
"Ayah...yang tenang sedikit, napa..." Angga pusing melihat ayah berjalan mondar-mandir di depan kami semua gini...kayak setrikaan berjalan aja...
Angga, adik Anggita langsung mengambil penerbangan pertama kemari...padahal baru pulang dari Batam setelah ada pertemuan para pemegang saham di sana.
Mendengar kabar bahwa kakaknya akan melahirkan, dia langsung meluncur lagi.
Aku juga sudah menelpon kakak-kakakku, memberitahukan bahwa adik ipar kesayangan mereka sudah mau lahiran.
"Aduh...ayah gugup tau...ini kan cucu pertama ayah..."
"Doakan saja semoga persalinannya lancar, yah..." Kata Angga.
Aku diam termenung...aku menghadapi proses persalinan istri keduaku. Samar-samar aku ingat...dulu sekali aku pernah menghadapi proses kelahiran yang sama.
Samar-samar dalam bayanganku mulai sedikit demi sedikit mengingat apa yang terjadi pada masa laluku.
Lalu aku di kejutkan oleh suara seorang suster. "Selamat bapak-bapak...anaknya ibu Anggita sudah lahir dengan selamat...hanya saja ibu Anggita mengalami pendarahan...kami memerlukan darah AB...tapi stok di rumah sakit sudah habis...kami masih menunggu kabar dari PMI."
"Aduh...golongan darahku B,"Kata Angga..."Ayah juga Angga...ngga tau kalau Sofwan."
"Golongan darahku A, yah...jadi bagaimana jika stok di PMI juga habis?"
"Tapi tunggu yah...ada seorang office girl di kantor Sofwan...kalau ngga salah golongan darahnya AB."
"Darimana kakak tau kalau golongan darahnya AB?"
"Waktu itu di kantor ada acara program donor darah...bagi siapapun yang bersedia mendonorkan darahnya."
"Dan dia telah mendonorkan darahnya...dan golongan darahnya AB."
"Ya sudah...tunggu apa lagi...ngga usah nunggu kabar dari PMI...cepat kita hubungi office girl itu."
"Masalahnya sekarang...apa dia diperbolehkan oleh suaminya untuk mendonorkan darahnya?"
"Dia mendonorkan darahnya dulu sebelum dia menikah..."
"Siapa sih memangnya, Wan?"
"Sania, yah...istrinya pak Miko..."
"Istrinya pak Miko yang dulu manajer personalia itukah?"
"Iya, yah...dia masih terikat kontrak dengan perusahaan kurang lebih 4 bulan lagi, baru bisa mengundurkan diri.
"Cobalah kamu telepon dia...ngga ada salahnya kita mencoba, Wan..."
Akhirnya aku mengeluarkan handphone dan mulai mencari nomor Sania.
Drrttt...Drrrtttt...
"Assalamualaikum...selamat Malam..."
__ADS_1
"Waalaikum Salam....maaf pak Miko...ini dengan pak Sofwan..."
"Oh.. ada perlu apa menelpon istri saya, pak?"
"Saya cuma mau minta tolong pak...istri saya pendarahan....dan kami memerlukan orang yang bergolongan darah AB."
"Dan saya tau Mbak Sania itu golongan darahnya AB."
"Siapa yah..." Terdengar suara serak seorang wanita di sebelah Miko.
Jantung Sofwan berdetak lebih cepat...dia tahu apa yang telah Sania dan Miko lakukan...dan dia sungguh tak rela.
"Pak Sofwan lagi mencari seseorang yang bisa mendonorkan darah untuk istrinya."
"Istrinya habis melahirkan dan mengalami pendarahan...sekarang dia membutuhkan golongan darah AB."
"Oh...ambil punya bunda aja yah...bundakan golongan darah AB."
"Bunda ngga keberatankah"
"Demi kemanusiaan yah...kita harus menolong orang yang membutuhkan pertolongan kita."
"Kalau ayah terserah bunda aja..."
"Kita mau berangkat ke rumah sakitnya malam ini juga kah, yah?"
"Besok bun...ya sekarang lah, bun....sempat meninggoy orang yang mau di tolong, kalau nunggu besok."
"Bun...ayah mau tanya sama bunda, bolehkan?"
"Aduh...mau nanya apa lagi sih yah...?Katanya disuruh cepat-cepat...sekarang malah ngadain sesi tanya jawab lagi."
"Gini lho bun...Anggita itukan istrinya Sofwan..."
"Terus..."
