Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 47 Jelaskan Padaku


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang aku terdiam. Aku hanya memeluk Miko dengan erat dari belakang.


Menangis? Air mata? Tentu sudah tak bisa lagi kulakukan. Percuma aku berusaha menangis, toh air matanya juga sudah kering. Yang tersisa hanya goresan luka memanjang...yang tak bisa dilihat tapi bisa dirasakan.


Seperti tahu apa yang tengah kurasakan, Miko yang biasanya cerewet dan banyak bicara jika berdua denganku, mendadak diam dan bungkam seribu bahasa.


"Kita pulang ya beb, kita bahas masalah ini di rumah nanti."


Digenggamnya jari-jariku yang tengah memeluk pinggangnya dengan erat. Aku menyenderkan kepalaku di pundak Miko, merasakan hembusan angin malam yang dingin tiba-tiba berubah menjadi seperti ribuan jarum yang menusuk tubuhku.


"Beb...kita sudah sampai di rumah...turunlah..."


Dengan langkah gontai aku masuk diikuti Miko...kulihat anak-anak masih pulas tertidur. Hatiku hancur kembali melihat mereka bertiga. Tak ingat sama sekali kah bapaknya dengan tiga malaikat kecilnya ini?


"Kamu mau kubuatkan tehkah beb? Kulihat wajahmu pucat sekali."


"Kamu baring-baring saja dulu...aku buat teh sebentar ya..."


"Memang kamu bisa, Ko? Bisalah kalau hanya teh aja...tunggu sebentar ya!!!"


Tak lama dia menghidangkan dua cangkir teh hangat. "Minumlah...supaya hatimu tidak membeku lagi."


Aku meminumnya...lumayanlah, badanku tidak lagi menggigil seperti tadi.


"Sekarang kamu ceritakan...jelaskan padaku sejelas-jelasnya...siapa laki-laki gagah tadi?"


"Atau kah dia mantan suamimu? Karena aku melihat wajahnya mirip sekali dengan Dina."


"Iya...dialah bapaknya anak-anak, Ko..."


"Sekaranglah yang tepat untuk kamu bercerita, mengapa kalian sampai berpisah."


"Sepenglihatanku tadi dia sama sekali tidak melihat kearahmu, bahkan saat kita melewatinya, ekspresi wajahnya memang seperti orang yang tidak mengenalmu, padahal dia sedang melihat dan tersenyum kearah kita."


"Dia kehilangan kewarasannya, Ko..."


"Maksudmu? Dia gila? Tapi tadi tak ada tanda-tanda kalau dia mengidap gangguan jiwa!!!"


"Dia mengalami gangguan jiwa kurang lebih 3 minggu, lalu dia dijemput keluarganya pulang, dan sejak itu aku dan anak-anak tidak lagi bisa berkomunikasi dengan keluarganya , walaupun hanya untuk bertanya kabar."


"Setelah 5 bulan berlalu...mereka datang mengantar mas Sofwan...tapi bukan untuk mengembalikan dia kepada kami keluarganya, tapi malah membawa surat cerai untuk kutanda tangani."


"Terus bagaimana kamu bisa tau bahwa Sofwan sudah tidak gila lagi?"


"Dari cara dia bertingkah laku menunjukan bahwa dia sudah sembuh."


"Tapi anehnya, dia sama sekali tidak bisa mengingatku bahkan ketiga anak-anaknya."


"Dia melihatku seperti orang asing...bahkan dia menepis tanganku saat akan menyentuhnya."


"Lalu, kenapa kamu mau saja menanda tangani surat cerai itu kak Nia...mestinya kamu tolak...karena itu namanya hanya sepihak saja...sudah berbulan-bulan menghilang tanpa kabar berita, kamu harus menghidupi anak-anak sendiri, tiba-tiba datang kok bawa surat cerai, ngga punya otak juga keluarganya itu...di mana hati nurani mereka?"

__ADS_1


"Aku sudah bingung ngga tau mesti ngapain, Ko? Apalagi Mas Sofwan kudengar baru sembuh, tapi dia kehilangan ingatan akan semua masa lalunya."


"Itu terjadi berapa bulan yang lalu?"


"Sudah 5 bulan lalu...seingatku..."


"Dia juga tak memberi nafkah lahir dan batinkan? Aku mengangguk."


"Setauku...kamu itu sudah bisa menikah lagi...kamu juga dipegang kan akta ceraimu kan? Aku hanya mengangguk lesu."


"Terus...pa penyebab Sofwan bisa kehilangan kewarasannya?"


"Aku tidak begitu yakin apa penyebabnya sebenarnya, Ko."


"Cuma yang sempat kuingat waktu itu pas aku hamil Juned..."


Flashback*****


"Dina...jangan lari-lari nak...nanti jatuh..."


"Mas...tolong liatkan Dina sebentar ya...aku mau ke toilet sebentar saja."


Usia kandunganku yang memasuki 9 bulan ini, membuatku selalu pengen ke toilet aja."


