Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 231 Kedatangan Riko Vs Kedatangan Maya


__ADS_3

"Jangan sampai semua ini ada hubungannya denganmu Sania...jika kudengar semua kecelakaan ini ada hubungannya denganmu, awas saja...aku akan buat perhitungan denganmu!!" kata Nuri yang rupanya masih menyimpan dendam kesumat pada Sania.


"Dia begitu membenci mantan iparnya itu, entah mengapa setiap kali mengingat Sania, darahnya langsung mendidih kembali.


Dia selalu merasa ini semua terjadi karena kutukan yang menempel pada Sania.


Sementara di rumah sakit Hans masih setia menemani bos cantiknya itu.


"Hans...kamu pulanglah, bukankah besok ada pesanan 2000 kotak untuk pesanan dari PT. Jaya Bintang Putra?? jika kamu tidak beristirahat maka semua besok akan kacau balau!!"


Kasihan Tiwi, Shinta dan Arman nantinya!!" kata Sania sambil menepuk bahu Hans dengan lembut.


Dia sudah sedikit lebih tenang dari pada awal datang tadi. Hans selalu menenangkannya dengan terus memberikan semangat dan dukungannya pada Sania.


Tapi nanti ibu bagaimana??" tanya Hans agak merasa keberatan untuk meninggalkan Sania.


"Ngga apa-apa Hans, kamu pulanglah!! sudah ada kak Della yang menemani di sini...kamu ngga usah khawatir!!" jawab Sania.


Akhirnya Hans menurut setelah kak Della datang dia pun beranjak pulang walaupun dengan hati berat.


"Saya pulang dulu ya, bu!! semoga pak Sofwan cepat ada kemajuannya!!" kata Hans.


"Hans, saya titip kafe sementara saya ngga ada ya...kelolah dengan baik seperti dulu saat kamu masih bersama dengan pak Sultan."


"Tentu bu, tanpa diminta pun akan saya lakukan karena kafe ini sudah menjadi bagian dari diri saya, kafe ini adalah hidup dan mati saya!!"


"Terima kasih ya Hans, maaf jika saya selalu merepotkanmu terus menerus!!" mata indah dan lentik itu tampak sangat sayu dan lelah.


Ingin sekali Hans merengkuh tubuh ringkih itu mengecup kedua mata indahnya dan memberikan semangat padanya agar bisa tetap selalu berdiri dengan tegar.


Setelah Hans berlalu dari hadapan mereka, kak Della lalu mengeluarkan pendapatnya.


"Tampaknya Hans itu menaruh hati padamu, dek..." kata kak Della.


"Menaruh hati gimana maksudnya, kak?" tanya Sania bingung.


"Dia mempunyai rasa denganmu tetapi karena kamu sudah menikah, maka rasa itu hanya dia pendam dan dia tahan!! mungkin mulut bisa ditahan tetapi cara memandang dan gerak tubuhnya sama sekali tak bisa dibohongi jika dia suka padamu!!" kata kak Della.


"Kak, jangan bicara yang tidak-tidak...ngga enak jika ada yang mendengar, disangka nanti benaran!! kasihan Hans nanti bisa kena fitnah!!" jawab Sania.


"Anak-anak di rumah bagaimana keadaannya, kak??" tanya Sania sambil dia berdiri melihat kearah Sofwan yang terbaring tanpa ada perubahan yang berarti.


"Tadi waktu kak Della tinggal, Raftar, Miko dan Miki sudah pulas tertidur...kakak meminta tolong Dina, Juned dan Syifa untuk bergantian menjaga adiknya sementara salah satu dari kita belum pulang."


"Bagaimana dengan keadaan Sofwan, Nia?? terus keluarganya sudah diberi tahu??" tanya kak Della.


"Keluarganya sudah diberi tahu, mungkin besok mereka baru tiba di sini, seperti yang kakak liat belum ada perkembangan dari Sofwan kak!!" jawab Sania.


"Sebenarnya Sania sangat kecewa dengan mas Sofwan, kak!! dari dulu sifatnya suka main perempuan ngga pernah berubah...selalu saja dia tak pernah bisa memegang janjinya untuk tidak berselingkuh."