"Sofwan itukan mantan suaminya bunda..."
"Terus..."
"Teras...terus...teras...terus, aja..."
"Ntar masuk jurang lho, bun...terus...terus melulu..."
"Ya terus kalau dia istri Sofwan dan Sofwan itu mantannya bunda, emang bunda ngga boleh nolong gitu?"
"Yah...menolonglah tanpa melihat siapa dia, jika memang ingin menolong."
"Terserah nanti orang yang kita tolong mau berterima kasih atau tidak, itu biar Allah aja yang akan membalasnya."
"Ayah bangga sama bunda...dari dulu sampai sekarang, bunda itu tak pernah berubah."
__ADS_1
"Bunda mempunyai hati yang bersih, tak ada dendam dan kebencian walaupun terus menerus tersakiti."
"Bunda juga manusia, yah...bunda bukan nabi yang tak mempunyai amarah dan kebencian..."
"Tapi bunda juga sadar, untuk apa memendam amarah dan kebencian, jika semua itu hanya akan merusak hidup kita saja."
"Biar saja orang menjahati dan menyakiti kita, toh suatu hari dia akan menerima hasil dari perbuatannya:
"Karena siapapun yang menabur...kelak dia juga yang akan menuai.
"Siap bunda sayang....ayah sudah menaburi bunda dengan cinta nih...jadi berapa lama ayah akan menuai hasil dari pembuahan ayah...?"
"Maksud bunda bukan menaburi yang itu, ayah...itu sih menaburnya lain lagi...dasar ngga jelas..."
Kutinggalkan Miko yang masih tertawa-tawa senang, karena berhasil membuatku kesal. Kubasuh dulu mukaku supaya ngga kelihatan lecek dan kucel.
*
*
Kami tiba di rumah sakit satu jam kemudian. Mobil Miko terjebak macet...Maklum malam minggu gini...semua muda-mudi seperti tumpah ruah ke jalanan.
Kami segera menuju ruang icu...Anggita ditaruh di ruangan icu, karena setelah pasca melahirkan tadi kondisi fisiknya memburuk karena pendarahan.
"Mana sih ruangan icu nya, yah...kata sekuriti tadi habis naik tangga langsung belok kanan...nanti kita salah belok lagi."
""Ayah ngga pernah salah belok tuh, bun...Biasanya lurus-lurus aja ngga pernah belok kemana-mana...selalu tepat sasaran."
"Ngomong apa sih, yah...? Ini sudah yang namanya lain gatal lain pula yang digaruk, jadi ngga nyambung!!"
"Gatal...? Garuk...? nanti di rumah mau ya, bun?? Ayah mau digaruk sama bunda!!"
"Iya...di rumah itukan ada garpu tuh, yah...ntar bunda garuk pakai garpu, ayah mau?"
Kutarik tangannya agar berjalan lebih cepat, suami tengilku ini semakin malam, omongannya semakin ngelantur kemana-mana...bukannya sampai di tujuan, malah mutar-mutar ngga jelas mencari tangga naik ke lantai 2.
"Itu tangganya bun...wah...akhirnya nemu juga!!"
"Gara-gara nyari tangga sialan nih...aku dimarahi terus dari tadi sama istriku yang bawel ini..."
Aku mendelik. "Ayah bilang apa? Bilang bunda itu bawel? Liat aja, nanti malam ngga usah lanjut lagi."
"Aduh...jangan gitu dong bunda sayang...tadi pas lagi enak-enaknya, pak Sofwan nelpon lagi...ya udah deh, ayah ralat...bundaku yang cantik, baik hati, dan tidak sombong, satu lagi, juga tidak bawel..."
Sofwan sudah menunggu di depan pintu icu. Wajahnya kelihatan panik. Sebagai manusia normal, di dalam hatiku masih terbersit sebuah rasa. "Saat bersamaku dulu, dia tak pernah sepanik itu, waktu aku melahirkan Dina, Juned dan Syifa, dia tenang aja...sekarang kulihat dia nampak sangat panik."
"Sudahlah Sania, itu semua sudah berakhir...masa yang telah lewat, tak mungkin bisa ditarik mundur kembali."
"Ya, karena sekarang cintanya sudah berlabuh kepada Anggita....dia masa depannya dan kamu hanya masa lalu yang harus ditinggalkan dan terbuang."
***Bersambung....
__ADS_1
Happy readingππ Tetap kasih komentar yang positif dan membangun ya...Likenya...Jika berkenan vote dan favoritnya. Terima kasih....πππ***