
Hati kak Della jadi trenyuh mendengar ratapan adiknya itu.
"Sabar ya dek...semoga Allah mendengar semua doa-doa terbaikmu!! kakak juga ikut membantu doa untukmu!!"
Kak Della memeluk adiknya berusaha memberi semangat dan kekuatan pada Sania.
"Sebenarnya di dalam diri Sania ini ada kutukan apa sih, kak? terkadang Sania iri dengan kehidupan para sahabat Sania yang menikah hanya sekali dan sampai sekarang masih langgeng bersama."
"Sedangkan Sania sudah tiga kali menikah, suami pertama dan kedua semuanya berkhianat lalu akhirnya meninggal, Riko pun juga sebenarnya sudah menjadi seorang pengkhianat karena telah menikah dengan diam-diam di belakang Sania dengan alasan apapun itu tetap tidak bisa dibenarkan."
"Akankah Riko juga akan meninggal seperti yang lainnya?" tanya Sania sambil terisak sedih.
Ssssttt...
"Ngga boleh berkata begitu...jodoh, rejeki, maut...semua sudah ada yang mengatur!!" kata kak Della sambil memeluk Sania erat.
"Undah....papapah!!"
Raftar bangun dari tidurnya langaung mencari Sania dan memanggil papahnya.
"Papah kerja ya sayang...nanti kalau papah sudah pulang pasti main sama Raftar lagi ya, nak!!" kata Sania dengan mata berkaca-kaca.
"Papapah...ja...?" tanya Raftar dengan gaya bahasanya yang menggemaskan.
Sania hanya mengangguk tanpa bisa berkata apapun lagi.
******
Sepanjang perjalanan dari bandara menuju ke mansion Riko diam seribu bahasa. Johan tau apa yang sedang dipikirkan oleh tuan mudanya itu.
"Sabarlah tuan, semoga urusan di sini tak akan lama agar kita bisa segera balik ke Indonesia." Kata Johan berusaha membesarkan hati tuan mudanya.
"John, apakah kamu pernah berkeluarga?" tanya Riko tiba-tiba.
Johan menatapnya sesaat lalu membuang pandangannya keluar jendela.
"Pernah tuan, jauh sebelum.saya bekerja dengan tuan besar, ayah anda tuan Riko!!" jawab Johan.
"Lalu kemana keluargamu, John...apakah kamu tak pernah menjenguk mereka?" tanya Riko lagi.
"Dulu sebelum ikut tuan Baskoro, perekonomian saya itu begitu sulit tuan, ditambah lagi saya dan istri saya menikah muda karena kebablasan...istri saya berumur lima belas tahun dan saya baru berumur delapan belas tahun kala itu."
"Demi menghidupi istri saya yang saat itu sedang hamil anak kami, saya sering bekerja keluar kota sampai larut malam kadang tak pulang, namanya juga jiwa muda, saya akhirnya kepincut dengan seorang wanita yang tiga tahun lebih tua dari saya."
"Saya semakin jarang pulang karena tergila-gila pada wanita itu sampai saya tidak tau bahwa istri saya akan melahirkan."
__ADS_1
"Kami berdua sudah terusir dari orang tua kami sehingga istri saya hanya bisa berharap pada ibu kost tempat kami tinggal."
"Istri saya jatuh dan mengalami pendarahan hebat karena usianya juga masih sangat muda dia juga tidak bisa bertahan, dia meninggal tak lama bayi kami dilahirkan juga dalam keadaan meninggal."
"Sudah seminggu pemakamannya saya baru kembali dari luar kota karena berkali-kali saya menelpon dia ponselnya tak aktif maka timbul pikiran negatif saya padanya, padahal apa yang saya lakukan juga tidak bisa dimaafkan."
"Saya datang kekontrakan kami, kontrakan kami sudah diisi oleh orang lain, tentu saya sangat terkejut dan langsung mencari ibu kost tempat kami tinggal.
"Alangkah kagetnya saya saat ibu kost menceritakan semua yang sudah terjadi bahkan ponsel saya yang tidak bisa dihubungi hingga akhirnya istri dan anak saya meninggal lalu jenazahnya dibawa oleh keluarganya."
"Sampai kini penyesalan itu masih membekas di hati saya tuan, saya seolah tak pernah bisa memaafkan diri saya sendiri."