"Jangan dulu berfikiran negatif, dek!! apa yang kita lihat belum tentu itu kejadian yang sebenarnya!!" kata kak Della.

__ADS_1


Sania terdiam mendengar perkataan kak Della, mungkin otaknya yang telah lelah masih berusaha mencerna dan masih berusaha percaya pada perkataan kak Della.


"Kalau nanti Tini kemari, kamu pulang dan istirahatlah...biar kakak dan Tini yang berjaga, mungkin Aisyah akan menginap di rumah malam ini...kasihan anak itu!!" ucap kak Della.


Setelah Tini datang, Nia memutuskan untuk pulang, makan dan mandi karena badan dan wajahnya terasa lengket oleh keringat dan air mata.


Air mata kekecewaan, juga kesedihan berbaur menjadi satu hal yang sangat menyakitkan.


Dia menunggu angkutan umum yang lewat di depan gerbang rumah sakit.


Tittt...tittt...


Sania awalnya tak menggubris, karena dia pikir mobil itu mau masuk dan dia berdiri menghalangi jalan.


Tetapi saat mobil itu masih membunyikan klaksonnya padahal dia sudah berdiri kepinggir jalan, membuat Sania mau tak mau jadi meradang karena kesal.


Tetapi belum sempat Sania meluapkan kekesalannya tiba-tiba pintu belakang terbuka sebelum sempat dia berpikir, sebuah tangan kekar menariknya masuk ke dalam mobil.


Saat tersadar pada apa yang terjadi, mobil sudah melaju membelah jalan raya yang mulai basah oleh rintik hujan.


"Kalian siapa??? mau membawa saya kemana??" bentak Sania terutama pada orang yang memakai masker yang duduk di sebelahnya.


"Galaknya nyo...istri ambo nih!!!" suara orang itu membuat Sania jadi tercekat.


Dia memutar duduknya menghadap orang tersebut sambil menajamkan pandangan matanya.


Pria di sampingnya membuka masker lalu tersenyum manis memandangnya!!


Sania terlonjak sangking kaget dan tak percayanya pada apa yang dia lihat.


"Belum ada seminggu papah tinggalkan balik ke Kuala Lumpur, mamah sudah berangkulan dengan pria lain." Kata laki-laki tersebut yang ternyata adalah Riko adanya.


"Setelah melihat foto dan rekaman yang dikirim oleh cctv berjalannya di Indonesia yang selalu mengamati gerak gerik istrinya, akhirnya dia tak tahan untuk terbang balik ke Indonesia.


Kotak makanan untuk 2000 orang yang dipesan oleh PT. Jaya Bintang Putra ternyata adalah perusahaan milik orang tua Riko di Indonesia yang sedang mengadakan acara untuk seluruh karyawannya, tetapi Sania tidak tau.


"Kenapa kaget melihat kehadiran papah yang tiba-tiba, mah?" selidik Riko.


"Ya kagetlah...papah bisa datang dan pergi kapanpun papah mau tetapi mengapa menolak tinggal dengan kami??" mata itu mulai berkaca-kaca mengungkapkan kekesalan, kekecewaan dan kerinduan yang tak bisa lagi dibendungnya.


Riko memeluk istrinya tercinta dengan sangat erat. Dia pun sangat merindukan kehadiran wanita ayu itu di sampingnya.


"Cup...cup...diamlah sayang...papah paling ngga bisa melihat mamah menangis seperti ini!!" air matanya pun ikut luruh walaupun kalimat penyemangat terlontar dari bibirnya untuk sang istri.


"Papah sudah pernah bilang, mah!! bukan papah tak ingin tinggal bersama dengan mamah dan anak-anak...tetapi mamah kan tau bahwa papah tengah berjuang untuk membujuk ayah agar merestui pernikahan kita, karena ayah bukanlah ibu yang bisa dengan mudah diluluhkan."


"Papah juga melindungi mamah dan anak-anak agar selamat dari ancaman ayah!!" ucap Riko.


