
"Dari mana saja kamu, Riko?? sejak siang ponselmu ngga bisa dihubungi!!" kata ibunya yang memakai baju dan kerudung hitam.
Bukannya menjawab, Riko malah bertanya, "Siapa itu bu??" katanya dengan tubuh yang mulai gemetar begitupun dengan Johan.
"Sayang...kamukah itu??" Riko membuka perlahan kain penutup itu.
Wajah cantik yang tertidur dalam keabadian hanya diam saat Riko mengelus pipinya dan menciumnya.
"Sayang....bangunlah....jangan begini?? papah cuma pergi sebentar bersama John menyelesaikan pekerjaan papah, masa mamah sudah marah dengan pura-pura tidur begini?? ayo bangun mah...jangan buat papah khawatir!!" Riko mulai panik sambil mengguncang tubuh istrinya yang telah dingin dan kaku.
Tak ada seorangpun di sana yang berani buka suara, lidah mereka terasa kelu melihat interaksi Riko.
Sampai ada satu tangan yang memegang pundaknya.
"Riko...jenazah Sania akan dimandikan!!" ternyata itu suara ibu Intan.
"Bu, kenapa istriku kok tidur terus...kenapa dia tidak bangun seperti biasanya kalau aku pulang kerja??" Riko bertanya tetapi tatapan matanya sudah nanar dan kosong.
Banyak dari antara pelayat yang meneteskan air mata. Mereka tau sebenarnya Riko tau jika istrinya tercinta sudah meninggal, tetapi dia tetap menganggap Sania hanya tertidur biasa untuk nengobati luka hatinya.
"Johan, tolong bawa dulu bosmu kekamarnya!!" kata ibu Intan.
"Bu, Riko ikut memandikan istri Riko ya...kasihan jika dimandikan oleh yang lain tapi Riko tak ada, istri Riko sering kedinginan...biasanya setiap habis mandi dan dia kedinginan, Riko langsung memeluknya."
"Iya nak, boleh!! kamu mandikanlah istrimu untuk yang terakhir kali...setelah itu peluklah dia agar tidak kedinginan saat dimandikan...karena setelah ini kamu tidak bisa memeluknya lagi!!" kata ibu Intan berlinangan air mata.
Bak patung hidup Riko hanya menurut saja, seolah separuh jiwanya juga sudah ikut pergi bersama Sania.
Dengan telaten dia ikut memandikan disaksikan juga oleh kak Della, Dina dan Syifa yang sejak tadi tak berhenti menangisi jenazah bundanya.
"Mah...mandi ya biar wangi dan tambah cantik...kalau mau menghadap Allah kudu cantik dan wangi!!" gumaman Riko membuat orang yang ikut memandikan menjadi sangat terharu.
Tak ada tetes air matanya, hanya pandangan matanya saja yang senantiasa menatap kosong.
Setelah selesai dimandikan dan sebelum di kafani, anak-anaknya mencium bunda mereka untuk yang terakhir kali.
Niko dan Hans, kedua lelaki yang masih menyayangi Sania hanya bisa menatap kosong. Tadi sebelum Riko datang, mereka berdua sudah membacakan surah yasin untuk almarhumah Sania.
Sekali lagi Riko memeluk dan mencium kening dan pipi istrinya dengan penuh kasih sayang. Wajah cantik itu bagaikan seorang putri yang sedang tertidur sehingga banyak pelayat yang mengaguminya.
"Tidur yang tenang ya sayang...jangan lupa selalu mimpikan papah....semoga kita kelak bisa bertemu dan bersama lagi!!" kata Riko sambil tersenyum.
"Cantiknya papah...sekarang jadi bertambah cantik!!" lirih Riko.
Dia mengikuti semua prosesi itu sampai saat jenazah Sania di sholatkan, Riko yang berdiri di saf paling depan merasakan dadanya teramat sakit, dan....
BRUUGGHHH....
Begitu jenazah selesai di sholatkan Riko ambruk dan cepat ditangkap oleh Hans yang ada disebelahnya.
Para pelayat heboh dengan jatuhnya Riko.
Tubuhnya dibaringkan di tengah ruangan yang agak longgar agar tidak tambah menyesakannya.
__ADS_1
"Bu...bu....!!" kata Hans yang tadi mengangkat Riko.
Dia melihat tubuh yang diangkat dan diletakan itu tidak ada pergerakan napas di perutnya sama sekali layaknya seperti orang pingsan biasa.
"Bu....!!" kata Hans lagi pada ibu Intan dan yang lain.
Niko jadi ikut penasaran melihat kelakuan Hans yang dulu memang pernah bersekolah di jurusan keperawatan.
Tidak percaya begitu saja dengan apa yang dilihatnya, dia meraba denyut nadi di leher dan di tangan Riko lalu dia menggeleng dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa Hans?? teriak Niko dan yang lainnya juga mulai panik.
Terlebih lagi ibu Intan sudah mulai menduga-duga.
"Sepertinya pak Riko juga sudah ngga ada!!" jawab Hans lirih.
BRUGGHHH...
Ibu Intan langsung jatuh tak sadarkan diri mendengar ucapan Hans.
Niko tadi juga sempat memperhatikan Riko yang selalu memegang dada kirinya, dilihatnya juga Riko berkali-kali menarik napas pendek. Tapi dia berpikir positif saja, mungkin karena Riko sangat terpukul dengan kepergian Sania.
Entah siapa yang sudah berinisiatif memanggil dokter.
Dokter muda itu memeriksa Riko berkali-kali untuk lebih meyakinkan.
