "Bunda kok malah menangis? Bagaimana bunda bisa menilai suara Dina kalau bunda belum apa-apa sudah menangis?"
Mendengar suara isakanku, Juned dan Syifa yang sedang bermain tiba-tiba berhenti lalu berlari kepelukanku.
Aku memeluk ketiga anak-anakku yang juga ikut menangis. "Jangan menangis bunda...kalau ayah Miko sudah punya bunda balu...kita pelgi aja dali sini, yuk bunda!!!" Syifa mengusap air mataku sambil ikut menangis.
__ADS_1
"Kita pulang aja lagi kelumah kontlakan kita yang dulu, bun!!"
Tanpa kami berempat sadari, dari balik pintu berdiri sosok Miko. Dia pun ikut menangisi kehancuran bahtera rumah tangganya yang walaupun perlahan, tapi pasti akan pecah. Air mata tak hentinya mengalir dari kedua kelopak matanya.
Dia ingin sekali memeluk istri tercinta, menggendongnya dan ingin mengucapkan betapa dia sangat bahagia karena sebentar lagi bisa memiliki anak dari Sania.
Tapi jangankan menggendong, menyentuh, mendekati saja dia tak bisa.
Apalagi tadi dia sempat mendengar perkataan Syifa untuk mengajak Sania pergi karena dia sudah punya bunda yang baru.
Dia tersandar lemas di dinding dapur, lalu jatuh melorot ke lantai.
"Ayah tidak akan membiarkan kalian pergi, apa lagi dalam keadaan bunda kalian mengandung seperti ini."
"Hidup di luar sana dengan banyak penderitaan yang akan kalian alami."
"Ayah bisa gila kalau harus berpisah sekali lagi dengan bunda..."
"Kalian sayang bunda, ngga? Sayang sama dedek bayi, ngga?"
"Kita sayang banget sama bunda dan dedek...kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain bunda."
"Bapak Sofwan sudah meninggalkan bunda, sekarang ayah Miko juga akan meninggalkan bunda, tapi kami bertiga akan tetap bersama bunda selamanya."
"Terima kasih anak-anak...demi kalian bunda harus kuat."
"Maafkan Dina jika nyanyian Dina membuat bunda sedih dan menangis ya, bun!!!"
"Ya sudah kalian lanjut mainnya, bunda mau ke kamar kalian."
Aku berdiri dan jalan perlahan masuk melewati pintu dapur.
Alena sudah tak ada di meja makan, tapi kulihat Miko masih duduk di sana. Duduk termenung sambil memainkan gelas yang ada di tangannya.
Keadaannya kulihat kacau balau. Bajunya belum ganti semenjak pulang tadi. Kusut masai tak karuan. Mie di mangkuknya sudah mengembang dan dingin tak termakan.
Matanya sembab seperti habis menangis. Sungguh beda jauh dari keadaan Miko yang selama ini kukenal.
Aku melewatinya perlahan. Belum jauh aku berjalan, dia mengejarku dan memelukku dari belakang.
"Bun...tolong jangan perlakukan ayah seperti ini, bun..."
"Jangan sedikitpun bunda punya niat untuk meninggalkan ayah...ayah tak bisa hidup jika tak ada bunda lagi di sisi ayah.
Aku diam, aku ingin sekali membalas pelukannya. Tapi tanganku terasa kaku untuk kugerakkan.
Aku tahu semua ini bermula dari salahku...seandainya aku tidak berkhianat dari suamiku sendiri, mungkin hal ini tak akan terjadi. Tuhan telah menghukumku dan menjatuhkan karma padaku.
Sehingga Miko yang tak tahu apa-apapun, akhirnya kena imbasnya.
__ADS_1
***Bersambung....
Jangan lupa dukungannya ya...like, komen, vote dan favoritnya...terima kasih🙏🙏🙏***