Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 62 Tentang Sebuah Perasaan


__ADS_3

"Kenapa dari tadi aku bolak-balik menghadap kanan kiri, tapi ngga bisa tidur juga sih?"


Anggita, istriku sudah tertidur pulas di sampingku. Tapi kenapa mataku ini masih terang seperti lampu neon 100 watt aja.


Aku dan Anggita menikah, kurang lebih setahun yang lalu. Waktu itu aku dinyatakan sakit oleh dokter, tapi aku ngga tau sakit apa. Perasaan aku tuh sehat-sehat aja, tapi di bilang sakit.


Anggita datang ke rumah sebagai perawat pribadiku. Yang mengurus semua kebutuhanku, yang menjagaku setiap saat.


Hingga akhirnya kak Nuri dan kak Anya menjodohkan kami berdua. Aku juga tidak keberatan untuk dijodohkan. Karena orang yang kutunggu akan datang menjengukku, tak juga kunjung datang.


Lagian aku sama sekali tak bisa ingat wajah orang-orang itu, setiap aku mencoba untuk mengingat, setiap itu pula sakit kepala hebat menyerangku.


Anggitalah yang setiap saat ada di sampingku, membantu memulihkanku.


*


*


Flashback***


"Sofwan sayang...Sofwan kan sekarang sudah sembuh tuh...nah di rumah kita inikan ada suster Anggita...kan ngga enak sama tetangga, jika ada wanita dan pria tinggal di bawah satu atap tapi belum menikah."


"Bagaimana jika Sofwan dan Anggita menikah saja ya?"


Aku yang sedang duduk memandangi air mancur, menoleh menatap kak Nuri.


"Tapi Sofwan tidak punya perasaan apa-apa pada suster Anggita, kak..."


"Sofwan hanya menghormatinya dan sudah menganggapnya sebagai dewi penolong saat Sofwan sedang sakit."


"Walaupun Sofwan itu kadang bingung, sebenarnya Sofwan itu sakit apa? Karena Sofwan merasa selama ini baik-baik saja."


"Hanya saja memang Sofwan tidak bisa mengingat semua masa lalu Sofwan, selebihnya Sofwan merasa sehat."


"Justru itu, dek...di dalam keluarga kita selalu diajarkan untuk selalu membalas kebaikan orang lain."


"Kak Nuri tau, suster Anggita itu suka sama Sofwan...tapi suster Anggita malu untuk mengatakannya."


"Lagian, masa perempuan yang mengungkapkan perasaannya terlebih dulu?"


"Kita banyak berhutang budi padanya... makanya kakak memohon padamu untuk menikah dengannya sebagai balasan, untuk semua yang sudah dia lakukan untukmu dan untuk keluarga kita."


Aku diam. Aku berusaha mencerna semua perkataan kak Nuri.


"Tapi kak...belum tentu suster Anggita mau untuk menikah dengan Sofwan?"


"Kamu tidak usah khawatir...asalkan kamu bersedia menikahinya, kakak yang akan melamarkan dia untukmu."


"Tapi kak, Sofwan ini masih menganggur...mau di kasih makan apa anaknya orang nanti."

__ADS_1


"Kamu tidak usah banyak berpikir...itu semua kakak yang akan mengurusnya."


*


*


"Wih...mesranya yang lagi berduaan...pakai acara suap-suapan segala..."


Anggita yang sedang menyuapi Sofwan, jadi merah padam wajahnya karena malu."


"Ah mbak Nuri bisa aja...Anggita jadi ngga enak nih..."


"Yah kalau ngga enak, kasih kucing aja suster..."Jawab Sofwan dengan santainya.


Mereka berdua saling memandang. "Ehem...ehem...emang enak kak Nuri di cueki..."


Sofwan dan Anggita saling memalingkan wajah karena malu.


"Kalian berdua cocoknya di nikahkan aja kalau begini...daripada malu-malu kucing terus."


Anggita menunduk semakin dalam..."Kak Nuri...jangan digodain terus...tuh liat suster Anggita...muka sama lehernya sudah sama rata..." Goda Sofwan.


"Suster...jika kamu tidak keberatan, maukah suster menikah denganku?"


Anggita mengangkat wajahnya dan menatap Sofwan seakan tak percaya dengan semua ucapan Sofwan barusan.


"Mas Sofwan serius dengan ucapan mas barusan?"


"Siapa yang menggoda, suster? Aku serius...dua rius malah..."