Dokter itu menggeleng dengan ekspresi sama seperti yang ditunjukan Hans.
Kemungkinan di saat Riko terjatuh tadi, jantungnya sudah berhenti berdetak dan dia langsung meninggal setelah selesai jenazah disholatkan tadi.
Suasana bertambah heboh. Belum sempat jenazah Sania berangkat ke tempat peristirahatannya yang terakhir, Riko dengan segenap cintanya pergi menyusul sang istri mendampinginya dalam keadaan hidup dan juga mati.
*******
Hari itu keluarga besar Sania dan Riko berduka. Raftar tampak masih sesunggukan di gendongan ibu Intan. Semua yang ada di pemakaman bukan hanya berduka tetapi juga syok dengan ikut meninggalnya Riko yang awalnya tak ada sakit apapun menurut Johan asistennya.
Riko mendadak terkena serangan jantung mendapati istrinya tercinta telah berpulang selamanya. Rasa penyesalannya yang tak sempat mendampingi sang istri di kala maut menjemput, juga kesedihan yang tak dapat ditahan lagi olehnya membuat Riko mendapat serangan jantung.
"Ayah...kenapa bunda sama papah om Riko di masukan kedalam tanah??" begitulah tanya Miko dan Miki saat mereka berada dipemakaman.
Terpaksa Niko berbohong pada dua ponakannya yang sudah dia anggap seperti putranya sendiri.
"Bunda sama papah om Riko pindah bobo di sini, ya!! di sini kata bunda sama papah udaranya sejuk dan tempatnya nyaman buat istirahat, bundakan lagi sakit tuh, jadi papah nemenin bunda di sini!!" kata Niko dengan menahan kesedihannya.
"Ohhh terus kapan bunda sama papah pulang kerumah lagi yah?? Miko sama Miki janji ngga akan nakal dan bandel lagi, yah...supaya bunda dan papah bisa cepat pulang!!" kata Miko dan Miki bersamaan membuat Niko dan yang lainnya bergetar mendengarnya.
Syifa dan bayi kecil Sania dan Riko yang diberi nama Sari tak diajak kepemakaman karena Syifa juga kondisinya masih syok kehilangan orang yang dia cintai dalam waktu yang bersamaan.
"Ayo kita pulang..." kata para sahabat Hans.
Hans menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin bermalam di sini malam ini sekalian mau tahlilan kalau kalian mau pulang, pulanglah!!" kata Hans terlihat lesu.
__ADS_1
Akhirnya mereka menginap semalam di rumah kenangan Hans untuk Sania yang akan selalu dia ingat selamanya.
"Ayo kita pulang..." kata Jonathan pada yang lainnya.
"Bunda, papah...Dina sama Juned pulang dulu ya!! besok kami berdua datang kemari lagi menjenguk bunda dan papah sekalian membawa Syifa jika keadaannya mulai stabil...nanti Syifa pingsan di sini kan ngga lucu, bunda!!" kata Dina mencoba menghibur dirinya sendiri.
*******
"Hans...kami berencana mau kembali kerumah lama kami....terlalu banyak kenangan manis di sini yang membuat Syifa menangis terus!!" kata Della malam itu setelah acara tahlilan.
"Iya bu, saya mengerti kok!! jadi siapa yang mengelola tempat fotokopian dan rumah makan di sini??" kata Hans lagi.
"Kami sudah berembug dan akan menjualnya untuk membuka usaha lagi di kota." Kata kak Della.
"Mengapa harus buat yang baru lagi, bukankah kafe itu milik kalian juga??" kata Hans.
"Demi Sultan dan Sania kamu kelolah kafe itu sebaik mungkin, Hans!!" jawab kak Della sambil tersenyum.
*******
"Jadi mulai hari ini kamu akan pindah sekolah??" kata Leo Pranasetha.
"Iya Leo...kasihan Syifa kalau terus menerus tinggal di rumah itu...terlalu banyak kenangan yang menyakiti hatinya!!" kata Dina sambil tersenyum pedih.
"Iya aku mengerti!!" kata Leo pelan.
"Tapi kita akan tetap menjadi sahabatkan??" kata Leo.
"Tentu...sahabat selamanya!!" jawab Dina berbarengan dengan Leo.
Dina berpamitan pada semua orang yang telah baik dengannya sebelum dia pergi.
******
"Bunda dan papah beristirahatlah dengan tenang ya...kami mau kembali ke kota ke rumah kita yang dulu...Dina janji akan sering menjenguk bunda dan papah di sini, Assalamualaikum!!" kata Dina berdiri sambil melerai air matanya.
Hans menutup pintu rumah itu tanpa berniat lagi untuk menyewakannya kepada siapapun.
Terlalu banyak kenangan indah tercipta di rumah ini. Kenangan wanita yang telah bertahta di hatinya yang dia cintai dalam diam yang hingga akhir hayatnya tak pernah tau jika seorang Hans telah jatuh cinta padanya.
Letak perabot di rumah itu juga tidak berubah posisi, begitu juga dengan taman bunga yang telah dibuat Sania, tetap ada di sana.
"Selamat jalan, bu Sania...pak Riko...abadilah cinta kalian berdua!!" kata Hans sebelum pergi meninggalkan pemakaman. Ada beberapa titik air bening yang mengalir begitu saja dari kelopak matanya dan segera dihapusnya.
*
*
****Bersambung.....
Cinta di hati tak pernah mati, cinta sejati pun akan dibawa sampai mati...
Para reader yang author cintai...jangan lupa untuk selalu mendukung karya ini ya😘😘🙏🙏
__ADS_1