
"Maafkan kesalahan ibu, yah!! Juma sekarang jadi tau mengapa ayah tak pernah bisa untuk tinggal bersama ibu."
"Selain ayah memang tak pernah mencintai ibu, ayah juga mempunyai seorang wanita yang sangat ayah cintai dan gagal bersama karena harus bertanggung jawab pada ibuku."
"Juma, ayah akan terus bertanggung jawab padamu dan ibumu...tapi ayah mohon jangan paksa ayah untuk mencintai ibumu lebih dari ini, Juma!! dan terima kasih atas pengertianmu pada ayah, ayah akan berusaha menjadi orang tua yang baik untukmu, Juma!!"
"Oh iya, kamu mau daftar sekolah di mana?" tanya Niko pada putranya itu.
"Juma mau mendaftar di SMK tempat Dina bersekolah, ayah!!" jawab Juma.
Lama Niko memandang wajah anak kandung yang sejak bayi tak pernah dilihatnya itu.
"Juma tau, pasti ayah bertanya-tanya mengapa Juma memilih sekolah yang sama dengan Dina, kan? Juma tau, Dina membenci ayah juga Juma sejak dia tau karena kehadiran ibu dan Juma membuat kondisi bundanya bertambah drop."
"Sekarang aja mereka lebih memilih tinggal di rumah lama mereka bersama tante Della ketimbang tinggal di sini bersama kita."
"Juma ingin selalu dekat dengan dia walaupun Dina membenci Juma!! Juma ingin jika memang ayah tak berjodoh dengan bunda Sania, Juma berharap bisa berjodoh dengan Dina."
Niko jadi tersenyum mendengar perkataan putranya itu. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat putranya sekarang sudah tau jatuh cinta.
"Berjuanglah dan semangat Juma, jangan seperti ayah yang tak mampu memperjuangkan seseorang yang ayah cintai, ayah harus kalah oleh keadaan."
Kedua ayah dan anak itu saling berpelukan untuk menguatkan satu dengan yang lain.
*
*
Sofwan sudah berangkat ke Jakarta. Aisyah dijemput oleh kakeknya. Sultan sudah kembali mengajar dan akan menjenguk Nia sehabis dia mengajar siang nanti. Anak-anak sekolah dan Della sibuk mengurus si kembar Miko dan Miki yang sangat aktif dan kreatif.
Sania sedang sendirian di ruangannya. Sebenarnya hari ini dia diperbolehkan pulang, tapi karena tak ada yang menjemput maka dia harus menunggu Sultan terlebih dahulu.
Ceklek...
"Maaf mba Nia, saya disuruh pak Sultan untuk menjemput mba Nia pulang!!"
"Lho, katanya nanti siang dia yang akan menjemput sendiri...kok sekarang malah menyuruhmu untuk menjemputku? kamu siapa?" tanya Nia.
"Saya hanya orang suruhan aja mba, yuk siap-siap!!" Lalu laki-laki meamakai hodie bermasker dan berkaca mata itu membantu membawa barang-barangku yang memang tak banyak.
"Mba Nia mau naik kursi roda?" tawarnya padaku.
__ADS_1
"Ngga usah, saya jalan kaki aja pelan-pelan!!" jawabku.
Saat kami sampai di mobil, aku seperti pernah kenal dengan mobil ini...tapi milik siapa ya?" aku mencoba untuk mengingatnya.
"Duduk di depan dong mba, jangan duduk di belakang gitu...kayak naik angkot aja!!"
Akhirnya aku pindah ke depan di sampingnya dan barang-barang di belakang.
Hahhhh...
Dia melepas masker dan kaca matanya.
"Riko...kok kamu?" aku seakan tak percaya.
"Kok kamu tau kalau tante sakit dan di rawat di rumah sakit?" tanyaku lagi.
"Riko tau dari awal tante, Riko pengen jenguk tapi dua laki-laki pengganti Niko itu tak pernah jauh selalu ada di dekat tante."
"Riko kangen tau sama tante Nia, rasanya Riko mau gila mendengar dan melihat tante tercintanya Riko sedang sakit!! sakit karena dikhianati Niko dan sakit karena memang penyakit yang tante bawa itu terus menggerogoti tubuh tante."
"Dan sakit karena Alena terus menempel pada Riko karena anak yang dikandungnya itu katanya anak Riko."