Johan berkali-kali menghela napasnya untuk menghalau kesedihannya.
"Maafkan saya Jhon jika sudah membangkitkan kenangan pahit masa lalumu!!" kata Riko menepuk bahu Johan.
"It's ok tuan muda!!" jawab Riko lalu mereka berdua sama-sama terdiam hingga masuk ke halaman mansion.
Untung pada saat tiba di mansion tuan Baskoro belum pulang dari luar kota.
Ibu Intan dan Afifah menyambut kedatangan Riko.
Dari tatapan mata yang dingin Afifah tau itu adalah Riko yang asli oleh karena itu dia memang tak mau banyak cakap.
Riko memandang sekilas pada Afifah.
"Tak apa Riko, Afifah sudah tau yang sebenarnya bahwa kamu dan Asdar itu sebenarnya saudara kembar!!" kata ibu Intan.
"Apa??? saudara kembar??? bagaimana bisa bu?? sejak kecil Riko selalu sendiri??" kata Riko kaget.
Bagaimana mungkin dia punya saudara kembar sedangkan ayah dan ibunya tak pernah menceritakan tentang apapun soal kembarannya.
"Begini saja, ayo ikut ibu dan Afifah...kita pergi kerumah sakit untuk menjenguk pamanmu yang selama ini merawat saudara kembarmu itu!!" kata ibu Intan.
Akhirnya mereka bertiga pergi kerumah sakit tempat Abdullah dirawat.
Tampak Asdar sedang menunggu ayahnya di ruang tunggu.
"Bagaimana kondisi ayahmu, Riki??" tanya ibu Intan.
"Riki??" tanya Riko bingung.
"Ayah masih di dalam ruangan operasi bu!!" kata Asdar menyahuti.
"Sini Riki dan Riko..."
__ADS_1
Ibu Intan memanggil kedua anak kembarnya untuk mendekat.
"Berdirilah kalian berdua berhadapan." kata ibu Intan.
Riki dan Riko berdiri berhadapan. Mereka seperti berkaca dicermin, saling memandang dan mengamati satu dengan yang lain.
Sambil menunggu hasil operasinya, ibu Intan bercerita bagaimana asal mulanya mereka berdua bisa terpisah.
Riki dan Riko akhirnya saling berpelukan.
"Aku akan selalu membantumu Riko, karena aku tau cintamu ada jauh di seberang lautan sana."
"Lalu bagaimana dengan ayah, bu??" tanya Riko.
"Untuk sementara ini lebih baik ayah kalian tak usah tau tentang hal ini." Kata ibu Intan.
*
*
"Juma...Nathan...minggu depan tim basket sekolah kita akan bertanding dengan SMA 1 Nusa Bangsa...jika kita mampu mengalahkan tim basket sekolah mereka maka tim basket sekolah kita akan bisa mengalahkan si juara bertahan yang memegang juara 3 tahun berturut-turut!!" kata pelatih mereka.
"Aku memang pernah bertanding dengan tim basket sekolah mereka, kalau tidak salah kapten tim basket sekolah mereka namanya Leo Pranasetha.
"Dia memang seorang kapten basket yamg hebat!!" kata Juma yang tentu lebih tau banyak tentang Leo.
"Dengar-dengar kita akan bertanding di kandang lawan!!" kata Juma pada Nathan, bersiaplah tim kita akan memasuki kandang singa. Kata Juma.
Sejak Dina pindah diam-diam dari sekolah ini kesekolah lain...akhirnya Juma dan Nathan berteman juga.
"Sebaiknya sore nanti kita latihan lagi, karena menurut yang aku lihat bahwa mereka sangat hebat." Jawab Juma.
Sementara tim basket SMA 1 Nusa Bangsa itu ternyata tempat Dina bersekokah sekarang ini.
Leo sang kapten yang waktu itu pernah berkelahi dengan Syifa, dialah kapten basket sekolah ini.
Seperti hari ini hari pertama Dina di sekolah barunya. Dina melangkah gontai menuju parkiran motor, bersiap untuk pulang tiba-tiba ada yang menepuk bahunya...
*
*
Siapa yang bernyali besar menepuk bahu gadis bar-bar itu??
Ikuti terus kisah kutukan cinta ya...tak lupa like dan komennya vote dan favoritnya beserta rate nya.
__ADS_1