Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 109 Heboh


__ADS_3

Malam itu juga Tuti dan Wati langsung datang ke rumah sakit tempat Sania dan anak kembarnya di rawat.


Sementara Tini tidak bisa ikut karena Dina dan adik-adiknya untuk sementara tinggal di rumahnya.


Melihat ke duanya datang, Sultan dan Miko langsung menciut. "Aduh...bakal perang nuklir nih..." Batin Sultan.


Benar saja. "Sultan...Miko...apa yang kalian berdua kerjakan sampai bisa masuk penyusup ke dalam ruangan Sania? Ngga becus kalian berdua ini!!"


"Kak, Miko tuh yang ketiduran...kalau aku baru pulang beli makan dan ganti baju."


Wati menatap tajam pada Miko. "Apa maksudmu? Kamu berharap Sania cepat meninggoy, ya..."


"Meninggal kak", kata Sultan.


"Eh iya...aku lupa..."


"Jangan-jangan ini kerjaan bini mudamu itu, Miko? Secara hanya dia yang punya dendam kesumat pada Sania."


"Di sini seolah-olah...dia yang tersakiti kamu tinggalkan dan kamu abaikan terus, padahal dia yang seperti hama yang merusak pelan-pelan."


"Sebentar kusemprot pakai pestisida, baru nyaho tuh pelakor..."


"Sabar Wati, sabar...ingat tensimu nanti naik..." Bisik Tuti.


"Ini minumlah dulu biar kamu bisa lebih dingin dan tenang, kulihat kepalamu sudah mulai mengeluarkan asap." Tuti menyodorkan botol air kepada sahabatnya itu.


"Habis...gondok aku jadinya, kalau kamu tidak bisa mengurus Sania, ya ceraikan saja...habis perkara."


"Jangan berdalih atas nama cinta...padahal semua atas nama dusta."


Miko hanya diam membisu disemprot bertubi-tubi oleh Wati, dia benar-benar mati gaya menghadapi wanita cerewet yang satu ini.


"Sudahlah...kalian berdua pulang saja...biar gantian kami berdua yang berjaga di sini." Tuti segera mengalihkan pembicaraan agar Wati tak marah-marah terus.


"Dan kamu? Kita duduk di bangku itu, yuk...jangan berdiri terus begini, ntar encokmu kambuh." Tuti setengah menyeret Wati untuk duduk.


"Tapi aku belum mau pulang, aku mau di sini bersama istri dan anakku..." Miko masih bersikeras untuk tinggal.


"Miko..." Sultan memberikan isyarat agar menurut saja.


"Ya sudah kak, kami pulang dulu dan beristirahat...besok kami kemari lagi."


Sultan menarik tangan Miko untuk segera berlalu.


"Sudah...malam ini kita beristirahat dulu, besok baru kita kemari lagi."

__ADS_1


"Kamu tidak usah khawatir kalau mereka berdua yang menjaga."


Dengan berat hati Miko akhirnya menuruti. Mereka pulang ke rumah masing-masing.


Dengan baju kusut dan rambut acak-acakan, Miko masuk ke dalam rumah. Dia duduk bersender di sofa dan pada akhirnya tertidur di sana, dengan sepatu dan baju kerja yang di pakainya masih menempel di badannya.


"Pulang juga akhirnya bang Miko!!!" Alena mengintip dari balik pintu kamarnya.


"Kalau lagi tidur begitu, bang Miko tampak semakin seksi!! Andai bang Miko ingin memintaku mengulang kembali percintaan kami seperti waktu itu, tentu aku sangat tak keberatan."


"Tapi hati bang Miko sudah mati untuk wanita lain, di hatinya hanya ada nama Sania sialan itu saja!!" Tinju Alena terkepal


"Apa aku meminta bantuan orang lain aja untuk menghabisinya, ya?? Jadi aku tak perlu repot-repot untuk turun tangan sendiri!!"


"Nantilah aku pikirkan lagi, yang jelas tampaknya mereka akan selalu siaga dalam beberapa hari ini."


Perlahan Alena menutup pintu kamar, dengan seringai licik masih membekas di wajah cantiknya.


"Wati...apa yang membuatmu menaruh kecurigaan pada madunya Sania itu?" Kata Tuti.


"Hah...madu?" Emang Sania itu tawon?"


"Haishhh kamu ini...Wati!! Istri mudanya Miko itu lho yang ku maksud, siapa namanya itu??? Ilene???"


"Illene...Illene...ileran kali!!"