Baru saja aku sampai ketempat duduk...Dina sudah lari keluar taman hiburan. Mas...tolong kejar Dina mas...takut ada motor..."


"Mas Sofwan berlari mengejar Dina...Brukkkk...sebuah motor melintas menabrak mas Sofwan yang berusaha melindungi Dina..."


Dengan panik aku dan sipengendara motor berusaha menolong mas Sofwan.


"Mas...gimana ini...darah yang mengalir banyak sekali...untung ada pengunjung taman yang lain menolong suamiku."


Kepala mas Sofwan di perban. "Mas...bisakah pulang bawa motor?"


" Kalau pelan-pelan bisa aja dek."


Sampai di rumah aku mengobati kembali luka-luka di tangan, siku dan kakinya.


"Kepala mas pusing banget dek...mas Sofwan memijit-mijit keningnya."


"Mas...menurut dokter di puskesmas yang menjahit luka di kepalamu tadi, luka robek barusan, ada diatas luka yang juga bekas jahitan dikepalamu."


"Sepertinya itu luka lama...itu luka bekas apa mas?"


"Mas tidak begitu ingat dek...itu luka bekas apa!!!"


*


*


Seminggu kemudian luka di kepala mas Sofwan mulai mengering. Tapi semenjak itu pula lah mas Sofwan sering temperamental. Salah sedikit saja yang ku perbuat, bisa membuatnya sangat marah.

__ADS_1


Mas Sofwan yang sekarang beda banget sama mas Sofwan yang dulu. Terkadang sifat dan sikapnya berubah-ubah seperti bunglon.


Kucoba memahami semua perubahannya. Selain itu pula kumaklumi semenjak lahirnya Syifa, ekonomi kami semakin sulit.


Mas Sofwan sering pulang larut malam dengan kerja sampingannya. Dan besok pagi- pagi sekali dia harus berangkat kerja.


Mungkin karena kelelahan, beban pikiran yang berlebihan memicu dia semakin stres. Jika dia marah sedikit saja, maka aku lah yang jadi pelampiasan kemarahannya, kadang rambutku dijambaknya, aku juga pernah ditamparnya.


Yang paling parah adalah saat aku memarahi Dina karena mencuri mangga dengan teman-temannya. Rupanya dia tak terima aku memarahi Dina, kemarahannya padaku pun memuncak hingga aku kembali dijambak dan dicekiknya.


Sakitnya hatiku saat itu...setelah kemarahannya mereda dia menyembah-nyembah meminta maaf atas perlakuannya yang teramat kasar padaku.


Aku tak lagi menghiraukannya, aku lelah dengan semuanya.


Dia juga sekarang sering melamun, terkadang bicara sendiri. Puncaknya pas dia pulang kerja itu. Dan sejak itu dia tak lagi mengenali anak dan istrinya.


*


*


Miko termenung mendengar ceritaku. "Seandainya dia sembuh dari amnesianya, apakah kamu akan kembali lagi padanya, kak Nia?"


Aku juga terdiam memikirkan kata-kata Miko barusan.


"Kalau kamu mau kembali lagi padanya, aku ikhlas kak...asalkan itu bisa membuat kebahagiaanmu kembali."


Kupandangi wajah Miko. Ada senyum tulus di bibirnya walaupun mata itu berkabut, tapi berusaha dengan tegar ditutupinya.


"Kamu yakin dengan semua perkataanmu, Ko?"


"Aku yakin kak...yah paling aku minta di mutasikan ke kota lain atau aku pulang kembali ke Singapura."


"Karena tujuan awal ke datanganku dulu kan hanya untuk mencari keberadaanmu, kak."


"Sekarang aku sudah bertemu dan sudah menemukan kenyataan bahwa kamu sudah tidak sendiri lagi."


:Aku tidak menyalahkanmu, di sini kita tidak bicara siapa yang salah dan siapa yang benar, di sini takdirlah yang bicara. Kita manusia punya berjuta rencana dan keinginan tapi pada akhirnya Allahlah yang akan menentukan semua."


" Yah...mungkin kita memang dipertemukan lagi, tapi bukan untuk dipersatukan. Mungkin kamu ditakdirkan sebagai pelengkap hidupku, tapi bukan untuk jodohku."


"Berarti kita akan berpisah lagi, Ko?" Suaraku mulai serak.


"Kak Nia...aku ini hanya manusia kak...aku bukan Nabi yang mempunyai kesabaran luar biasa."


"Aku juga punya hati...aku punya rasa...aku tak akan sanggup kehilangan untuk kedua kalinya, tapi jika itu bisa mengembalikan kebahagiaanmu, apapun akan aku lakukan."


***Bersambung....


Pertahankanlah selagi kau mampu...Dan lepaskanlah jika kamu tak mampu lagi meraihnya karena itu hanya akan membuatmu semakin terluka...


Mohon like dan komennya....Vote dan favoritenya jika berkenan...Terima kasih...🙏🙏🙏***

__ADS_1


__ADS_2