Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 55 Terpesona


__ADS_3

Dengan telaten Anggita menyuapi Sofwan...mengajaknya bicara apa saja yang bisa menyenangkan hatinya.


"Suster...waktu itu Sania janji akan menjengukku di sini...tapi setiap hari aku duduk di taman ini menunggu dari pagi sampai malam, dia tak juga datang."


"Aku kangen istriku suster...matanya berkaca-kaca...lalu menatap kosong jauh ke depan..."


"Kasihan...dia mengalami depresi berat...terkadang dia ingat tapi terkadang dia lupa semuanya."


"Mas Sofwan...kita jalan keliling kampung yuk...kita cari udara segar..."


Dia menoleh padaku...lama dia menatapku...bola mata berwarna coklat itu tiba-tiba berbinar indah...senyum merekah di bibir tipisnya."


Dalam keadaan diam, sedih dan tertekan, dia tampak biasa saja. Tapi begitu dia tersenyum, dua lesung pipit yang dalam di pipinya langsung muncul.


Aku diam terpana melihat senyumannya...dia seperti permata yang tenggelam di dasar kali, yang tertimbun lumpur tak berbentuk. Tapi begitu diasah, maka terpancarlah keindahannya.


"Ah...ngawur aku ini...dia sudah mempunyai istri dan anak....dan tampaknya dia sangat mencintai mereka."


"Ya...ya...amu mau jalan keluar...aku bosan di sini hanya memandang ikan dan air mancur saja, Sania pun tak kunjung datang...aku lelah menunggu."


"Kalian berdua mau pergi kemana sepagi ini?" Kami berpapasan dengan kakak ketiga mas Sofwan yang cerewet dan protektif.


"Saya mau mengajak mas Sofwan jalan berkeliling, supaya dia tidak merasa bosan."


"Oh...jangan terlalu lama ya...agar dia tidak terlalu lelah...begitu pesan dokternya." Aku hanya mengangguk.


"Mas Sofwan...aku menyapanya yang berjalan sambil melamun..."


"Jangan banyak melamun...nanti cepat tua lho..."


"Mas saya boleh tanya sesuatu?"


"Iya silakan suster Anggita..." Jawabnya lirih nyaris tak terdengar.


"Apa Sania berjanji untuk menjenguk mas Sofwan kemari?"


Tiba-tiba mata sayu itu berbinar lagi mendengar nama Sania kusebutkan...


"Kok aku yang jadi ngga enak hati ya...?"


"Dia janji akan kemari suster, tapi kata kak Nuri, dia sekarang sudah bahagia lagi dengan laki-laki pilihan keluarganya."


Dengan cepat aku mengalihkan pembicaraan ketika kuliat wajahnya berubah mendung.


"Mas...Itu ada es krim...apa mas Sofwan suka es krim?"


"Suka...suka...ayo..." Dia menarik tanganku menuju taman bermain.


"Aduh... baru ditarik tanganku aja kok aku sudah baper gini ya...."

__ADS_1


"Mas aku mau beli es krimnya lima...."


"Kok lima mas, kita kan cuma berdua?"


"Yang tiga rasa coklat vanila kesukaan Dina, Juned, Syifa..." Dia menghitung dengan jarinya.


"Aku yang rasa stroberi...suster mau rasa apa?"


"Aku rasa stroberi juga...tapi anak-anaknya mas Sofwankan belum datang...nanti es krimnya keburu mencair."


"Oh iya ya...Sania juga tidak suka es krim...takut batuk katanya..."


"Ya sudah...dua aja mas ngga jadi lima...anak-anak saya belum datang...masih sekolah dan masih pada main."


Penjual es krim menatapku...aku memberinya isyarat...lalu dia menatap Sofwan lagi dengan perasaan iba.


Dia asyik menjilat es krimnya, persis seperti anak kecil. Mulutnya penuh belepotan es krim.


"Pelan-pelan aja mas...tuh belepotan semua..." Aku mengelap mulutnya dengan tisu.


Dia menatapku dalam...jantungku berdetak tiga kali lebih cepat rasanya."


"Hei...wajahmu memerah...kita pulang aja yuk...mataharinya sudah bersinar agak panas, sebab kepalaku juga sudah rada pusing suster..."


Aku tergagap. "Eh, iya mas...mari kita pulang saja...sudah waktunya mas Sofwan minum obat juga."


Sepanjang jalan kuajak dia ngobrol agar dia tidak bosan.


Dia menggeleng...aku tidak ingat suster...aku tidak ingat dulu tinggal di mana...Kerja di mana....sedangkan namaku sendiri aja aku lupa.