"Papah menugaskan Jhon di Indonesia untuk mengawasi sekaligus untuk melindungi kalian." Jawab Riko sambil menciumi pucuk kepala istrinya.


"Papah terbang ke Indonesia dengan banyak alasan, mah!!"

__ADS_1


"Pertama, papah tak sanggup melihat istri papah dirangkul oleh laki-laki lain, kedua papah memang sedang mengurus sesuatu di kota ini dan ketiga, papah sangat merindukan mamah!!" tatapan mata Riko berubah menjadi sayu. Tatapan mata mendamba seorang laki-laki pada seorang wanita.


"Papah selalu teringat pada malam panas yang selalu papah lewati bersama mamah!!" jawab Riko sambil menggigit hidung bangir istrinya.


"Papah!!"


Sania melototkan matanya memandang Riko suaminya lalu memandang pada Jhon yang duduk di belakang kemudi.


"Jangan khawatir, mah!! telinga Jhon sudah kebal!!" lalu Riko tertawa mengekeh sambil mengacak kepala istrinya.


"Jhon, antarkan saya kerumah istri saya, kamu terus pulang saja ke hotel besok pagi jemput saya karena besok saya ada meeting diperusahaan ayah."


"Tetap jagalah rahasia terutama dari orang-orang ayah yang tersebar di mana-mana di kota ini!!" jawab Riko.


Tanpa banyak cakap, Jhon hanya mengangguk lalu meluncurkan mobilnya dengan cepat menuju kediaman Sania.


*****


"Astagfirullah...ngapain kamu dan anak-anakmu datang kemari membawa koper besar...Maya??"


Bukan main terkejutnya Riko saat keluar dari kamarnya dia melihat Maya dan dua anaknya sudah duduk cantik di ruang tamu dengan diiringi berjuta tanda tanya dari bibi.


"Memangnya kenapa??" aku kangen ingin bersama suamiku, apakah tidak boleh?? ingat Niko, aku ini adalah istrimu yang sah!!!" jawabnya membuat Niko terpaku di tempatnya.


Juma dan Jonathan yang mendengar suara ribut-ribut di ruang tamu keluar dari kamar mereka di lantai dua dan sama terkejutnya dengan Niko melihat siapa yang datang dan duduk di ruang tamu.


"Ibu??? mau apa ibu dan adik-adik kemari??" tegur Juma, karena dia tau bahwa ayahnya selalu mengirimkan uang untuk mencukupi kebutuhan Ibu dan adik tirinya walaupun kedua adiknya bukan anak kandung ayahnya.


"Kenapa kamu terkejut seperti itu, Juma?? mentang-mentang sekarang kamu sudah tinggal dengan kakek dan ayah kamu yang kaya raya sehingga kamu lupa dengan ibu dan adikmu ini??" senyum smirk Maya menghiasi wajah liciknya.


"Bukankah ibu memang tak pernah menginginkan kehadiran Juma?? selalu ibu bilang mau mengusir Juma, mau memasukan Juma ke panti asuhan selalu memukul Juma hanya karena masalah sepele? bukankah begitu bu??"


Suara Juma yang terasa berat karena dia tengah berusaha menahan gejolak perasaannya karena perlakuan yang tak pernah adil dari ibu kandungnya sendiri.


Saat itu dia selalu berdoa di dalam sholatnya agar bisa dipertemukan dengan ayah kandungnya, dan ternyata Allah mengabulkan setiap doa-doanya.


Dia menemukan ayah sekaligus kakek yang menyayanginya dan menganggapnya ada dan memperlakukan dia dengan selayaknya.


Maya berdiri hendak menampar Juma tetapi cepat ditahan oleh Jonathan.


"Jangan sekali-kali kamu menurunkan tanganmu untuk memukul cucu saya lagi, Maya!!" ujar Jonathan geram.


*


*


***Bersambung...


Karena cemburu maka Riko datang๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š dua kubu Nia dan Niko saling bertolak belakang...pihak Nia merasa sangat bahagia, sementara pihak Niko tengah merasa gondok dengan kedatangan para mak lampir๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Ikuti terus lanjutan cerita Kutukan Cinta ya guys๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2