"Nah itu sudah yang ku maksudkan."


"Aku kasihan sama sahabat kita yang satu ini, coba Miko itu ceraikan saja salah satunya...pilihlah Alena atau Sania."


"Aku merasa dia sulit untuk memutuskan, Wati!!! Di satu sisi dia sangat mencintai Sania, tapi di sisi lain, ayah Alena menitipkan putrinya untuk dijaga oleh Miko."


"Dititipkan bukan berarti harus dinikahi juga kali, dasar Miko mouse itu aja yang kegatelan pengen punya istri dua."


"Kayaknya kamu punya dendam pribadi sama Miko, ya?"


"Dendam pribadi ngga, Tuti...hanya aku ngga suka aja kalau laki-laki tidak punya pendirian, terlebih wanita yang sudah tau dia pria beristri tapi masih tega masuk dalam kehidupan rumah tangga wanita lain."


"Apa dia tidak pernah berpikir? Seandainya si ileran itu ada di posisi Sania, bagaimana coba perasaannya."


"Seandainya saja dulu Sofwan tidak terganggu mentalnya, tentu tak pernah ada perpisahan di antara mereka!! Tentu Miko mouse ini tak akan pernah masuk ke dalam kehidupan Sania."


"Aku juga rasanya gemesss banget sama Alena ini...Sania sudah mengalah dan pergi menjauh, tapi tetap saja dia mengganggu."


"Ingin kuulek mereka berdua ini di cobek kayak lombok itu lho..."

__ADS_1


"Tapi anaknya Sania ganteng banget ya, Tut...yang satunya itu malah mirip seperti Juned waktu masih bayi dulu."


"Kudoakan, semoga dua-duanya anak Sofwan, biar mampus si Miko, mandul...mandul aja situ sekalian."


"Eh, Wati...aku mau tanya ya sama kamu nih...seandainya, seandainya ini lho, ya...suamimu punya istri lagi terus dibawa pulang ke rumah dan diperkenalkan kepadamu, bagaimana perasaanmu?"


"Aku bukan Sania yang memiliki kesabaran tinggi lho, ya...kalau aku ada di posisi Sania, sudah kupotong burung suamiku biar kapok..."


"Wihhh...jahat kamu, Ti!! Sampai segitunya."


"Mereka lebih jahat lagi, kalau mereka bisa jahat...aku juga bisa lebih jahat dari pada mereka."


"Pantas suamimu ngga berani macam-macam sama kamu, Ti!!" Tuti senyum-senyum sendiri.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Tut...apa perkataanku ada yang lucu?"


"Ngga...aku hanya membayangkan saja, kalau kamu potong...berarti punya suamimu mulus dong kayak jalan tol."


Mereka berdua tertawa sampai tak lagi bersuara.


"Astaghfirullah...sahabat kita sedang berjuang untuk hidup dalam komanya, kita malah berha..ha..hi..hi di luar sini."


"Oalah...iya Wati...ini gara-gara kita ngomongin Miko dan Alena, nih!!"


"Biar mampus mereka berdua ke telen sendok situ." Wati mengiyakan ucapan Tuti.


Mereka berdua lalu terdiam. "Kamu jangan diam-diam molor ya, Tut...aku takut nih..."


"Takut apa, Ti?"


Wati menoleh kanan kiri memandang sepanjang koridor yang sepi. "Aku takut hantu..." Katanya.


"Tadi mau potong burung, mau diulek kayak cabe, masa takut sama hantu?"


"Ini lain ceritanya, dodol..." Wati bergidik.


"Kamu ngga bayangin, dari arah koridor yang gelap itu tiba-tiba muncul sesuatu yang ngesot? Atau dari arah kamu duduk itu muncul sesuatu yang gepeng?"


"Sesuatu yang ngesot dan sesuatu yang gepeng? Maksudmu apa sih, Ti?" Tuti balik bertanya.


"Suster ngesot sama suster gepeng, dodol!!" Wati menurunkan volume suaranya.


"Secara dari tadi hanya kita berdua yang duduk di ruang tunggu ini, suster sudah lewat dari sejam yang lalu, ini belum ada yang mengecek kondisinya Sania lagi."


"Makanya awas memang kamu kalau tidur, kuhajar kau." Wati bicara mengancam.

__ADS_1


***Bersambung...


Jangan lupa...like, komen, vote, favorit dan ratenya. Dukungan kalian akan membuat author semangat berkarya. Terima kasih😊😊🙏🙏


__ADS_2