"Aku ini kan duda, suster...istri dan anak-anakku entah kemana, pergi meninggalkanku."


"Suster juga masih sendiri...tak salahkan jika aku melamar suster untuk menjadi istriku!"


"Ya tapi jika suster bersedia dan berkenan menerimaku yang tak punya apa-apa ini...jika tidak mau, aku juga tidak memaksa, suster."


"Aku cukup tau diri kok...aku ini siapa!!"


Anggita menatap Sofwan dengan mata berlinang...dia sangat terharu juga iba dengan laki- laki malang yang duduk di hadapannya itu.


"Mas...Anggit tidak bisa memutuskan sendiri...karena Anggit masih punya ayah dan adik...kami harus berembuk dulu...tapi Insya Allah, Anggit akan menerima mas Sofwan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mas Sofwan punya."


"Alhamdulillah...terima kasih suster Anggita..." Sofwan meraih tangan Anggita dan menggenggamnya dengan erat.


"Selama ini hanya suster yang selalu ada di sampingku...merawatku dengan penuh kasih sayang...sementara orang yang kunanti, tak juga kunjung kembali..."


"Dia tak pernah menepati janjinya untuk kembali...dan aku benci pada orang yang suka ingkar sama janji yang telah dibuatnya sendiri."


"Kalau begitu...biar nanti siang Anggit akan pulang ke Yogya, memberi tahu ayah akan kabar baik ini."

__ADS_1


"Anggit tidak mau membicarakan hal sepenting ini hanya lewat telephone."


"Berapa lama suster akan pergi?"


"Suster tidak hanya berjanji, untuk kemudian diingkari seperti dia kan?"


"Aku pasti kembali mas...aku bukan dia yang suka ingkar janji."


"Aku akan kembali bersama ayah dan adikku."


"Terima kasih suster...aku akan selalu menunggumu di sini."


Dengan diantar oleh Sofwan dan keluarganya, siang itu Anggita berangkat kebandara mengambil penerbangan menuju Yogyakarta.


Hatinya berbunga-bunga...setelah sekian bulan menanti, akhirnya penantian ini berujung bahagia.


Sementara sepeninggal Anggita pergi, Sofwan duduk termenung di tempat favoritnya.


Di hadapan air mancur ini, dia selalu menunggu cintanya kembali...tapi yang dinanti tak akan kunjung kembali, karena terhalang restu keluarganya...dan Sofwan sama sekali lupa akan hal itu.


"Aku menunggumu sekian lama...kamu sendiri yang telah berjanji padaku, tapi kamu juga yang mengingkarinya."


"Aku benci manusia yang suka memberi harapan palsu sepertimu.."


"Aku memang tidak bisa mengingat wajahmu...tapi aku selalu ingat akan janjimu."


"Tapi sudahlah...mungkin penantian harus berakhir sampai di sini."


"Semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi...aku akan menggantikan posisimu dengan suster Anggita.


"Maaf, jika aku akan menghapus semua tentangmu...sudah waktunya aku bangkit kembali dari keterpurukanku."


Dia bangkit berdiri...menatap kosong kearah matahari terbenam...ada rasa hampa...rasa kosong yang menghinggapi hatinya.


Ada rasa sedih...perasaan terluka yang dia sendiri tak tahu apa penyebabnya. Seperti ada sesuatu yang telah hilang, telah pergi dari hatinya.


"Kosong...itulah perasaannya sekarang..."


"Aku tau, aku tak mencintai Anggita...tapi mengingat semua kebaikan yang telah di perbuatnya untukku...aku akan mencoba membuka hati untuknya."


"Semoga cinta akan tumbuh seiring waktu yang berjalan."


"Lebih baik bersama dengan orang yang mencintai kita dari pada bersama dengan orang yang kita cintai."


"Jika bersama orang yang mencintai kita, perasaan kita akan lebih dihargai...tapi bersama dengan orang yang kita cintai? Belum tentu dia mempunyai perasaan sebesar rasa sayang kita kepadanya."


"Pergilah yang jauh dari hatiku...tak usah lagi kamu berpikir untuk kembali...aku akan mencoba untuk membuka hati pada sesuatu yang baru..."


***Bersambung....

__ADS_1


Happy reading...Happy weekand...Semoga selalu terhibur...Tidak lupa selalu mengingatkan...Jangan lupa like, komen, vote dan favoritenya jika berkenan ya...Terima kasih***...


__ADS_2