Aku hanya tau namaku Sofwan dari mereka-mereka yang memanggil namaku.


"Lho kok mas Sofwan ingat siapa Sania, Dina, Syifa dan Juned?"


"Hanya itu yang ada terekam dalam ingatanku, itupun hanya sekedar nama mereka yang aku ingat...tapi aku tak ingat wajah mereka sama sekali."


"Aku hanya ingat kalau Sania itu istriku dan Dina, Juned serta Syifa itu adalah anakku. Tapi aku tak bisa ingat wajah mereka."


"Semakin aku coba, aku merasa kepalaku terasa sangat sakit...dan itu sangat menyiksaku...makanya aku tak mau mencoba mengingat mereka dulu."


"Terus apa benar kata mbak Nuri kalau Sania selingkuh ya....?" Aku membatin.


"Nah...sudah sampai...kita masuk ya...baru minum obat..." Mas Sofwan cuma mengangguk...tampaknya dia lelah sekali.


"Wah...habis jalan-jalan ya... gimana perkembangannya, dek Anggita?" Kak Nuri menyapa diruang tamu.


"Sejauh hari ini sih bagus-bagus aja kak...jika dia mulai melamun, saya selalu mengalihkan perhatiannya dengan mengajaknya ngobrol."


"Besok jadwal dia terapi...kamu ikutlah dengan kami besok." Iya kak..

__ADS_1


"Suster...aku mengantuk...kepalaku juga terasa pusing..."


"Mas Sofwan tidurlah...aku akan berjaga di sini."


Tak lama kulihat di pintu sesosok wajah yang mirip sekali dengan Sofwan, menengok dari pintu.


"Bagaimana keadaan adik saya suster?"


"Baik-'baik saja mbak...ini dengan mbak siapa ya?"


"Juwita...saya kakak Sofwan yang nomor dua."


"Kakak mas Sofwan yang ini berbeda dengan dua yang lain...yang ini orangnya diam dan bicara seperlunya saja."


"Yah...semoga kamu betah di sini menjaga sampai dia sembuh."


"Sudah beberapa hari ini dia agak tenang...sebelumnya dia selalu mengamuk, sampai-sampai kami harus memberinya suntikan penenang."


"Obatnya jangan lupa diminumkan ya Suster, Iya mbak..." Jawabku.


Kupandangi wajah letih yang tertidur dengan damai itu.


"Sebisa mungkin aku akan membantumu sepenuhnya sadar kembali mas."


"Jika memang benar tentang apa yang dikatakan semua oleh mbak Nuri, kalau istrimu telah meninggalkanmu dengan selingkuhannya...maka aku orang pertama yang mencoba masuk menggantikan posisinya di hatimu."


"Entah mengapa...sejak pertama melihatmu tadi, aku begitu terpesona padamu."


"Aku tau kamu mengidap gangguan kejiwaan, tapi aku akan selalu ada di sampingmu untuk menjadi obat penenang bagimu."


"Bodohnya kamu Sania...betapa dia menderita karena cintanya padamu."


"Teganya kamu meninggalkannya demi cinta yang tak pasti."


Anggita terus berasumsi sambil duduk di samping pembaringan Sofwan. Tanpa dia tahu bahwa penderitaan Sania juga tidak sedikit. Perjuangan cintanya untuk mempertahankan biduk rumah tangganya.


Belum lagi hinaan dan caci maki yang terus menerus diterimanya. Membuat dia terpaksa menyerah dan harus pergi menjauh untuk melepaskan dan merelakan cintanya


kandas.


Perjuangannya untuk menghidupi ketiga buah hati mereka, tanpa bantuan dari siapapun.


Ucapan Nuri memang sedikit banyak telah mempengaruhi hati dan pikiran Anggita.


Sebenarnya dia ingin bertanya lebih jauh, tapi bukan wewenangnya juga untuk mengetahui lebih tentang latar belakang pasiennya.


Tugasnya di sini hanya sebagai suster yang menjaga hingga pasiennya sembuh. Kalaupun mau bertanya, kepada siapa dia harus bertanya? Sementara ketiga kakak perempuan Mas Sofwan bukan tipe orang yang bisa diajak ngobrol.


***Bersambung....

__ADS_1


Kembali lagi mengingatkan dengan tak bosan-bosannya...Jangan lupa like, komen dan jika berkenan vote dan favoritenya ya...Agar author tetap semangat berkarya...Terima kasih... 🙏🙏🙏***


__ADS_2