"Kayaknya bukan deh tante, malam itu ada seseorang yang memasukan obat tidur keminuman Riko...lalu Riko tepar dan langsung tidur, tau-tau besok paginya ada Alena yang juga tidur bugil disamping Riko."
"Ya bisa jadikan kamu melakukannya secara tak sadar?" kataku lagi.
"Ngga mungkinlah tan, cukup kesalahan itu sekali Riko lakukan tempo hari...Riko tak ingin lagi mengulanginya dengan wanita lain, kecuali..." Riko menggantung kalimatnya
"Kecuali apa?" tanyaku lalu menoleh padanya.
"Kecuali dengan tante...!!" Riko mesem-mesem saat mengatakan itu.
"Dasar bocah mesum...ingat Riko, ini tante Nia lho...sudah seperti tantemu sendiri." jawabku sambil mendelik padanya.
"Memang kenapa? Riko bukan bocah lagi tante, Riko sudah bisa bikin dedek kok berdua sama tante...tante mau coba?"
"Riko!!" aku mencubit tangannya kuat-kuat sangking jengkel dan kesal pada laki-laki muda salah kaprah di depanku ini.
"Aduh...aduh...ampun tante...tangan Riko sakit!!" dia meringis kesakitan dan membuatku jadi tak tega melihatnya.
Aku meraih tangannya dan meniup-niupnya supaya sakit itu berkurang.
__ADS_1
Dia menatap lekat-lekat wajah khawatirku. Dia tersenyum melihat aku yang begitu khawatir padanya.
"Tante mengkhawatirkanku?" tanyanya sambil mengulum senyum.
"Ya iya lah, kamu meringis kesakitan begitu...sekarang antar tante Nia pulang dulu." Kataku.
"Hari ini tante Nia mau Riko culik dulu ya...pokoknya hari ini tante kudu nemenin Riko."
"Kamu mau tante dibantai sama kekasihmu yang agresif dan posesif itu?" kataku lagi.
"Kalau yang tante maksud adalah Alena, maka tante salah besar!! pertama Alena bukan kekasih Riko, kedua Riko kan sudah bilang kalau Riko cintanya cuma sama tante Nia."
Mendadak saja tengkukku meremang mendengar perkataan bocah lelaki yang dulu teramat lucu dan menggemaskan tetapi sekarang sudah berubah menjadi seorang lelaki dewasa.
Awal-awal perjumpaan dengannya tempo hari aku selalu mementahkan ucapannya dan menganggapnya sekedar bercanda tetapi karena dia hanya mengucapkan itu ke itu saja maka aku jadi berpikir bahwa Riko serius dengan ucapannya.
"Ko, kamu jangan suka bercanda deh...tante ngga suka di bercandai seperti ini." Aku mencoba mengancamnya.
"Siapa yang bercanda tante? Riko serius dan tak ada niat bercandaan kali ini...coba tante tatap mata Riko dan lihat apakah Riko serius atau hanya sekedar bercanda."
Aku sebenarnya sangat shock menghadapi kenyataan bocah lelaki yang dulu suka kumandikan, kupakaikan baju, kusuapi saat makan dan selalu kunina bobokan saat tidur jadi berbalik mencintaiku.
Apa yang harus aku lakukan? jika aku menolaknya bisa saja lelaki muda ini jadi gelap mata, tetapi untuk menerimanya? aku sama sekali tak menyangka harus jalan bareng dengan seorang lelaki yang usianya jauh di bawahku ini.
"Ayolah tante, terimalah cintanya Riko...Riko janji akan selalu membahagiakan tante Nia."
Bulu-bulu halus di tangan dan leherku langsung meremang mendengar dia berucap setengah berbisik tak jauh dari telingaku. Bahkan hembusan napasnya pun terdengar di telingaku.
"Aduh, tante mesti jawab apa Riko?" kataku.
"Riko ngga mau mendengar penolakan tante, jadi jangan menolak Riko...Riko bisa berbuat apapun agar tante mau menerima cintanya Riko."
*
*
***Bersambung...
Satu lagi telah lahir si bucin akut, akan kah Sania menerima tapi terpaksa?!
Mohon maaf buat teman-teman yang belum sempat author like dan balas komennya...sebab lagi sibuk ngejar reward😊😊
__ADS_1